Oleh: Siti Hajar
Aku pernah berpikir bahwa menjadi pribadi
yang tenang berarti harus menjadi seseorang yang pendiam. Orang yang tidak
banyak bicara dan tidak terlalu ekspresif. Sementara aku tahu, aku bukan tipe
orang seperti itu. Aku suka berbicara, berdiskusi, bertemu orang, tertawa, dan
menikmati berbagai aktivitas.
Aku bisa sangat bersemangat ketika berada
di tengah banyak orang. Ada energi yang muncul ketika bertemu teman dan
berbincang tentang banyak hal. Tetapi setelah keramaian itu selesai, aku sering
membutuhkan waktu untuk sendiri. Aku ingin duduk diam, membaca, menulis, atau
sekadar menikmati suasana yang tenang.
Mungkin karena itu aku sering merasa
berada di antara ekstrovert dan introvert. Aku menyukai manusia dan keramaian.
Tetapi aku juga membutuhkan kesunyian untuk mengisi kembali diriku. Dan semakin
aku mengenal diri sendiri, semakin aku menyadari bahwa keduanya tidak harus
dipertentangkan.
Aku tidak perlu memilih menjadi ekstrovert
atau introvert. Aku hanya perlu memahami kebutuhan diriku. Aku perlu tahu kapan
waktunya bersama orang lain dan kapan waktunya sendiri. Dari situlah aku mulai
belajar tentang keseimbangan.
Begitu juga dengan ketenangan. Aku tidak
perlu menjadi pendiam untuk menjadi pribadi yang tenang. Aku tetap bisa banyak
bicara dan tertawa. Tetapi aku perlu belajar mengelola apa yang terjadi di
dalam diriku.
Hal pertama yang sedang aku pelajari
adalah tidak harus selalu merespons. Dulu aku sering merasa perlu menjawab
banyak hal. Ada komentar yang ingin kutanggapi dan ada percakapan yang ingin
kuluruskan. Sekarang aku mulai memahami bahwa tidak semua hal membutuhkan
respons.
Ada percakapan yang cukup didengarkan. Ada
komentar yang lebih baik dilewati. Ada perbedaan pendapat yang tidak harus
dimenangkan. Kadang diam justru membuat kita lebih tenang. Kita tidak
kehilangan apa pun hanya karena memilih tidak menjawab.
Aku juga belajar menikmati waktu
sendirian. Bukan karena aku tidak membutuhkan orang lain. Aku hanya membutuhkan
ruang untuk kembali kepada diriku sendiri. Ada banyak hal yang baru bisa kita
dengar ketika suasana mulai sunyi.
Sesekali aku ingin meletakkan ponsel dan
duduk tanpa melakukan apa-apa. Menikmati kopi dengan perlahan. Membaca beberapa
halaman buku atau menulis apa yang sedang ada di kepala. Hal-hal kecil seperti
itu ternyata bisa membuat pikiranku lebih ringan.
Aku mulai memahami bahwa kesendirian tidak
selalu berarti kesepian. Kadang kesendirian justru menjadi ruang untuk
memulihkan diri. Di sana aku bisa berhenti sejenak dari berbagai peran. Aku
bisa kembali menjadi diriku sendiri.
Aku juga belajar bahwa peduli tidak
berarti harus ikut membawa semua masalah orang lain. Aku memang senang
mendengarkan cerita orang. Aku juga senang membantu ketika mampu. Tetapi aku
tidak harus mengambil semua beban itu menjadi milikku.
Aku bisa berempati tanpa ikut tenggelam.
Aku bisa membantu tanpa mengambil alih kehidupan orang lain. Aku bisa peduli
tanpa kehilangan batas. Ternyata menjaga batas juga bagian dari menjaga
ketenangan.
Hal lain yang sedang kulatih adalah
mengenali emosiku sendiri. Kadang aku merasa marah, padahal sebenarnya sedang
lelah. Kadang aku merasa kesal kepada seseorang, padahal sebenarnya aku merasa
tidak dihargai. Kadang aku ingin menjauh karena sebenarnya aku hanya
membutuhkan istirahat.
Sekarang aku mencoba bertanya kepada diri
sendiri ketika sesuatu terasa tidak nyaman. Sebenarnya aku sedang merasakan
apa? Pertanyaan sederhana itu membuatku lebih sadar. Aku belajar mengenali
pikiran, emosi, dan reaksi tubuhku.
Aku belajar bahwa emosi boleh hadir.
Tetapi emosi tidak harus menjadi pengendali. Aku boleh marah tanpa harus
berkata kasar. Aku boleh kecewa tanpa harus menyakiti orang lain.
Aku juga sedang belajar memberikan jeda
sebelum bereaksi. Tidak selalu mudah memang. Terutama ketika sesuatu menyentuh
bagian emosional dalam diri. Tetapi aku mulai menyukai jeda kecil itu.
Kadang aku hanya perlu menarik napas
sebelum menjawab. Kadang aku perlu diam beberapa menit. Bahkan ada saatnya aku
memilih tidak menjawab sampai pikiranku lebih tenang. Jeda sederhana itu sering
menyelamatkanku dari kata-kata yang mungkin akan kusesali.
Aku mulai memahami bahwa ada ruang kecil
antara kejadian dan respons kita. Di ruang itulah kita memiliki pilihan. Kita
bisa mengikuti emosi atau memilih sesuatu yang lebih bijaksana. Kita bisa
mempertahankan ego atau memilih ketenangan.
Aku juga belajar untuk tidak mengurus
semua hal. Ada banyak hal yang sebenarnya bukan tanggung jawabku. Apa yang
orang pikirkan tentangku bukan sepenuhnya bisa kukendalikan. Begitu juga dengan
penilaian dan perkataan orang lain.
Dulu hal-hal seperti itu mungkin cukup
menguras pikiranku. Sekarang aku mencoba bertanya, Apakah ini memang perlu
aku urus? Jika jawabannya tidak, aku belajar melepaskannya. Energi kita
terbatas dan tidak semuanya layak mendapatkan perhatian.
Di sinilah mindfulness mulai terasa
penting bagiku. Aku belajar hadir pada apa yang sedang kulakukan. Ketika makan,
aku mencoba menikmati makanan. Ketika berbicara, aku berusaha benar-benar
mendengarkan.
Pikiran kita sering berada di tempat yang
berbeda dengan tubuh kita. Tubuh berada di hari ini, tetapi pikiran sudah
berada di hari esok. Kita sedang menikmati sesuatu, tetapi pikiran sibuk
mencemaskan sesuatu yang belum terjadi. Aku pun masih sering seperti itu.
Karena itu aku terus belajar untuk
kembali. Kembali kepada napas. Kembali kepada saat ini. Kembali kepada apa yang
sedang terjadi di depan mata.
Aku juga belajar mengatakan tidak. Ini
tidak selalu mudah bagi seseorang yang senang membantu. Kita sering ingin
membuat orang lain nyaman. Kita takut mengecewakan ketika harus menolak.
Tetapi aku mulai memahami bahwa mengatakan
tidak bukan berarti menjadi orang yang buruk. Aku tetap bisa baik tanpa selalu
tersedia. Aku tetap bisa membantu tanpa mengorbankan seluruh energiku. Aku
boleh memiliki batas.
Semakin dewasa, aku semakin menyadari
bahwa menjaga diri juga membutuhkan keberanian. Kita tidak bisa terus
mengatakan iya kepada semua hal. Ada saatnya kita perlu mengatakan, Aku
belum bisa. Ada saatnya kita perlu mengatakan, Aku membutuhkan waktu.
Kemudian ada satu hal yang mungkin paling
sulit. Aku sedang belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai
dengan keinginanku. Ada rencana yang gagal. Ada orang yang mengecewakan. Ada
harapan yang belum terwujud.
Kita bisa merencanakan banyak hal. Tetapi
hidup tetap memiliki jalannya sendiri. Ada hal-hal yang sudah kita usahakan
dengan sungguh-sungguh tetapi hasilnya berbeda. Pada titik tertentu, kita harus
belajar menerima.
Menerima bukan berarti menyerah. Menerima
berarti mengakui bahwa ada hal yang berada di luar kendali kita. Kita tetap
berusaha melakukan bagian kita. Setelah itu, kita belajar menyerahkan hasilnya
kepada Allah.
Sebagai seorang muslim, aku percaya bahwa
dunia memang tempat ujian. Tidak semua hari diberikan untuk membuat kita
bahagia. Ada hari yang mengajarkan kesabaran. Ada keadaan yang mengajarkan
keikhlasan.
Mungkin ada hal yang belum kita mengerti
hari ini. Mungkin ada doa yang belum Allah jawab dengan cara yang kita
harapkan. Tetapi bukan berarti Allah tidak mendengar. Bisa jadi waktunya memang
belum tiba atau jawabannya sedang dipersiapkan dalam bentuk yang berbeda.
Karena itu aku ingin terus belajar
tawakal. Berusaha sebaik mungkin. Berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian
menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ada ketenangan ketika kita tidak lagi merasa
harus mengendalikan semuanya.
Pada akhirnya, aku mulai memahami bahwa
ketenangan bukan sesuatu yang datang karena hidup kita bebas dari masalah.
Ketenangan justru tumbuh ketika kita belajar menghadapi masalah dengan
kesadaran. Kita belajar memilih respons. Kita belajar menerima hal-hal yang
tidak bisa kita ubah.
Aku tidak perlu mengubah diriku menjadi
orang lain. Aku tetap boleh menjadi seseorang yang senang berbicara. Aku tetap
boleh tertawa dan menikmati keramaian. Aku tetap boleh memiliki banyak
aktivitas.
Tetapi aku juga membutuhkan ruang untuk
diam. Aku membutuhkan waktu untuk sendiri. Aku membutuhkan kesempatan
untuk mendengarkan diriku sendiri. Dan tentu saja, aku membutuhkan waktu untuk
kembali kepada Allah.
Mungkin memang seperti itulah diriku.
Seorang ekstrovert yang juga memiliki sisi introvert. Aku mendapatkan energi
dari manusia. Tetapi aku juga membutuhkan kesunyian untuk mengisi kembali
energi itu.
Sekarang aku tidak lagi melihatnya sebagai
sesuatu yang membingungkan. Aku melihatnya sebagai bagian dari keseimbangan.
Aku tidak harus selalu ramai dan tidak harus selalu diam. Aku hanya perlu
mengenali apa yang sedang kubutuhkan.
Aku perlu tahu kapan waktunya berbicara
dan kapan waktunya mendengarkan. Kapan waktunya bergerak dan kapan waktunya
berhenti. Kapan waktunya berusaha dan kapan waktunya melepaskan. Mungkin itulah
salah satu bentuk kedewasaan yang sedang kupelajari.
Sebab menjadi pribadi yang tenang bukan
berarti memiliki kehidupan yang selalu tenang. Dunia tetap ramai. Manusia tetap
datang dan pergi. Masalah tetap akan muncul.
Tetapi semoga di tengah semua keramaian
itu, aku memiliki hati yang tahu bagaimana caranya kembali. Kembali kepada
diriku sendiri. Kembali kepada kesadaran. Dan pada akhirnya, kembali kepada
Allah.
Mungkin ketenangan bukan tentang membuat dunia menjadi sunyi. Ketenangan adalah ketika dunia tetap ramai, tetapi hati kita tidak lagi kehilangan arah. Kita tetap berjalan, tetap berusaha, tetap menjadi diri sendiri. Hanya saja, kali ini kita menjalaninya dengan hati yang lebih sadar dan lebih tenang. []
