Cara Bertumbuh Menjadi Pribadi yang Lebih Baik di Setiap Tahap Kehidupan

Oleh: Siti Hajar

Kita sering mengira bahwa bertumbuh adalah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Dari janin menjadi bayi, kemudian anak-anak, remaja, dewasa, hingga menua. Tubuh berubah, kemampuan bertambah, wajah ikut berubah. Usia terus berjalan tanpa pernah menunggu kita siap.

Namun, bertambah usia tidak selalu berarti bertumbuh.

Ada orang yang usianya terus bertambah, tetapi cara berpikirnya tetap sama. Ada yang semakin dewasa secara umur, tetapi masih mudah menyalahkan orang lain ketika menghadapi masalah. Ada pula yang semakin tua, tetapi belum selesai berdamai dengan dirinya sendiri.

Sebab pertumbuhan manusia sesungguhnya tidak hanya terjadi pada tubuh. Ada pertumbuhan pikiran, emosi, karakter, kesadaran, dan kebijaksanaan. Dan semua itu tidak datang hanya karena kalender berganti.

Kita belajar bertumbuh dari apa yang kita alami.

Ketika masih kecil, kita belajar berjalan setelah berkali-kali jatuh. Kita menangis, mencoba lagi, lalu berdiri. Tidak ada seorang anak yang merasa malu karena jatuh saat belajar berjalan. Ia hanya tahu bahwa ia harus mencoba kembali.

Menariknya, ketika dewasa, kita sering kehilangan keberanian seperti itu.

Kegagalan kecil saja bisa membuat kita merasa tidak mampu. Kesalahan membuat kita malu. Penolakan membuat kita merasa tidak berharga. Padahal, mungkin kehidupan sedang mengajarkan sesuatu yang dulu sudah kita pahami sejak kecil: jatuh bukan berarti gagal selamanya. Jatuh adalah bagian dari proses belajar berdiri.

Ketika memasuki masa sekolah, kita mulai belajar bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Tidak semua nilai menjadi sempurna. Tidak semua teman akan menyukai kita. Tidak semua guru memahami kita. Tidak semua usaha langsung menghasilkan penghargaan.

Di situlah pelajaran kehidupan mulai menjadi lebih luas.

Kita belajar tentang disiplin ketika tidak ingin belajar. Kita belajar tentang tanggung jawab ketika harus menyelesaikan tugas. Kita belajar menerima kekalahan ketika orang lain mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Kita juga belajar bahwa kemampuan seseorang tidak hanya diukur dari nilai yang tertulis di atas kertas.

Sekolah seharusnya tidak hanya menghasilkan anak yang pintar menjawab soal. Sekolah juga menjadi tempat anak belajar menjadi manusia.

Belajar meminta maaf. Belajar menghargai perbedaan. Belajar menepati janji. Belajar bekerja sama. Belajar menerima bahwa dirinya tidak selalu menjadi yang terbaik.

Kemudian kita memasuki masa remaja.

Pada masa ini, seseorang mulai mencari jawaban tentang dirinya sendiri. Ia mulai bertanya, “Siapa aku?” “Apa yang ingin aku lakukan?” “Mengapa orang lain tidak memahami aku?” Bahkan terkadang ia merasa dunia tidak adil kepadanya.

Masa remaja bukan sekadar masa mencari identitas. Ini adalah masa belajar mengenali diri sambil belajar mengendalikan diri.

Tidak semua perasaan harus diikuti. Tidak semua keinginan harus dipenuhi. Tidak semua perkataan orang lain harus dimasukkan ke hati. Dan tidak setiap masalah harus diselesaikan dengan emosi.

Remaja perlu belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Menjadi dewasa bukan berarti tidak memiliki masalah. Kematangan justru terlihat dari kemampuan seseorang memahami apa yang sedang ia rasakan, lalu memilih bagaimana ia akan bertindak.

Karena itu, anak-anak tidak cukup hanya diajarkan untuk menjadi pintar. Mereka perlu diajarkan untuk mengenali emosinya, memahami konsekuensi, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab terhadap pilihannya.

Setelah dewasa, pelajarannya menjadi semakin kompleks.

Kita mulai berhadapan dengan pekerjaan, pasangan, keluarga, kebutuhan ekonomi, tanggung jawab sosial, dan berbagai keputusan yang tidak memiliki jawaban sederhana. Ada masa ketika kita merasa sudah merencanakan hidup dengan baik, tetapi kenyataan membawa kita ke arah yang berbeda.

Di sinilah kita belajar tentang penerimaan.

Menerima bukan berarti menyerah. Menerima berarti mengakui bahwa ada hal-hal yang berada dalam kendali kita dan ada yang tidak. Kita mungkin tidak bisa menentukan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Kita tidak selalu bisa menghindari kehilangan. Kita juga tidak dapat mengatur seluruh keadaan agar sesuai dengan keinginan.

Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana meresponsnya.

Kita bisa memilih untuk belajar daripada terus menyalahkan. Kita bisa memilih memperbaiki diri daripada sibuk mencari kesalahan orang lain. Kita bisa memilih menjadi lebih lembut tanpa menjadi lemah. Kita bisa menjadi tegas tanpa harus menyakiti.

Pada akhirnya, kehidupan tidak hanya menguji seberapa banyak yang mampu kita dapatkan. Kehidupan juga menguji manusia seperti apa yang terbentuk setelah melewati semuanya.

Ada orang yang setelah mengalami kesulitan menjadi lebih keras. Ada yang menjadi lebih mudah curiga. Ada yang membangun tembok agar tidak terluka lagi.

Namun ada juga yang memilih menjadi lebih bijaksana.

Ia pernah disakiti, tetapi tidak menjadikan dirinya orang yang suka menyakiti. Ia pernah gagal, tetapi tidak kehilangan keberanian. Ia pernah kecewa, tetapi tidak berhenti mempercayai kebaikan. Ia pernah mengalami masa sulit, tetapi justru belajar memahami kesulitan orang lain.

Inilah salah satu bentuk pertumbuhan yang paling penting.

Kita tidak dapat memilih semua peristiwa yang terjadi dalam hidup. Tetapi kita memiliki ruang untuk memilih siapa diri kita setelah melewati peristiwa tersebut.

Karena itu, ujian hidup seharusnya tidak hanya ditanyakan dengan kalimat, “Mengapa ini terjadi kepadaku?”

Ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting.

“Apa yang sedang kehidupan ajarkan kepadaku melalui semua ini?”

Pertanyaan itu mengubah cara kita memandang masalah.

Kegagalan mungkin mengajarkan kerendahan hati. Penolakan mungkin mengajarkan bahwa harga diri tidak ditentukan oleh penerimaan orang lain. Kehilangan mungkin mengajarkan kita menghargai apa yang masih dimiliki. Kesalahan mungkin mengajarkan tanggung jawab. Bahkan pertemuan dengan orang yang sulit sekalipun dapat mengajarkan kesabaran dan batasan diri.

Setiap tahap kehidupan membawa ruang belajar yang berbeda.

Anak belajar mengenal dunia. Remaja belajar mengenal dirinya. Orang dewasa belajar bertanggung jawab atas pilihan. Orang tua belajar bahwa mencintai anak tidak selalu berarti memenuhi semua keinginannya.

Dan semakin bertambah usia, semestinya kita semakin memahami bahwa hidup bukan perlombaan untuk menjadi lebih hebat daripada orang lain.

Kita hanya perlu menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin.

Hari ini mungkin kita masih mudah marah. Besok kita belajar menahan diri. Hari ini kita mungkin masih suka menghakimi. Besok kita belajar memahami. Hari ini kita mungkin masih sulit meminta maaf. Suatu hari kita belajar mengakui kesalahan tanpa merasa harga diri kita runtuh.

Itulah pertumbuhan.

Tidak selalu terlihat oleh orang lain. Tidak selalu mendapatkan penghargaan. Bahkan terkadang hanya kita dan Allah yang mengetahui perjuangan tersebut.

Karena pertumbuhan yang paling penting sering kali terjadi di dalam diri.

Bagi orang tua, pemahaman ini menjadi sangat penting dalam mendidik anak. Anak tidak membutuhkan orang tua yang hanya menuntutnya mendapatkan nilai tinggi. Anak membutuhkan orang tua yang mengajarkan bagaimana menghadapi kegagalan tanpa kehilangan harga diri.

Anak perlu tahu bahwa kalah dalam perlombaan bukan berarti dirinya gagal sebagai manusia. Mendapat nilai yang kurang baik bukan berarti ia tidak pintar. Tidak diterima oleh kelompok tertentu bukan berarti ia tidak layak dicintai.

Orang tua perlu membantu anak memahami bahwa keberhasilan bukan hanya tentang menjadi juara. Ada keberhasilan ketika seorang anak berani mencoba lagi. Ada keberhasilan ketika ia mampu meminta maaf. Ada keberhasilan ketika ia membela temannya yang diperlakukan tidak adil. Ada keberhasilan ketika ia memilih jujur meskipun berbohong mungkin lebih mudah.

Di situlah karakter dibentuk.

Karakter tidak lahir dari satu nasihat panjang. Karakter tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Dari cara orang tua berbicara kepada anak. Dari cara guru memperlakukan murid. Dari cara seseorang menghadapi kesalahan. Dari cara kita memperlakukan orang yang tidak memiliki sesuatu untuk kita berikan kembali.

Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan. Mereka belajar dari bagaimana kita menjalani kehidupan.

Ketika seorang ibu mampu mengakui kesalahannya, anak belajar bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan. Ketika seorang ayah mampu mengendalikan emosinya, anak belajar bahwa kekuatan tidak selalu ditunjukkan dengan suara keras. Ketika orang tua menghargai orang lain, anak belajar bahwa manusia tidak dinilai dari jabatan, harta, atau status sosialnya.

Maka pendidikan karakter sesungguhnya dimulai jauh sebelum anak mengenal buku pelajaran.

Ia dimulai dari lingkungan tempat anak melihat manusia menjalani kehidupan.

Pada akhirnya, kita semua adalah pembelajar.

Tidak peduli apakah kita masih duduk di bangku sekolah, sedang menjalani kuliah, membangun karier, menjadi pasangan, menjadi orang tua, atau sudah memasuki usia yang lebih matang.

Selama masih hidup, masih ada sesuatu yang bisa kita pelajari.

Mungkin hari ini kita belajar menjadi lebih sabar. Besok belajar lebih berani. Lusa belajar melepaskan. Hari berikutnya belajar memaafkan. Pada kesempatan lain, kita belajar mengatakan tidak. Dan mungkin pada suatu hari, kita belajar menerima diri sendiri tanpa terus membandingkannya dengan kehidupan orang lain.

Begitulah manusia bertumbuh.

Bukan sekadar dari bayi menjadi dewasa. Bukan sekadar dari muda menjadi tua. Tetapi dari tidak tahu menjadi tahu, dari reaktif menjadi lebih sadar, dari mudah menghakimi menjadi mampu memahami, dari ingin selalu menang menjadi mampu menghargai, dan dari hanya memikirkan diri sendiri menjadi seseorang yang kehadirannya membawa kebaikan bagi orang lain.

Mungkin inilah salah satu makna kehidupan yang sering kita lewatkan.

Kita tidak hanya sedang melewati waktu.

Kita sedang dibentuk oleh waktu.

Setiap pengalaman memberi pelajaran. Setiap ujian memberi kesempatan untuk bertumbuh. Setiap kesalahan membuka ruang untuk memperbaiki diri.

Dan jika hari ini kita belum menjadi manusia yang kita harapkan, tidak apa-apa.

Selama kita masih mau belajar.

Sebab menjadi lebih baik bukan pekerjaan satu hari. Ia adalah perjalanan seumur hidup.

 

Lebih baru Lebih lama