Memasuki masa remaja awal, anak mulai menunjukkan
perubahan yang cukup nyata. Ia tidak lagi selalu menerima perkataan orang tua
begitu saja. Mulai muncul keinginan untuk memiliki pendapat sendiri, menentukan
pilihan, mendapatkan privasi, dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama
teman.
Perubahan ini terkadang membuat orang tua
bertanya-tanya, “Mengapa anak saya sekarang mudah sekali marah?” atau “Kenapa
sekarang sedikit-sedikit tersinggung?”
Padahal, di balik perubahan perilaku tersebut, ada
proses perkembangan yang sedang berlangsung. Remaja sedang belajar mengenali
dirinya sendiri, memahami emosinya, sekaligus mencari cara yang tepat untuk
mengekspresikan apa yang ia rasakan.
Pada masa ini, orang tua memiliki kesempatan yang
sangat berharga. Bukan hanya membantu anak belajar meregulasi emosi, tetapi
juga memperbaiki pola hubungan yang mungkin selama ini belum berjalan
sebagaimana mestinya.
Sebab, dalam pengasuhan, tidak ada orang tua yang
selalu sempurna.
Ada kalanya orang tua terlalu keras karena lelah.
Ada saatnya suara meninggi karena pekerjaan menumpuk. Ada pula orang tua yang
tanpa sadar membandingkan anak, terlalu cepat memberikan nasihat, atau
menganggap perasaan anak sebagai sesuatu yang berlebihan.
Jika pola tersebut berulang, pengalaman seperti
ini dapat meninggalkan luka emosional pada anak. Dalam pembahasan populer,
pengalaman tersebut sering disebut sebagai luka pengasuhan atau parenting
wounds.
Namun, membicarakan luka pengasuhan bukan berarti
mencari siapa yang salah.
Justru sebaliknya. Kesadaran tentang luka
pengasuhan dapat menjadi pintu bagi orang tua untuk memperbaiki hubungan dengan
anak.
1. Dengarkan Perasaan Anak Sebelum Memberikan
Nasihat
Ketika remaja datang dengan wajah kesal dan mulai
bercerita, orang tua sering kali langsung ingin menyelesaikan masalah.
“Sudahlah, jangan dipikirkan.”
“Kamu harusnya begini.”
“Kalau Ibu jadi kamu, Ibu tidak akan begitu.”
Padahal, terkadang anak belum membutuhkan solusi.
Ia hanya ingin didengarkan.
Cobalah berhenti sejenak dan dengarkan ceritanya.
Tanyakan, “Apa yang membuat kamu merasa seperti itu?” atau “Bagian mana yang
paling membuat kamu kecewa?”
Mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui
perilaku anak. Mendengarkan adalah memberikan ruang agar anak merasa emosinya
cukup aman untuk dibicarakan.
Dari sinilah regulasi emosi mulai terbentuk. Anak
belajar bahwa ketika dirinya sedang kacau, ia dapat berbicara tanpa langsung
dihakimi.
2. Validasi Emosi, Bukan Semua Perilakunya
Validasi sering disalahartikan sebagai membenarkan
semua tindakan anak.
Padahal berbeda.
Orang tua dapat mengatakan, “Ibu paham kamu marah
karena merasa diperlakukan tidak adil. Wajar kalau kamu kecewa. Tetapi
membentak teman tetap bukan cara yang baik.”
Kalimat seperti ini membantu anak memahami bahwa emosinya
dapat diterima, sementara perilakunya tetap memiliki batas.
Ini penting karena anak perlu belajar bahwa marah
bukan sesuatu yang harus ditakuti. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana
mengekspresikan kemarahan dengan cara yang aman dan bertanggung jawab.
3. Berhenti Menggunakan Kalimat yang Meremehkan
Perasaan
Luka pengasuhan terkadang tidak berasal dari
kejadian besar. Ia bisa muncul dari kalimat-kalimat kecil yang terus berulang.
“Begitu saja menangis.”
“Kamu terlalu sensitif.”
“Tidak usah lebay.”
“Masalah seperti itu saja dipikirkan.”
Bagi orang dewasa, mungkin persoalannya terlihat
kecil. Namun, bagi seorang remaja, pengalaman tersebut bisa terasa sangat
besar.
Karena itu, cobalah mengganti kalimat tersebut
dengan, “Ibu mungkin melihat masalahnya berbeda, tetapi Ibu ingin memahami
kenapa ini terasa berat buat kamu.”
Perubahan kalimat mungkin terlihat sederhana.
Namun, bagi anak, pesan yang diterima bisa sangat berbeda: perasaanku boleh
ada dan orang tuaku mau mencoba memahaminya.
4. Ajarkan Jeda Ketika Emosi Sedang Tinggi
Remaja tidak selalu mampu berpikir jernih ketika
sedang marah. Karena itu, jangan menjadikan puncak kemarahan sebagai waktu
untuk memberikan ceramah panjang.
Ajarkan anak mengenali tanda-tanda ketika emosinya
mulai meningkat.
Napas menjadi cepat. Suara meninggi. Tubuh terasa
tegang. Ingin membalas perkataan orang lain. Ingin pergi atau membanting
sesuatu.
Ketika tanda tersebut muncul, anak dapat belajar
mengambil jeda.
“Kalau kamu sedang sangat marah, boleh menenangkan
diri dulu. Setelah lebih tenang, kita bicarakan lagi.”
Jeda dapat berupa menarik napas, minum air,
berwudu, berjalan sebentar, menulis, atau berada di tempat yang lebih tenang.
Anak akhirnya belajar bahwa ia tidak harus
langsung bereaksi terhadap setiap emosi yang muncul.
5. Berani Meminta Maaf kepada Anak
Ini salah satu hal yang sederhana, tetapi tidak
selalu mudah dilakukan orang tua.
Ketika orang tua menyadari telah membentak,
mempermalukan, membandingkan, atau mengatakan sesuatu yang menyakitkan, tidak
ada salahnya mengatakan:
“Maaf, tadi Ibu terlalu keras. Ibu sedang marah,
tetapi cara Ibu berbicara tidak tepat.”
Permintaan maaf tidak mengurangi wibawa orang tua.
Justru anak belajar sesuatu yang sangat penting: orang
yang lebih tua pun dapat melakukan kesalahan dan bertanggung jawab atas
kesalahannya.
Permintaan maaf juga dapat menjadi salah satu
bentuk perbaikan hubungan setelah terjadi konflik.
Bukan berarti satu permintaan maaf otomatis
menghapus semua pengalaman yang tidak menyenangkan. Tetapi ia menunjukkan
kepada anak bahwa hubungan masih dapat diperbaiki.
6. Ciptakan Ruang Percakapan yang Tidak Selalu
Berisi Nasihat
Hubungan orang tua dan remaja akan lebih mudah
terjaga ketika komunikasi tidak hanya terjadi saat anak melakukan kesalahan.
Sesekali ajak anak berbicara tanpa agenda.
Bisa sambil makan, minum bersama, berkendara,
berjalan sore, atau melakukan aktivitas yang ia sukai.
Tanyakan hal-hal sederhana.
“Bagaimana harimu?”
“Apa yang paling menyenangkan hari ini?”
“Ada sesuatu yang membuat kamu kesal?”
“Belakangan ini ada yang sedang kamu pikirkan?”
Tidak semua percakapan harus berakhir dengan
nasihat.
Terkadang, hubungan justru menjadi lebih dekat
ketika orang tua mampu hadir sebagai tempat berbagi, bukan hanya sebagai pihak
yang memberikan penilaian.
7. Perbaiki Hubungan, Bukan Hanya Perilaku Anak
Ketika anak sering marah, mudah tersinggung, atau
memilih menjauh, orang tua mungkin berfokus pada perilakunya.
“Kenapa kamu berubah?”
“Jangan begitu sama orang tua.”
“Kamu harus belajar menghargai orang lain.”
Namun, sesekali orang tua juga perlu bertanya
kepada diri sendiri:
“Bagaimana kualitas hubungan saya dengan anak
belakangan ini?”
Apakah anak merasa didengarkan?
Apakah ia merasa aman menceritakan kesalahan?
Apakah ia hanya mendapatkan perhatian ketika
berprestasi?
Apakah komunikasi lebih banyak berisi koreksi
daripada apresiasi?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan
orang tua. Justru ini adalah kesempatan untuk melakukan refleksi.
Sebab, memperbaiki keadaan tidak selalu dimulai
dari meminta anak berubah.
Terkadang, perubahan dimulai ketika orang tua
bersedia mengubah cara hadirnya.
Luka Pengasuhan Dapat Menjadi Kesempatan untuk
Memperbaiki Hubungan
Membahas luka pengasuhan memang tidak sederhana.
Tidak semua masalah emosional anak berasal dari pola asuh orang tua. Lingkungan
sekolah, pertemanan, pengalaman sosial, karakter anak, perubahan perkembangan,
dan berbagai faktor lain juga dapat berperan.
Karena itu, orang tua tidak perlu buru-buru
menyimpulkan bahwa setiap perubahan emosi anak adalah akibat kesalahan
pengasuhan.
Yang lebih penting adalah melihat apa yang dapat
dilakukan hari ini.
Jika dahulu orang tua mudah membentak, hari ini
belajar berbicara lebih tenang.
Jika dahulu sering membandingkan, hari ini belajar
menghargai proses anak.
Jika dahulu sulit mendengarkan, hari ini mulai
menyediakan waktu untuk benar-benar mendengar.
Jika dahulu jarang meminta maaf, hari ini berani
mengatakan, “Maaf, tadi Ibu salah.”
Perbaikan hubungan tidak selalu membutuhkan
sesuatu yang besar.
Kadang-kadang ia dimulai dari percakapan singkat
sebelum tidur. Dari pelukan yang diberikan setelah konflik. Dari kesediaan
duduk bersama tanpa menghakimi. Dari satu kalimat sederhana:
“Ibu mungkin belum selalu benar dalam mengasuhmu.
Tetapi Ibu ingin terus belajar menjadi orang tua yang lebih baik untukmu.”
Bagi seorang remaja, kalimat seperti itu dapat
menjadi pengalaman yang sangat berarti.
Sebab, meregulasi emosi bukan hanya tentang
mengajarkan anak bagaimana mengendalikan dirinya. Anak juga membutuhkan
pengalaman bahwa ketika emosinya besar, ada orang dewasa yang dapat membantunya
memahami apa yang sedang terjadi.
Dan ketika hubungan sempat terluka, bukan berarti
semuanya sudah terlambat.
Hubungan manusia dapat diperbaiki melalui
kesadaran, komunikasi, konsistensi, dan kehadiran yang lebih baik.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.
Anak membutuhkan orang tua yang bersedia terus belajar, memperbaiki kesalahan,
dan tetap hadir ketika hubungan sedang tidak mudah.
