Oleh: Siti Hajar
Ada orang-orang yang datang ke sebuah pesta dengan langkah yang sedikit
berbeda. Bukan karena mereka tidak bahagia melihat pengantin. Bukan pula karena
mereka tidak menghargai keluarga yang mengundang. Mereka datang dengan hati
yang senang, tetapi di dalam dirinya ada sedikit rasa canggung.
Gedungnya megah. Dekorasinya indah. Tamu-tamunya terlihat berkelas. Pakaian
mereka bagus-bagus, sementara yang dikenakan mungkin hanya pakaian terbaik yang
ada di lemari.
Di tempat seperti itu, seseorang bisa tiba-tiba merasa kecil. Padahal tidak
ada yang mengatakan bahwa dirinya kecil. Tidak ada yang bertanya berapa harga
bajunya. Tidak ada yang menghitung berapa kali pakaian itu sudah dipakai.
Tidak ada yang berdiri di depan pintu untuk menentukan siapa yang pantas
masuk dan siapa yang tidak. Tetapi perasaan minder kadang tidak membutuhkan
suara orang lain. Ia cukup tumbuh dari perbandingan.
Seseorang melihat orang lain yang datang dengan pakaian seragam keluarga.
Lalu melihat dirinya sendiri yang tidak mengenakan dress code yang sama. Ia
melihat keluarga lain yang tampak begitu kompak. Sementara keluarganya datang
dengan pakaian sederhana, bahkan mungkin memilih pakaian terbaik dari apa yang
mereka punya.
Ia mulai merasa salah kostum. Padahal sebenarnya tidak.
Ada pula seorang ibu dari kampung yang datang menghadiri pesta keluarga. Ia
mungkin hanya mempunyai beberapa pakaian bagus. Baju Lebaran tiga musim yang
lalu masih menjadi salah satu pakaian terbaiknya. Baju itu mungkin dicuci
baik-baik, disetrika rapi, lalu dipakai dengan hati-hati untuk menghadiri
undangan.
Sesampainya di gedung, ia melihat perempuan-perempuan lain dengan pakaian
yang berbeda. Ada yang baru. Ada yang mahal. Ada yang dibuat khusus untuk acara
tersebut. Tiba-tiba tangannya sibuk merapikan ujung bajunya sendiri.
Bukan karena bajunya buruk. Tetapi karena ia mulai membandingkannya dengan
baju orang lain. Begitulah kadang manusia. Sebelum orang lain menilai, kita
sudah lebih dulu menghakimi diri sendiri.
Aku membayangkan, mungkin di pesta-pesta besar seperti itu bukan hanya satu
atau dua orang yang merasakan hal yang sama. Mungkin ada keluarga sederhana
yang duduk di sudut ruangan dan merasa sedikit kikuk. Ada saudara yang tidak
terlalu mengenal keluarga besar sehingga tidak tahu harus berbincang dengan
siapa. Ada orang tua yang merasa tidak selevel dengan tamu-tamu lainnya.
Ada pula anak muda yang sebenarnya ingin berfoto, tetapi mengurungkan niat
karena merasa penampilannya tidak cukup bagus. Mereka semua hadir dengan
perasaan yang mungkin tidak terlihat oleh siapa pun. Sebab dari luar, semuanya
tampak baik-baik saja.
Mereka tersenyum. Menyalami pengantin. Mengucapkan selamat. Mengambil
makanan. Kemudian pulang.
Tidak ada yang tahu bahwa sepanjang acara, ada seseorang yang berkali-kali
mengatakan dalam hati, “Sepertinya aku tidak pantas berada di sini.” Padahal
ia pantas. Ia diundang. Ia adalah keluarga. Ia adalah saudara.
Ia adalah tetangga. Ia adalah manusia yang datang untuk berbagi
kebahagiaan. Dan bukankah sebuah pesta pernikahan seharusnya bukan tentang
siapa yang bajunya paling indah? Bukan tentang siapa yang paling mampu.
Bukan tentang siapa yang paling dikenal. Bukan pula tentang siapa yang
terlihat paling sukses di antara para tamu. Pernikahan adalah tentang dua
manusia yang sedang memulai kehidupan baru, dan orang-orang yang datang membawa
doa untuk mereka.
Aku teringat pada keluarga sederhana yang mungkin merasa minder ketika
berada di tengah keluarga besar yang kehidupannya jauh lebih mapan. Mereka
mungkin tidak membawa hadiah mahal. Tidak memakai pakaian seragam keluarga.
Tidak tahu bagaimana berpose di depan kamera.
Tetapi mereka membawa sesuatu yang tidak terlihat. Kehadiran. Kasih sayang.
Hubungan keluarga yang sudah dibangun bertahun-tahun. Dan doa yang tulus untuk
pengantin.
Bukankah itu juga sesuatu yang berharga?
Kadang kita terlalu sibuk melihat apa yang tidak kita punya sampai lupa
menghargai apa yang sebenarnya kita bawa. Baju mungkin sederhana. Sepatu
mungkin bukan keluaran terbaru. Tas mungkin sudah menemani bertahun-tahun.
Tetapi orang yang mengenakannya tetap memiliki harga diri.
Tidak ada pakaian yang menentukan nilai seseorang. Tidak ada gedung yang
menentukan kelas manusia. Tidak ada pesta yang menentukan siapa yang lebih
tinggi dan siapa yang lebih rendah.
Barangkali yang perlu kita lakukan ketika berada di tempat seperti itu
bukan berusaha terlihat hebat. Cukup hadir dengan baik. Senyum dengan tulus.
Salami orang-orang yang kita kenal. Nikmati hidangan secukupnya.
Ucapkan doa untuk pengantin. Lalu pulang dengan hati yang tetap utuh.
Dan ada satu hal lagi yang rasanya penting untuk diingat oleh mereka yang
sedang punya acara. Sebesar apa pun acaranya, sesibuk apa pun tuan rumah,
sempatkanlah menyapa dan menyalami tamu yang datang.
Tidak harus semuanya dilakukan sendiri. Jika tidak memungkinkan, berbagi
tugaslah dengan anggota keluarga inti yang lain. Ada yang menyambut keluarga
jauh. Ada yang menemui tetangga. Ada yang memastikan kerabat yang datang merasa
dihargai.
Sebab bagi sebagian orang, sapaan sederhana dari tuan rumah bisa berarti
sangat besar. Mereka mungkin datang dengan sedikit rasa minder. Mereka mungkin
sudah merasa tidak cukup percaya diri sejak memasuki gedung. Lalu sebuah senyum
dan kalimat sederhana, “Terima kasih sudah datang,” bisa membuat
perasaan mereka berubah.
Mereka merasa dilihat. Mereka merasa dihargai. Mereka merasa kedatangannya
berarti.
Dan untuk mereka yang merasa minder, mungkin ada satu hal yang perlu
diingat. Jangan mengecilkan diri hanya karena sedang berada di ruangan yang
besar.
Ruangan itu besar karena bangunannya. Bukan karena manusia di dalamnya
lebih tinggi nilainya. Sebab pada akhirnya, semua orang akan kembali menjadi
dirinya sendiri setelah pesta selesai.
Gaun akan kembali masuk lemari. Jas akan kembali digantung. Make up akan
dibersihkan. Dekorasi akan dibongkar. Gedung akan kembali kosong.
Yang tersisa adalah hubungan antarmanusia dan kenangan tentang bagaimana
kita memperlakukan satu sama lain. Mungkin orang tidak akan mengingat siapa
yang memakai pakaian paling mahal. Tetapi mereka bisa mengingat siapa yang
membuat mereka merasa diterima.
Maka, jika suatu hari ada tetangga kampung datang ke pesta dengan baju
Lebaran tiga tahun yang lalu, semoga ia tidak merasa lebih rendah. Jika ada
keluarga datang tanpa dress code yang sama, semoga mereka tetap merasa sebagai
bagian dari keluarga. Jika ada seseorang yang duduk sedikit kaku karena tidak
terbiasa dengan kemewahan, semoga ada yang menghampirinya dan membuatnya merasa
diterima.
Karena mungkin yang paling dibutuhkan seseorang di tempat seperti itu bukan
pujian tentang pakaiannya. Bukan pula kalimat tentang betapa hebatnya dirinya.
Kadang cukup satu sapaan sederhana yang membuatnya merasa, “Aku tidak salah
datang ke sini. Aku memang bagian dari keluarga ini.”
Dan mungkin, di tengah pesta yang begitu megah, justru itulah kemewahan
yang paling indah.
Membuat orang lain merasa tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk diterima. []