5 Hal yang Sering Menyebabkan Seseorang Menjadi Overthinking


Oleh: Siti Hajar

Overthinking adalah kebiasaan berpikir secara berlebihan terhadap suatu masalah, kejadian, atau keputusan hingga pikiran terus berputar tanpa menghasilkan tindakan atau solusi yang jelas.

Sederhananya, overthinking terjadi ketika seseorang terlalu lama berpikir tentang sesuatu yang sebenarnya sudah cukup dipahami atau diputuskan.

Contohnya:

  • Setelah berbicara dengan seseorang, Anda terus mengingat percakapan itu dan bertanya, "Tadi aku salah bicara tidak ya?"
  • Sebelum mengambil keputusan, Anda memikirkan terlalu banyak kemungkinan hingga sulit menentukan pilihan.
  • Anda terus membayangkan berbagai hal buruk yang mungkin terjadi di masa depan, meskipun belum ada tanda-tandanya.

Overthinking umumnya terbagi menjadi dua bentuk:

1. Rumination (mengulang masa lalu) Seseorang terus memikirkan kejadian yang sudah berlalu.

Misalnya:
"Seandainya dulu aku mengambil keputusan yang berbeda."

2. Worrying (mengkhawatirkan masa depan) Seseorang terus memikirkan hal-hal yang belum terjadi.

Misalnya:
"Bagaimana kalau nanti gagal?" "Bagaimana kalau orang lain tidak suka?"

Overthinking bukan sekadar banyak berpikir. Banyak berpikir bisa menjadi hal yang positif jika menghasilkan pemahaman, ide, atau solusi. Overthinking justru membuat seseorang terjebak dalam lingkaran pikiran yang sama tanpa kemajuan yang berarti.

Tanda-tanda seseorang mengalami overthinking antara lain:

  • Sulit mengambil keputusan.
  • Sulit tidur karena pikiran terus aktif.
  • Sering menyesali masa lalu.
  • Terlalu mengkhawatirkan masa depan.
  • Menganalisis hal-hal kecil secara berlebihan.
  • Merasa lelah secara mental.

Menariknya, banyak orang yang cerdas, reflektif, dan teliti justru lebih rentan mengalami overthinking. Mereka terbiasa melihat berbagai sudut pandang dan kemungkinan. Kemampuan ini sebenarnya adalah kelebihan, tetapi bisa menjadi beban jika pikiran tidak diberi kesempatan untuk berhenti.

Karena itu, tujuan utama bukanlah berhenti berpikir, melainkan mengendalikan pikiran agar berpikir saat diperlukan dan beristirahat saat diperlukan. Itulah perbedaan antara berpikir produktif dan overthinking.

1. Perfeksionisme. Seseorang yang ingin segala sesuatu berjalan sempurna sering kali menghabiskan banyak waktu memikirkan berbagai kemungkinan kesalahan. Keinginan untuk mendapatkan hasil terbaik membuatnya sulit merasa puas dan sulit mengambil keputusan karena takut salah.

2. Pengalaman Kegagalan atau Trauma di Masa Lalu. Pengalaman yang menyakitkan dapat membuat seseorang lebih waspada terhadap risiko. Akibatnya, ia terus mengulang-ulang kejadian dalam pikirannya atau mencoba memprediksi semua kemungkinan buruk agar tidak terulang kembali.

3. Kecemasan yang Tinggi. Orang yang memiliki kecenderungan cemas sering membayangkan berbagai skenario negatif yang sebenarnya belum tentu terjadi. Pikiran mereka seolah selalu bersiap menghadapi ancaman, meskipun situasi sebenarnya baik-baik saja.

4. Terlalu Peduli pada Penilaian Orang Lain. Ketika seseorang sangat memikirkan bagaimana dirinya dilihat oleh orang lain, ia dapat terus mengulang percakapan, tindakan, atau keputusan yang telah dibuat. Ia bertanya-tanya, "Apakah tadi aku salah bicara?" atau "Bagaimana jika mereka menilaiku buruk?"

5. Kurangnya Kepercayaan pada Diri Sendiri. Ketika keyakinan terhadap kemampuan diri rendah, seseorang cenderung meragukan setiap keputusan yang diambil. Bahkan setelah memilih, ia masih bertanya-tanya apakah ada pilihan lain yang lebih baik.

Menariknya, overthinking sering kali muncul bukan karena seseorang lemah, melainkan karena ia memiliki kemampuan berpikir yang kuat. Masalahnya bukan pada kemampuan berpikir itu sendiri, tetapi pada ketidakmampuan menghentikan proses berpikir ketika informasi yang dibutuhkan sebenarnya sudah cukup untuk bertindak.

Dalam banyak kasus, overthinking adalah perpaduan antara ingin melakukan yang terbaik, takut melakukan kesalahan, dan sulit menerima ketidakpastian hidup. Padahal, tidak semua hal dapat diprediksi atau dikendalikan. Kadang-kadang keputusan yang cukup baik jauh lebih bermanfaat daripada menunggu keputusan yang sempurna.

Apa yang harus dilakukan agar gangguan overthinking bisa teratasi dengan baik

Overthinking bukanlah sesuatu yang bisa dihilangkan dalam semalam, karena biasanya merupakan pola berpikir yang sudah terbentuk lama. Namun, pola ini dapat dikelola sehingga tidak lagi mengganggu kehidupan sehari-hari.

1. Bedakan antara masalah yang bisa dikendalikan dan yang tidak bisa dikendalikan

Sering kali overthinking muncul karena kita mencoba mengendalikan hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita, seperti pendapat orang lain, masa depan, atau hasil akhir suatu usaha.

Biasakan bertanya: "Apa yang bisa saya lakukan hari ini?"

Fokus pada tindakan yang nyata daripada kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi.

2. Batasi waktu untuk berpikir

Jika ada keputusan yang harus diambil, berikan batas waktu. Misalnya, satu jam untuk mempertimbangkan pilihan, lalu putuskan.

Tanpa batas waktu, pikiran akan terus mencari informasi baru dan mempertanyakan keputusan yang sebenarnya sudah cukup baik.

3. Tulis apa yang ada di kepala

Banyak overthinker merasa lebih lega setelah menulis.

Ketika pikiran masih berputar di kepala, semuanya terasa besar dan rumit. Namun saat ditulis, sering kali terlihat bahwa masalahnya tidak sebesar yang dibayangkan.

Sebagai seorang penulis, Anda mungkin sudah merasakan manfaat ini. Menulis sering menjadi cara yang efektif untuk "mengeluarkan" pikiran dari kepala.

4. Latih diri menerima ketidakpastian

Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban hari ini.

Kadang kita ingin kepastian tentang pekerjaan, keluarga, kesehatan, atau masa depan. Padahal hidup selalu mengandung unsur ketidakpastian.

Menerima bahwa "saya tidak tahu sekarang, dan itu tidak apa-apa" dapat mengurangi banyak beban mental.

5. Alihkan energi ke tindakan kecil

Overthinking sering membuat seseorang sibuk berpikir tetapi sulit bergerak.

Misalnya:

  • Daripada terus memikirkan artikel yang akan ditulis, mulailah menulis satu paragraf.
  • Daripada terus memikirkan olahraga yang ideal, mulailah berjalan kaki 10 menit.
  • Daripada terus memikirkan masalah rumah tangga, lakukan satu langkah yang bisa membantu menyelesaikannya.

Tindakan kecil sering kali lebih ampuh daripada seratus putaran pikiran.

6. Jaga kesehatan fisik

Kurang tidur, kelelahan, stres berkepanjangan, dan terlalu banyak konsumsi kafein dapat memperburuk overthinking.

Olahraga ringan, tidur yang cukup, dan pola makan yang teratur membantu otak lebih tenang dalam memproses informasi.

7. Cari bantuan profesional jika sudah mengganggu kehidupan sehari-hari

Jika overthinking menyebabkan:

  • sulit tidur,
  • sulit berkonsentrasi,
  • sering cemas berlebihan,
  • mengganggu pekerjaan atau hubungan dengan orang lain,

maka berkonsultasi dengan psikolog dapat membantu menemukan akar masalah dan strategi yang lebih spesifik.

Bagi banyak orang yang reflektif dan suka berpikir mendalam, tujuan yang realistis bukanlah berhenti berpikir banyak. Tujuannya adalah mampu berpikir mendalam saat diperlukan, lalu berhenti ketika waktunya bertindak atau beristirahat. Kemampuan itu yang biasanya membuat seseorang tetap bijaksana tanpa terjebak dalam lingkaran overthinking. []

Lebih baru Lebih lama