Oleh: Siti Hajar
Ketika berita tentang Yuvita yang
diduga mengalami penyiksaan oleh pria yang menjalin hubungan asmara dengannya
muncul ke ruang publik, banyak orang merasa marah, sedih, sekaligus bingung.
Bagaimana mungkin seseorang dapat melakukan kekerasan terhadap orang yang
katanya dicintai? Dan mengapa korban tetap bertahan dalam hubungan yang begitu
menyakitkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut
sering muncul setiap kali masyarakat dihadapkan pada kasus kekerasan dalam
hubungan romantis. Namun psikologi menunjukkan bahwa hubungan yang penuh
kekerasan tidak sesederhana kisah tentang pelaku yang jahat dan korban yang
lemah. Di dalamnya terdapat dinamika emosi, pola keterikatan, manipulasi
psikologis, serta proses trauma yang kompleks.
Kasus seperti yang dialami Yuvita
memberikan kesempatan bagi kita untuk memahami bagaimana hubungan yang
seharusnya menjadi tempat berlindung justru dapat berubah menjadi sumber
penderitaan.
Ketika Cinta Berubah Menjadi
Kontrol
Dalam hubungan yang sehat, cinta
memberikan rasa aman. Seseorang merasa diterima, dihargai, dan bebas menjadi
dirinya sendiri. Namun dalam hubungan yang abusif, cinta sering berubah menjadi
alat kontrol.
Pada awal hubungan, pelaku
mungkin tampak sangat perhatian. Ia ingin selalu mengetahui keberadaan
pasangan, ingin menghabiskan waktu bersama setiap saat, dan menunjukkan
kecemburuan yang dianggap sebagai tanda cinta.
Banyak korban tidak menyadari
bahwa perhatian yang berlebihan dapat menjadi langkah awal menuju penguasaan.
Psikolog dan sosiolog Evan Stark
menyebut fenomena ini sebagai coercive control, yaitu pola perilaku yang
bertujuan membatasi kebebasan korban secara bertahap. Korban mulai dijauhkan
dari keluarga, teman, dan lingkungan sosialnya. Lambat laun, dunia korban
menjadi semakin sempit hingga hanya berpusat pada pelaku.
Pada tahap ini, hubungan bukan
lagi tentang cinta, melainkan tentang kekuasaan.
Teori Attachment: Mengapa Korban
Sulit Melepaskan Diri?
Salah satu teori yang membantu
menjelaskan fenomena ini adalah Attachment Theory yang dikembangkan oleh
John Bowlby.
Menurut Bowlby, pengalaman masa
kecil membentuk cara seseorang menjalin hubungan ketika dewasa. Anak yang
tumbuh dengan pengasuhan yang hangat dan konsisten cenderung mengembangkan secure
attachment, yaitu kemampuan membangun hubungan yang sehat dan saling
percaya.
Sebaliknya, sebagian individu
mengembangkan anxious attachment, yaitu pola keterikatan yang ditandai
ketakutan ditinggalkan dan kebutuhan yang sangat besar untuk mendapatkan
penerimaan dari pasangan.
Pada kondisi tertentu, seseorang
dengan pola keterikatan cemas dapat bertahan dalam hubungan yang tidak sehat
karena lebih takut kehilangan pasangan daripada menghadapi penderitaan yang
sedang dialami.
Bukan berarti semua korban
memiliki pola attachment tertentu. Namun teori ini membantu menjelaskan mengapa
sebagian orang tetap mempertahankan hubungan yang menyakitkan meskipun secara
logis mereka memahami bahwa hubungan tersebut berbahaya.
Trauma Bonding: Ikatan yang
Dibangun oleh Luka
Psikolog Patrick Carnes
memperkenalkan konsep trauma bonding, yaitu keterikatan emosional yang
muncul melalui siklus antara kekerasan dan kasih sayang.
Bayangkan seseorang yang hari ini
disakiti, tetapi keesokan harinya diperlakukan dengan sangat baik. Setelah
dimarahi, ia dipeluk. Setelah dihina, ia diberi hadiah. Setelah ditakut-takuti,
ia mendapatkan janji manis.
Pergantian ekstrem antara rasa
sakit dan rasa nyaman menciptakan keterikatan yang sangat kuat.
Korban mulai percaya bahwa di
balik kekerasan yang terjadi, pelaku sebenarnya masih mencintainya. Harapan
itulah yang membuat korban terus bertahan.
Dalam banyak kasus, yang membuat
korban sulit pergi bukan hanya rasa cinta, tetapi juga harapan bahwa suatu hari
pasangan akan kembali menjadi sosok baik seperti pada awal hubungan.
Siklus Kekerasan yang Berulang
Psikolog Lenore Walker
menjelaskan bahwa kekerasan dalam hubungan sering mengikuti pola yang disebut Cycle
of Violence.
Awalnya muncul ketegangan. Pelaku
menjadi mudah marah, posesif, dan sering menyalahkan pasangan.
Kemudian terjadi ledakan
kekerasan, baik secara verbal, emosional, maupun fisik.
Setelah itu muncul fase
penyesalan. Pelaku meminta maaf, menangis, berjanji berubah, atau menunjukkan
kasih sayang yang luar biasa.
Korban pun kembali berharap.
Namun tanpa perubahan yang nyata,
siklus tersebut biasanya berulang dan semakin memburuk.
Inilah alasan mengapa banyak
kasus kekerasan berlangsung bertahun-tahun sebelum akhirnya terungkap.
Gaslighting: Membuat Korban
Meragukan Dirinya Sendiri
Dalam hubungan abusif, kekerasan
tidak selalu berupa tindakan fisik. Ada pula kekerasan psikologis yang dikenal
sebagai gaslighting.
Gaslighting terjadi ketika pelaku
secara terus-menerus membuat korban meragukan pikiran, ingatan, dan perasaannya
sendiri.
Ketika korban merasa disakiti,
pelaku berkata, "Kamu terlalu sensitif."
Ketika korban mengingat kejadian
tertentu, pelaku menjawab, "Itu tidak pernah terjadi."
Ketika korban menangis, pelaku
mengatakan, "Kamu yang membuat semuanya jadi masalah."
Lama-kelamaan korban mulai
mempertanyakan penilaiannya sendiri.
Korban tidak lagi yakin apakah
dirinya benar-benar menjadi korban atau justru penyebab semua masalah.
Kondisi ini membuat korban
semakin bergantung pada pelaku untuk menentukan apa yang dianggap benar.
Learned Helplessness: Saat
Harapan Mulai Mati
Martin Seligman melalui teorinya
tentang learned helplessness menjelaskan bahwa manusia dapat kehilangan
keyakinan untuk mengubah keadaan setelah berulang kali mengalami situasi yang
menyakitkan dan tidak terkendali.
Pada awalnya korban mungkin
mencoba melawan, meminta bantuan, atau berusaha keluar dari hubungan.
Namun ketika setiap usaha gagal
atau justru memicu kekerasan yang lebih besar, korban mulai merasa tidak
berdaya.
Mereka bukan tidak ingin pergi.
Mereka mulai percaya bahwa pergi
tidak akan mengubah apa pun.
Inilah salah satu dampak
psikologis paling berbahaya dari kekerasan yang berlangsung lama.
Dark Triad Personality: Ketika
Empati Menjadi Sangat Rendah
Dalam psikologi kepribadian
terdapat konsep yang dikenal sebagai Dark Triad, yaitu tiga
karakteristik kepribadian yang sering dikaitkan dengan perilaku manipulatif.
Pertama adalah narsisme,
yaitu kebutuhan berlebihan untuk merasa superior dan berhak mendapatkan
perlakuan khusus.
Kedua adalah Machiavellianisme,
yaitu kecenderungan memanipulasi orang lain demi mencapai tujuan pribadi.
Ketiga adalah psikopati,
yang ditandai rendahnya empati, kurangnya rasa bersalah, dan kecenderungan
bertindak impulsif.
Penting untuk dipahami bahwa kita
tidak dapat menyimpulkan seseorang memiliki karakteristik ini hanya berdasarkan
pemberitaan media. Namun konsep Dark Triad membantu menjelaskan mengapa
sebagian individu mampu mengeksploitasi, memanipulasi, dan menyakiti orang lain
tanpa menunjukkan penyesalan yang memadai.
Mengapa Lingkungan Sering Salah
Memahami Korban?
Salah satu tragedi terbesar dalam
kasus kekerasan adalah ketika korban tidak hanya terluka oleh pelaku, tetapi
juga oleh lingkungan.
Banyak orang bertanya,
"Kenapa tidak pergi saja?"
Padahal pertanyaan tersebut
mengabaikan kompleksitas trauma yang sedang dialami korban.
Korban sering kehilangan rasa
percaya diri, mengalami ketakutan kronis, terisolasi dari dukungan sosial, dan
tidak lagi yakin pada kemampuan dirinya sendiri.
Dalam kondisi seperti itu, keluar
dari hubungan bisa terasa sama sulitnya dengan mendaki gunung tanpa
perlengkapan.
Karena itulah dukungan sosial
menjadi faktor yang sangat penting dalam proses penyelamatan dan pemulihan
korban.
Pelajaran yang Dapat Kita Ambil
Kasus Yuvita mengingatkan kita
bahwa kekerasan dalam hubungan jarang dimulai dari tindakan ekstrem. Ia sering
berawal dari kontrol yang dianggap perhatian, kecemburuan yang dianggap cinta,
dan manipulasi yang dianggap kepedulian.
Psikologi mengajarkan bahwa
hubungan yang sehat tidak dibangun di atas rasa takut. Cinta yang sehat
memberikan ruang untuk tumbuh, bukan ruang untuk mengendalikan. Ia menghadirkan
rasa aman, bukan kecemasan. Ia menghargai kebebasan, bukan menghilangkannya.
Semakin dini seseorang mampu mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat, semakin besar peluang untuk mencegah kekerasan yang lebih berat di kemudian hari. Karena pada akhirnya, cinta yang sejati tidak pernah membutuhkan ketakutan agar dapat bertahan.[]
