Jika yang dimaksud coping
mechanism adalah cara seseorang menghadapi tekanan, maka untuk seorang
perempuan yang bekerja 9–5 sekaligus menjadi istri dan ibu, release emosi
bukan berarti harus selalu pergi liburan, menangis lama, atau punya banyak
waktu sendiri.
Justru yang lebih realistis
adalah membuat ruang-ruang kecil untuk mengeluarkan emosi sebelum emosi
menumpuk menjadi lelah, marah, atau merasa tidak dihargai.
Beberapa bentuk coping yang
sehat:
- Mengakui emosi tanpa merasa bersalah
“Hari ini aku lelah.” “Aku kecewa.”
“Aku sedang kesal.” Mengakui perasaan bukan berarti menjadi perempuan yang
lemah atau tidak bersyukur.
- Memberi jeda setelah pulang kerja
Tidak harus langsung berpindah peran
dari “pegawai” menjadi “istri dan ibu”. Lima belas sampai dua puluh menit untuk
duduk, minum, mandi, atau sekadar bernapas bisa menjadi transisi yang sangat
berarti.
- Menulis apa yang dirasakan
Tidak perlu jurnal panjang. Cukup tulis: Apa
yang terjadi? Apa yang kurasakan? Apa yang sebenarnya kubutuhkan? Kadang emosi menjadi lebih ringan setelah diberi nama.
- Berbicara dengan orang yang aman
Bukan kepada orang yang akan memperkeruh
keadaan, tetapi kepada seseorang yang bisa mendengar tanpa buru-buru menghakimi
atau memberi ceramah.
- Menangis jika memang ingin menangis
Menangis adalah salah satu bentuk pelepasan
emosi. Yang penting bukan menjadikan tangisan sebagai satu-satunya cara
menghadapi masalah, tetapi memberinya ruang ketika tubuh memang membutuhkannya.
- Bergerak secara fisik
Jalan kaki, stretching, berkebun, membersihkan
rumah dengan santai, atau olahraga ringan dapat membantu tubuh keluar dari
kondisi tegang setelah seharian bekerja.
- Menciptakan
aktivitas yang benar-benar milik diri sendiri
Membaca, memasak, baking, merawat
tanaman, menulis, atau menikmati secangkir teh. Bukan karena aktivitas itu
produktif, tetapi karena ada bagian diri yang menikmati prosesnya.
- Belajar mengatakan “tidak sekarang”
Seorang ibu tidak
harus selalu tersedia. Ada kalanya mengatakan, “Ibu istirahat dulu sebentar,
setelah itu kita bicara,” justru lebih sehat daripada memaksakan diri sampai
akhirnya meledak.
- Berbagi beban domestik
Release emosi bukan hanya pekerjaan
internal. Kadang sumber kelelahan memang karena terlalu banyak yang ditanggung
sendiri. Pembagian tugas dengan pasangan dan anak sesuai usia merupakan bagian
dari coping yang sehat.
- Membicarakan
masalah dengan pasangan sebelum menjadi tumpukan
Bukan ketika sudah sangat marah,
tetapi ketika masih bisa berbicara dengan tenang. Fokus pada kebutuhan, bukan
hanya kesalahan: “Aku sedang kewalahan dan butuh bantuan,” jauh lebih
mudah diterima daripada menunggu sampai akhirnya meledak.
- Membatasi pelampiasan digital
Scrolling berjam-jam, membaca
komentar, atau melampiaskan kekesalan di media sosial kadang terasa seperti
pelepasan, tetapi belum tentu membuat emosi benar-benar selesai.
- Membedakan release dan penyelesaian masalah
Menangis, menulis,
berjalan kaki, atau bercerita dapat membantu menurunkan intensitas emosi.
Tetapi setelah lebih tenang, tetap perlu bertanya: “Apa yang sebenarnya
perlu diselesaikan?”
- Memberikan
waktu untuk menjadi “dirinya sendiri”
Sebelum menjadi pekerja, istri, dan
ibu, ia adalah seorang individu dengan kebutuhan, minat, mimpi, dan batas
dirinya sendiri. Merawat bagian ini bukan egois.
- Mendekat kepada Allah
Bagi seorang Muslimah, doa, salat dengan lebih
hadir, membaca Al-Qur'an, berzikir, atau sekadar mencurahkan isi hati kepada
Allah dapat menjadi ruang regulasi emosi yang sangat personal.
- Menerima
bahwa tidak semua hari harus berjalan sempurna
Ada hari ketika pekerjaan
berantakan, rumah belum rapi, anak rewel, dan diri sendiri ingin menangis. Hari
seperti itu bukan bukti bahwa seseorang gagal menjadi pekerja, istri, atau ibu.
Yang menarik, coping mechanism yang sehat bukan selalu tentang
“menghilangkan emosi”. Emosi sebenarnya membawa informasi. Marah mungkin
memberi tahu bahwa ada batas yang dilanggar. Sedih mungkin menunjukkan
kehilangan atau kebutuhan akan dukungan. Lelah mungkin menunjukkan bahwa
seseorang terlalu lama memberi tanpa mengisi kembali dirinya.
Jadi, untuk perempuan 9–5, mungkin pertanyaannya bukan “Bagaimana supaya
aku tidak stres?”, tetapi:
“Bagaimana aku memberi ruang kepada diriku untuk
merasakan, memahami, dan melepaskan emosi dengan cara yang tidak menyakiti diri
sendiri maupun orang lain?”
Ini sebenarnya bisa menjadi artikel yang sangat bagus untuk kolom Psikologi/Motivasi
di blogmu: “Coping Mechanism: Cara Sehat Melepaskan Emosi bagi Perempuan
yang Bekerja, Menjadi Istri, dan Ibu.”
Kalau yang dimaksud coping mechanism adalah cara seseorang
menghadapi tekanan, maka untuk seorang perempuan yang bekerja 9–5 sekaligus
menjadi istri dan ibu, release emosi bukan berarti harus selalu pergi
liburan, menangis lama, atau punya banyak waktu sendiri.
Justru yang lebih realistis adalah membuat ruang-ruang kecil untuk
mengeluarkan emosi sebelum emosi menumpuk menjadi lelah, marah, atau merasa
tidak dihargai.
Beberapa bentuk coping yang
sehat:
- Mengakui emosi tanpa merasa bersalah
“Hari ini aku lelah.” “Aku kecewa.”
“Aku sedang kesal.” Mengakui perasaan bukan berarti menjadi perempuan yang
lemah atau tidak bersyukur.
- Memberi jeda setelah pulang kerja
Tidak
harus langsung berpindah peran dari “pegawai” menjadi “istri dan ibu”. Lima
belas sampai dua puluh menit untuk duduk, minum, mandi, atau sekadar bernapas
bisa menjadi transisi yang sangat berarti.
- Menulis apa yang dirasakan
Tidak perlu jurnal panjang. Cukup tulis: Apa
yang terjadi? Apa yang kurasakan? Apa yang sebenarnya kubutuhkan? Kadang emosi menjadi lebih ringan setelah diberi nama.
- Berbicara dengan orang yang aman
Bukan kepada orang yang akan memperkeruh
keadaan, tetapi kepada seseorang yang bisa mendengar tanpa buru-buru menghakimi
atau memberi ceramah.
- Menangis jika memang ingin menangis
Menangis adalah salah satu bentuk pelepasan
emosi. Yang penting bukan menjadikan tangisan sebagai satu-satunya cara
menghadapi masalah, tetapi memberinya ruang ketika tubuh memang membutuhkannya.
- Bergerak secara fisik
Jalan kaki, stretching, berkebun, membersihkan
rumah dengan santai, atau olahraga ringan dapat membantu tubuh keluar dari
kondisi tegang setelah seharian bekerja.
- Menciptakan
aktivitas yang benar-benar milik diri sendiri
Membaca, memasak, baking, merawat
tanaman, menulis, atau menikmati secangkir teh. Bukan karena aktivitas itu
produktif, tetapi karena ada bagian diri yang menikmati prosesnya.
- Belajar mengatakan “tidak sekarang”
Seorang ibu tidak
harus selalu tersedia. Ada kalanya mengatakan, “Ibu istirahat dulu sebentar,
setelah itu kita bicara,” justru lebih sehat daripada memaksakan diri sampai
akhirnya meledak.
- Berbagi beban domestik
Release emosi bukan hanya pekerjaan
internal. Kadang sumber kelelahan memang karena terlalu banyak yang ditanggung
sendiri. Pembagian tugas dengan pasangan dan anak sesuai usia merupakan bagian
dari coping yang sehat.
- Membicarakan
masalah dengan pasangan sebelum menjadi tumpukan
Bukan ketika sudah sangat marah,
tetapi ketika masih bisa berbicara dengan tenang. Fokus pada kebutuhan, bukan
hanya kesalahan: “Aku sedang kewalahan dan butuh bantuan,” jauh lebih
mudah diterima daripada menunggu sampai akhirnya meledak.
- Membatasi pelampiasan digital
Scrolling berjam-jam, membaca
komentar, atau melampiaskan kekesalan di media sosial kadang terasa seperti
pelepasan, tetapi belum tentu membuat emosi benar-benar selesai.
- Membedakan release dan penyelesaian masalah
Menangis, menulis,
berjalan kaki, atau bercerita dapat membantu menurunkan intensitas emosi.
Tetapi setelah lebih tenang, tetap perlu bertanya: “Apa yang sebenarnya
perlu diselesaikan?”
- Memberikan
waktu untuk menjadi “dirinya sendiri”
Sebelum menjadi pekerja, istri, dan
ibu, ia adalah seorang individu dengan kebutuhan, minat, mimpi, dan batas
dirinya sendiri. Merawat bagian ini bukan egois.
- Mendekat kepada Allah
Bagi seorang Muslimah, doa, salat dengan lebih
hadir, membaca Al-Qur'an, berzikir, atau sekadar mencurahkan isi hati kepada
Allah dapat menjadi ruang regulasi emosi yang sangat personal.
- Menerima
bahwa tidak semua hari harus berjalan sempurna
Ada hari ketika pekerjaan
berantakan, rumah belum rapi, anak rewel, dan diri sendiri ingin menangis. Hari
seperti itu bukan bukti bahwa seseorang gagal menjadi pekerja, istri, atau ibu.
Yang menarik, coping mechanism yang sehat bukan selalu tentang
“menghilangkan emosi”. Emosi sebenarnya membawa informasi. Marah mungkin
memberi tahu bahwa ada batas yang dilanggar. Sedih mungkin menunjukkan
kehilangan atau kebutuhan akan dukungan. Lelah mungkin menunjukkan bahwa
seseorang terlalu lama memberi tanpa mengisi kembali dirinya.
Jadi, untuk perempuan 9–5, mungkin pertanyaannya bukan “Bagaimana supaya
aku tidak stres?”, tetapi:
“Bagaimana aku memberi ruang kepada diriku untuk
merasakan, memahami, dan melepaskan emosi dengan cara yang tidak menyakiti diri
sendiri maupun orang lain?” []
