Jurnal Kebersyukuran-Sebuah Refleksi: Ketika Lelah Datang, Masihkah Kita Bersyukur?

Oleh: Siti Hajar

Ada masa ketika hidup terasa begitu penuh. Pekerjaan belum selesai, tetapi pekerjaan lain sudah menunggu. Satu persoalan baru saja diselesaikan, persoalan lain muncul. Waktu terasa tidak pernah cukup. Pikiran terus bekerja bahkan ketika tubuh sebenarnya sudah meminta istirahat. Dalam keadaan seperti itu, keluhan sering keluar begitu saja. “Capek.” “Pusing.” “Kapan selesainya?” Kalimat-kalimat sederhana seperti itu sangat manusiawi. Tidak ada manusia yang selalu kuat. Ada hari ketika seseorang merasa mampu melakukan banyak hal. Ada pula hari ketika ia hanya ingin berhenti sebentar dan menarik napas.

Tetapi dari sana muncul sebuah pertanyaan yang sederhana, namun cukup dalam. Sampai sejauh mana sebenarnya manusia boleh mengeluh? Pertanyaan ini mungkin tidak terlalu penting ketika hidup sedang baik-baik saja. Namun ketika pekerjaan menumpuk, masalah datang bersamaan, atau keadaan berjalan jauh dari harapan, pertanyaan itu menjadi relevan. Sebab di satu sisi manusia memang memiliki batas. Di sisi lain, sebagai seorang muslim, kita juga diajarkan untuk bersyukur atas apa yang Allah berikan.

Lalu apakah merasa lelah berarti tidak bersyukur? Apakah mengeluh ketika keadaan terasa berat berarti kita tidak menerima takdir? Rasanya tidak sesederhana itu. Manusia tetap manusia. Ia memiliki tubuh yang bisa lelah, pikiran yang bisa penuh, hati yang bisa sedih, dan emosi yang kadang sulit dikendalikan. Mengakui semua itu bukan berarti menolak nikmat Allah.

Mungkin yang perlu kita perhatikan bukan apakah kita pernah mengeluh, tetapi ke mana keluhan itu membawa kita. Ada orang yang mengeluh karena memang sedang lelah. Setelah itu ia beristirahat, menyelesaikan apa yang bisa diselesaikan, lalu kembali menjalani kehidupannya. Ada pula orang yang perlahan menjadikan keluhan sebagai kebiasaan. Setiap keadaan selalu terasa salah. Pekerjaan selalu terlalu banyak. Orang lain selalu menjadi penyebab masalah. Tidak ada yang pernah cukup. Keluhan akhirnya bukan lagi sekadar ungkapan sesaat, tetapi menjadi cara memandang kehidupan.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan melihat diri sendiri. Apakah kita sedang mengeluhkan sebuah keadaan, atau sebenarnya sudah mulai terbiasa melihat kehidupan dari sisi yang kurang? Apakah kita sedang membutuhkan istirahat, bantuan, atau perubahan cara bekerja? Atau kita hanya sedang terlalu lelah sehingga semua hal terasa lebih berat daripada biasanya?

Belajar psikologi membuat kita semakin memahami bahwa manusia tidak bisa dipisahkan dari emosinya. Rasa lelah, kecewa, marah, sedih, dan takut merupakan bagian dari pengalaman manusia. Emosi tidak selalu harus ditolak. Ia perlu dikenali. Kita perlu memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri sebelum memutuskan bagaimana harus meresponsnya.

Karena itu, ketika seseorang berkata, “Aku sedang lelah,” mungkin respons yang paling sehat bukan langsung menyuruhnya bersyukur. Bisa jadi ia memang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan. Setelah itu barulah ia dapat diajak melihat apa yang bisa dilakukan. Apakah pekerjaannya perlu diatur kembali? Apakah ada sesuatu yang bisa didelegasikan? Apakah ia perlu beristirahat? Atau mungkin ada masalah yang sebenarnya tidak perlu ia pikul sendirian?

Namun memahami emosi juga bukan berarti membiarkan diri terus-menerus berada dalam keluhan. Ada waktunya seseorang berhenti bertanya, “Mengapa aku mengalami ini?” dan mulai bertanya, “Apa yang bisa aku lakukan dengan keadaan ini?”

Menurutku, di sinilah psikologi dan nilai agama dapat bertemu dengan sangat indah. Psikologi membantu kita mengenali apa yang terjadi di dalam diri. Agama mengajarkan bagaimana kita menempatkan pengalaman itu dalam kehidupan yang lebih luas. Kita belajar bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Tidak semua keinginan akan terpenuhi. Tidak semua usaha langsung menghasilkan sesuatu yang kita harapkan.

Dalam Islam, dunia memang bukan tempat untuk mendapatkan segala sesuatu dengan mudah. Dunia adalah tempat ujian. Allah mengingatkan bahwa manusia akan diuji dengan berbagai keadaan. Ada ketakutan, kekurangan, kehilangan, kesulitan, dan berbagai bentuk ujian lainnya. Artinya, hadirnya masalah dalam kehidupan bukan sesuatu yang aneh. Kesulitan bukan tanda bahwa hidup seseorang gagal. Ia memang bagian dari perjalanan manusia di dunia.

Sering kali kita lupa akan hal ini karena kita terlalu terbiasa membayangkan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang berjalan lancar. Kita ingin pekerjaan selesai tanpa hambatan. Kita ingin keluarga selalu baik-baik saja. Kita ingin kesehatan tetap terjaga. Kita ingin rencana berjalan sesuai jadwal. Kita ingin orang-orang memahami kita. Kita ingin usaha kita dihargai. Semua itu wajar. Tetapi kehidupan tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Ada hal-hal yang sudah kita rencanakan dengan baik, tetapi tetap tidak berjalan sesuai keinginan. Ada sesuatu yang sudah kita usahakan dengan sungguh-sungguh, tetapi hasilnya belum terlihat. Ada orang yang kita percaya, tetapi ternyata mengecewakan. Ada hari ketika pekerjaan terasa begitu berat, padahal sebelumnya kita mampu menjalaninya tanpa masalah.

Mungkin karena itu, kita perlu belajar melihat ujian dengan cara yang berbeda. Tidak semua kesulitan harus dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Bisa jadi ada kesabaran yang sedang dilatih. Ada kekuatan yang sedang dibangun. Ada sesuatu tentang diri kita yang sedang diperlihatkan. Bisa jadi pula ada hikmah yang belum mampu kita pahami sekarang.

Bukan berarti setiap kesulitan harus langsung kita sukai. Tidak perlu. Kita boleh tidak menyukai keadaan yang sulit. Kita boleh merasa sedih ketika kehilangan. Kita boleh kecewa ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Tetapi kita juga bisa belajar menerima bahwa tidak semua yang terjadi harus sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Di sinilah sabar memiliki tempat yang penting. Sabar bukan berarti tidak merasa apa-apa. Sabar bukan berarti seseorang harus selalu diam dan menerima semuanya tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan untuk tetap berada di jalan yang baik ketika keadaan sedang tidak mudah. Tetap berusaha ketika hasil belum terlihat. Tetap menjaga ucapan ketika sedang marah. Tetap melakukan kewajiban ketika hati sedang berat. Tetap percaya kepada Allah ketika kita belum memahami ke mana arah sebuah kejadian.

Begitu juga dengan syukur. Bersyukur bukan berarti kita harus berpura-pura bahagia ketika sedang mengalami kesulitan. Syukur tidak mengharuskan kita menutup mata terhadap masalah. Kita bisa mengatakan bahwa hari ini terasa berat, sambil tetap menyadari bahwa masih ada banyak nikmat yang Allah berikan.

Kadang kita hanya terlalu sibuk melihat apa yang belum selesai. Kita melihat pekerjaan yang menumpuk dan lupa bahwa kita masih memiliki kemampuan untuk bekerja. Kita memikirkan masalah yang belum selesai dan lupa bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk mencari jalan keluar. Kita memikirkan sesuatu yang hilang dan lupa melihat begitu banyak hal yang masih ada.

Padahal kehidupan kita sebenarnya penuh dengan nikmat yang sering terasa biasa karena sudah terlalu dekat. Bangun pada pagi hari. Menghirup udara. Bisa berjalan. Bisa makan. Bisa berbicara dengan orang yang kita sayangi. Bisa bekerja. Bisa belajar. Bisa pulang ke rumah. Bisa tidur dengan tenang. Bahkan kesempatan untuk membuka mata pada esok pagi pun merupakan nikmat yang tidak selalu kita sadari.

Mungkin karena itu jurnal kebersyukuran tidak harus selalu berisi daftar hal-hal yang menyenangkan. Jurnal kebersyukuran juga bisa menjadi ruang untuk jujur kepada diri sendiri. Kita bisa menulis bahwa hari ini terasa melelahkan. Kita bisa menuliskan apa yang membuat pikiran penuh. Kita bisa mengakui sesuatu yang tidak mampu kita kendalikan. Setelah itu, kita mencoba melihat kembali apa yang masih bisa disyukuri.

Seseorang mungkin menulis bahwa hari ini pekerjaannya sangat banyak. Ia merasa kewalahan. Tetapi ia juga menulis bahwa hari ini ia berhasil menyelesaikan beberapa hal. Ia masih memiliki teman kerja yang bisa diajak berdiskusi. Ia masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan besok. Dari sana, sudut pandangnya perlahan berubah. Masalahnya belum tentu selesai, tetapi hatinya tidak lagi hanya melihat masalah.

Barangkali itulah salah satu fungsi sederhana dari jurnal kebersyukuran. Ia tidak mengubah keadaan secara langsung. Tetapi ia dapat mengubah cara kita memandang keadaan. Kita belajar untuk tidak hanya menghitung apa yang kurang, tetapi juga menyadari apa yang masih kita miliki.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu menjadi manusia yang tidak pernah mengeluh. Itu hampir tidak mungkin. Kita hanya perlu belajar agar keluhan tidak menjadi tempat tinggal. Kita boleh mengatakan bahwa hari ini berat. Kita boleh merasa lelah. Kita boleh menangis. Kita boleh meminta bantuan. Tetapi setelah itu, kita perlu kembali melihat kehidupan dengan lebih utuh.

Dunia memang tempat ujian. Ada hari yang mudah dan ada hari yang sulit. Ada masa ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan dan ada masa ketika kita harus menerima sesuatu yang tidak pernah kita minta. Ada saat ketika kita merasa sangat kuat dan ada saat ketika kita hanya mampu melakukan sedikit hal. Semuanya adalah bagian dari perjalanan.

Kita tidak selalu bisa memilih apa yang datang dalam kehidupan. Tetapi kita masih memiliki ruang untuk memilih bagaimana menghadapinya. Ketika sesuatu masih bisa diperbaiki, kita berusaha. Ketika sesuatu membutuhkan waktu, kita bersabar. Ketika kita tidak mampu menghadapinya sendiri, kita meminta bantuan. Dan ketika ada sesuatu yang memang berada di luar kendali, kita belajar menyerahkannya kepada Allah.

Mungkin tugas kita bukan memahami semua alasan di balik setiap kejadian. Tidak semua jawaban harus ditemukan hari ini. Ada hal-hal yang baru kita mengerti setelah waktu berlalu. Ada kejadian yang awalnya kita anggap buruk, tetapi kemudian justru membawa kita pada sesuatu yang lebih baik. Ada pula ujian yang tidak pernah benar-benar kita pahami alasannya, tetapi membuat kita menjadi manusia yang lebih sabar dan lebih dekat kepada Allah.

Karena itu, ketika suatu hari kita merasa sangat lelah, mungkin kita tidak perlu terus bertanya, “Mengapa hidupku begitu berat?” Kita bisa mengubah pertanyaan itu menjadi sesuatu yang lebih menenangkan, “Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui semua ini?” Mungkin jawabannya belum kita temukan. Tidak apa-apa. Tidak semua hal harus segera dipahami.

Untuk sementara, jalani saja apa yang ada di depan mata. Nikmati apa yang masih bisa dinikmati. Syukuri apa yang masih bisa disyukuri. Istirahatlah ketika lelah. Berdoalah ketika bingung. Mintalah pertolongan ketika tidak sanggup. Lakukan bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita, lalu serahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Sebab mungkin, bersyukur bukan berarti hidup tanpa keluhan. Bersyukur adalah kemampuan untuk kembali menemukan nikmat setelah kita merasa lelah. Kembali berharap setelah kecewa. Kembali bangun setelah jatuh. Dan tetap percaya bahwa meskipun dunia ini penuh ujian, Allah tidak pernah meminta kita menjalani semuanya sendirian.

Mungkin hidup memang tidak akan pernah benar-benar menjadi mudah. Akan selalu ada pekerjaan yang belum selesai, rencana yang berubah, masalah yang datang, dan hari-hari ketika kita merasa tidak cukup kuat. Tetapi selama masih ada kesempatan untuk memperbaiki, masih ada ruang untuk belajar, masih ada orang yang bisa kita sayangi, dan masih ada Allah tempat kita kembali, sebenarnya masih banyak alasan untuk bersyukur.

Barangkali pada akhirnya, yang perlu kita pelajari bukan bagaimana caranya agar tidak pernah lelah. Kita hanya perlu belajar bagaimana tetap berjalan ketika lelah datang, tanpa kehilangan rasa syukur. Karena hidup bukan tentang menghindari semua ujian. Hidup adalah tentang menjalaninya sebaik mungkin, sambil percaya bahwa di balik setiap ujian selalu ada sesuatu yang sedang Allah ajarkan kepada kita. []

 

Lebih baru Lebih lama