"Dari seekor kucing saya belajar, cinta tidak selalu berarti mendekat. Kadang cinta justru berarti tahu kapan harus memberi ruang."
Saat membaca buku Set Boundaries, Find Peace karya Nedra Glover Tawwab, kita belajar bahwa manusia yang sehat secara psikologis perlu memiliki batasan: kapan ingin berinteraksi, apa yang membuatnya nyaman, dan apa yang tidak bisa ia terima. Menariknya, kucing tampaknya sudah memahami konsep ini secara alami tanpa perlu membaca buku apa pun.
Seekor kucing jarang berpura-pura.
Kalau ia ingin dielus, ia akan mendekat. Kalau ia
ingin sendiri, ia akan pergi. Kalau ia tidak nyaman, ia akan memberi sinyal.
Dan kalau sinyal itu diabaikan terus-menerus, ia bisa mencakar.
Dari sudut pandang kucing, cakaran sering kali
bukan tindakan agresi semata. Itu adalah kalimat terakhir setelah berbagai
"permintaan halus" tidak dipahami.
Biasanya urutannya seperti ini:
"Aku mulai tidak nyaman."
(Ekor bergerak-gerak)
"Tolong berhenti."
(Telinga mulai menekuk ke belakang)
"Aku serius."
(Tubuh menegang dan mata membesar)
"Karena kamu tidak mengerti bahasaku,
aku akan membuatmu berhenti."
(Cakaran atau gigitan)
Jika dipikir-pikir, banyak manusia justru
melakukan kebalikannya. Kita sering mengabaikan ketidaknyamanan sendiri,
memendam rasa kesal, lalu suatu hari meledak. Kucing lebih jujur. Mereka
menunjukkan batasannya sejak awal.
Sebagai pemilik baru, saya juga mulai menyadari
bahwa mencintai kucing bukan berarti terus-menerus menyentuh, menggendong, atau
memeluk mereka. Kadang bentuk cinta yang paling dihargai oleh kucing adalah
menghormati ruang pribadinya.
Ada kucing yang senang tidur di pangkuan. Ada yang
hanya ingin duduk di dekat kaki kita. Ada yang menikmati dielus selama lima
menit. Ada yang hanya mau dielus ketika dia yang memulai kontak.
Dan semuanya sah.
Dalam psikologi hubungan, menghormati batasan
adalah salah satu bentuk penghargaan tertinggi kepada individu lain. Anehnya,
pelajaran itu justru bisa datang dari seekor kucing.
Mungkin itulah sebabnya banyak cat lover
mengatakan bahwa kucing tidak bisa dipaksa untuk mencintai kita. Kepercayaan
mereka harus dibangun perlahan. Ketika seekor kucing akhirnya memilih tidur di
samping kita, mengikuti kita dari ruangan ke ruangan, atau memperlihatkan
perutnya tanpa rasa takut, itu bukan karena dominasi kita atas dirinya.
Itu adalah tanda bahwa kita telah berhasil
menghormati batasannya.
Dan bukankah hubungan yang sehat, baik dengan
manusia maupun hewan, memang selalu dimulai dari sana: memahami bahwa kasih
sayang tidak berarti memiliki, tetapi menghargai batas-batas yang membuat
masing-masing pihak merasa aman?
Kucing, dengan segala tingkah lucunya, mungkin sedang mengajarkan satu pelajaran psikologi yang sangat penting kepada kita: cinta tanpa penghormatan terhadap boundaries bukanlah cinta yang sehat.[]
