Oleh: Siti Hajar
Beberapa bulan terakhir, saya mulai lebih dekat dengan kucing. Awalnya saya mengira kucing adalah hewan yang sederhana. Jika ia diberi makan, diajak bermain, dan disayang, maka ia akan selalu bersikap manis kepada pemiliknya. Namun, semakin banyak berinteraksi dengan kucing, saya menyadari bahwa mereka memiliki dunia emosi yang jauh lebih kompleks daripada yang saya bayangkan.
Salah satu hal yang sering membuat pemilik baru bingung adalah ketika kucing tiba-tiba menjadi agresif. Ia mencakar tangan yang sedang mengelusnya, menggigit ketika digendong, atau bahkan menyerang pemilik yang selama ini merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Reaksi pertama banyak orang biasanya adalah kecewa. "Sudah saya kasih makan, kok malah mencakar?" Ada juga yang langsung memberi label bahwa kucing tersebut galak atau tidak tahu berterima kasih.
Padahal, dalam banyak kasus, kucing tidak sedang menunjukkan kebencian. Ia sedang berusaha menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang kita belum pahami.
Kucing adalah makhluk yang sangat mengandalkan bahasa tubuh. Mereka tidak bisa menjelaskan rasa takut, sakit, atau tidak nyaman dengan kata-kata. Ketika berbagai sinyal halus yang mereka kirim tidak dipahami, mencakar dan menggigit menjadi pilihan terakhir yang mereka miliki.
Penyebab paling umum dari agresi adalah rasa takut. Seekor kucing yang merasa terancam akan mengaktifkan naluri bertahannya. Suara petir, kedatangan tamu yang tidak dikenal, kehadiran hewan lain, atau bahkan perubahan tata letak rumah dapat membuat sebagian kucing merasa tidak aman.
Selain itu, rasa sakit sering menjadi penyebab yang tidak disadari pemilik. Kucing terkenal pandai menyembunyikan penyakit. Di alam liar, menunjukkan kelemahan bisa membuat mereka menjadi sasaran predator. Karena itu, kucing yang sakit sering kali tetap tampak normal sampai kondisinya cukup parah.
Jika kucing yang biasanya ramah tiba-tiba menjadi mudah marah, ada baiknya mempertimbangkan kemungkinan adanya masalah kesehatan. Sakit gigi, infeksi telinga, luka tersembunyi, atau radang sendi dapat membuat mereka bereaksi agresif ketika disentuh.
Hal lain yang sering mengejutkan pemilik baru adalah fenomena yang disebut petting-induced aggression atau agresi akibat terlalu lama dielus. Kedengarannya aneh, tetapi memang ada kucing yang hanya menikmati belaian dalam waktu tertentu. Setelah batas kenyamanannya terlampaui, sentuhan yang semula menyenangkan berubah menjadi mengganggu.
Karena itu, penting bagi pemilik untuk belajar membaca bahasa tubuh kucing. Sebelum mencakar, biasanya mereka memberikan tanda-tanda terlebih dahulu. Ekor mulai bergerak cepat, telinga mengarah ke belakang, pupil mata membesar, atau tubuh mulai menegang. Jika tanda-tanda ini muncul, sebaiknya hentikan interaksi sejenak dan beri mereka ruang.
Sebagai pemilik baru, saya juga baru mengetahui bahwa banyak serangan kucing sebenarnya berhubungan dengan naluri berburu. Gerakan kaki di bawah selimut, jari tangan yang bergerak-gerak, atau ujung pakaian yang bergoyang bisa dianggap sebagai mangsa. Bagi kucing, terutama yang masih muda, ini adalah bagian dari permainan berburu.
Karena itu, para pecinta kucing umumnya tidak membiasakan bermain menggunakan tangan secara langsung. Lebih baik menggunakan mainan khusus seperti tongkat bulu, bola, atau tali permainan. Dengan begitu, kucing belajar membedakan antara mainan dan tubuh manusia.
Faktor stres juga tidak boleh diremehkan. Kucing adalah hewan yang menyukai rutinitas. Mereka merasa nyaman ketika lingkungan dapat diprediksi. Perubahan yang bagi manusia terlihat kecil bisa menjadi sumber kecemasan besar bagi kucing.
Pindah rumah, kehadiran anggota keluarga baru, perubahan jadwal makan, atau bahkan kedatangan kucing lain dapat memicu perilaku agresif. Dalam kondisi seperti ini, mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Ada pula kondisi yang disebut redirected aggression atau agresi yang dialihkan. Misalnya seekor kucing melihat kucing asing di luar jendela. Ia menjadi sangat marah tetapi tidak bisa menjangkau lawannya. Ketika pemilik mendekat, kemarahan itu justru dilampiaskan kepada orang yang berada paling dekat. Situasi seperti ini sering membuat pemilik merasa diserang tanpa alasan.
Bagi para pemilik baru, ada beberapa hal penting yang perlu diingat.
Pertama, jangan menghukum kucing dengan memukul, menendang, atau berteriak. Hukuman fisik hanya akan membuat kucing semakin takut dan kehilangan kepercayaan kepada pemiliknya.
Kedua, berikan ruang pribadi. Tidak semua kucing ingin dipeluk atau digendong setiap saat. Sebagian kucing lebih menikmati kedekatan dengan cara duduk di dekat kita tanpa banyak sentuhan.
Ketiga, sediakan stimulasi yang cukup. Kucing yang bosan cenderung memiliki energi berlebih yang dapat muncul dalam bentuk perilaku agresif. Bermain secara rutin selama 10 hingga 15 menit beberapa kali sehari dapat membantu menyalurkan naluri berburunya dengan sehat.
Keempat, perhatikan pola perilaku. Catat kapan agresi muncul. Apakah saat makan, ketika disentuh di bagian tertentu, setelah melihat hewan lain, atau saat ada tamu datang. Pola-pola ini sering membantu mengidentifikasi penyebab sebenarnya.
Kelima, jika perilaku agresif muncul mendadak dan berlangsung terus-menerus, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter hewan. Terkadang masalah yang tampak sebagai gangguan perilaku ternyata berakar pada kondisi medis yang membutuhkan penanganan.
Semakin lama hidup bersama kucing, saya semakin memahami bahwa mereka bukan hewan yang dingin atau tidak peduli seperti stereotip yang sering beredar. Mereka hanya memiliki cara berkomunikasi yang berbeda dari manusia.
Ketika seekor kucing mencakar, mungkin ia tidak sedang berkata, "Aku tidak menyukaimu." Bisa jadi ia sedang berkata, "Aku takut," "Aku sakit," "Aku stres," atau bahkan "Tolong beri aku sedikit ruang."
Bagi para pecinta kucing, memahami pesan-pesan kecil ini adalah bagian dari perjalanan belajar mencintai mereka. Dan mungkin di situlah letak keindahan memelihara kucing. Kita tidak hanya belajar merawat seekor hewan, tetapi juga belajar menghargai batasan (ternyata kucing juga memiliki set bounderies) memahami bahasa tanpa kata, dan membangun kepercayaan yang tumbuh perlahan dari hari ke hari. []
