Ada masa ketika hidup terasa
begitu penuh. Pekerjaan belum selesai, tetapi pekerjaan lain sudah menunggu.
Satu persoalan baru saja diselesaikan, persoalan lain muncul. Waktu terasa
tidak pernah cukup. Pikiran terus bekerja bahkan ketika tubuh sebenarnya sudah
meminta istirahat. Dalam keadaan seperti itu, keluhan sering keluar begitu
saja. “Capek.” “Pusing.” “Kapan selesainya?” Kalimat-kalimat sederhana seperti
itu sangat manusiawi. Tidak ada manusia yang selalu kuat. Ada hari ketika
seseorang merasa mampu melakukan banyak hal. Ada pula hari ketika ia hanya
ingin berhenti sebentar dan menarik napas.
Tetapi dari sana muncul sebuah
pertanyaan yang sederhana, namun cukup dalam. Sampai sejauh mana sebenarnya
manusia boleh mengeluh? Pertanyaan ini mungkin tidak terlalu penting ketika
hidup sedang baik-baik saja. Namun ketika pekerjaan menumpuk, masalah datang
bersamaan, atau keadaan berjalan jauh dari harapan, pertanyaan itu menjadi
relevan. Sebab di satu sisi manusia memang memiliki batas. Di sisi lain,
sebagai seorang muslim, kita juga diajarkan untuk bersyukur atas apa yang Allah
berikan.
Lalu apakah merasa lelah
berarti tidak bersyukur? Apakah mengeluh ketika keadaan terasa berat berarti
kita tidak menerima takdir? Rasanya tidak sesederhana itu. Manusia tetap
manusia. Ia memiliki tubuh yang bisa lelah, pikiran yang bisa penuh, hati yang bisa
sedih, dan emosi yang kadang sulit dikendalikan. Mengakui semua itu bukan
berarti menolak nikmat Allah.
Mungkin yang perlu kita
perhatikan bukan apakah kita pernah mengeluh, tetapi ke mana keluhan itu
membawa kita. Ada orang yang mengeluh karena memang sedang lelah. Setelah itu
ia beristirahat, menyelesaikan apa yang bisa diselesaikan, lalu kembali menjalani
kehidupannya. Ada pula orang yang perlahan menjadikan keluhan sebagai
kebiasaan. Setiap keadaan selalu terasa salah. Pekerjaan selalu terlalu banyak.
Orang lain selalu menjadi penyebab masalah. Tidak ada yang pernah cukup.
Keluhan akhirnya bukan lagi sekadar ungkapan sesaat, tetapi menjadi cara
memandang kehidupan.
Di sinilah kita perlu berhenti
sejenak dan melihat diri sendiri. Apakah kita sedang mengeluhkan sebuah
keadaan, atau sebenarnya sudah mulai terbiasa melihat kehidupan dari sisi yang
kurang? Apakah kita sedang membutuhkan istirahat, bantuan, atau perubahan cara
bekerja? Atau kita hanya sedang terlalu lelah sehingga semua hal terasa lebih
berat daripada biasanya?
Belajar psikologi membuat kita
semakin memahami bahwa manusia tidak bisa dipisahkan dari emosinya. Rasa lelah,
kecewa, marah, sedih, dan takut merupakan bagian dari pengalaman manusia. Emosi
tidak selalu harus ditolak. Ia perlu dikenali. Kita perlu memahami apa yang
sedang terjadi di dalam diri sebelum memutuskan bagaimana harus meresponsnya.
Karena itu, ketika seseorang
berkata, “Aku sedang lelah,” mungkin respons yang paling sehat bukan langsung
menyuruhnya bersyukur. Bisa jadi ia memang membutuhkan seseorang untuk
mendengarkan. Setelah itu barulah ia dapat diajak melihat apa yang bisa dilakukan.
Apakah pekerjaannya perlu diatur kembali? Apakah ada sesuatu yang bisa
didelegasikan? Apakah ia perlu beristirahat? Atau mungkin ada masalah yang
sebenarnya tidak perlu ia pikul sendirian?
Namun memahami emosi juga
bukan berarti membiarkan diri terus-menerus berada dalam keluhan. Ada waktunya
seseorang berhenti bertanya, “Mengapa aku mengalami ini?” dan mulai bertanya,
“Apa yang bisa aku lakukan dengan keadaan ini?”
Menurutku, di sinilah
psikologi dan nilai agama dapat bertemu dengan sangat indah. Psikologi membantu
kita mengenali apa yang terjadi di dalam diri. Agama mengajarkan bagaimana kita
menempatkan pengalaman itu dalam kehidupan yang lebih luas. Kita belajar bahwa
tidak semua hal dapat dikendalikan. Tidak semua keinginan akan terpenuhi. Tidak
semua usaha langsung menghasilkan sesuatu yang kita harapkan.
Dalam Islam, dunia memang
bukan tempat untuk mendapatkan segala sesuatu dengan mudah. Dunia adalah tempat
ujian. Allah mengingatkan bahwa manusia akan diuji dengan berbagai keadaan. Ada
ketakutan, kekurangan, kehilangan, kesulitan, dan berbagai bentuk ujian
lainnya. Artinya, hadirnya masalah dalam kehidupan bukan sesuatu yang aneh.
Kesulitan bukan tanda bahwa hidup seseorang gagal. Ia memang bagian dari
perjalanan manusia di dunia.
Sering kali kita lupa akan hal
ini karena kita terlalu terbiasa membayangkan bahwa hidup yang baik adalah
hidup yang berjalan lancar. Kita ingin pekerjaan selesai tanpa hambatan. Kita
ingin keluarga selalu baik-baik saja. Kita ingin kesehatan tetap terjaga. Kita
ingin rencana berjalan sesuai jadwal. Kita ingin orang-orang memahami kita.
Kita ingin usaha kita dihargai. Semua itu wajar. Tetapi kehidupan tidak pernah
sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Ada hal-hal yang sudah kita
rencanakan dengan baik, tetapi tetap tidak berjalan sesuai keinginan. Ada
sesuatu yang sudah kita usahakan dengan sungguh-sungguh, tetapi hasilnya belum
terlihat. Ada orang yang kita percaya, tetapi ternyata mengecewakan. Ada hari
ketika pekerjaan terasa begitu berat, padahal sebelumnya kita mampu
menjalaninya tanpa masalah.
Mungkin karena itu, kita perlu
belajar melihat ujian dengan cara yang berbeda. Tidak semua kesulitan harus
dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Bisa jadi ada kesabaran yang sedang
dilatih. Ada kekuatan yang sedang dibangun. Ada sesuatu tentang diri kita yang
sedang diperlihatkan. Bisa jadi pula ada hikmah yang belum mampu kita pahami
sekarang.
Bukan berarti setiap kesulitan
harus langsung kita sukai. Tidak perlu. Kita boleh tidak menyukai keadaan yang
sulit. Kita boleh merasa sedih ketika kehilangan. Kita boleh kecewa ketika
sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Tetapi kita juga bisa belajar menerima
bahwa tidak semua yang terjadi harus sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Di sinilah sabar memiliki
tempat yang penting. Sabar bukan berarti tidak merasa apa-apa. Sabar bukan
berarti seseorang harus selalu diam dan menerima semuanya tanpa usaha. Sabar
adalah kemampuan untuk tetap berada di jalan yang baik ketika keadaan sedang
tidak mudah. Tetap berusaha ketika hasil belum terlihat. Tetap menjaga ucapan
ketika sedang marah. Tetap melakukan kewajiban ketika hati sedang berat. Tetap
percaya kepada Allah ketika kita belum memahami ke mana arah sebuah kejadian.
Begitu juga dengan syukur.
Bersyukur bukan berarti kita harus berpura-pura bahagia ketika sedang mengalami
kesulitan. Syukur tidak mengharuskan kita menutup mata terhadap masalah. Kita
bisa mengatakan bahwa hari ini terasa berat, sambil tetap menyadari bahwa masih
ada banyak nikmat yang Allah berikan.
Kadang kita hanya terlalu
sibuk melihat apa yang belum selesai. Kita melihat pekerjaan yang menumpuk dan
lupa bahwa kita masih memiliki kemampuan untuk bekerja. Kita memikirkan masalah
yang belum selesai dan lupa bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk mencari
jalan keluar. Kita memikirkan sesuatu yang hilang dan lupa melihat begitu
banyak hal yang masih ada.
Padahal kehidupan kita
sebenarnya penuh dengan nikmat yang sering terasa biasa karena sudah terlalu
dekat. Bangun pada pagi hari. Menghirup udara. Bisa berjalan. Bisa makan. Bisa
berbicara dengan orang yang kita sayangi. Bisa bekerja. Bisa belajar. Bisa pulang
ke rumah. Bisa tidur dengan tenang. Bahkan kesempatan untuk membuka mata pada
esok pagi pun merupakan nikmat yang tidak selalu kita sadari.
Mungkin karena itu jurnal
kebersyukuran tidak harus selalu berisi daftar hal-hal yang menyenangkan.
Jurnal kebersyukuran juga bisa menjadi ruang untuk jujur kepada diri sendiri.
Kita bisa menulis bahwa hari ini terasa melelahkan. Kita bisa menuliskan apa
yang membuat pikiran penuh. Kita bisa mengakui sesuatu yang tidak mampu kita
kendalikan. Setelah itu, kita mencoba melihat kembali apa yang masih bisa
disyukuri.
Seseorang mungkin menulis
bahwa hari ini pekerjaannya sangat banyak. Ia merasa kewalahan. Tetapi ia juga
menulis bahwa hari ini ia berhasil menyelesaikan beberapa hal. Ia masih
memiliki teman kerja yang bisa diajak berdiskusi. Ia masih memiliki kesempatan
untuk melanjutkan pekerjaan besok. Dari sana, sudut pandangnya perlahan
berubah. Masalahnya belum tentu selesai, tetapi hatinya tidak lagi hanya
melihat masalah.
Barangkali itulah salah satu
fungsi sederhana dari jurnal kebersyukuran. Ia tidak mengubah keadaan secara
langsung. Tetapi ia dapat mengubah cara kita memandang keadaan. Kita belajar
untuk tidak hanya menghitung apa yang kurang, tetapi juga menyadari apa yang
masih kita miliki.
Pada akhirnya, mungkin kita
tidak perlu menjadi manusia yang tidak pernah mengeluh. Itu hampir tidak
mungkin. Kita hanya perlu belajar agar keluhan tidak menjadi tempat tinggal.
Kita boleh mengatakan bahwa hari ini berat. Kita boleh merasa lelah. Kita boleh
menangis. Kita boleh meminta bantuan. Tetapi setelah itu, kita perlu kembali
melihat kehidupan dengan lebih utuh.
Dunia memang tempat ujian. Ada
hari yang mudah dan ada hari yang sulit. Ada masa ketika kita mendapatkan apa
yang kita inginkan dan ada masa ketika kita harus menerima sesuatu yang tidak
pernah kita minta. Ada saat ketika kita merasa sangat kuat dan ada saat ketika
kita hanya mampu melakukan sedikit hal. Semuanya adalah bagian dari perjalanan.
Kita tidak selalu bisa memilih
apa yang datang dalam kehidupan. Tetapi kita masih memiliki ruang untuk memilih
bagaimana menghadapinya. Ketika sesuatu masih bisa diperbaiki, kita berusaha.
Ketika sesuatu membutuhkan waktu, kita bersabar. Ketika kita tidak mampu
menghadapinya sendiri, kita meminta bantuan. Dan ketika ada sesuatu yang memang
berada di luar kendali, kita belajar menyerahkannya kepada Allah.
Mungkin tugas kita bukan
memahami semua alasan di balik setiap kejadian. Tidak semua jawaban harus
ditemukan hari ini. Ada hal-hal yang baru kita mengerti setelah waktu berlalu.
Ada kejadian yang awalnya kita anggap buruk, tetapi kemudian justru membawa kita
pada sesuatu yang lebih baik. Ada pula ujian yang tidak pernah benar-benar kita
pahami alasannya, tetapi membuat kita menjadi manusia yang lebih sabar dan
lebih dekat kepada Allah.
Karena itu, ketika suatu hari
kita merasa sangat lelah, mungkin kita tidak perlu terus bertanya, “Mengapa
hidupku begitu berat?” Kita bisa mengubah pertanyaan itu menjadi sesuatu yang
lebih menenangkan, “Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui semua ini?”
Mungkin jawabannya belum kita temukan. Tidak apa-apa. Tidak semua hal harus
segera dipahami.
Untuk sementara, jalani saja
apa yang ada di depan mata. Nikmati apa yang masih bisa dinikmati. Syukuri apa
yang masih bisa disyukuri. Istirahatlah ketika lelah. Berdoalah ketika bingung.
Mintalah pertolongan ketika tidak sanggup. Lakukan bagian yang memang menjadi
tanggung jawab kita, lalu serahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Sebab mungkin, bersyukur bukan
berarti hidup tanpa keluhan. Bersyukur adalah kemampuan untuk kembali menemukan
nikmat setelah kita merasa lelah. Kembali berharap setelah kecewa. Kembali
bangun setelah jatuh. Dan tetap percaya bahwa meskipun dunia ini penuh ujian,
Allah tidak pernah meminta kita menjalani semuanya sendirian.
Mungkin hidup memang tidak
akan pernah benar-benar menjadi mudah. Akan selalu ada pekerjaan yang belum
selesai, rencana yang berubah, masalah yang datang, dan hari-hari ketika kita
merasa tidak cukup kuat. Tetapi selama masih ada kesempatan untuk memperbaiki,
masih ada ruang untuk belajar, masih ada orang yang bisa kita sayangi, dan
masih ada Allah tempat kita kembali, sebenarnya masih banyak alasan untuk
bersyukur.
Barangkali pada akhirnya, yang
perlu kita pelajari bukan bagaimana caranya agar tidak pernah lelah. Kita hanya
perlu belajar bagaimana tetap berjalan ketika lelah datang, tanpa kehilangan
rasa syukur. Karena hidup bukan tentang menghindari semua ujian. Hidup adalah
tentang menjalaninya sebaik mungkin, sambil percaya bahwa di balik setiap ujian
selalu ada sesuatu yang sedang Allah ajarkan kepada kita. []
