Oleh: Siti Hajar
Pernahkah Anda memperhatikan dua orang yang
menghadapi situasi yang sama, tetapi memberikan respons yang sangat berbeda?
Bayangkan seorang karyawan menerima kritik dari
atasannya. Orang pertama langsung meninggikan suara, merasa dipermalukan, lalu
membalas dengan nada yang keras. Sebaliknya, orang kedua hanya terdiam sejenak,
menarik napas, mendengarkan sampai selesai, kemudian menjawab dengan tenang.
Peristiwanya sama. Kata-kata yang diterima juga
sama. Namun, mengapa respons mereka bisa sangat berbeda?
Psikologi modern menjelaskan bahwa jawabannya
bukan semata-mata terletak pada sifat seseorang. Perbedaan tersebut banyak
dipengaruhi oleh cara otak mengolah emosi dan mengendalikan reaksi.
Salah satu bagian otak yang berperan penting
adalah amigdala, struktur kecil berbentuk seperti kacang almond yang
berada jauh di dalam otak. Ahli neurosains Joseph LeDoux menjelaskan bahwa
amigdala merupakan sistem deteksi ancaman. Tugasnya adalah mengenali
tanda-tanda bahaya dan mengaktifkan respons perlindungan secepat mungkin. Dari
sudut pandang evolusi, mekanisme ini membantu manusia bertahan hidup. Ketika
nenek moyang kita bertemu binatang buas, mereka tidak memiliki waktu untuk
berpikir panjang. Mereka harus segera berlari atau melawan.
Masalahnya, otak modern masih menggunakan sistem
yang sama, meskipun ancaman yang kita hadapi saat ini sering kali bukan lagi
harimau atau ular berbisa. Kritik dari atasan, komentar pedas di media sosial,
atau ucapan yang dianggap merendahkan dapat dipersepsikan sebagai ancaman
psikologis. Bagi amigdala, ancaman terhadap harga diri sering kali terasa sama
seriusnya dengan ancaman terhadap keselamatan fisik.
Ketika amigdala mendeteksi ancaman, ia segera
mengirim sinyal ke seluruh tubuh. Hormon adrenalin dan kortisol dilepaskan,
detak jantung meningkat, otot menegang, dan napas menjadi lebih cepat. Dalam
hitungan detik, tubuh memasuki kondisi siap bertahan. Pada saat yang sama,
kemampuan berpikir jernih dapat menurun karena energi tubuh diprioritaskan
untuk bereaksi, bukan untuk menganalisis.
Daniel Goleman, melalui konsep amygdala hijack
dalam bukunya Emotional Intelligence, menggambarkan keadaan ini sebagai
"pembajakan emosi". Amigdala mengambil alih kendali sebelum bagian
otak yang bertugas berpikir sempat mengevaluasi situasi. Akibatnya, seseorang
dapat mengucapkan kata-kata yang kasar, membanting barang, atau mengambil
keputusan yang kemudian disesalinya.
Namun, tidak semua orang mengalami pembajakan
emosi dengan intensitas yang sama.
Di bagian depan otak terdapat korteks
prefrontal, wilayah yang sering disebut sebagai pusat fungsi eksekutif.
Bagian inilah yang membantu manusia berpikir logis, mempertimbangkan
konsekuensi, mengendalikan impuls, serta mengambil keputusan yang lebih
rasional.
Ketika seseorang menerima kritik, korteks
prefrontal sebenarnya sedang bekerja keras. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang sederhana tetapi sangat menentukan. Apakah orang ini benar-benar ingin
menyakitiku? Apakah aku perlu membalas sekarang? Apa akibatnya jika aku
bereaksi dengan kemarahan?
Semakin efektif korteks prefrontal bekerja,
semakin besar kemungkinan seseorang mampu memberi jeda sebelum bertindak. Jeda
yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik itu sering kali menjadi pembeda
antara konflik yang membesar dan percakapan yang tetap terkendali.
Antonio Damasio, seorang ahli neurosains,
menunjukkan bahwa emosi dan logika bukanlah dua kekuatan yang saling
bertentangan. Justru keputusan terbaik muncul ketika keduanya bekerja sama.
Emosi memberi sinyal mengenai apa yang penting bagi kita, sedangkan korteks
prefrontal membantu menafsirkan sinyal tersebut agar respons yang muncul tetap
proporsional.
Lalu, mengapa ada orang yang tampaknya lebih mudah
marah daripada orang lain?
Jawabannya tidak sesederhana "karena memang
pemarah". Cara kerja otak dibentuk oleh pengalaman hidup. Anak yang tumbuh
dalam lingkungan penuh pertengkaran, ancaman, atau penolakan dapat
mengembangkan sistem kewaspadaan yang lebih sensitif. Otaknya belajar bahwa
dunia adalah tempat yang tidak sepenuhnya aman. Ketika dewasa, komentar yang
bagi orang lain terdengar biasa saja dapat langsung dibaca sebagai ancaman.
Sebaliknya, individu yang sejak kecil memperoleh
rasa aman, dukungan emosional, dan kesempatan belajar mengelola perasaan
cenderung memiliki regulasi emosi yang lebih baik. Bukan berarti mereka tidak
pernah marah, melainkan mereka memiliki ruang yang lebih luas antara munculnya
emosi dan tindakan yang diambil.
Psikolog James Gross menjelaskan bahwa kemampuan
mengatur emosi bukan berarti menekan atau menghilangkan kemarahan. Regulasi
emosi adalah kemampuan mengenali apa yang sedang dirasakan, memahami
penyebabnya, lalu memilih respons yang paling sesuai dengan situasi. Orang yang
tenang bukanlah orang yang tidak memiliki emosi, melainkan orang yang mampu
mengarahkan emosinya agar tidak mengendalikan perilakunya.
Karena itu, ketenangan tidak identik dengan
kelemahan. Menahan diri bukan berarti membiarkan diri diperlakukan semena-mena.
Sebaliknya, kemampuan untuk tidak langsung bereaksi menunjukkan bahwa seseorang
sedang memberi kesempatan kepada bagian otak yang paling rasional untuk
mengambil keputusan.
Kabar baiknya, kemampuan ini bukan sesuatu yang
tetap sepanjang hidup. Otak memiliki sifat neuroplastisitas, yaitu
kemampuan untuk membentuk dan memperkuat jalur-jalur saraf baru berdasarkan
pengalaman dan latihan. Setiap kali seseorang belajar menarik napas sebelum
menjawab, mencoba memahami sudut pandang orang lain, atau menunda respons
hingga emosinya mereda, ia sebenarnya sedang melatih hubungan antara amigdala
dan korteks prefrontal agar bekerja lebih seimbang.
Pada akhirnya, perbedaan antara orang yang cepat
marah dan orang yang tetap tenang bukanlah soal siapa yang memiliki emosi lebih
besar. Keduanya sama-sama merasakan kecewa, terluka, atau kesal. Yang
membedakan adalah seberapa cepat amigdala mengambil alih, dan seberapa kuat
korteks prefrontal mampu berkata, "Tunggu sebentar. Mari kita pahami
situasinya terlebih dahulu."
Barangkali di situlah letak kedewasaan emosional
yang sesungguhnya. Bukan pada kemampuan untuk tidak pernah marah, melainkan
pada keberanian memberi ruang bagi akal untuk berjalan berdampingan dengan
emosi. Ketika keduanya bekerja selaras, seseorang tidak hanya lebih tenang
menghadapi konflik, tetapi juga lebih bijaksana dalam menjaga hubungan dengan
orang lain maupun dengan dirinya sendiri.
Keterangan tentang ahli:
1. Joseph LeDoux (Neurosains Emosi)
Saat menjelaskan fungsi amigdala, Anda dapat
menambahkan:
Ahli neurosains Joseph LeDoux merupakan
salah satu peneliti yang paling banyak mengungkap bagaimana otak memproses rasa
takut dan ancaman. Dalam bukunya The Emotional Brain: The Mysterious
Underpinnings of Emotional Life (1996), LeDoux menjelaskan bahwa
amigdala mampu memproses informasi emosional melalui jalur yang sangat cepat (low
road), bahkan sebelum korteks serebral sempat melakukan analisis secara
sadar. Mekanisme ini membuat manusia dapat bereaksi terhadap bahaya dalam
hitungan milidetik, tetapi pada saat yang sama juga dapat menyebabkan seseorang
bereaksi berlebihan terhadap ancaman yang sebenarnya tidak berbahaya.
2. Daniel
Goleman (Kecerdasan Emosi)
Ketika membahas amygdala
hijack:
Konsep amygdala
hijack dipopulerkan oleh psikolog dan jurnalis sains Daniel Goleman
dalam bukunya Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ
(1995). Goleman menjelaskan bahwa pada saat emosi memuncak, amigdala dapat
"membajak" sistem berpikir sehingga seseorang bertindak impulsif
sebelum sempat mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya.
3. Antonio Damasio (Emosi dan Pengambilan
Keputusan)
Pada bagian hubungan emosi dan logika:
Ahli saraf asal Portugal Antonio Damasio
melalui bukunya Descartes' Error: Emotion, Reason, and the Human Brain
(1994) menunjukkan bahwa emosi bukanlah musuh bagi logika. Berdasarkan
penelitiannya terhadap pasien dengan kerusakan pada korteks prefrontal, Damasio
menemukan bahwa seseorang yang kehilangan kemampuan merasakan emosi justru
mengalami kesulitan mengambil keputusan. Temuan ini memperlihatkan bahwa
keputusan yang baik lahir dari kerja sama antara emosi dan penalaran.
4. James J.
Gross (Regulasi Emosi)
Saat membahas
orang yang lebih tenang:
Psikolog James
J. Gross, melalui model Emotion Regulation yang diperkenalkan pada
akhir 1990-an dan dikembangkan dalam bukunya Handbook of Emotion
Regulation (edisi pertama 2007; edisi kedua 2014), menjelaskan bahwa
mengelola emosi bukan berarti menekan atau menghilangkannya. Regulasi emosi adalah kemampuan mengenali,
mengevaluasi, dan mengarahkan respons emosional sehingga tetap sesuai dengan
tujuan jangka panjang seseorang.
5. Walter
Mischel (Pengendalian Diri)
Sebagai tambahan
setelah membahas korteks prefrontal:
Kemampuan
menunda respons juga diperkuat oleh penelitian psikolog Walter Mischel
melalui eksperimen terkenal Marshmallow Test pada akhir 1960-an. Temuan
tersebut kemudian dirangkum dalam bukunya The Marshmallow Test: Mastering
Self-Control (2014). Mischel menunjukkan bahwa individu yang mampu
menunda kepuasan sesaat cenderung memiliki kemampuan regulasi diri yang lebih
baik, termasuk dalam mengendalikan dorongan emosional.
6. Albert Ellis (Pikiran Mempengaruhi
Emosi)
Saat menjelaskan mengapa orang berbeda dalam
merespons situasi yang sama:
Psikolog Albert Ellis, pencetus Rational
Emotive Behavior Therapy (REBT), menjelaskan dalam bukunya Reason and
Emotion in Psychotherapy (1962) bahwa emosi tidak muncul semata-mata
karena suatu peristiwa, melainkan karena cara seseorang menafsirkan peristiwa
tersebut. Dua orang dapat mengalami kejadian yang sama, tetapi menghasilkan
emosi yang berbeda karena keyakinan dan pola pikir yang mereka miliki berbeda.
Daftar Referensi
- Damasio, A. R. (1994). Descartes' Error:
Emotion, Reason, and the Human Brain. New York: G.P. Putnam's Sons.
- Ellis, A. (1962). Reason and Emotion in
Psychotherapy. New York: Lyle Stuart.
- Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why
It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.
- Gross, J. J. (Ed.). (2014). Handbook of Emotion
Regulation (2nd ed.). New York: Guilford Press.
- LeDoux, J. E. (1996). The Emotional Brain: The
Mysterious Underpinnings of Emotional Life. New York: Simon &
Schuster.
- Mischel, W. (2014). The Marshmallow Test:
Mastering Self-Control. New York: Little, Brown and Company.
