Catatan Kecil Seorang Leader Baru
Menjadi pemimpin baru tidak selalu dimulai dengan rasa percaya diri. Ada kegelisahan yang diam-diam menyertai sebuah amanah: Apakah ia cukup mampu? Bagaimana jika ada yang tidak menerimanya? Bagaimana jika ada yang bersikap antipati atau bahkan tidak menganggapnya sebagai pemimpin?
Pertanyaan-pertanyaan itu sempat hadir.
Namun, waktu perlahan memberikan jawaban yang berbeda.
Orang-orang yang semula mungkin terlihat sulit didekati ternyata menyambut dengan baik. Mereka bekerja, menjalankan tanggung jawab, saling membantu, dan menunjukkan kesungguhan dalam menyelesaikan tugas. Perlahan, kekhawatiran itu berubah menjadi rasa lega.
Ia kemudian memahami bahwa menjadi leader bukan berarti harus mengerjakan semuanya sendiri. Seorang pemimpin justru membutuhkan tim yang dapat dipercaya dan diberi ruang untuk memberikan yang terbaik.
Baginya, hal penting dalam sebuah tim bukan hanya pencapaian, tetapi juga rasa saling menghargai dan saling percaya. Ketika seseorang bekerja dengan penuh tanggung jawab, sekecil apa pun kontribusinya, pekerjaan itu layak dihargai.
Mungkin tidak semua usaha terlihat. Tidak semua kerja keras sempat diapresiasi secara langsung. Tetapi seorang pemimpin yang baik belajar untuk melihatnya.
Dan di titik itu, ia menyadari sesuatu yang sederhana:
Ia bukan sedang memimpin sendirian.
Ada orang-orang di belakang setiap pekerjaan yang membuat amanah terasa lebih ringan. Ada tim yang membuat langkahnya lebih tenang. Ada mereka yang, dengan kerja dan tanggung jawabnya, diam-diam mengatakan bahwa ia tidak sendiri.
Ia mungkin datang sebagai seorang leader baru.
Tetapi perjalanan ini mengajarkannya bahwa kepemimpinan bukan tentang berdiri paling depan, melainkan tentang berjalan bersama.
Dan untuk itu, ada satu hal yang patut disyukuri:
Ternyata ia tidak sendiri. Ada mereka yang membuatnya lega.
Dan guys inilah yang kurasakan. Alhamdulillah aku dikelilingi orang-orang baik. Dan yang terpentin aku yakin Allah selalu membantuku. Insyaalla. []
