"Mengapa ada seseorang yang baru kita kenal,
tetapi terasa begitu akrab? Sebaliknya, mengapa ada pula orang yang telah lama
bersama kita, namun hati tetap terasa asing?"
Pertanyaan semacam ini hampir pernah dialami
setiap orang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan seseorang yang
seolah mampu memahami isi hati kita tanpa banyak kata. Pertemuan dengannya
terasa hangat, percakapan mengalir begitu saja, dan kehadirannya menghadirkan
rasa tenang. Di sisi lain, ada pula orang yang secara objektif baik, sopan,
bahkan memiliki banyak kesamaan dengan kita, tetapi hubungan itu terasa kaku
dan sulit berkembang.
Fenomena tersebut bukan hanya menjadi bahan
renungan para filsuf atau psikolog. Islam telah lebih dahulu memberikan isyarat
mengenai adanya hubungan batin antarmanusia melalui sebuah hadis Nabi Muhammad ï·º yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim dan
Sahih al-Bukhari:
"Ruh-ruh itu adalah laksana pasukan yang
dihimpun. Ruh yang saling mengenal akan saling menyukai, sedangkan ruh yang
tidak saling mengenal akan saling berselisih."
Hadis ini telah mengundang banyak kajian sepanjang
sejarah Islam. Sebagian orang memaknainya sebagai adanya hubungan ruhani yang
telah terjalin sebelum manusia lahir ke dunia. Sebagian ulama lain menjelaskan
bahwa hadis tersebut menggambarkan kesesuaian karakter, fitrah, dan
kecenderungan batin yang membuat dua orang mudah saling menerima. Apa pun
penafsirannya, satu hal yang pasti: Islam mengakui bahwa hubungan antarmanusia
tidak hanya dibangun oleh komunikasi lahiriah, tetapi juga oleh dimensi batin yang
lebih dalam.
Ruh dan Kecenderungan Fitrah
Dalam pandangan Islam, manusia tidak hanya terdiri
atas tubuh yang tampak oleh mata. Di balik jasad terdapat ruh, yang menjadi
sumber kehidupan dan pusat kesadaran spiritual. Ruh adalah bagian dari ciptaan
Allah yang hakikatnya tidak sepenuhnya diketahui manusia.
Allah berfirman:
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh.
Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra': 85)
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia tidak memiliki
kemampuan untuk memahami seluruh hakikat ruh. Oleh karena itu, hadis tentang
"ruh-ruh yang saling mengenal" hendaknya dipahami sebagai petunjuk,
bukan sebagai dasar untuk membangun berbagai spekulasi mistis yang tidak
memiliki landasan.
Yang dapat dipahami adalah bahwa setiap manusia
memiliki fitrah, nilai, dan kecenderungan batin tertentu. Ketika dua orang
memiliki orientasi hati yang sejalan, hubungan mereka biasanya berkembang
secara lebih alami.
Penjelasan Psikologi: Mengapa Kita Merasa
"Klik" dengan Seseorang?
Menariknya, berbagai teori psikologi modern
memberikan penjelasan yang cukup dekat dengan makna hadis tersebut.
1. Similarity-Attraction Theory
Psikolog Donn Byrne melalui Similarity-Attraction
Theory menjelaskan bahwa manusia cenderung menyukai orang yang memiliki
kesamaan dengan dirinya. Kesamaan itu tidak selalu berupa hobi atau pekerjaan,
tetapi juga nilai hidup, keyakinan, cara berpikir, hingga prinsip moral.
Kesamaan menciptakan rasa aman. Ketika seseorang
memandang dunia dengan cara yang mirip dengan kita, otak lebih mudah
memprediksi responsnya. Akibatnya, hubungan terasa nyaman dan penuh
kepercayaan.
Inilah sebabnya mengapa dua orang yang baru
bertemu kadang dapat berbicara selama berjam-jam seolah telah lama bersahabat.
2. Emotional Resonance: Frekuensi Emosi yang
Selaras
Dalam psikologi sosial dikenal konsep emotional
resonance, yaitu kemampuan seseorang menangkap dan merasakan keadaan
emosional orang lain.
Ketika dua individu memiliki tingkat empati yang
tinggi, ekspresi wajah, intonasi suara, bahkan bahasa tubuh mereka dapat saling
memengaruhi. Fenomena ini membuat percakapan terasa lebih hidup dan hubungan
menjadi lebih dekat.
Banyak orang menggambarkan pengalaman ini sebagai
"berada pada frekuensi yang sama". Ungkapan tersebut bukan sekadar
kiasan. Penelitian mengenai empati menunjukkan bahwa manusia memang memiliki
kemampuan biologis untuk menyelaraskan respons emosionalnya dengan orang lain.
3. Attachment Theory
John Bowlby melalui Attachment Theory
menjelaskan bahwa pengalaman hubungan pada masa kecil membentuk pola kedekatan
seseorang ketika dewasa.
Seseorang yang sejak kecil memperoleh rasa aman
dari pengasuhnya cenderung lebih mudah membangun hubungan yang sehat.
Sebaliknya, pengalaman penolakan atau kehilangan dapat membuat seseorang lebih
berhati-hati dalam mempercayai orang lain.
Karena itu, rasa "cocok" dengan
seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh kepribadian saat ini, tetapi juga oleh
sejarah emosional yang telah dibentuk sejak masa kanak-kanak.
4. Big Five Personality
Teori Big Five Personality menjelaskan
bahwa manusia memiliki lima dimensi utama kepribadian: keterbukaan terhadap
pengalaman, kehati-hatian, ekstraversi, keramahan, dan stabilitas emosi.
Kesamaan pada beberapa dimensi tersebut sering
kali membuat dua individu lebih mudah bekerja sama, saling memahami, dan
membangun hubungan jangka panjang.
Dengan kata lain, apa yang dalam bahasa agama
disebut sebagai "ruh yang saling mengenal" dapat dipahami dalam
psikologi sebagai perpaduan antara kesamaan nilai, pengalaman hidup, pola
kepribadian, dan kemampuan membangun resonansi emosional.
Islam dan Psikologi Tidak Saling Bertentangan
Sebagian orang menganggap bahwa penjelasan agama
dan psikologi saling meniadakan. Padahal, keduanya justru dapat saling
melengkapi.
Islam menjelaskan bahwa ada dimensi spiritual yang
memengaruhi hubungan antarmanusia. Psikologi menjelaskan mekanisme biologis,
kognitif, dan emosional yang dapat diamati melalui penelitian ilmiah.
Keduanya sedang membahas fenomena yang sama,
tetapi dari sudut pandang yang berbeda.
Ibarat melihat sebuah gunung, agama menjelaskan
mengapa gunung itu ada dan apa maknanya bagi kehidupan manusia. Psikologi
menjelaskan bagaimana struktur batuan, proses geologi, dan ekosistemnya
bekerja. Penjelasannya berbeda, tetapi objek yang dibahas tetap sama.
Tidak Semua Kecocokan Berarti Takdir
Hadis tentang ruh sering kali disalahpahami
sebagai bukti bahwa setiap orang memiliki "belahan jiwa" tertentu
yang telah ditentukan.
Padahal, Islam tidak mengajarkan demikian.
Merasa dekat dengan seseorang bukanlah bukti bahwa
hubungan tersebut pasti baik. Sebaliknya, merasa kurang cocok dengan seseorang
juga bukan berarti ia buruk atau tidak layak dihormati.
Kecocokan hanyalah salah satu faktor dalam
membangun hubungan. Hubungan yang sehat tetap memerlukan akhlak, komunikasi,
saling menghargai, kesabaran, dan komitmen.
Bahkan dalam kehidupan Rasulullah ï·º, persaudaraan di antara para sahabat
tidak hanya dibangun oleh kesamaan karakter, tetapi juga oleh iman, adab, dan
tujuan hidup yang sama.
Menjadi Ruh yang Dicari
Mungkin selama ini kita lebih sibuk mencari orang
yang memahami diri kita. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah: sudahkah
kita menjadi pribadi yang pantas dicari oleh orang lain?
Ruh yang dipenuhi kejujuran akan mencari
kejujuran. Hati yang dipenuhi kasih sayang akan lebih mudah bertemu dengan hati
yang penuh kasih. Jiwa yang mencintai ilmu akan tertarik kepada mereka yang
gemar belajar. Demikian pula, hati yang selalu mengingat Allah akan merasa
tenteram bersama orang-orang yang juga mengingat-Nya.
Hubungan yang paling indah bukanlah hubungan yang
hanya membuat kita merasa nyaman, tetapi hubungan yang membuat kita bertumbuh
menjadi manusia yang lebih baik.
Hadis tentang ruh-ruh yang saling mengenal
mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia memiliki kedalaman yang melampaui
interaksi lahiriah. Psikologi modern menunjukkan bahwa kedekatan emosional
dapat dijelaskan melalui kesamaan nilai, pola kepribadian, pengalaman hidup,
serta kemampuan berempati. Sementara itu, Islam mengingatkan bahwa di balik
semua proses tersebut terdapat dimensi spiritual yang menjadi bagian dari
rahasia penciptaan manusia.
Pada akhirnya, mungkin bukan kebetulan ketika kita
bertemu seseorang yang membuat hati terasa damai. Namun, kedamaian itu bukanlah
tujuan akhir. Tujuan yang lebih besar adalah saling menguatkan dalam kebaikan,
saling mengingatkan ketika lalai, dan bersama-sama berjalan menuju ridha Allah.
Sebab, pertemuan yang paling bermakna bukan
sekadar ketika dua manusia saling menemukan, melainkan ketika dua jiwa saling
membantu untuk semakin dekat kepada Sang Pencipta.
