Ada orang
yang hidupnya tidak selalu mudah, tetapi cara menjalaninya terlihat ringan. Ia
tetap punya masalah. Ia pernah kecewa, pernah gagal, pernah disalahpahami,
bahkan mungkin pernah diperlakukan tidak baik oleh orang lain. Namun, ia tidak membiarkan semua itu membuat
hidupnya menjadi berat.
Sebaliknya, ada orang yang sebenarnya
tidak sedang menghadapi masalah besar, tetapi setiap hari terasa melelahkan.
Sedikit perkataan membuatnya tersinggung. Kritik dianggap serangan. Kesalahan
kecil menjadi bahan pertengkaran. Ia sulit menerima perubahan dan terlalu
banyak memikirkan penilaian orang lain.
Sering kali yang membedakan bukan seberapa
banyak masalah yang dimiliki seseorang, tetapi attitude atau sikap dalam
menghadapi kehidupan.
Attitude tidak hanya tentang sopan santun.
Attitude adalah cara seseorang membawa dirinya dalam kehidupan. Bagaimana ia
memperlakukan orang lain, bagaimana ia merespons masalah, bagaimana ia menerima
kekurangan diri, dan bagaimana ia menyikapi sesuatu yang tidak sesuai dengan
keinginannya.
Ada beberapa sikap yang jika perlahan
melekat dalam diri, akan membuat perjalanan hidup terasa lebih ringan.
Pertama, rendah hati.
Rendah hati membuat seseorang tidak merasa
harus selalu menjadi orang yang paling tahu. Ia masih mau bertanya,
mendengarkan dan belajar. Ia tidak malu mengakui bahwa ada hal yang belum
dipahaminya.
Orang yang rendah hati biasanya lebih
mudah berkembang karena pikirannya tidak penuh dengan keinginan untuk
membuktikan bahwa dirinya benar.
Kedua, tahu berterima kasih.
Tidak semua hal dalam hidup berjalan
sempurna. Namun, selalu ada sesuatu yang bisa disyukuri. Kemampuan untuk
melihat kebaikan kecil membuat seseorang tidak terus-menerus merasa kekurangan.
Bukan berarti kita menutup mata terhadap
masalah. Kita hanya belajar untuk tidak membiarkan masalah menghapus seluruh
kebaikan yang masih ada.
Ketiga, mau mendengarkan.
Mendengarkan bukan sekadar menunggu
giliran untuk berbicara. Mendengarkan berarti berusaha memahami apa yang sedang
disampaikan orang lain.
Banyak persoalan dalam hubungan sebenarnya
tidak membutuhkan jawaban yang panjang. Kadang seseorang hanya ingin
didengarkan tanpa segera dihakimi.
Keempat, tidak mudah tersinggung.
Tidak semua perkataan orang harus dibawa
ke hati. Ada ucapan yang memang perlu diperhatikan, tetapi ada juga yang tidak
perlu dipikirkan terlalu lama.
Semakin dewasa seseorang, ia akan belajar
memilih mana yang perlu ditanggapi dan mana yang lebih baik dilewati.
Kelima, berani mengakui kesalahan.
Mengakui kesalahan memang tidak selalu
mudah. Ego sering membuat kita mencari alasan atau membela diri.
Padahal, kalimat sederhana seperti, “Saya
salah. Maaf,” justru menunjukkan kedewasaan. Meminta maaf tidak membuat
seseorang menjadi lebih rendah. Sebaliknya, itu menunjukkan bahwa ia cukup
dewasa untuk bertanggung jawab.
Keenam, tidak gengsi meminta bantuan.
Kita tidak harus mampu melakukan semuanya
sendiri. Ada masa ketika kita kuat membantu orang lain. Ada masa ketika kita
sendiri membutuhkan bantuan.
Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Itu
adalah pengakuan bahwa manusia memang diciptakan untuk saling membutuhkan.
Ketujuh, menghargai orang lain.
Cara seseorang memperlakukan orang yang
tidak memiliki kepentingan apa pun baginya sering kali menunjukkan kualitas
dirinya.
Menghargai orang lain tidak membutuhkan
biaya. Menyapa, mendengarkan, mengucapkan terima kasih, dan berbicara dengan
sopan adalah hal sederhana yang bisa membuat orang lain merasa dimanusiakan.
Kedelapan, menepati janji.
Kepercayaan tidak dibangun dari kata-kata
besar. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Ketika seseorang terbiasa menepati apa
yang sudah dikatakannya, orang lain akan merasa aman untuk mempercayainya.
Kesembilan, bertanggung jawab.
Ketika sesuatu tidak berjalan baik, jangan
selalu sibuk mencari siapa yang salah.
Orang yang bertanggung jawab akan
bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya?”
Pertanyaan sederhana ini mengubah posisi
seseorang dari sekadar mengeluh menjadi mencari solusi.
Kesepuluh, berhenti terlalu sering
membandingkan diri.
Setiap orang mempunyai perjalanan yang
berbeda. Ada yang berhasil lebih cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih
panjang.
Membandingkan diri terus-menerus hanya
membuat kita lupa melihat perkembangan diri sendiri.
Yang penting bukan apakah kita sudah
sejauh orang lain. Yang penting adalah apakah hari ini kita menjadi sedikit
lebih baik daripada diri kita kemarin.
Kesebelas, mampu menerima kritik.
Tidak semua kritik disampaikan dengan cara
yang menyenangkan. Namun, kita tetap bisa mengambil sesuatu yang bermanfaat
darinya.
Belajar menerima kritik bukan berarti
harus menerima semua perkataan orang. Kita tetap perlu memilah. Ambil yang
benar-benar membantu kita bertumbuh dan tinggalkan yang memang tidak relevan.
Keduabelas, tidak mudah menghakimi.
Kita sering melihat perilaku seseorang,
tetapi tidak mengetahui cerita di baliknya.
Karena itu, jangan terlalu cepat
menyimpulkan seseorang hanya dari satu kejadian. Bisa jadi ada perjuangan yang
tidak kita ketahui.
Memahami bukan berarti membenarkan semua
perilaku. Memahami hanya membuat kita lebih berhati-hati dalam memberikan
penilaian.
Ketigabelas, tahu kapan harus berbicara
dan kapan harus menahan diri.
Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak
semua perdebatan harus dimenangkan.
Ada kalanya berbicara memang diperlukan.
Namun, ada pula saat ketika menahan satu kalimat justru menyelamatkan sebuah
hubungan.
Keempatbelas, mampu menjaga batasan.
Menjadi baik bukan berarti harus selalu
mengatakan iya.
Kita boleh menolak sesuatu yang tidak
sanggup kita lakukan. Kita boleh mengatakan bahwa kita membutuhkan waktu. Kita
juga perlu menghormati batasan orang lain.
Batasan bukan bentuk permusuhan. Batasan
adalah cara menjaga hubungan agar tetap sehat.
Kelimabelas, fleksibel menghadapi
perubahan.
Hidup tidak selalu mengikuti rencana. Ada
sesuatu yang datang tanpa kita undang dan ada sesuatu yang pergi meskipun masih
ingin kita pertahankan.
Kemampuan beradaptasi membuat kita tidak
terlalu lama terjebak dalam kekecewaan.
Keenambelas, berani berkata tidak.
Tidak semua permintaan harus dipenuhi.
Tidak semua ajakan harus diikuti.
Ada saatnya kita perlu mengatakan tidak
agar bisa menjaga waktu, tenaga dan prioritas.
Menolak sesuatu dengan baik bukan berarti
menjadi orang yang tidak peduli.
Ketujuhbelas, mampu mengelola emosi.
Marah adalah manusiawi. Kecewa juga
manusiawi.
Yang perlu kita pelajari bukan bagaimana
agar tidak pernah marah, tetapi bagaimana agar kemarahan tidak mengendalikan
tindakan kita.
Berikan diri sendiri waktu sebelum
merespons. Kadang jeda beberapa menit dapat mencegah penyesalan yang panjang.
Kedelapanbelas, berpikir sebelum bereaksi.
Tidak semua kejadian membutuhkan reaksi
cepat.
Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang
membuat kita kesal, kita bisa berhenti sejenak. Tarik napas. Pikirkan. Baru
kemudian merespons.
Ada perbedaan besar antara bereaksi karena
emosi dan merespons dengan kesadaran.
Kesembilanbelas, tidak terus-menerus
mencari pengakuan.
Kita tentu senang ketika dihargai. Namun,
jika seluruh kebahagiaan bergantung pada pengakuan orang lain, hidup akan
melelahkan.
Tidak semua kebaikan harus diketahui.
Tidak semua pencapaian harus dipamerkan.
Ada kepuasan tersendiri ketika kita tahu
bahwa apa yang kita lakukan memang bernilai, meskipun tidak semua orang
melihatnya.
Keduapuluh, mau belajar dari siapa saja.
Guru kehidupan tidak selalu hadir dalam
bentuk orang yang kita kagumi.
Kadang kita belajar dari teman. Dari anak.
Dari pasangan. Bahkan dari orang yang tidak kita sukai.
Setiap orang bisa membawa pelajaran
tertentu. Tinggal bagaimana kita memilih untuk melihatnya.
Keduapuluh satu, konsisten melakukan
kebaikan.
Kebaikan yang dilakukan sekali mungkin
terlihat sederhana. Tetapi kebaikan yang dilakukan berulang kali akan menjadi
karakter.
Tidak perlu menunggu kesempatan besar
untuk berbuat baik. Membantu, menghargai, mendengarkan dan menjaga perasaan
orang lain juga merupakan bentuk kebaikan.
Keduapuluh dua, tahu kapan harus
melepaskan.
Tidak semua masalah harus dibawa sampai
bertahun-tahun.
Ada hal yang perlu diperjuangkan. Ada pula
yang harus diterima dan dilepaskan.
Melepaskan bukan berarti kalah. Kadang itu
adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri agar kita tidak terus hidup
dalam sesuatu yang sudah tidak bisa diubah.
Keduapuluh
tiga, menghargai proses.
Kita hidup di
zaman yang membuat banyak hal terlihat cepat. Karena itu, kita mudah merasa tertinggal ketika hasil belum datang.
Padahal, pertumbuhan membutuhkan waktu.
Belajar, membangun karier, memperbaiki
hubungan, menjadi lebih sabar, dan mengenal diri sendiri semuanya adalah
proses.
Keduapuluh empat, berprasangka baik tetapi
tetap realistis.
Berprasangka baik bukan berarti menjadi
naif.
Kita tetap perlu menggunakan akal sehat,
menjaga batasan dan memperhatikan fakta. Namun, kita juga tidak perlu
mencurigai semua orang hanya karena pernah dikecewakan.
Pengalaman buruk seharusnya membuat kita
lebih bijaksana, bukan membuat kita kehilangan kepercayaan kepada semua orang.
Keduapuluh lima, memahami bahwa hidup
tidak selalu tentang diri sendiri.
Ini mungkin salah satu attitude yang
paling penting.
Ada saatnya kita ingin didengarkan. Tetapi
ada saatnya kita perlu mendengarkan.
Ada saatnya kita ingin dimengerti. Tetapi
ada saatnya kita perlu berusaha memahami.
Ada saatnya kita membutuhkan perhatian.
Tetapi ada pula saatnya kita menjadi orang yang memberikan perhatian.
Ketika seseorang mulai memahami bahwa
kehidupan bukan hanya tentang apa yang ia inginkan, ia akan lebih mudah
membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Pada akhirnya, attitude yang baik tidak
membuat seseorang bebas dari masalah.
Ia tetap akan kecewa. Tetap akan bertemu
orang yang sulit. Tetap akan mengalami kegagalan dan menghadapi keadaan yang
tidak sesuai harapan.
Namun, attitude yang baik membuat
seseorang memiliki cara yang lebih sehat untuk melewati semuanya.
Ia tidak mudah hancur hanya karena satu
komentar. Tidak kehilangan dirinya hanya karena sebuah penolakan. Tidak merasa
harus menang dalam setiap perdebatan. Dan tidak menghabiskan hidup untuk
membuktikan sesuatu kepada semua orang.
Mungkin inilah yang membuat hidup terasa
lebih mudah.
Bukan karena masalahnya lebih sedikit,
tetapi karena kita menjadi lebih matang dalam menghadapinya.
Sebab pada akhirnya, kita memang tidak
bisa mengatur semua yang terjadi dalam hidup. Tetapi kita masih bisa belajar
mengatur cara kita meresponsnya.
Dan sering kali, perubahan besar dalam
hidup justru dimulai dari sesuatu yang sederhana: memperbaiki sikap kita
sendiri.
