25 Attitude yang Membuat Hidup Terasa Lebih Mudah


Oleh: Siti Hajar

Ada orang yang hidupnya tidak selalu mudah, tetapi cara menjalaninya terlihat ringan. Ia tetap punya masalah. Ia pernah kecewa, pernah gagal, pernah disalahpahami, bahkan mungkin pernah diperlakukan tidak baik oleh orang lain. Namun, ia tidak membiarkan semua itu membuat hidupnya menjadi berat.

Sebaliknya, ada orang yang sebenarnya tidak sedang menghadapi masalah besar, tetapi setiap hari terasa melelahkan. Sedikit perkataan membuatnya tersinggung. Kritik dianggap serangan. Kesalahan kecil menjadi bahan pertengkaran. Ia sulit menerima perubahan dan terlalu banyak memikirkan penilaian orang lain.

Sering kali yang membedakan bukan seberapa banyak masalah yang dimiliki seseorang, tetapi attitude atau sikap dalam menghadapi kehidupan.

Attitude tidak hanya tentang sopan santun. Attitude adalah cara seseorang membawa dirinya dalam kehidupan. Bagaimana ia memperlakukan orang lain, bagaimana ia merespons masalah, bagaimana ia menerima kekurangan diri, dan bagaimana ia menyikapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Ada beberapa sikap yang jika perlahan melekat dalam diri, akan membuat perjalanan hidup terasa lebih ringan.

Pertama, rendah hati.

Rendah hati membuat seseorang tidak merasa harus selalu menjadi orang yang paling tahu. Ia masih mau bertanya, mendengarkan dan belajar. Ia tidak malu mengakui bahwa ada hal yang belum dipahaminya.

Orang yang rendah hati biasanya lebih mudah berkembang karena pikirannya tidak penuh dengan keinginan untuk membuktikan bahwa dirinya benar.

Kedua, tahu berterima kasih.

Tidak semua hal dalam hidup berjalan sempurna. Namun, selalu ada sesuatu yang bisa disyukuri. Kemampuan untuk melihat kebaikan kecil membuat seseorang tidak terus-menerus merasa kekurangan.

Bukan berarti kita menutup mata terhadap masalah. Kita hanya belajar untuk tidak membiarkan masalah menghapus seluruh kebaikan yang masih ada.

Ketiga, mau mendengarkan.

Mendengarkan bukan sekadar menunggu giliran untuk berbicara. Mendengarkan berarti berusaha memahami apa yang sedang disampaikan orang lain.

Banyak persoalan dalam hubungan sebenarnya tidak membutuhkan jawaban yang panjang. Kadang seseorang hanya ingin didengarkan tanpa segera dihakimi.

Keempat, tidak mudah tersinggung.

Tidak semua perkataan orang harus dibawa ke hati. Ada ucapan yang memang perlu diperhatikan, tetapi ada juga yang tidak perlu dipikirkan terlalu lama.

Semakin dewasa seseorang, ia akan belajar memilih mana yang perlu ditanggapi dan mana yang lebih baik dilewati.

Kelima, berani mengakui kesalahan.

Mengakui kesalahan memang tidak selalu mudah. Ego sering membuat kita mencari alasan atau membela diri.

Padahal, kalimat sederhana seperti, “Saya salah. Maaf,” justru menunjukkan kedewasaan. Meminta maaf tidak membuat seseorang menjadi lebih rendah. Sebaliknya, itu menunjukkan bahwa ia cukup dewasa untuk bertanggung jawab.

Keenam, tidak gengsi meminta bantuan.

Kita tidak harus mampu melakukan semuanya sendiri. Ada masa ketika kita kuat membantu orang lain. Ada masa ketika kita sendiri membutuhkan bantuan.

Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Itu adalah pengakuan bahwa manusia memang diciptakan untuk saling membutuhkan.

Ketujuh, menghargai orang lain.

Cara seseorang memperlakukan orang yang tidak memiliki kepentingan apa pun baginya sering kali menunjukkan kualitas dirinya.

Menghargai orang lain tidak membutuhkan biaya. Menyapa, mendengarkan, mengucapkan terima kasih, dan berbicara dengan sopan adalah hal sederhana yang bisa membuat orang lain merasa dimanusiakan.

Kedelapan, menepati janji.

Kepercayaan tidak dibangun dari kata-kata besar. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.

Ketika seseorang terbiasa menepati apa yang sudah dikatakannya, orang lain akan merasa aman untuk mempercayainya.

Kesembilan, bertanggung jawab.

Ketika sesuatu tidak berjalan baik, jangan selalu sibuk mencari siapa yang salah.

Orang yang bertanggung jawab akan bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya?”

Pertanyaan sederhana ini mengubah posisi seseorang dari sekadar mengeluh menjadi mencari solusi.

Kesepuluh, berhenti terlalu sering membandingkan diri.

Setiap orang mempunyai perjalanan yang berbeda. Ada yang berhasil lebih cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang.

Membandingkan diri terus-menerus hanya membuat kita lupa melihat perkembangan diri sendiri.

Yang penting bukan apakah kita sudah sejauh orang lain. Yang penting adalah apakah hari ini kita menjadi sedikit lebih baik daripada diri kita kemarin.

Kesebelas, mampu menerima kritik.

Tidak semua kritik disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Namun, kita tetap bisa mengambil sesuatu yang bermanfaat darinya.

Belajar menerima kritik bukan berarti harus menerima semua perkataan orang. Kita tetap perlu memilah. Ambil yang benar-benar membantu kita bertumbuh dan tinggalkan yang memang tidak relevan.

Keduabelas, tidak mudah menghakimi.

Kita sering melihat perilaku seseorang, tetapi tidak mengetahui cerita di baliknya.

Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan seseorang hanya dari satu kejadian. Bisa jadi ada perjuangan yang tidak kita ketahui.

Memahami bukan berarti membenarkan semua perilaku. Memahami hanya membuat kita lebih berhati-hati dalam memberikan penilaian.

Ketigabelas, tahu kapan harus berbicara dan kapan harus menahan diri.

Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.

Ada kalanya berbicara memang diperlukan. Namun, ada pula saat ketika menahan satu kalimat justru menyelamatkan sebuah hubungan.

Keempatbelas, mampu menjaga batasan.

Menjadi baik bukan berarti harus selalu mengatakan iya.

Kita boleh menolak sesuatu yang tidak sanggup kita lakukan. Kita boleh mengatakan bahwa kita membutuhkan waktu. Kita juga perlu menghormati batasan orang lain.

Batasan bukan bentuk permusuhan. Batasan adalah cara menjaga hubungan agar tetap sehat.

Kelimabelas, fleksibel menghadapi perubahan.

Hidup tidak selalu mengikuti rencana. Ada sesuatu yang datang tanpa kita undang dan ada sesuatu yang pergi meskipun masih ingin kita pertahankan.

Kemampuan beradaptasi membuat kita tidak terlalu lama terjebak dalam kekecewaan.

Keenambelas, berani berkata tidak.

Tidak semua permintaan harus dipenuhi. Tidak semua ajakan harus diikuti.

Ada saatnya kita perlu mengatakan tidak agar bisa menjaga waktu, tenaga dan prioritas.

Menolak sesuatu dengan baik bukan berarti menjadi orang yang tidak peduli.

Ketujuhbelas, mampu mengelola emosi.

Marah adalah manusiawi. Kecewa juga manusiawi.

Yang perlu kita pelajari bukan bagaimana agar tidak pernah marah, tetapi bagaimana agar kemarahan tidak mengendalikan tindakan kita.

Berikan diri sendiri waktu sebelum merespons. Kadang jeda beberapa menit dapat mencegah penyesalan yang panjang.

Kedelapanbelas, berpikir sebelum bereaksi.

Tidak semua kejadian membutuhkan reaksi cepat.

Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang membuat kita kesal, kita bisa berhenti sejenak. Tarik napas. Pikirkan. Baru kemudian merespons.

Ada perbedaan besar antara bereaksi karena emosi dan merespons dengan kesadaran.

Kesembilanbelas, tidak terus-menerus mencari pengakuan.

Kita tentu senang ketika dihargai. Namun, jika seluruh kebahagiaan bergantung pada pengakuan orang lain, hidup akan melelahkan.

Tidak semua kebaikan harus diketahui. Tidak semua pencapaian harus dipamerkan.

Ada kepuasan tersendiri ketika kita tahu bahwa apa yang kita lakukan memang bernilai, meskipun tidak semua orang melihatnya.

Keduapuluh, mau belajar dari siapa saja.

Guru kehidupan tidak selalu hadir dalam bentuk orang yang kita kagumi.

Kadang kita belajar dari teman. Dari anak. Dari pasangan. Bahkan dari orang yang tidak kita sukai.

Setiap orang bisa membawa pelajaran tertentu. Tinggal bagaimana kita memilih untuk melihatnya.

Keduapuluh satu, konsisten melakukan kebaikan.

Kebaikan yang dilakukan sekali mungkin terlihat sederhana. Tetapi kebaikan yang dilakukan berulang kali akan menjadi karakter.

Tidak perlu menunggu kesempatan besar untuk berbuat baik. Membantu, menghargai, mendengarkan dan menjaga perasaan orang lain juga merupakan bentuk kebaikan.

Keduapuluh dua, tahu kapan harus melepaskan.

Tidak semua masalah harus dibawa sampai bertahun-tahun.

Ada hal yang perlu diperjuangkan. Ada pula yang harus diterima dan dilepaskan.

Melepaskan bukan berarti kalah. Kadang itu adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri agar kita tidak terus hidup dalam sesuatu yang sudah tidak bisa diubah.

Keduapuluh tiga, menghargai proses.

Kita hidup di zaman yang membuat banyak hal terlihat cepat. Karena itu, kita mudah merasa tertinggal ketika hasil belum datang.

Padahal, pertumbuhan membutuhkan waktu.

Belajar, membangun karier, memperbaiki hubungan, menjadi lebih sabar, dan mengenal diri sendiri semuanya adalah proses.

Keduapuluh empat, berprasangka baik tetapi tetap realistis.

Berprasangka baik bukan berarti menjadi naif.

Kita tetap perlu menggunakan akal sehat, menjaga batasan dan memperhatikan fakta. Namun, kita juga tidak perlu mencurigai semua orang hanya karena pernah dikecewakan.

Pengalaman buruk seharusnya membuat kita lebih bijaksana, bukan membuat kita kehilangan kepercayaan kepada semua orang.

Keduapuluh lima, memahami bahwa hidup tidak selalu tentang diri sendiri.

Ini mungkin salah satu attitude yang paling penting.

Ada saatnya kita ingin didengarkan. Tetapi ada saatnya kita perlu mendengarkan.

Ada saatnya kita ingin dimengerti. Tetapi ada saatnya kita perlu berusaha memahami.

Ada saatnya kita membutuhkan perhatian. Tetapi ada pula saatnya kita menjadi orang yang memberikan perhatian.

Ketika seseorang mulai memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang ia inginkan, ia akan lebih mudah membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Pada akhirnya, attitude yang baik tidak membuat seseorang bebas dari masalah.

Ia tetap akan kecewa. Tetap akan bertemu orang yang sulit. Tetap akan mengalami kegagalan dan menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan.

Namun, attitude yang baik membuat seseorang memiliki cara yang lebih sehat untuk melewati semuanya.

Ia tidak mudah hancur hanya karena satu komentar. Tidak kehilangan dirinya hanya karena sebuah penolakan. Tidak merasa harus menang dalam setiap perdebatan. Dan tidak menghabiskan hidup untuk membuktikan sesuatu kepada semua orang.

Mungkin inilah yang membuat hidup terasa lebih mudah.

Bukan karena masalahnya lebih sedikit, tetapi karena kita menjadi lebih matang dalam menghadapinya.

Sebab pada akhirnya, kita memang tidak bisa mengatur semua yang terjadi dalam hidup. Tetapi kita masih bisa belajar mengatur cara kita meresponsnya.

Dan sering kali, perubahan besar dalam hidup justru dimulai dari sesuatu yang sederhana: memperbaiki sikap kita sendiri.

 

Lebih baru Lebih lama