Mengapa Kita Sulit Berdamai dengan Masa Lalu? Memahami Luka melalui Psikologi Modern dan Konstelasi Keluarga (Bagian 2)

Oleh: Siti Hajar

Jika pada tulisan sebelumnya kita memahami bahwa kehilangan merupakan konsekuensi alami dari sebuah ikatan yang pernah terjalin, maka pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih menarik untuk dijawab. Mengapa setelah waktu berlalu cukup lama, sebagian orang masih merasa terjebak pada peristiwa yang sama? Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa waktu adalah obat bagi segala luka?

Pepatah itu memang terdengar indah, tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. Waktu sesungguhnya hanya bergerak maju. Ia tidak memiliki kemampuan untuk menyembuhkan siapa pun. Yang menentukan apakah luka itu perlahan menutup atau justru semakin dalam adalah apa yang terjadi di dalam diri seseorang selama waktu itu berjalan. Ada orang yang menggunakan waktunya untuk menerima, belajar, dan perlahan membangun kembali kehidupannya. Sebaliknya, ada pula yang selama bertahun-tahun terus mengulang percakapan yang sama di dalam pikirannya, seolah-olah dengan memutar kembali masa lalu ia dapat mengubah akhir dari cerita tersebut.

Fenomena ini sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang terus menyalahkan dirinya karena merasa menjadi penyebab kematian orang tuanya, padahal peristiwa itu terjadi di luar kendalinya. Ada yang masih dihantui rasa bersalah karena pernah menolak ajakan makan siang sahabatnya, lalu beberapa jam kemudian sahabat itu mengalami kecelakaan. Ada pula seorang ayah yang tidak pernah memaafkan dirinya sendiri karena merasa gagal melindungi keluarganya ketika bencana datang. Peristiwa-peristiwa itu telah berlalu, tetapi pikiran mereka tetap tinggal di sana, mengulang adegan yang sama dengan harapan yang mustahil, seolah-olah jika dipikirkan cukup lama, masa lalu akan berubah.

Dalam dunia psikologi, keadaan ini tidak dipahami sebagai kelemahan karakter. Justru sebaliknya, para psikolog berusaha memahami bagaimana pikiran manusia bekerja ketika menghadapi pengalaman yang sangat menyakitkan. Salah satu pendekatan yang paling berpengaruh dalam menjelaskan hal tersebut adalah Cognitive Behavioral Therapy atau yang lebih dikenal dengan singkatan CBT.

Aaron Beck, seorang psikiater yang mengembangkan pendekatan ini, berpendapat bahwa penderitaan manusia tidak hanya dipengaruhi oleh peristiwa yang dialaminya, tetapi juga oleh cara ia menafsirkan peristiwa tersebut. Dua orang dapat mengalami kejadian yang hampir sama, tetapi memberikan makna yang sangat berbeda sehingga dampaknya terhadap kehidupan mereka pun menjadi berbeda.

Bayangkan dua orang pegawai yang kehilangan pekerjaannya pada hari yang sama. Orang pertama berkata kepada dirinya sendiri bahwa pemutusan hubungan kerja itu memang menyakitkan, tetapi ia masih memiliki kemampuan untuk mencari kesempatan baru.

Orang kedua justru menyimpulkan bahwa dirinya tidak lagi berguna, tidak memiliki masa depan, dan akan selalu gagal dalam setiap pekerjaan. Peristiwanya sama, tetapi kehidupan psikologis keduanya berkembang ke arah yang berbeda karena cara mereka berbicara kepada diri sendiri juga berbeda.

Hal yang sama sering terjadi pada orang yang sedang berduka. Kehilangan pasangan hidup tentu merupakan pengalaman yang sangat berat. Namun rasa kehilangan itu terkadang diperparah oleh pikiran-pikiran yang terus berulang, seperti, "Seandainya aku mengajaknya lebih cepat ke rumah sakit," atau, "Kalau saja aku tidak berangkat bekerja hari itu, mungkin semuanya akan berbeda." Pikiran seperti ini dalam psikologi dikenal sebagai counterfactual thinking, yaitu kecenderungan membayangkan berbagai kemungkinan yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Meskipun tampak seperti usaha untuk mencari jawaban, pada kenyataannya pikiran tersebut sering kali hanya memperpanjang penderitaan karena seseorang terus hidup dalam dunia "seandainya", bukan pada kenyataan yang sedang dihadapinya.

CBT tidak mengajak seseorang berpikir positif secara berlebihan atau berpura-pura bahwa semua akan baik-baik saja. Pendekatan ini justru mengajarkan keberanian untuk menguji pikiran-pikiran yang muncul di dalam diri. Ketika seseorang berkata, "Semua ini salahku," CBT mengajak ia bertanya kembali, apakah benar semua ini sepenuhnya berada dalam kendaliku? Apakah ada bukti yang mendukung keyakinan itu? Apakah aku sedang menilai diriku berdasarkan fakta atau berdasarkan rasa bersalah yang sedang memenuhi hati?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering kali membuka ruang bagi seseorang untuk melihat kenyataan dengan lebih jernih. Bukan karena rasa sakitnya menghilang, melainkan karena ia mulai mampu membedakan antara fakta dan kesimpulan yang dibangun oleh emosinya sendiri. Dalam banyak kasus, kemampuan sederhana untuk melihat peristiwa secara lebih objektif sudah menjadi langkah awal yang sangat penting dalam proses pemulihan.

Meskipun demikian, tidak semua luka dapat selesai hanya dengan mengubah cara berpikir. Ada kalanya seseorang memahami bahwa pikirannya tidak sepenuhnya benar, tetapi dadanya tetap terasa sesak ketika mengingat peristiwa tertentu. Ia mengetahui bahwa dirinya tidak bersalah, tetapi air mata tetap mengalir setiap kali kenangan itu datang. Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa manusia bukan hanya makhluk yang berpikir, melainkan juga makhluk yang merasakan.

Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan pendekatan lain dalam psikologi modern yang dikenal sebagai Acceptance and Commitment Therapy atau ACT. Pendekatan yang dikembangkan oleh Steven C. Hayes ini menawarkan sudut pandang yang berbeda. Jika CBT banyak membantu seseorang mengevaluasi pikirannya, maka ACT lebih menekankan pentingnya mengubah hubungan seseorang dengan pikiran dan emosinya. Dalam pendekatan ini, penderitaan sering kali bukan muncul karena emosi itu sendiri, melainkan karena perjuangan tanpa henti untuk menolak keberadaan emosi tersebut.

Bayangkan seseorang yang berdiri di tepi pantai ketika ombak besar datang. Jika ia terus melawan setiap gelombang dengan seluruh tenaganya, tubuhnya akan cepat lelah. Sebaliknya, jika ia belajar memahami ritme ombak, mengetahui kapan harus berdiri kokoh dan kapan harus mengikuti arus sesaat, ia justru memiliki peluang lebih besar untuk tetap selamat.

Analogi ini sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana manusia berhubungan dengan emosinya. Kesedihan, kemarahan, rasa bersalah, dan kehilangan merupakan bagian dari pengalaman hidup yang tidak selalu dapat dihindari. Yang dapat dipelajari adalah bagaimana kita hidup berdampingan dengan emosi tersebut tanpa membiarkannya mengambil alih seluruh arah kehidupan.

Pemikiran tentang penerimaan ini ternyata memiliki kemiripan dengan salah satu pendekatan yang beberapa tahun terakhir mulai banyak dikenal di Indonesia melalui buku Konstelasi Keluarga karya Melani Sutanto. Meskipun lahir dari latar belakang yang berbeda dengan psikologi berbasis riset seperti CBT dan ACT, pendekatan ini menawarkan cara pandang yang menarik tentang bagaimana pengalaman hidup seseorang tidak selalu dapat dipahami hanya dari dirinya sendiri, melainkan juga dari hubungan yang ia miliki dengan sistem keluarganya. Di sinilah pembahasan kita akan memasuki wilayah yang lebih luas, yaitu memahami bahwa luka seseorang terkadang tidak hanya berbicara tentang dirinya, tetapi juga tentang kisah-kisah yang telah lama hidup di dalam keluarganya. []

Lebih baru Lebih lama