Era Digital: Apakah Benar Orang Sulit Semakin Banyak?


Oleh: Siti Hajar

Istilah "orang sulit" biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang membuat interaksi, komunikasi, atau kerja sama menjadi lebih rumit dibandingkan kebanyakan orang. Namun, perlu diingat bahwa label ini sering kali subjektif. Seseorang yang dianggap "sulit" oleh satu orang belum tentu dianggap sulit oleh orang lain.

Beberapa ciri yang sering dikaitkan dengan "orang sulit" antara lain:

  • Sulit menerima pendapat orang lain.
  • Sering mengkritik tetapi jarang memberi solusi.
  • Mudah tersinggung atau defensif.
  • Selalu merasa dirinya paling benar.
  • Suka mengontrol situasi atau orang lain.
  • Sulit diajak kompromi.
  • Tidak konsisten antara ucapan dan tindakan.
  • Cenderung melihat masalah dari sudut pandangnya sendiri tanpa mempertimbangkan perspektif orang lain.
  • Gemar memperdebatkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Namun, di balik perilaku tersebut sering kali ada berbagai faktor, seperti pengalaman hidup yang berat, rasa tidak aman (insecurity), trauma masa lalu, stres berkepanjangan, kelelahan mental, atau pola asuh yang membentuk karakter tertentu.

Bagaimana Menghadapinya?

1. Jangan berharap bisa mengubah mereka. Banyak orang menghabiskan energi untuk mengubah karakter orang lain. Padahal yang bisa kita kendalikan hanyalah respons kita sendiri.

2. Tetapkan batasan yang jelas. Jika seseorang sering menguras energi, tidak ada salahnya membatasi topik pembicaraan, durasi interaksi, atau tingkat keterlibatan emosional.

3. Hindari adu ego. Orang yang keras kepala biasanya semakin keras ketika dilawan secara frontal. Kadang lebih bijak memilih mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang cukup dilepaskan.

4. Dengarkan, tetapi tidak harus selalu setuju. Mendengarkan dapat meredakan ketegangan. Namun mendengarkan bukan berarti mengiyakan semua pendapatnya.

5. Jaga emosi tetap stabil. Orang sulit sering kali tanpa sadar "menulari" emosi negatif kepada orang di sekitarnya. Jika kita ikut terpancing, situasi biasanya justru memburuk.

6. Fokus pada fakta, bukan perasaan sesaat. Saat terjadi konflik, arahkan pembicaraan pada masalah konkret dan solusi yang dapat dilakukan.

7. Terima bahwa tidak semua orang akan cocok dengan kita. Dalam kehidupan, ada orang yang langsung nyambung, ada yang memerlukan penyesuaian, dan ada pula yang memang sulit membangun hubungan harmonis dengan siapa pun.

Menariknya, kadang seseorang dianggap "orang sulit" bukan karena ia jahat, melainkan karena ia memiliki kebutuhan yang tinggi terhadap kontrol, kepastian, atau pengakuan. Di sisi lain, ada juga orang yang memang memiliki pola perilaku toksik sehingga interaksi dengannya perlu dibatasi demi menjaga kesehatan mental.

Dalam pengalaman sehari-hari, salah satu tanda bahwa kita sedang berhadapan dengan "orang sulit" adalah ketika setiap selesai berinteraksi dengannya, kita merasa lebih lelah daripada biasanya. Bukan karena percakapannya panjang, melainkan karena begitu banyak energi yang terkuras untuk menjaga suasana tetap baik.

Karena itu, menghadapi orang sulit bukan terutama soal memenangkan perdebatan, melainkan soal menjaga ketenangan diri sambil tetap bersikap hormat. Kadang kemenangan terbesar bukanlah membuat mereka berubah, tetapi memastikan kita tidak kehilangan kedamaian hanya karena perilaku mereka.

Banyak orang merasa bahwa "orang sulit" semakin sering dijumpai di era digital, tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu.

Kemungkinan besar, orang sulit tidak selalu bertambah jumlahnya secara drastis, tetapi kita sekarang lebih sering terpapar pada perilaku mereka. Ada beberapa alasan mengapa kesan itu muncul.

Pertama, media sosial memberi ruang bagi semua orang untuk menyampaikan pendapat tanpa banyak filter. Dulu seseorang mungkin hanya berdebat di lingkungan kecilnya. Sekarang satu komentar bisa dibaca ribuan orang. Akibatnya, sifat keras kepala, mudah marah, suka mengkritik, atau gemar berkonflik menjadi lebih terlihat.

Kedua, komunikasi digital menghilangkan banyak isyarat sosial. Saat berbicara langsung, kita bisa melihat ekspresi wajah, nada suara, dan bahasa tubuh. Di media sosial atau aplikasi pesan, sebuah kalimat pendek bisa terdengar lebih kasar daripada yang dimaksudkan. Kesalahpahaman pun lebih mudah terjadi.

Ketiga, kehidupan modern memang membawa tekanan yang tidak ringan. Persaingan kerja, masalah ekonomi, arus informasi yang tidak pernah berhenti, serta tuntutan untuk selalu produktif dapat membuat sebagian orang menjadi lebih mudah tersinggung, lebih defensif, dan kurang sabar dibandingkan sebelumnya.

Keempat, algoritma media sosial cenderung menonjolkan konten yang memancing emosi. Konten yang memicu kemarahan, perdebatan, atau kontroversi sering memperoleh perhatian lebih banyak. Akibatnya, kita bisa memiliki persepsi bahwa dunia dipenuhi orang-orang yang sulit, padahal yang terlihat di layar belum tentu mencerminkan mayoritas masyarakat.

Di sisi lain, ada juga perubahan budaya. Masyarakat modern lebih berani mengungkapkan pendapat pribadi dan menetapkan batasan. Kadang perilaku yang dulu dianggap "sopan" sebenarnya hanya bentuk memendam ketidaksetujuan. Sekarang orang lebih terbuka mengatakan "saya tidak setuju". Bagi sebagian orang, keterusterangan ini bisa terlihat sebagai sikap sulit.

Jadi, menurut banyak pengamat sosial dan psikolog, yang terjadi bukan semata-mata "orang sulit semakin banyak", melainkan kombinasi dari:

  • Paparan yang lebih besar melalui media digital.
  • Tingkat stres yang meningkat.
  • Komunikasi yang lebih mudah menimbulkan salah paham.
  • Perubahan norma sosial yang membuat perbedaan pendapat lebih tampak.

Menariknya, jika kita melihat kehidupan sehari-hari secara langsung—di pasar, masjid, sekolah, kantor, atau lingkungan tetangga—kita masih menemukan banyak orang yang ramah, suka membantu, dan mudah diajak bekerja sama. Hanya saja, orang-orang seperti ini biasanya tidak terlalu mencolok sehingga jarang menjadi pusat perhatian di dunia digital.

Karena itu, jika media sosial membuat kita merasa dunia dipenuhi "orang sulit", ada baiknya sesekali melihat kehidupan nyata di sekitar kita. Sering kali kita akan menemukan bahwa mayoritas orang sebenarnya masih sama seperti dulu: ingin dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan baik.[]

Lebih baru Lebih lama