10 Tindakan Benar Saat Menghadapi Anak yang Mendapat Perundungan


Oleh: Siti Hajar

 Akhir-akhir ini, semakin banyak kita mendengar kasus bullying di sekitar kita. Bukan hanya remaja yang duduk di bangku sekolah menengah pertama atau sekolah menengah atas, anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar pun tidak luput dari pengalaman bullying. Bentuknya pun beragam, mulai dari ejekan, panggilan yang merendahkan, pengucilan, hingga perlakuan fisik yang membuat anak merasa takut dan tidak nyaman berada di sekolah.

Bagi seorang ibu, mendengar cerita bahwa anaknya mengalami bullying tentu bukan hal yang mudah. Marah, sedih, takut, bahkan panik adalah reaksi yang sangat wajar. Namun, dalam kondisi seperti ini, anak justru membutuhkan orang tua yang mampu menjadi tempat paling aman baginya. Karena itu, Moms, jangan panik. Tarik napas sejenak, dengarkan cerita anak, lalu lakukan 12 langkah berikut agar kondisi lebih terkendali dan anak merasa bahwa ia tidak menghadapi semuanya sendirian.

Untuk orang tua, pembahasan ini memang sebaiknya tidak berhenti pada “dengarkan anak dan laporkan ke sekolah”. Yang lebih penting adalah memahami apa yang terjadi pada anak secara emosional, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua pada tahap pertama, dan apa yang justru sebaiknya dihindari.

1. Tenangkan diri orang tua terlebih dahulu

Ketika mendengar anak dibully, reaksi pertama orang tua sering kali adalah marah, panik, atau ingin segera mendatangi anak yang melakukan bullying. Perasaan itu sangat manusiawi. Namun, sebaiknya emosi orang tua ditenangkan terlebih dahulu sebelum berbicara dengan anak.

Anak membutuhkan orang tua yang terasa aman. Jika orang tua langsung berkata, “Siapa yang melakukan? Besok Mama datangi!”, anak mungkin justru takut bercerita lebih banyak karena khawatir masalahnya menjadi semakin besar.

Bukan berarti orang tua tidak boleh bertindak tegas. Tegas tetap diperlukan, tetapi setelah informasi cukup dan keselamatan anak dipastikan.

2. Jadilah tempat pertama yang aman untuk bercerita

Ketika anak mulai bercerita, tahan keinginan untuk langsung memberikan nasihat. Dengarkan sampai selesai.

Misalnya anak berkata, “Tadi teman-teman mengejek aku di kelas.”

Jangan langsung menjawab, “Kamu kenapa tidak melawan?” atau “Jangan dipikirkan.”

Lebih baik mengatakan:

“Oh, jadi tadi kamu diejek teman-teman. Ceritakan kepada Mama, apa yang terjadi?”

Kemudian beri kesempatan anak bercerita.

Pada usia sekolah dasar, anak belum selalu mampu menjelaskan pengalaman emosionalnya dengan runtut. Kadang ia hanya mengatakan, “Aku nggak mau sekolah lagi,” atau “Aku benci mereka.” Di balik kalimat pendek tersebut mungkin terdapat rasa malu, takut, kecewa, atau merasa tidak diterima.

Karena itu, mendengarkan adalah bagian dari pertolongan, bukan sekadar menunggu sebelum memberikan solusi.

3. Validasi perasaan anak, bukan berarti membenarkan semua kesimpulannya

Validasi berarti mengakui bahwa perasaan anak masuk akal berdasarkan apa yang dialaminya.

Misalnya:

“Mama bisa mengerti kenapa kamu sedih.”
“Pasti tidak enak ketika teman-teman menertawakanmu.”
“Wajar kalau kamu merasa malu setelah kejadian itu.”

Validasi berbeda dengan mengatakan bahwa semua interpretasi anak pasti benar.

Misalnya anak berkata, “Semua anak di sekolah membenciku.”

Orang tua tidak perlu langsung mengatakan, “Iya, mereka memang jahat.” Lebih baik:

“Kamu merasa seperti semua orang tidak menyukaimu setelah kejadian tadi. Tapi kita coba lihat bersama, sebenarnya siapa saja yang terlibat dan siapa yang masih bisa menjadi temanmu.”

Dengan cara ini, orang tua membantu anak memahami emosinya tanpa memperbesar ketakutannya.

4. Pastikan anak tahu bahwa bullying bukan kesalahannya

Ini sangat penting karena anak kadang mencari kesalahan dalam dirinya sendiri.

“Mungkin karena aku pendek.”
“Mungkin karena aku jelek.”
“Mungkin karena aku tidak pintar.”
“Mungkin karena aku berbeda.”

Orang tua dapat menjelaskan:

“Kamu boleh punya kekurangan. Semua orang juga punya kekurangan. Tetapi kekuranganmu tidak membuat orang lain berhak menyakiti atau mempermalukanmu.”

Pesan seperti ini membantu memisahkan identitas anak dari perilaku orang lain terhadap dirinya.

Anak perlu memahami bahwa “aku sedang mengalami bullying” berbeda dengan “aku adalah anak yang pantas dibully.”

5. Cari tahu apakah ini benar-benar kejadian satu kali atau sudah menjadi pola

Tidak setiap konflik antaranak otomatis merupakan bullying. Dalam perkembangan sosial anak, pertengkaran, salah paham, saling mengejek, atau berebut sesuatu dapat terjadi.

Orang tua perlu mencari tahu pola kejadiannya.

Tanyakan dengan lembut:

  • Apa yang dilakukan temanmu?
  • Sudah berapa kali terjadi?
  • Biasanya terjadi di mana?
  • Siapa saja yang terlibat?
  • Apakah mereka melakukan hal yang sama kepada anak lain?
  • Apakah ada yang ikut menertawakan?
  • Apakah kamu merasa takut bertemu mereka?
  • Apakah kamu pernah meminta mereka berhenti?
  • Apakah ada guru yang melihat?
  • Apa yang kamu lakukan setelah kejadian itu?

Pertanyaan tersebut membantu orang tua memperoleh gambaran yang lebih utuh tanpa membuat anak merasa sedang diinterogasi.

6. Bedakan antara konflik, ejekan, dan bullying

Secara sederhana, bullying biasanya melibatkan perilaku agresif yang dilakukan dengan sengaja dan berulang, dengan adanya ketimpangan kekuatan atau posisi antara pihak yang terlibat.

Bentuknya juga tidak selalu berupa pukulan.

Bullying dapat berupa:

Fisik: memukul, menendang, mendorong, mengambil atau merusak barang.

Verbal: mengejek fisik, memanggil dengan nama yang merendahkan, mengancam, mempermalukan.

Sosial: sengaja mengucilkan, mengajak anak lain untuk tidak berteman, mempermalukan anak di depan kelompok.

Digital: menyebarkan foto atau video yang mempermalukan, mengirim pesan penghinaan, atau membuat anak menjadi bahan olok-olok di grup.

Bagi orang dewasa, sebagian perilaku tersebut mungkin terlihat “sepele”. Tetapi dampaknya bagi anak bisa sangat besar, terutama jika terjadi berulang.

7. Jangan meminta anak membalas dengan kekerasan

Kalimat seperti “Kalau dia pukul kamu, pukul balik!” sering muncul karena orang tua ingin anak mampu mempertahankan diri.

Namun, anak perlu diajarkan bahwa membela diri tidak sama dengan membalas dendam.

Anak dapat dilatih menggunakan respons sederhana:

“Aku tidak suka kamu melakukan itu. Berhenti.”

Kemudian menjauh dan mencari orang dewasa yang dapat membantu.

Untuk anak SD, latihan melalui role play sangat membantu. Orang tua dapat berpura-pura menjadi teman yang mengejek, sementara anak berlatih mengucapkan kalimat dengan suara tegas, berdiri tegak, kemudian pergi mencari guru.

8. Ajarkan anak bahwa meminta bantuan bukan berarti “pengecut”

Sebagian anak tidak mau melapor karena takut disebut tukang ngadu.

Orang tua dapat mengubah cara pandangnya:

“Menceritakan sesuatu yang membuat kamu tidak aman bukan berarti mengadu. Itu berarti kamu sedang mencari bantuan.”

Anak juga perlu tahu kepada siapa ia dapat meminta bantuan: guru kelas, guru BK, wali kelas, petugas sekolah, atau orang dewasa lain yang dipercaya.

Ini penting karena tujuan akhirnya bukan membuat anak selalu bergantung pada orang tua, tetapi membangun kemampuan anak untuk mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang tidak aman.

9. Orang tua perlu bekerja sama dengan sekolah

Setelah informasi cukup, orang tua sebaiknya menghubungi pihak sekolah dengan kepala dingin.

Sampaikan kejadian secara spesifik:

“Anak saya beberapa kali diejek mengenai fisiknya saat jam istirahat. Menurut ceritanya, kejadian sudah berlangsung selama dua minggu dan terjadi di area kantin.”

Informasi seperti ini jauh lebih membantu daripada hanya mengatakan:

“Anak saya dibully.”

Orang tua dapat meminta sekolah membantu memantau situasi, memastikan keamanan anak, dan mencari penyelesaian yang sesuai.

Sebaiknya jangan langsung menghubungi atau memarahi orang tua anak yang diduga melakukan bullying tanpa koordinasi dengan sekolah. Hal tersebut dapat membuat konflik antarkeluarga semakin besar dan justru menambah tekanan kepada anak.

10. Kembalikan rasa percaya diri anak

Setelah mengalami bullying, anak mungkin mulai melihat dirinya melalui kacamata orang yang merundungnya.

Anak yang sebelumnya senang menggambar bisa berkata, “Aku nggak bisa apa-apa.” Anak yang biasanya aktif bisa tiba-tiba tidak mau tampil.

Di sinilah orang tua perlu membantu anak menemukan kembali pengalaman bahwa dirinya lebih besar daripada pengalaman bullying tersebut.

Ajak anak melakukan kegiatan yang membuatnya merasa mampu. Beri apresiasi terhadap usaha, keberanian, kepedulian, kreativitas, dan perkembangan kecilnya.

Bukan hanya:

“Kamu pintar.”

Tetapi:

“Mama lihat kamu tetap mau mencoba meskipun tadi kamu sedih. Itu tidak mudah.”

Pujian yang spesifik membantu anak mengenali kekuatan dirinya.

11. Perhatikan perubahan setelah kejadian

Orang tua juga perlu memperhatikan perubahan perilaku.

Misalnya:

·         tiba-tiba tidak mau sekolah;

·         sering mengeluh sakit perut atau sakit kepala terutama menjelang sekolah;

·         tidur terganggu atau sering mimpi buruk;

·         nafsu makan berubah;

·         menjadi sangat pendiam;

·         mudah marah atau menangis;

·         kehilangan minat bermain;

·         nilai sekolah menurun;

·         menarik diri dari teman;

·         menjadi sangat takut ditinggalkan orang tua.

Satu perubahan belum tentu berarti masalah serius. Namun jika perubahan berlangsung, semakin berat, atau mengganggu kehidupan sehari-hari, sebaiknya orang tua mencari bantuan profesional.

12. Ada satu kalimat yang sangat penting untuk terus diingatkan

Anak perlu tahu:

“Apa pun yang terjadi di sekolah, kamu boleh cerita kepada Mama dan Papa. Kamu tidak akan dimarahi karena bercerita. Kita akan mencari jalan keluarnya bersama.”

Kalimat ini sederhana, tetapi membangun psychological safety—rasa aman bahwa anak boleh mengungkapkan pengalaman tanpa takut langsung disalahkan.

Dan mungkin inilah inti pertolongan pertama orang tua ketika anak mengalami bullying:

anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang langsung menyelesaikan masalahnya. Pada tahap pertama, ia membutuhkan orang tua yang membuatnya yakin bahwa ia tidak sendirian menghadapi masalah tersebut.

Jika kejadian sudah menyangkut kekerasan fisik, ancaman serius, pemerasan, pelecehan seksual, penyebaran konten pribadi, atau anak berbicara tentang menyakiti dirinya, keselamatan harus menjadi prioritas dan bantuan dari sekolah serta tenaga profesional perlu segera dilibatkan.

 

Lebih baru Lebih lama