Oleh: Siti Hajar
Empat hari.
Hanya empat hari. Namun rasanya seperti ada ruang
kosong yang sulit dijelaskan. Rumah tetap sama, pintunya masih terbuka, mangkuk
makannya masih di tempatnya, tetapi ada satu yang hilang: Si Biru.
Aku baru menyadari bahwa kehilangan tidak selalu tentang manusia. Seekor kucing yang setiap hari menyambut kita di teras rumah pun mampu meninggalkan rindu yang begitu dalam. Selama empat hari itu, setiap suara di luar rumah membuatku berharap. Setiap kali membuka pintu dan di dalampun dalam keadaan sunyi berharap Biru pulang. Berharap pinti digedor-gedor kucing cantik kami.
Selalu berharap, ya Allah semoga Biru baik2 saja di luar sana.
Lalu Allah mengabulkan harapan itu.
Si Biru kembali. Aku menangis terharu, Bang Budy suamiku pun terharu. ada rasa yang sulit dijelaskan oleh kami berdua. Tangis itu adalah kumpulan dari rasa cemas, harapan, doa,
dan syukur yang akhirnya menemukan jalannya.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ada pelajaran
yang terus mengusik pikiranku.
Bagaimana jika Si Biru tidak pernah kembali?
Pertanyaan itu membuatku membayangkan mereka yang
kehilangan orang yang paling dicintainya. Seorang ayah, ibu, pasangan, anak,
sahabat, atau saudara yang berpulang dan tidak lagi mengetuk pintu rumah. Tidak
ada lagi hari yang ditunggu dengan harapan mereka akan datang. Tidak ada lagi
pelukan yang bisa menghapus rindu.
Kehilangan seperti itu jauh lebih berat daripada
apa yang baru saja kurasakan.
Duka adalah harga yang harus dibayar oleh cinta.
Semakin besar cinta yang kita miliki, semakin dalam pula luka ketika perpisahan
datang. Karena itu, tidak ada kalimat sederhana yang mampu menghapus
kehilangan. Tidak ada nasihat yang dapat membuat hati seketika pulih.
Yang perlahan menguatkan hanyalah keyakinan bahwa
semua yang kita miliki hanyalah titipan.
Dalam Islam, kita diajarkan bahwa setiap pertemuan
memiliki waktu yang telah ditentukan, dan setiap perpisahan pun telah ditulis
jauh sebelum kita menyadarinya. Allah berfirman:
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di
bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab
(Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah
bagi Allah."
(QS. Al-Hadid: 22)
Ayat ini bukan untuk menghapus kesedihan,
melainkan untuk memberi tempat bagi hati agar dapat menerima. Menangis bukan
berarti tidak ikhlas. Merasa kehilangan bukan berarti kurang beriman. Justru
rasa sedih adalah bukti bahwa kita pernah mencintai dengan tulus.
Yang perlu dijaga adalah agar kesedihan tidak
berubah menjadi penolakan terhadap takdir. Sebab pada akhirnya, setiap jiwa
akan kembali kepada Allah, Pemilik kehidupan yang sesungguhnya.
Kepulangan Si Biru mengingatkanku pada satu hal
yang sederhana tetapi sangat berarti: betapa indahnya ketika seseorang masih
bisa pulang ke rumah.
Dan bagi kita yang masih memiliki orang-orang
tercinta di sisi kita, mungkin inilah saatnya untuk lebih sering memeluk
mereka, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan menunjukkan kasih sayang.
Karena tidak ada yang tahu kapan sebuah pertemuan berubah menjadi kenangan.
Empat hari ditinggal Si Biru memberiku pelajaran
tentang rindu.
Dan dari rindu itu, aku belajar bahwa cara terbaik
mengobati duka bukanlah dengan melupakan, melainkan dengan menerima bahwa
setiap pertemuan dan setiap perpisahan adalah bagian dari takdir Allah yang
penuh hikmah, meskipun tidak selalu mudah dipahami.
Semoga Allah menjaga orang-orang yang masih
bersama kita, melapangkan hati mereka yang sedang berduka, dan mempertemukan
kembali orang-orang yang saling mencintai di tempat terbaik, yaitu surga-Nya.
Aamiin.
