Oleh: Siti Hajar
Diare sering dianggap sebagai gangguan kesehatan yang ringan. Banyak orang mengalaminya dan biasanya membaik dalam beberapa hari. Namun, diare juga dapat menjadi kondisi yang serius ketika cairan yang keluar dari tubuh cukup banyak.
Diare ditandai dengan perubahan konsistensi tinja menjadi lebih cair dan peningkatan frekuensi buang air besar. Penyebabnya cukup beragam. Infeksi virus dan bakteri termasuk penyebab yang paling umum. Diare juga dapat muncul akibat makanan atau minuman yang terkontaminasi, intoleransi makanan, efek obat tertentu, serta beberapa penyakit pada saluran pencernaan.
Saat terjadi diare, fungsi usus mengalami perubahan. Gerakan usus dapat menjadi lebih cepat. Penyerapan air di dalam usus juga dapat berkurang. Akibatnya, kandungan air dalam tinja meningkat dan tinja menjadi lebih encer.
Pada beberapa jenis infeksi, kondisi tersebut berkaitan dengan respons tubuh terhadap mikroorganisme yang masuk ke saluran pencernaan. Tubuh berusaha mempertahankan keseimbangan dan mengatasi gangguan yang terjadi di dalam usus.
Masalahnya muncul ketika diare terjadi berulang kali.
Setiap kali buang air besar dalam bentuk cair, tubuh kehilangan air dan elektrolit. Elektrolit seperti natrium, kalium, dan klorida memiliki peran penting dalam mempertahankan fungsi sel, saraf, otot, dan keseimbangan cairan tubuh.
Jika cairan yang hilang lebih banyak daripada cairan yang masuk, tubuh mengalami dehidrasi.
Pada awalnya, dehidrasi dapat ditandai dengan rasa haus dan mulut kering. Buang air kecil menjadi lebih jarang. Urine dapat menjadi lebih pekat. Tubuh mulai terasa lemah.
Jika kehilangan cairan berlanjut, gejalanya dapat bertambah berat. Seseorang dapat mengalami pusing ketika berdiri, jantung berdebar, kelemahan yang semakin nyata, sulit berkonsentrasi, hingga penurunan kesadaran.
Karena itu, penanganan diare perlu memperhatikan penggantian cairan.
Oralit merupakan salah satu pilihan utama untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Oralit mengandung air, glukosa, dan elektrolit dalam komposisi yang membantu penyerapan cairan di usus.
Pemberiannya sebaiknya dilakukan sedikit demi sedikit tetapi sering. Jika terdapat muntah, cairan tetap perlu diberikan dalam jumlah kecil dan lebih sering. Menghentikan minum karena takut muntah justru dapat memperburuk dehidrasi.
Asupan makanan juga tetap diperhatikan. Jika masih mampu makan, seseorang dengan diare dapat tetap mengonsumsi makanan dalam jumlah yang sesuai dengan toleransi tubuh.
Air putih tetap penting. Namun, pada diare yang cukup sering, penggantian elektrolit juga diperlukan. Karena itu, oralit lebih tepat digunakan untuk rehidrasi dibandingkan hanya mengandalkan air putih.
Ada beberapa kondisi yang perlu mendapat perhatian khusus.
Diare disertai darah memerlukan pemeriksaan medis. Demam tinggi, nyeri perut yang berat, muntah terus-menerus, serta diare dalam jumlah banyak juga perlu diwaspadai.
Tanda dehidrasi berat harus dianggap sebagai keadaan darurat. Tubuh yang sangat lemah, pusing berat, hampir pingsan, kebingungan, sulit dibangunkan, atau tidak mampu minum merupakan tanda untuk segera mencari pertolongan medis.
Jumlah urine juga dapat menjadi petunjuk sederhana. Ketika seseorang mengalami diare dan hampir tidak buang air kecil, kehilangan cairan perlu dicurigai cukup berat.
Kelompok tertentu juga memiliki risiko lebih besar mengalami komplikasi. Bayi dan anak kecil, orang lanjut usia, serta orang dengan penyakit tertentu dapat mengalami dehidrasi lebih cepat. Mereka perlu mendapatkan perhatian lebih ketika mengalami diare.
Diare yang berlangsung lama juga perlu diperiksa. Diare yang berlangsung selama 14 hari atau lebih termasuk diare persisten dan memerlukan evaluasi untuk mencari penyebabnya.
Pada akhirnya, diare perlu dilihat sebagai kondisi yang berhubungan dengan keseimbangan cairan tubuh. Penyebabnya harus diperhatikan. Jumlah cairan yang hilang juga harus diperhitungkan.
Ketika diare masih ringan dan kondisi tubuh tetap baik, penggantian cairan dan pemantauan dapat dilakukan. Ketika frekuensi buang air besar meningkat, tubuh mulai lemas, urine berkurang, atau muncul tanda bahaya, penanganan harus ditingkatkan.
Jangan menunggu sampai tubuh mengalami dehidrasi berat.
Pada kondisi seperti ini, cairan yang hilang perlu segera diganti. Jika tubuh tidak mampu mempertahankan cairan atau muncul tanda bahaya, pemeriksaan medis diperlukan.
Diare memang sering sembuh dengan sendirinya. Namun, kehilangan cairan yang tidak ditangani dapat menjadi masalah yang jauh lebih serius.
