10 Cara Memiliki Kepribadian yang Tenang, Meskipun Aku Seorang Ekstrovert yang Introvert

Oleh: Siti Hajar

Aku pernah berpikir bahwa menjadi pribadi yang tenang berarti harus menjadi seseorang yang pendiam. Orang yang tidak banyak bicara dan tidak terlalu ekspresif. Sementara aku tahu, aku bukan tipe orang seperti itu. Aku suka berbicara, berdiskusi, bertemu orang, tertawa, dan menikmati berbagai aktivitas.

Aku bisa sangat bersemangat ketika berada di tengah banyak orang. Ada energi yang muncul ketika bertemu teman dan berbincang tentang banyak hal. Tetapi setelah keramaian itu selesai, aku sering membutuhkan waktu untuk sendiri. Aku ingin duduk diam, membaca, menulis, atau sekadar menikmati suasana yang tenang.

Mungkin karena itu aku sering merasa berada di antara ekstrovert dan introvert. Aku menyukai manusia dan keramaian. Tetapi aku juga membutuhkan kesunyian untuk mengisi kembali diriku. Dan semakin aku mengenal diri sendiri, semakin aku menyadari bahwa keduanya tidak harus dipertentangkan.

Aku tidak perlu memilih menjadi ekstrovert atau introvert. Aku hanya perlu memahami kebutuhan diriku. Aku perlu tahu kapan waktunya bersama orang lain dan kapan waktunya sendiri. Dari situlah aku mulai belajar tentang keseimbangan.

Begitu juga dengan ketenangan. Aku tidak perlu menjadi pendiam untuk menjadi pribadi yang tenang. Aku tetap bisa banyak bicara dan tertawa. Tetapi aku perlu belajar mengelola apa yang terjadi di dalam diriku.

Hal pertama yang sedang aku pelajari adalah tidak harus selalu merespons. Dulu aku sering merasa perlu menjawab banyak hal. Ada komentar yang ingin kutanggapi dan ada percakapan yang ingin kuluruskan. Sekarang aku mulai memahami bahwa tidak semua hal membutuhkan respons.

Ada percakapan yang cukup didengarkan. Ada komentar yang lebih baik dilewati. Ada perbedaan pendapat yang tidak harus dimenangkan. Kadang diam justru membuat kita lebih tenang. Kita tidak kehilangan apa pun hanya karena memilih tidak menjawab.

Aku juga belajar menikmati waktu sendirian. Bukan karena aku tidak membutuhkan orang lain. Aku hanya membutuhkan ruang untuk kembali kepada diriku sendiri. Ada banyak hal yang baru bisa kita dengar ketika suasana mulai sunyi.

Sesekali aku ingin meletakkan ponsel dan duduk tanpa melakukan apa-apa. Menikmati kopi dengan perlahan. Membaca beberapa halaman buku atau menulis apa yang sedang ada di kepala. Hal-hal kecil seperti itu ternyata bisa membuat pikiranku lebih ringan.

Aku mulai memahami bahwa kesendirian tidak selalu berarti kesepian. Kadang kesendirian justru menjadi ruang untuk memulihkan diri. Di sana aku bisa berhenti sejenak dari berbagai peran. Aku bisa kembali menjadi diriku sendiri.

Aku juga belajar bahwa peduli tidak berarti harus ikut membawa semua masalah orang lain. Aku memang senang mendengarkan cerita orang. Aku juga senang membantu ketika mampu. Tetapi aku tidak harus mengambil semua beban itu menjadi milikku.

Aku bisa berempati tanpa ikut tenggelam. Aku bisa membantu tanpa mengambil alih kehidupan orang lain. Aku bisa peduli tanpa kehilangan batas. Ternyata menjaga batas juga bagian dari menjaga ketenangan.

Hal lain yang sedang kulatih adalah mengenali emosiku sendiri. Kadang aku merasa marah, padahal sebenarnya sedang lelah. Kadang aku merasa kesal kepada seseorang, padahal sebenarnya aku merasa tidak dihargai. Kadang aku ingin menjauh karena sebenarnya aku hanya membutuhkan istirahat.

Sekarang aku mencoba bertanya kepada diri sendiri ketika sesuatu terasa tidak nyaman. Sebenarnya aku sedang merasakan apa? Pertanyaan sederhana itu membuatku lebih sadar. Aku belajar mengenali pikiran, emosi, dan reaksi tubuhku.

Aku belajar bahwa emosi boleh hadir. Tetapi emosi tidak harus menjadi pengendali. Aku boleh marah tanpa harus berkata kasar. Aku boleh kecewa tanpa harus menyakiti orang lain.

Aku juga sedang belajar memberikan jeda sebelum bereaksi. Tidak selalu mudah memang. Terutama ketika sesuatu menyentuh bagian emosional dalam diri. Tetapi aku mulai menyukai jeda kecil itu.

Kadang aku hanya perlu menarik napas sebelum menjawab. Kadang aku perlu diam beberapa menit. Bahkan ada saatnya aku memilih tidak menjawab sampai pikiranku lebih tenang. Jeda sederhana itu sering menyelamatkanku dari kata-kata yang mungkin akan kusesali.

Aku mulai memahami bahwa ada ruang kecil antara kejadian dan respons kita. Di ruang itulah kita memiliki pilihan. Kita bisa mengikuti emosi atau memilih sesuatu yang lebih bijaksana. Kita bisa mempertahankan ego atau memilih ketenangan.

Aku juga belajar untuk tidak mengurus semua hal. Ada banyak hal yang sebenarnya bukan tanggung jawabku. Apa yang orang pikirkan tentangku bukan sepenuhnya bisa kukendalikan. Begitu juga dengan penilaian dan perkataan orang lain.

Dulu hal-hal seperti itu mungkin cukup menguras pikiranku. Sekarang aku mencoba bertanya, Apakah ini memang perlu aku urus? Jika jawabannya tidak, aku belajar melepaskannya. Energi kita terbatas dan tidak semuanya layak mendapatkan perhatian.

Di sinilah mindfulness mulai terasa penting bagiku. Aku belajar hadir pada apa yang sedang kulakukan. Ketika makan, aku mencoba menikmati makanan. Ketika berbicara, aku berusaha benar-benar mendengarkan.

Pikiran kita sering berada di tempat yang berbeda dengan tubuh kita. Tubuh berada di hari ini, tetapi pikiran sudah berada di hari esok. Kita sedang menikmati sesuatu, tetapi pikiran sibuk mencemaskan sesuatu yang belum terjadi. Aku pun masih sering seperti itu.

Karena itu aku terus belajar untuk kembali. Kembali kepada napas. Kembali kepada saat ini. Kembali kepada apa yang sedang terjadi di depan mata.

Aku juga belajar mengatakan tidak. Ini tidak selalu mudah bagi seseorang yang senang membantu. Kita sering ingin membuat orang lain nyaman. Kita takut mengecewakan ketika harus menolak.

Tetapi aku mulai memahami bahwa mengatakan tidak bukan berarti menjadi orang yang buruk. Aku tetap bisa baik tanpa selalu tersedia. Aku tetap bisa membantu tanpa mengorbankan seluruh energiku. Aku boleh memiliki batas.

Semakin dewasa, aku semakin menyadari bahwa menjaga diri juga membutuhkan keberanian. Kita tidak bisa terus mengatakan iya kepada semua hal. Ada saatnya kita perlu mengatakan, Aku belum bisa. Ada saatnya kita perlu mengatakan, Aku membutuhkan waktu.

Kemudian ada satu hal yang mungkin paling sulit. Aku sedang belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginanku. Ada rencana yang gagal. Ada orang yang mengecewakan. Ada harapan yang belum terwujud.

Kita bisa merencanakan banyak hal. Tetapi hidup tetap memiliki jalannya sendiri. Ada hal-hal yang sudah kita usahakan dengan sungguh-sungguh tetapi hasilnya berbeda. Pada titik tertentu, kita harus belajar menerima.

Menerima bukan berarti menyerah. Menerima berarti mengakui bahwa ada hal yang berada di luar kendali kita. Kita tetap berusaha melakukan bagian kita. Setelah itu, kita belajar menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Sebagai seorang muslim, aku percaya bahwa dunia memang tempat ujian. Tidak semua hari diberikan untuk membuat kita bahagia. Ada hari yang mengajarkan kesabaran. Ada keadaan yang mengajarkan keikhlasan.

Mungkin ada hal yang belum kita mengerti hari ini. Mungkin ada doa yang belum Allah jawab dengan cara yang kita harapkan. Tetapi bukan berarti Allah tidak mendengar. Bisa jadi waktunya memang belum tiba atau jawabannya sedang dipersiapkan dalam bentuk yang berbeda.

Karena itu aku ingin terus belajar tawakal. Berusaha sebaik mungkin. Berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ada ketenangan ketika kita tidak lagi merasa harus mengendalikan semuanya.

Pada akhirnya, aku mulai memahami bahwa ketenangan bukan sesuatu yang datang karena hidup kita bebas dari masalah. Ketenangan justru tumbuh ketika kita belajar menghadapi masalah dengan kesadaran. Kita belajar memilih respons. Kita belajar menerima hal-hal yang tidak bisa kita ubah.

Aku tidak perlu mengubah diriku menjadi orang lain. Aku tetap boleh menjadi seseorang yang senang berbicara. Aku tetap boleh tertawa dan menikmati keramaian. Aku tetap boleh memiliki banyak aktivitas.

Tetapi aku juga membutuhkan ruang untuk diam. Aku membutuhkan waktu untuk sendiri. Aku membutuhkan kesempatan untuk mendengarkan diriku sendiri. Dan tentu saja, aku membutuhkan waktu untuk kembali kepada Allah.

Mungkin memang seperti itulah diriku. Seorang ekstrovert yang juga memiliki sisi introvert. Aku mendapatkan energi dari manusia. Tetapi aku juga membutuhkan kesunyian untuk mengisi kembali energi itu.

Sekarang aku tidak lagi melihatnya sebagai sesuatu yang membingungkan. Aku melihatnya sebagai bagian dari keseimbangan. Aku tidak harus selalu ramai dan tidak harus selalu diam. Aku hanya perlu mengenali apa yang sedang kubutuhkan.

Aku perlu tahu kapan waktunya berbicara dan kapan waktunya mendengarkan. Kapan waktunya bergerak dan kapan waktunya berhenti. Kapan waktunya berusaha dan kapan waktunya melepaskan. Mungkin itulah salah satu bentuk kedewasaan yang sedang kupelajari.

Sebab menjadi pribadi yang tenang bukan berarti memiliki kehidupan yang selalu tenang. Dunia tetap ramai. Manusia tetap datang dan pergi. Masalah tetap akan muncul.

Tetapi semoga di tengah semua keramaian itu, aku memiliki hati yang tahu bagaimana caranya kembali. Kembali kepada diriku sendiri. Kembali kepada kesadaran. Dan pada akhirnya, kembali kepada Allah.

Mungkin ketenangan bukan tentang membuat dunia menjadi sunyi. Ketenangan adalah ketika dunia tetap ramai, tetapi hati kita tidak lagi kehilangan arah. Kita tetap berjalan, tetap berusaha, tetap menjadi diri sendiri. Hanya saja, kali ini kita menjalaninya dengan hati yang lebih sadar dan lebih tenang. []

Lebih baru Lebih lama