Oleh: Siti Hajar
Kemarin saya mendapat tugas sebagai pengawas UTBK
Jalur Mandiri BKS Barat. Seperti biasa, tugas pengawas adalah memastikan ujian
berjalan tertib dan sesuai prosedur. Namun, di antara puluhan peserta yang
hadir pagi itu, ada satu peserta yang tanpa sengaja menarik perhatian saya.
Bukan karena ia membuat keributan. Bukan pula
karena melanggar aturan dengan sengaja.
Justru sebaliknya.
Ia tampak sangat gugup.
Kegugupan itu terlihat sejak awal. Ketika peserta
mulai berbaris memasuki ruangan, ia berdiri di antrean kelas yang salah.
Seharusnya ia masuk ke ruang tempat saya mengawas, tetapi ia berada di barisan
ruangan sebelah.
Kesalahan kecil. Hal yang bisa terjadi pada siapa
saja.
Namun setelah itu, kejadian-kejadian serupa terus
berlanjut.
Saat petugas meminta peserta mengambil
barang-barang penting yang boleh dibawa ke dalam ruang ujian, ia menjatuhkan
beberapa barang yang dipegangnya. Ketika diminta menunjukkan identitas diri, ia
sempat memasukkan kembali KTP ke dalam dompet. Padahal KTP itulah yang
seharusnya tetap berada di tangannya, sementara dompet dimasukkan kembali ke
dalam tas.
Masalah belum selesai. Setelah ujian berlangsung,
diketahui bahwa ijazah yang dibawanya tidak memiliki stempel basah sehingga
dokumen tersebut belum dapat digunakan sebagai identitas yang sah.
Di dalam ruang ujian, ponselnya berbunyi alarm. Ia
ternyata lupa mematikannya.
Hal ini yang mengharuskannya menghadap panitia
dalam waktu tidak lebih dari tiga puluh menit setelah ujian selesai.
Saya memperhatikannya sepanjang proses itu. Dalam
hati saya bertanya, apa sebenarnya yang sedang terjadi pada anak ini?
Awalnya mungkin mudah bagi kita untuk menyimpulkan
bahwa ia ceroboh atau kurang teliti. Namun jika diperhatikan lebih dalam,
rangkaian kesalahan yang dilakukannya memiliki pola yang berbeda.
Kesalahan-kesalahan itu tampak seperti kesalahan
seseorang yang pikirannya sedang dipenuhi oleh hal lain.
Dalam psikologi, kondisi seperti ini sering
dikaitkan dengan kecemasan situasional atau state anxiety. Ini adalah
kecemasan yang muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap sangat
penting bagi masa depannya.
Bagi sebagian peserta, UTBK bukan sekadar ujian.
Ia adalah harapan.
Ia adalah mimpi.
Ia adalah jalan menuju kampus impian.
Ia juga bisa menjadi simbol pengorbanan orang tua
yang telah bekerja keras membiayai pendidikan anaknya.
Ketika seseorang menanggung harapan sebesar itu,
pikirannya bisa dipenuhi berbagai kemungkinan.
Bagaimana kalau gagal?
Bagaimana kalau nilainya tidak cukup?
Bagaimana kalau mengecewakan orang tua?
Bagaimana kalau teman-teman berhasil sementara
saya tidak?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin tidak
terdengar oleh orang lain. Namun di dalam kepala seseorang, pertanyaan itu bisa
memenuhi hampir seluruh ruang pikirannya.
Akibatnya, perhatian terhadap hal-hal sederhana
menjadi berkurang.
Dalam psikologi kognitif, kondisi ini dikenal
sebagai beban kognitif yang tinggi. Otak bekerja keras memproses kecemasan
sehingga energi mental yang biasanya digunakan untuk memperhatikan
detail-detail kecil menjadi menurun.
Salah antre.
Menjatuhkan barang.
Lupa mematikan alarm.
Salah menyimpan dokumen.
Semuanya bisa menjadi konsekuensi dari pikiran
yang sedang bekerja terlalu keras.
Yang menarik, kecemasan sering menciptakan
lingkaran yang berulang. Satu kesalahan kecil memunculkan rasa panik. Kepanikan
itu membuat seseorang semakin sulit berkonsentrasi. Akibatnya muncul kesalahan
berikutnya. Kesalahan berikutnya meningkatkan kecemasan lagi.
Begitulah seterusnya.
Sebagai pengawas, saya tentu tidak mengetahui
kehidupan pribadi peserta tersebut. Saya tidak tahu seperti apa keluarganya.
Saya tidak tahu berapa lama ia belajar untuk menghadapi ujian ini. Saya juga
tidak tahu seberapa besar harapan yang sedang ia bawa di pundaknya.
Namun melihatnya pagi itu membuat saya teringat
bahwa di balik setiap nomor peserta, ada seorang anak yang sedang berjuang.
Mungkin ia telah belajar berbulan-bulan.
Mungkin ia bangun sebelum subuh karena takut
terlambat.
Mungkin ia membawa harapan kedua orang tuanya.
Mungkin ia sedang berusaha mengubah masa depan
keluarganya.
Di akhir ujian, kami mengajak seluruh peserta
untuk berdoa.
Kalimat yang kami sampaikan sederhana.
Semua usaha sudah dilakukan. Tinggal lagi berdoa
kepada Allah.
Semakin saya renungkan, semakin saya menyadari
bahwa kalimat itu tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga makna
psikologis yang dalam.
Ketika seseorang telah melakukan semua yang bisa
dilakukan, ada saatnya ia melepaskan beban yang tidak lagi dapat ia kendalikan.
Soal yang sudah dijawab tidak bisa diubah.
Waktu yang telah berlalu tidak bisa diputar
kembali.
Hasil seleksi belum dapat diketahui.
Pada titik itulah doa menjadi ruang untuk
menenangkan hati.
Bukan karena doa menghapus semua masalah,
melainkan karena doa mengingatkan bahwa manusia tidak harus memikul seluruh
beban dunia sendirian.
Sebagai seorang Muslim, saya teringat sebuah
ajaran yang sangat indah: ikhtiar dan tawakal harus berjalan beriringan. Kita
belajar sebaik mungkin, mempersiapkan dokumen sebaik mungkin, datang tepat
waktu, dan mengerjakan ujian dengan sungguh-sungguh. Setelah itu, hasilnya kita
serahkan kepada Allah.
Mungkin peserta yang saya perhatikan kemarin tidak
akan pernah tahu bahwa ia meninggalkan kesan tersendiri bagi seorang pengawas
ujian.
Namun dari dirinya, saya belajar satu hal.
Tidak semua kegugupan menunjukkan kelemahan.
Kadang-kadang kegugupan justru menunjukkan betapa
besar harapan yang sedang diperjuangkan seseorang.
Dan di ruang ujian seperti itu, di antara
lembar soal, detak jantung yang berdebar, dan doa-doa yang dipanjatkan
diam-diam, ada begitu banyak kisah perjuangan yang tidak pernah tercatat dalam
hasil pengumuman kelulusan.
Tetapi Allah mengetahuinya.
Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup. []
