Kematian adalah satu-satunya kepastian yang
dimiliki setiap manusia sejak ia dilahirkan. Namun, tidak seorang pun
mengetahui kapan, di mana, dan dalam keadaan seperti apa ia akan menghadap Sang
Pencipta. Kita sering merencanakan banyak hal untuk masa depan, tetapi
sesungguhnya Allah telah menyiapkan satu hari yang pasti untuk setiap hamba-Nya:
hari terakhir ia berada di dunia.
Saya sering membayangkan, bagaimana Allah
mempersiapkan hari itu bagi setiap manusia. Ada yang dipanggil ketika sedang
bekerja, ada yang saat sedang tidur, ada yang ketika sedang bersama keluarga,
dan ada pula yang wafat dalam keadaan beribadah. Semua memiliki jalan takdirnya
masing-masing. Tidak ada yang tertukar dan tidak ada yang datang terlalu cepat
atau terlalu lambat. Semuanya telah ditetapkan dengan penuh hikmah oleh Allah
Yang Maha Mengetahui.
Sebagai seorang Muslim, tentu kita berharap dapat
mengakhiri kehidupan dalam keadaan husnul khatimah. Bukan sekadar meninggal
dalam keadaan yang baik menurut pandangan manusia, tetapi meninggal dalam
keadaan diridhai Allah. Karena itu, kehidupan yang sedang kita jalani hari ini
sesungguhnya adalah persiapan menuju hari terakhir tersebut.
Persiapan itu tidak selalu berupa amalan-amalan
besar yang mengagumkan banyak orang. Kadang ia hadir dalam bentuk yang
sederhana: menjaga shalat, memperbanyak istighfar, membantu orang yang
membutuhkan, menjaga lisan agar tidak menyakiti, dan berusaha menjadi pribadi
yang lebih baik dari hari ke hari. Allah tidak melihat seberapa besar sesuatu
yang kita lakukan, tetapi seberapa ikhlas dan istiqamah kita menjalaninya.
Di antara persiapan yang sering terlupakan adalah
meminta maaf dan memaafkan. Terkadang hati terasa berat untuk mengakui
kesalahan. Gengsi membuat seseorang menunda permintaan maaf, bahkan ketika ia
tahu dirinya telah menyakiti orang lain. Padahal kita tidak pernah tahu apakah
masih ada kesempatan esok hari untuk memperbaiki hubungan yang retak. Tidak ada
kerugian dalam meminta maaf terlebih dahulu. Justru di situlah letak kemuliaan
hati seorang hamba.
Selain menjaga hubungan dengan sesama manusia,
yang lebih penting lagi adalah menjaga hubungan dengan Allah. Tetap terhubung
dengan-Nya siang dan malam. Mengadu ketika sedih, bersyukur ketika bahagia,
meminta petunjuk saat bingung, memohon rezeki ketika membutuhkan, serta memohon
perlindungan dalam setiap langkah kehidupan. Sebab hanya Allah sebaik-baik
tempat bergantung dan sebaik-baik penolong.
Kita tidak pernah tahu kapan lembar kehidupan ini
akan ditutup. Namun kita dapat memilih bagaimana mengisi halaman-halaman yang
masih tersisa. Mungkin itulah hakikat persiapan menuju kematian: bukan menunggu
hari terakhir datang, melainkan berusaha menjadikan setiap hari sebagai hari
yang pantas untuk menghadap Allah.
Jika suatu saat panggilan itu datang, semoga kita
sedang berada di jalan yang diridhai-Nya, membawa hati yang penuh harap kepada
ampunan-Nya, dan pulang dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.
Ketika berbicara tentang kematian, sesungguhnya
yang berakhir hanyalah perjalanan kita di dunia. Kehidupan tidak berhenti di
sana. Setelah kematian, manusia memasuki alam berikutnya yang tidak lagi dapat
dilihat oleh mata, tetapi diyakini keberadaannya oleh setiap Muslim. Di sanalah
manusia menunggu hingga hari kebangkitan dan hari penghisaban tiba.
Renungan ini membuat saya sering bertanya kepada
diri sendiri: apa yang sebenarnya sedang saya persiapkan hari ini? Sebab setiap
ucapan, setiap perbuatan, setiap kebaikan maupun kesalahan yang kita lakukan
tidak pernah benar-benar hilang. Semuanya tercatat dengan sangat teliti. Bahkan
hal-hal yang mungkin telah lama kita lupakan tetap berada dalam pengetahuan
Allah.
Kelak, ketika hari kiamat tiba, seluruh manusia
akan dibangkitkan dan diminta mempertanggungjawabkan kehidupannya. Pada saat
itu tidak ada lagi jabatan, harta, ketenaran, ataupun kebanggaan dunia yang
dapat menolong seseorang. Yang tersisa hanyalah amal perbuatan yang pernah
dilakukan selama hidup. Al-Qur'an menggambarkan bahwa setiap manusia akan
diperlihatkan catatan amalnya. Tidak ada yang tersembunyi dan tidak ada yang
terlewatkan.
Membayangkan saat itu sering membuat hati menjadi
lebih lembut. Betapa banyak kesalahan yang telah dilakukan dengan sadar maupun
tidak sadar. Betapa banyak kesempatan berbuat baik yang mungkin pernah
disia-siakan. Karena itu, selama Allah masih memberikan umur, pintu taubat
masih terbuka, dan kesempatan memperbaiki diri masih ada.
Sebagai orang yang beriman, kita tentu berharap
mendapatkan rahmat Allah dan menjadi penghuni surga. Surga bukan hanya gambaran
tentang kenikmatan yang tidak pernah berakhir, tetapi juga tempat bertemu
dengan ridha Allah yang menjadi tujuan tertinggi seorang hamba. Itulah
cita-cita setiap Muslim. Kita berusaha menjalani kehidupan dengan
sebaik-baiknya, memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan sesama
manusia, serta terus menjaga hubungan dengan Allah agar kelak dipanggil dalam
keadaan yang diridhai-Nya.
Namun harapan itu tidak boleh membuat kita merasa
aman dan pasti. Seorang mukmin hidup di antara harapan dan rasa takut. Berharap
pada kasih sayang Allah yang begitu luas, sekaligus takut apabila amal yang
dilakukan masih jauh dari cukup. Perasaan inilah yang membuat seseorang terus
berusaha memperbaiki diri hingga akhir hayatnya.
Pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang tahu
bagaimana akhir perjalanan hidupnya. Yang dapat kita lakukan hanyalah
mempersiapkan bekal terbaik, memohon ampunan setiap hari, memperbanyak
kebaikan, dan terus meminta kepada Allah agar diberikan husnul khatimah. Semoga
ketika tiba saatnya meninggalkan dunia, kita dipanggil dengan penuh kasih
sayang oleh Allah, diampuni segala dosa, diringankan hisabnya, dan pada
akhirnya dikumpulkan bersama orang-orang yang beriman di dalam surga-Nya. Aamiin
ya Rabbal 'alamin. []
