Oleh: Siti Hajar
Mengapa manusia bisa lupa? Apa penyebab lupa menurut psikologi, dan kapan lupa perlu diwaspadai sebagai tanda gangguan kesehatan otak? Pertanyaan ini sering muncul ketika seseorang kesulitan mengingat nama, melupakan informasi yang baru diterima, atau tidak mampu mengingat kembali pengalaman tertentu.
Dalam psikologi kognitif, lupa merupakan bagian
dari proses kerja memori manusia. Lupa dapat terjadi karena informasi tidak
diproses dengan baik, perhatian terganggu, ingatan melemah, atau seseorang
mengalami kesulitan mengambil kembali informasi yang telah disimpan dalam
memori. Stres, kurang tidur, dan banyaknya informasi yang harus diproses juga
dapat memengaruhi kemampuan mengingat.
Namun, tidak semua lupa memiliki penyebab dan
tingkat keparahan yang sama. Lupa dalam kehidupan sehari-hari berbeda dengan
amnesia, yaitu gangguan memori yang bermakna. Lupa juga perlu dibedakan dari
demensia, kondisi yang menyebabkan penurunan kemampuan kognitif hingga
mengganggu aktivitas dan kemandirian seseorang.
Memahami perbedaan lupa, amnesia, dan demensia
penting agar kita tidak mudah menganggap setiap keluhan lupa sebagai penyakit
serius, tetapi juga tidak mengabaikan perubahan memori yang memerlukan
pemeriksaan medis. Melalui artikel ini, kita akan mempelajari bagaimana proses
lupa terjadi, apa saja penyebabnya menurut psikologi, bagaimana otak membentuk
ingatan, serta kapan gangguan memori perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
1. Apa Itu Lupa dalam Psikologi?
Dalam psikologi, lupa adalah kegagalan atau
kesulitan mengingat kembali informasi yang pernah dipelajari atau dialami.
Informasi tersebut mungkin sulit ditemukan kembali ketika dibutuhkan, meskipun
sebelumnya pernah masuk ke dalam sistem memori.
Lupa merupakan bagian dari kehidupan manusia. Otak
menerima begitu banyak informasi setiap hari, mulai dari percakapan, suara
kendaraan, wajah orang lain, pekerjaan, hingga berbagai pengalaman pribadi.
Tidak semua informasi akan disimpan dalam ingatan jangka panjang.
Bayangkan seseorang yang setiap hari bertemu
puluhan orang di tempat kerja. Ia mungkin mengingat nama rekan kerja yang
sering berinteraksi dengannya, tetapi kesulitan mengingat nama seseorang yang
hanya ditemui sekali. Hal ini tidak selalu menunjukkan adanya masalah
kesehatan. Bisa jadi, informasi tersebut tidak diproses secara mendalam sejak
awal.
Dengan demikian, lupa tidak selalu berarti
informasi telah hilang sepenuhnya dari otak. Terkadang, informasi masih
tersimpan, tetapi seseorang mengalami kesulitan mengaksesnya kembali.
2. Bagaimana Proses Lupa Dapat Terjadi?
Untuk memahami mekanisme lupa, kita perlu mengenal
tiga proses utama dalam memori, yaitu pengodean, penyimpanan, dan pengambilan
kembali informasi.
Pertama, pengodean atau encoding. Ini merupakan proses ketika otak mengubah
informasi yang diterima melalui indra menjadi bentuk yang dapat diproses oleh
sistem memori. Ketika seseorang membaca sebuah artikel sambil memikirkan
pekerjaan lain, perhatiannya mungkin tidak cukup terarah untuk mengolah isi
bacaan. Akibatnya, informasi tidak tersimpan dengan baik.
Kedua, penyimpanan atau storage. Setelah informasi dikodekan, informasi
tersebut perlu dipertahankan dalam memori. Proses ini melibatkan perubahan
aktivitas dan hubungan antarsel saraf. Tidur, latihan, pengulangan, serta
keterkaitan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya dapat membantu
memperkuat ingatan.
Ketiga, pengambilan kembali atau retrieval. Pada tahap ini, seseorang berusaha
mengakses informasi yang telah disimpan. Misalnya, seseorang mengetahui materi
yang dipelajarinya, tetapi kesulitan menjawab pertanyaan ketika ujian
berlangsung. Setelah melihat petunjuk atau berada dalam kondisi lebih tenang,
ia mungkin dapat mengingatnya kembali.
Ketiga proses tersebut saling berhubungan.
Gangguan atau hambatan pada salah satu tahap dapat menyebabkan seseorang
mengalami kesulitan mengingat.
3. Mengapa Seseorang Bisa Lupa? Lima Penjelasan
Psikologis
A. Kegagalan pengodean
Tidak semua informasi yang kita lihat dan dengar
benar-benar masuk ke dalam memori. Perhatian memiliki peran penting dalam
proses ini.
Contohnya, seseorang membaca pesan di telepon
genggam sambil mengikuti rapat. Ia merasa sudah membaca informasi tersebut,
tetapi beberapa menit kemudian tidak mampu menjelaskan isinya. Masalahnya
mungkin bukan karena ingatan terhapus, melainkan karena informasi sejak awal
tidak dikodekan secara memadai.
Inilah salah satu alasan mengapa perhatian dan
konsentrasi sangat penting dalam proses belajar.
B. Peluruhan jejak memori
Teori peluruhan atau decay theory
menjelaskan kemungkinan bahwa jejak ingatan melemah seiring berjalannya waktu,
terutama ketika informasi jarang digunakan atau diperkuat kembali.
Misalnya, seseorang pernah mempelajari bahasa
asing, tetapi bertahun-tahun tidak menggunakannya. Ketika mencoba berbicara
kembali, ia mungkin kesulitan menemukan kosakata yang dahulu dikuasai.
Meskipun demikian, lupa tidak dapat dijelaskan
hanya melalui peluruhan. Penelitian tentang memori juga menunjukkan peran
interferensi, petunjuk pengambilan kembali, dan berbagai faktor lain.
C. Interferensi atau gangguan antarinformasi
Interferensi terjadi ketika suatu informasi
mengganggu proses mengingat informasi lainnya. Dalam psikologi kognitif,
terdapat dua bentuk utama.
Interferensi proaktif terjadi ketika informasi lama mengganggu
pembelajaran atau pengingatan informasi baru. Misalnya, seseorang yang terbiasa
menggunakan kata sandi lama terus-menerus salah memasukkan kata sandi baru.
Interferensi retroaktif terjadi ketika informasi baru mengganggu
kemampuan mengingat informasi lama. Contohnya, setelah mempelajari nomor
telepon baru, seseorang justru kesulitan mengingat nomor telepon yang
sebelumnya sering digunakannya.
Kedua bentuk interferensi ini menunjukkan bahwa
memori bukan sekadar tempat penyimpanan yang pasif. Informasi di dalamnya dapat
saling memengaruhi.
D. Kegagalan pengambilan kembali
Pernahkah Anda merasa sudah mengetahui sebuah
nama, tetapi nama tersebut tidak kunjung muncul dalam pikiran? Beberapa saat
kemudian, nama itu muncul begitu saja ketika Anda sedang melakukan kegiatan
lain.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kesulitan mengingat
tidak selalu berarti informasi telah hilang. Terkadang, seseorang hanya
kesulitan menemukan jalur untuk mengaksesnya.
Petunjuk tertentu, seperti tempat, suara, konteks,
atau kata yang berkaitan, dapat membantu memunculkan kembali ingatan tersebut.
E. Stres, kurang tidur, dan gangguan perhatian
Stres berkepanjangan, kecemasan, kelelahan, serta
kurang tidur dapat memengaruhi perhatian dan kemampuan mengingat. Ketika
seseorang terus memikirkan masalah yang dihadapinya, sebagian sumber daya
kognitif digunakan untuk memproses kekhawatiran tersebut.
Akibatnya, ia lebih sulit berkonsentrasi, memahami
informasi baru, dan mengingat hal-hal yang baru saja dilakukan.
Namun, penting dipahami bahwa tidak semua keluhan
lupa disebabkan oleh stres. Gangguan metabolik, efek obat, kekurangan zat gizi
tertentu, gangguan tidur, dan penyakit neurologis juga dapat memengaruhi
memori.
4. Apa Hubungan Lupa dengan Amnesia?
Amnesia adalah gangguan memori yang menyebabkan
seseorang kehilangan sebagian kemampuan mengingat informasi atau pengalaman.
Gangguan ini lebih serius daripada lupa sehari-hari dan dapat berkaitan dengan
cedera otak, penyakit neurologis, infeksi tertentu, atau kondisi medis lainnya.
Dalam amnesia, masalah memori dapat muncul dalam
dua bentuk utama.
Amnesia anterograd adalah kesulitan membentuk ingatan baru setelah
terjadinya gangguan. Seseorang mungkin masih mengingat masa kecilnya dengan
baik, tetapi mengalami kesulitan mengingat percakapan yang baru berlangsung
atau kejadian beberapa jam sebelumnya.
Amnesia retrograd adalah kesulitan mengingat informasi atau
pengalaman yang terjadi sebelum gangguan muncul. Misalnya, seseorang mengalami
kecelakaan dan tidak mampu mengingat peristiwa menjelang kecelakaan tersebut.
Kedua bentuk ini dapat terjadi dengan tingkat
keparahan yang berbeda. Amnesia juga tidak selalu menyebabkan hilangnya seluruh
jenis memori. Seseorang mungkin masih mampu mempelajari keterampilan tertentu
meskipun mengalami gangguan dalam mengingat peristiwa yang baru dialaminya.
Hal ini menunjukkan bahwa memori manusia terdiri
atas beberapa sistem yang memiliki fungsi berbeda.
Apakah amnesia sama dengan lupa biasa?
Tidak. Lupa biasa umumnya terjadi sesekali dan
tidak secara signifikan mengganggu kehidupan sehari-hari. Sementara itu,
amnesia melibatkan gangguan memori yang lebih bermakna dan dapat memengaruhi
kemampuan seseorang menjalankan aktivitasnya.
Misalnya, lupa meletakkan kunci sesekali merupakan
pengalaman yang umum. Akan tetapi, kehilangan kemampuan mengingat kejadian
penting secara mendadak, mengalami kebingungan setelah cedera kepala, atau
terus-menerus tidak mampu membentuk ingatan baru memerlukan evaluasi medis.
Amnesia bukan sekadar persoalan kurang
berkonsentrasi. Kondisi ini perlu dipahami berdasarkan penyebab, pola gangguan,
dan gejala yang menyertainya.
5. Apa Hubungan Lupa dengan Demensia?
Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh
penurunan kemampuan kognitif yang cukup bermakna hingga mengganggu kemandirian
dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan yang dapat terpengaruh meliputi memori,
bahasa, perhatian, penalaran, orientasi, dan fungsi eksekutif.
Demensia bukan sekadar lupa karena usia bertambah.
Kondisi ini berkaitan dengan penyakit atau gangguan yang memengaruhi fungsi
otak. Salah satu penyebab demensia yang paling dikenal adalah penyakit
Alzheimer.
Pada tahap awal penyakit Alzheimer, seseorang
dapat mulai mengalami kesulitan mengingat informasi yang baru dipelajari. Ia
mungkin mengulang pertanyaan yang sama, lupa percakapan yang baru berlangsung,
atau kesulitan mengikuti kegiatan yang sebelumnya biasa dilakukan.
Seiring perkembangan penyakit, gangguan dapat
meluas ke kemampuan berbahasa, mengambil keputusan, mengenali tempat, dan
menyelesaikan aktivitas sehari-hari.
Namun, tidak semua demensia diawali dengan
gangguan memori yang menonjol. Sebagian jenis demensia dapat lebih dahulu
memengaruhi perilaku, bahasa, perhatian, atau kemampuan merencanakan sesuatu.
Perlu diketahui pula bahwa tidak setiap keluhan
lupa pada orang lanjut usia merupakan demensia. Gangguan tidur, depresi, efek
obat, gangguan tiroid, dan sejumlah kondisi lain dapat menimbulkan keluhan
kognitif yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Bagaimana demensia berbeda dari amnesia?
Amnesia terutama merujuk pada gangguan memori.
Sementara itu, demensia melibatkan penurunan fungsi kognitif yang dapat
mencakup berbagai kemampuan, sering kali berkembang secara bertahap dan
mengganggu kemandirian.
Dengan kata lain, gangguan memori dapat menjadi
salah satu gejala demensia, tetapi amnesia dan demensia bukanlah istilah yang
sama.
6. Perbedaan Lupa Biasa, Amnesia, dan Demensia
Agar lebih mudah dipahami, perhatikan perbandingan
berikut.
|
Aspek |
Lupa
biasa |
Amnesia |
Demensia |
|
Pengertian |
Kesulitan mengingat yang umum terjadi |
Gangguan
memori yang bermakna |
Penurunan kognitif yang mengganggu
kehidupan sehari-hari |
|
Pola
kejadian |
Sesekali,
bergantung pada situasi |
Dapat
muncul mendadak atau sesuai penyebab |
Sering berkembang progresif, bergantung
pada penyebab |
|
Kemampuan
lain |
Umumnya
tetap baik |
Dapat relatif terjaga atau ikut
terpengaruh |
Dapat melibatkan bahasa, penalaran,
orientasi, dan fungsi lainnya |
|
Contoh |
Lupa
menaruh kacamata |
Tidak mampu mengingat peristiwa tertentu
setelah cedera otak |
Berulang kali tersesat di tempat yang
dahulu dikenal dan kesulitan mengurus kegiatan sehari-hari |
|
Penanganan |
Evaluasi kebiasaan dan faktor pemicu
bila diperlukan |
Pemeriksaan
medis sesuai penyebab |
Evaluasi medis untuk mengetahui penyebab
dan merencanakan perawatan |
Tabel ini merupakan gambaran umum. Gejala setiap
orang dapat berbeda, sehingga diagnosis tidak dapat ditentukan hanya
berdasarkan satu contoh perilaku.
7. Bagaimana Otak Membentuk dan Mempertahankan
Ingatan?
Salah satu bagian otak yang penting dalam
pembentukan memori baru adalah hipokampus, struktur yang berada di bagian dalam
lobus temporal. Hipokampus membantu membentuk dan mengorganisasi ingatan
mengenai pengalaman serta menghubungkannya dengan informasi lain.
Sementara itu, berbagai bagian korteks serebral
berperan dalam penyimpanan dan pengolahan informasi jangka panjang. Amigdala
berperan dalam pemrosesan emosi yang dapat memengaruhi kuatnya suatu pengalaman
diingat.
Ketika seseorang mempelajari sesuatu, perubahan
pada hubungan antarsel saraf membantu mendukung pembentukan memori. Salah satu
mekanisme yang banyak diteliti adalah plastisitas sinaptik, yaitu kemampuan
hubungan antarsel saraf untuk berubah berdasarkan pengalaman.
Tidur juga berperan dalam konsolidasi memori,
yakni proses menstabilkan dan memperkuat ingatan setelah pembelajaran. Karena
itu, belajar semalaman tanpa tidur yang cukup belum tentu menghasilkan ingatan
yang lebih baik.
Memori bukanlah rekaman video yang menyimpan
setiap kejadian secara sempurna. Ingatan merupakan hasil proses aktif yang
melibatkan perhatian, pengetahuan sebelumnya, emosi, dan rekonstruksi ketika
informasi diingat kembali.
Inilah sebabnya dua orang dapat mengingat kejadian
yang sama dengan cara berbeda.
8. Bagaimana Cara Menjaga Kemampuan Mengingat?
Kemampuan mengingat dapat didukung melalui
kebiasaan yang membantu kesehatan otak dan proses belajar.
Pertama, berikan perhatian penuh ketika menerima
informasi penting. Jika sedang berbicara dengan seseorang, kurangi gangguan
dari telepon genggam agar informasi dapat diproses dengan lebih baik.
Kedua, gunakan pengulangan yang terjadwal. Dalam
proses belajar, mengulang materi dengan jeda waktu atau spaced repetition
dapat membantu mempertahankan informasi lebih baik daripada mempelajarinya
sekaligus dalam waktu singkat.
Ketiga, hubungkan informasi baru dengan
pengetahuan yang telah dimiliki. Misalnya, ketika mempelajari konsep psikologi
kognitif, kaitkan konsep tersebut dengan pengalaman nyata. Hubungan yang
bermakna dapat membantu proses pengodean dan pengambilan kembali informasi.
Keempat, tidur yang cukup dan teratur. Tidur
mendukung perhatian, pembelajaran, dan konsolidasi memori.
Kelima, lakukan aktivitas fisik secara teratur,
konsumsi makanan bergizi seimbang, serta kendalikan faktor risiko kesehatan
seperti tekanan darah tinggi dan diabetes. Langkah-langkah ini mendukung
kesehatan tubuh dan otak secara keseluruhan.
Keenam, gunakan alat bantu eksternal seperti
kalender, catatan, dan pengingat untuk mengurangi beban memori. Menggunakan
catatan bukan berarti seseorang memiliki ingatan yang buruk. Justru, alat bantu
dapat membuat sumber daya kognitif lebih efisien.
Namun, apabila gangguan memori terus memburuk,
mengganggu pekerjaan atau kemandirian, atau disertai perubahan perilaku dan
kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, sebaiknya lakukan pemeriksaan
medis.
Jika kebingungan atau kehilangan ingatan terjadi
secara mendadak, terutama disertai kelemahan satu sisi tubuh, wajah mencong,
atau gangguan bicara, segera cari pertolongan medis darurat.
9. Kapan Lupa Perlu Diperhatikan Secara Serius?
Kita perlu membedakan lupa yang sesekali terjadi
dengan perubahan kemampuan mengingat yang semakin sering dan mengganggu.
Seseorang yang sesekali lupa nama orang, tetapi
dapat mengingatnya kembali beberapa saat kemudian, belum tentu mengalami
gangguan serius. Sebaliknya, seseorang yang berulang kali lupa percakapan
penting, kesulitan mengikuti instruksi sederhana, tersesat di tempat yang
dikenal, atau mengalami kesulitan mengelola kegiatan sehari-hari perlu
mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Perubahan dari kemampuan sebelumnya merupakan hal
penting untuk diperhatikan. Bukan hanya seberapa sering seseorang lupa,
melainkan juga jenis informasi yang dilupakan, kapan gejala dimulai, bagaimana
perkembangannya, dan sejauh mana aktivitas sehari-hari terpengaruh.
Pemeriksaan profesional dapat membantu membedakan
gangguan memori akibat faktor yang dapat ditangani dari kondisi neurologis yang
memerlukan perawatan khusus.
Lupa Bukan Selalu Tanda Kerusakan Memori
Lupa merupakan bagian dari cara kerja memori
manusia. Ada kalanya informasi tidak dikodekan dengan baik, melemah seiring
waktu, terganggu oleh informasi lain, atau sulit diakses kembali ketika
dibutuhkan.
Namun, lupa juga dapat menjadi gejala dari kondisi
medis tertentu. Amnesia menunjukkan gangguan memori yang bermakna, sedangkan
demensia melibatkan penurunan fungsi kognitif yang dapat memengaruhi berbagai
aspek kehidupan.
Dalam psikologi kognitif, memahami lupa membantu
kita mengenali keterbatasan sekaligus kemampuan sistem memori manusia. Dalam
kehidupan sehari-hari, pemahaman ini mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru
menilai seseorang yang mudah lupa.
Yang terpenting, kita perlu memperhatikan pola
perubahan memori. Lupa sesekali merupakan pengalaman yang umum, tetapi gangguan
yang semakin berat atau menghambat kemandirian perlu dievaluasi secara
profesional.
Memahami cara kerja ingatan bukan hanya membantu
kita belajar dengan lebih baik, tetapi juga membuat kita lebih bijaksana dalam
memahami perilaku dan kondisi orang lain.
Referensi bacaan:
Baddeley, A., Eysenck, M.
W., & Anderson, M. C. (2020). Memory (3rd ed.). Routledge.
Squire, L. R., & Dede,
A. J. O. (2015). Conscious and unconscious memory systems. Cold Spring
Harbor Perspectives in Biology, 7(3), a021667.
World Health Organization.
(2025). Dementia. WHO.
Catatan: Artikel ini
bersifat edukatif
