(Sebuah
refleksi pribadi, bukan hasil asesmen psikologis)
Setelah
mempelajari Teori Big Five, aku terdorong untuk melakukan sesuatu yang mungkin
jarang kulakukan sebelumnya, yaitu mencoba memahami diriku sendiri melalui
sudut pandang psikologi. Selama ini aku lebih sering menggunakan teori untuk
memahami perilaku orang lain, baik melalui tulisan-tulisanku di sitihajarinspiring.com
maupun dalam proses belajar sebagai mahasiswa psikologi. Namun kali ini aku
ingin mengarahkan lensa itu kepada diriku sendiri, bukan untuk memberi label,
melainkan untuk melihat kembali perjalanan hidup yang telah membentukku hingga
hari ini.
Semakin
kupikirkan, semakin kusadari bahwa perjalanan hidupku dipenuhi oleh rasa ingin
tahu, tanggung jawab, empati, dan keinginan untuk terus belajar. Mungkin semua
itu tidak sepenuhnya menjelaskan siapa diriku, tetapi setidaknya Big Five
memberiku sebuah bahasa untuk memahami kecenderungan-kecenderungan yang selama
ini hadir dalam kehidupanku.
1. Openness
to Experience: Belajar Tidak Pernah Mengenal Usia
Jika ada satu
dimensi Big Five yang paling menggambarkan perjalanan hidupku, mungkin itulah Openness
to Experience atau keterbukaan terhadap pengalaman. Aku tidak langsung
menyadari hal itu. Justru setelah melihat kembali berbagai keputusan yang
pernah kuambil, aku mulai memahami bahwa rasa ingin tahu selalu menjadi benang
merah dalam hidupku.
Setelah memiliki
pekerjaan yang relatif mapan dan menjalani rutinitas bertahun-tahun, aku justru
memilih kembali menjadi mahasiswa psikologi. Banyak orang mungkin bertanya
mengapa aku memulai lagi di usia yang tidak lagi muda. Bagiku, jawabannya
sederhana. Aku masih ingin belajar. Aku ingin memahami manusia lebih dalam,
bukan hanya dari pengalaman, tetapi juga dari landasan ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Kecenderungan
yang sama juga kurasakan ketika menulis di sitihajarinspiring.com. Aku
tidak pernah membatasi diriku hanya pada satu topik. Hari ini aku bisa menulis
tentang psikologi kepribadian, esok tentang parenting, lalu berpindah ke
resiliensi, mindfulness, psikologi positif, atau pengembangan diri. Menulis
menjadi ruang bagiku untuk terus mengeksplorasi ide-ide baru sekaligus
menyederhanakan teori agar lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Namun, aku juga
mulai memahami bahwa rasa ingin tahu memiliki tantangannya sendiri. Semakin
banyak hal yang ingin kupelajari, semakin banyak pula ide yang ingin kutulis.
Kadang-kadang aku memiliki lebih banyak rencana daripada waktu yang tersedia
untuk mewujudkannya. Mungkin inilah konsekuensi dari keterbukaan terhadap
pengalaman yang tinggi, yaitu harus belajar menentukan prioritas agar setiap
ide dapat berkembang dengan baik.
2.
Conscientiousness: Tanggung Jawab sebagai Nilai yang Kupegang
Dimensi kedua
yang kurasakan cukup kuat dalam diriku adalah Conscientiousness. Aku
menyadari bahwa diriku cenderung memandang setiap amanah sebagai sebuah
tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Ketika pertama
kali dipercaya menjadi pemimpin kecil di tempat kerja, misalnya, perasaan yang
paling dominan bukanlah kebanggaan, melainkan rasa gugup. Aku khawatir tidak
mampu menjalankan amanah itu dengan baik. Pengalaman tersebut membuatku
memahami bahwa yang paling sering mendorongku bukanlah keinginan untuk terlihat
berhasil, tetapi keinginan untuk menjalankan tanggung jawab sebaik mungkin.
Sebagai
mahasiswa psikologi, aku juga merasakan kecenderungan yang sama. Aku tidak puas
hanya dengan mengetahui sebuah teori secara umum. Aku ingin memahami dasar
ilmiahnya, membandingkan berbagai pendapat, membaca penelitian terbaru, dan
memastikan bahwa apa yang kutulis memiliki landasan yang kuat. Bagiku, proses
belajar bukan sekadar mengumpulkan nilai, tetapi membangun pemahaman yang
benar.
Di sisi lain,
aku juga menyadari bahwa kecenderungan ini dapat berubah menjadi tantangan. Ada
kalanya aku terlalu lama menyempurnakan sebuah tulisan karena merasa masih ada
bagian yang dapat diperbaiki. Aku sedang belajar menerima bahwa kualitas memang
penting, tetapi tidak ada karya yang benar-benar sempurna.
3.
Extraversion: Berbagi kepada Banyak Orang, Bertumbuh dalam Keheningan
Jika melihat
diriku melalui dimensi Extraversion, aku merasa berada di antara dua
dunia. Aku menikmati kesempatan berbicara di depan forum, memimpin rapat,
berdiskusi, atau berbagi ilmu ketika diminta menjadi narasumber.
Situasi-situasi seperti itu tidak membuatku merasa tertekan, bahkan sering kali
memberiku pengalaman yang berharga.
Namun, aku juga
menyadari bahwa energi terbesarku justru kembali ketika aku memiliki waktu
untuk membaca, menulis, atau sekadar merenung. Banyak gagasan yang lahir bukan
ketika aku berada di tengah keramaian, melainkan ketika aku duduk sendiri
bersama buku dan pikiranku.
Karena itulah,
aku tidak merasa sepenuhnya ekstrovert ataupun introvert. Aku lebih melihat
diriku sebagai seseorang yang dapat menyesuaikan diri dengan berbagai situasi
sosial, tetapi tetap membutuhkan ruang sunyi untuk mengisi kembali energi dan
menyusun pikiran.
4.
Agreeableness: Berusaha Memahami Sebelum Menilai
Semakin lama
belajar psikologi, aku semakin menyadari bahwa setiap perilaku manusia hampir
selalu memiliki cerita di baliknya. Kesadaran ini membuatku cenderung berusaha
memahami orang lain sebelum memberikan penilaian.
Aku masih
mengingat ketika pernah merasa bingung dengan perubahan sikap salah seorang
staf setelah aku menjadi atasannya. Alih-alih langsung menganggapnya sebagai
sikap yang tidak menyenangkan, aku justru lebih banyak bertanya kepada diriku
sendiri. Apakah ada perasaan yang sedang ia alami? Apakah perubahan hubungan
kerja memengaruhi caranya bersikap? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuatku
mencoba melihat situasi dari sudut pandang yang lebih luas.
Cara pandang
yang sama tanpa kusadari juga hadir dalam tulisan-tulisanku. Aku selalu
berusaha mengajak pembaca memahami perilaku manusia melalui pendekatan
psikologi, bukan dengan memberi cap baik atau buruk. Bagiku, memahami sering
kali lebih penting daripada menghakimi.
Meski demikian,
aku juga belajar bahwa empati perlu diimbangi dengan ketegasan. Ada saat-saat
ketika aku terlalu memikirkan perasaan orang lain hingga lupa menjaga batas
untuk diriku sendiri. Sebagai seorang pemimpin, aku masih terus belajar
menemukan keseimbangan di antara keduanya.
5.
Neuroticism: Peka terhadap Tanggung Jawab, tetapi Terus Belajar Mengelolanya
Dimensi terakhir
yang kurefleksikan adalah Neuroticism. Aku menyadari bahwa aku bukan
orang yang tidak pernah merasa cemas. Ketika menghadapi tanggung jawab baru,
memasuki lingkungan baru, atau mengambil keputusan penting, aku tetap merasakan
kegugupan.
Aku masih
mengingat bagaimana tegangnya diriku ketika pertama kali mengikuti rapat
bersama para pimpinan fakultas setelah dipercaya memegang amanah baru. Saat itu
aku bertanya-tanya apakah aku mampu menjalankan tanggung jawab tersebut dengan
baik. Pengalaman seperti itu membuatku memahami bahwa rasa cemas adalah bagian
dari diriku, tetapi bukan sesuatu yang menghalangiku untuk melangkah.
Yang kusyukuri,
setiap kali menghadapi kecemasan, aku cenderung mencari cara untuk memahaminya.
Aku membaca, belajar, menulis, dan mencoba melihatnya dari sudut pandang
psikologi. Barangkali inilah cara yang selama ini membantuku mengelola tekanan
tanpa harus lari darinya.
Refleksi
Setelah mencoba
melihat diriku melalui lima dimensi Big Five, aku tidak merasa telah menemukan
jawaban yang lengkap tentang siapa diriku. Justru sebaliknya, teori ini
membuatku semakin sadar bahwa manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar lima
dimensi kepribadian. Namun, aku bersyukur karena Big Five memberiku cara untuk
memahami beberapa kecenderungan yang selama ini hadir dalam perjalanan hidupku.
Aku melihat
diriku sebagai seseorang yang senang belajar, berusaha menjalankan tanggung
jawab dengan sungguh-sungguh, menikmati berbagi pengetahuan, mencoba memahami
orang lain dengan empati, serta terus belajar mengelola kecemasan ketika
menghadapi tantangan baru. Di balik semua itu, aku juga menyadari bahwa masih
ada banyak hal yang perlu terus kukembangkan, mulai dari belajar menentukan
prioritas, mengurangi perfeksionisme, hingga menjaga keseimbangan antara empati
dan ketegasan.
Jika ada satu
hal yang paling ingin kusyukuri dari perjalanan ini, bukanlah karena aku merasa
telah mengenal diriku sepenuhnya. Justru aku bersyukur karena masih memiliki
keinginan untuk terus bertumbuh. Mungkin itulah pelajaran paling berharga yang
kudapatkan dari Big Five. Kepribadian bukanlah sebuah kotak yang membatasi
siapa diri kita, melainkan sebuah peta yang membantu kita memahami arah
perjalanan. Selama kita masih mau belajar, berefleksi, dan memperbaiki diri,
perjalanan itu akan selalu membawa kita menjadi pribadi yang lebih matang
daripada hari kemarin. []
