Oleh: Siti Hajar
Jika pada
tulisan sebelumnya kita memahami bahwa kehilangan merupakan konsekuensi alami
dari sebuah ikatan yang pernah terjalin, maka pertanyaan berikutnya menjadi
jauh lebih menarik untuk dijawab. Mengapa setelah waktu berlalu cukup lama,
sebagian orang masih merasa terjebak pada peristiwa yang sama? Bukankah ada
pepatah yang mengatakan bahwa waktu adalah obat bagi segala luka?
Pepatah itu
memang terdengar indah, tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. Waktu
sesungguhnya hanya bergerak maju. Ia tidak memiliki kemampuan untuk
menyembuhkan siapa pun. Yang menentukan apakah luka itu perlahan menutup atau
justru semakin dalam adalah apa yang terjadi di dalam diri seseorang selama
waktu itu berjalan. Ada orang yang menggunakan waktunya untuk menerima,
belajar, dan perlahan membangun kembali kehidupannya. Sebaliknya, ada pula yang
selama bertahun-tahun terus mengulang percakapan yang sama di dalam pikirannya,
seolah-olah dengan memutar kembali masa lalu ia dapat mengubah akhir dari
cerita tersebut.
Fenomena ini
sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang terus menyalahkan
dirinya karena merasa menjadi penyebab kematian orang tuanya, padahal peristiwa
itu terjadi di luar kendalinya. Ada yang masih dihantui rasa bersalah karena
pernah menolak ajakan makan siang sahabatnya, lalu beberapa jam kemudian
sahabat itu mengalami kecelakaan. Ada pula seorang ayah yang tidak pernah
memaafkan dirinya sendiri karena merasa gagal melindungi keluarganya ketika
bencana datang. Peristiwa-peristiwa itu telah berlalu, tetapi pikiran mereka
tetap tinggal di sana, mengulang adegan yang sama dengan harapan yang mustahil,
seolah-olah jika dipikirkan cukup lama, masa lalu akan berubah.
Dalam dunia
psikologi, keadaan ini tidak dipahami sebagai kelemahan karakter. Justru
sebaliknya, para psikolog berusaha memahami bagaimana pikiran manusia bekerja
ketika menghadapi pengalaman yang sangat menyakitkan. Salah satu pendekatan
yang paling berpengaruh dalam menjelaskan hal tersebut adalah Cognitive
Behavioral Therapy atau yang lebih dikenal dengan singkatan CBT.
Aaron Beck,
seorang psikiater yang mengembangkan pendekatan ini, berpendapat bahwa
penderitaan manusia tidak hanya dipengaruhi oleh peristiwa yang dialaminya,
tetapi juga oleh cara ia menafsirkan peristiwa tersebut. Dua orang dapat
mengalami kejadian yang hampir sama, tetapi memberikan makna yang sangat
berbeda sehingga dampaknya terhadap kehidupan mereka pun menjadi berbeda.
Bayangkan dua
orang pegawai yang kehilangan pekerjaannya pada hari yang sama. Orang pertama
berkata kepada dirinya sendiri bahwa pemutusan hubungan kerja itu memang
menyakitkan, tetapi ia masih memiliki kemampuan untuk mencari kesempatan baru.
Orang kedua
justru menyimpulkan bahwa dirinya tidak lagi berguna, tidak memiliki masa
depan, dan akan selalu gagal dalam setiap pekerjaan. Peristiwanya sama, tetapi
kehidupan psikologis keduanya berkembang ke arah yang berbeda karena cara
mereka berbicara kepada diri sendiri juga berbeda.
Hal yang sama
sering terjadi pada orang yang sedang berduka. Kehilangan pasangan hidup tentu
merupakan pengalaman yang sangat berat. Namun rasa kehilangan itu terkadang
diperparah oleh pikiran-pikiran yang terus berulang, seperti, "Seandainya
aku mengajaknya lebih cepat ke rumah sakit," atau, "Kalau saja aku
tidak berangkat bekerja hari itu, mungkin semuanya akan berbeda." Pikiran
seperti ini dalam psikologi dikenal sebagai counterfactual thinking,
yaitu kecenderungan membayangkan berbagai kemungkinan yang sebenarnya tidak
pernah terjadi.
Meskipun tampak
seperti usaha untuk mencari jawaban, pada kenyataannya pikiran tersebut sering
kali hanya memperpanjang penderitaan karena seseorang terus hidup dalam dunia
"seandainya", bukan pada kenyataan yang sedang dihadapinya.
CBT tidak
mengajak seseorang berpikir positif secara berlebihan atau berpura-pura bahwa
semua akan baik-baik saja. Pendekatan ini justru mengajarkan keberanian untuk
menguji pikiran-pikiran yang muncul di dalam diri. Ketika seseorang berkata,
"Semua ini salahku," CBT mengajak ia bertanya kembali, apakah benar
semua ini sepenuhnya berada dalam kendaliku? Apakah ada bukti yang mendukung
keyakinan itu? Apakah aku sedang menilai diriku berdasarkan fakta atau
berdasarkan rasa bersalah yang sedang memenuhi hati?
Pertanyaan-pertanyaan
seperti ini sering kali membuka ruang bagi seseorang untuk melihat kenyataan
dengan lebih jernih. Bukan karena rasa sakitnya menghilang, melainkan karena ia
mulai mampu membedakan antara fakta dan kesimpulan yang dibangun oleh emosinya
sendiri. Dalam banyak kasus, kemampuan sederhana untuk melihat peristiwa secara
lebih objektif sudah menjadi langkah awal yang sangat penting dalam proses
pemulihan.
Meskipun
demikian, tidak semua luka dapat selesai hanya dengan mengubah cara berpikir.
Ada kalanya seseorang memahami bahwa pikirannya tidak sepenuhnya benar, tetapi
dadanya tetap terasa sesak ketika mengingat peristiwa tertentu. Ia mengetahui
bahwa dirinya tidak bersalah, tetapi air mata tetap mengalir setiap kali
kenangan itu datang. Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa manusia bukan
hanya makhluk yang berpikir, melainkan juga makhluk yang merasakan.
Kesadaran inilah
yang kemudian melahirkan pendekatan lain dalam psikologi modern yang dikenal
sebagai Acceptance and Commitment Therapy atau ACT. Pendekatan yang
dikembangkan oleh Steven C. Hayes ini menawarkan sudut pandang yang berbeda.
Jika CBT banyak membantu seseorang mengevaluasi pikirannya, maka ACT lebih
menekankan pentingnya mengubah hubungan seseorang dengan pikiran dan emosinya.
Dalam pendekatan ini, penderitaan sering kali bukan muncul karena emosi itu
sendiri, melainkan karena perjuangan tanpa henti untuk menolak keberadaan emosi
tersebut.
Bayangkan
seseorang yang berdiri di tepi pantai ketika ombak besar datang. Jika ia terus
melawan setiap gelombang dengan seluruh tenaganya, tubuhnya akan cepat lelah.
Sebaliknya, jika ia belajar memahami ritme ombak, mengetahui kapan harus
berdiri kokoh dan kapan harus mengikuti arus sesaat, ia justru memiliki peluang
lebih besar untuk tetap selamat.
Analogi ini
sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana manusia berhubungan dengan
emosinya. Kesedihan, kemarahan, rasa bersalah, dan kehilangan merupakan bagian
dari pengalaman hidup yang tidak selalu dapat dihindari. Yang dapat dipelajari
adalah bagaimana kita hidup berdampingan dengan emosi tersebut tanpa
membiarkannya mengambil alih seluruh arah kehidupan.
Pemikiran
tentang penerimaan ini ternyata memiliki kemiripan dengan salah satu pendekatan
yang beberapa tahun terakhir mulai banyak dikenal di Indonesia melalui buku Konstelasi
Keluarga karya Melani Sutanto. Meskipun lahir dari latar belakang yang
berbeda dengan psikologi berbasis riset seperti CBT dan ACT, pendekatan ini
menawarkan cara pandang yang menarik tentang bagaimana pengalaman hidup
seseorang tidak selalu dapat dipahami hanya dari dirinya sendiri, melainkan
juga dari hubungan yang ia miliki dengan sistem keluarganya. Di sinilah
pembahasan kita akan memasuki wilayah yang lebih luas, yaitu memahami bahwa
luka seseorang terkadang tidak hanya berbicara tentang dirinya, tetapi juga tentang
kisah-kisah yang telah lama hidup di dalam keluarganya. []
