Pelajaran dari Buku Psikologi Positif Karya Garvin Goei: Apa yang Sebenarnya Membuat Manusia Bahagia?

 Oleh: Siti Hajar

Apa yang membuat seseorang bahagia?

Pertanyaan ini tampaknya sederhana, tetapi jawabannya telah menjadi bahan perdebatan selama berabad-abad. Sebagian orang meyakini bahwa kebahagiaan terletak pada harta. Semakin banyak uang yang dimiliki, semakin besar peluang seseorang untuk hidup nyaman dan bahagia. Sebagian lainnya berpendapat bahwa kebahagiaan datang dari tahta atau kedudukan. Jabatan, penghargaan, dan pengakuan dianggap mampu memberikan kepuasan hidup. Ada pula yang percaya bahwa cinta adalah sumber kebahagiaan yang sesungguhnya.

Dalam buku Psikologi Positif: Memupuk Kebahagiaan dan Pengembangan Diri, Garvin Goei mengangkat pandangan yang cukup populer di masyarakat bahwa kebahagiaan erat kaitannya dengan tiga hal, yaitu harta, tahta, dan cinta. Ketiganya memang memiliki pengaruh dalam kehidupan manusia. Harta membantu memenuhi kebutuhan hidup. Tahta memberikan rasa pencapaian dan pengakuan. Sementara cinta menghadirkan kedekatan emosional dan rasa memiliki.

Namun, benarkah kebahagiaan hanya ditentukan oleh ketiga hal tersebut?

Buku ini kemudian menyinggung sebuah penelitian jangka panjang yang dilakukan oleh Harvard selama lebih dari delapan puluh tahun. Penelitian tersebut berusaha menjawab pertanyaan mendasar tentang apa yang membuat seseorang hidup lebih bahagia dan sehat. Hasil penelitian itu cukup menarik. Ternyata faktor yang paling konsisten berkaitan dengan kebahagiaan bukanlah kekayaan ataupun status sosial, melainkan kualitas hubungan yang dimiliki seseorang dengan orang-orang di sekitarnya.

Orang yang memiliki hubungan baik dengan keluarga, sahabat, pasangan, tetangga, dan komunitasnya cenderung memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi. Mereka juga umumnya lebih mampu menghadapi tekanan hidup dan memiliki kesehatan yang lebih baik pada usia lanjut.

Temuan ini menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk relasional. Kita tidak hanya membutuhkan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Kita juga membutuhkan hubungan yang hangat, dukungan sosial, rasa diterima, dan kesempatan untuk berbagi kehidupan dengan orang lain.

Tidak mengherankan jika banyak orang yang memiliki kekayaan melimpah tetap merasa kesepian. Sebaliknya, ada pula orang yang hidup sederhana tetapi merasa cukup bahagia karena dikelilingi keluarga dan teman-teman yang peduli.

Salah satu bagian yang menarik dalam buku ini adalah pembahasan tentang apa yang disebut sebagai "terapi nasi bungkus". Gagasannya sangat sederhana. Jika seseorang ingin merasakan kebahagiaan, cobalah membeli beberapa bungkus nasi, lalu bagikan kepada orang-orang yang sedang membutuhkan makanan.

Setelah itu, perhatikan wajah mereka.

Perhatikan senyum yang muncul. Perhatikan rasa syukur yang terpancar dari mata mereka. Perhatikan bagaimana sebuah tindakan sederhana dapat menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain.

Dalam psikologi positif, pengalaman seperti ini berkaitan dengan perilaku prososial, yaitu tindakan yang bertujuan membantu orang lain. Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa membantu orang lain tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima bantuan, tetapi juga meningkatkan perasaan bahagia pada pemberi bantuan.

Ketika seseorang memberi, otak melepaskan berbagai zat kimia yang berkaitan dengan perasaan positif. Akibatnya, muncul rasa puas, damai, dan bermakna. Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang merasa lebih bahagia setelah bersedekah, menjadi relawan, membantu tetangga, atau sekadar mendengarkan keluh kesah seorang teman.

Kebahagiaan ternyata tidak selalu berasal dari apa yang kita miliki. Kadang-kadang kebahagiaan justru lahir dari apa yang bisa kita berikan.

Harta memang penting. Tahta juga dapat memberikan kepuasan. Cinta tentu menjadi kebutuhan dasar setiap manusia. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan yang bertahan lama sering kali tumbuh dari hubungan yang sehat dan kemampuan untuk terhubung dengan sesama.

Mungkin karena itulah banyak orang merasa bahagia bukan saat menerima sesuatu, melainkan saat melihat orang lain tersenyum karena kehadiran mereka.

Dan mungkin pula, rahasia kebahagiaan tidak selalu berada pada sesuatu yang besar dan rumit. Terkadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: sebuah percakapan hangat, pelukan keluarga, perhatian yang tulus, atau bahkan sebungkus nasi yang diberikan kepada seseorang yang sedang lapar. []

Lebih baru Lebih lama