Manajemen Emosi: Menjinakkan Api Amarah, Menemukan Kedekatan dengan Allah

Oleh: Siti Hajar

Pernahkah kita tiba-tiba merasa dada sesak, wajah memanas, dan lidah begitu gatal ingin melontarkan kata-kata? Itulah amarah. Emosi yang wajar dimiliki manusia, tetapi sering kali berakhir dengan penyesalan. Amarah bisa membuat hati yang lembut berubah keras, lisan yang biasanya santun menjadi tajam, bahkan meretakkan hubungan yang sudah lama terjalin.

Islam, dengan kebijaksanaannya, mengajarkan cara sederhana namun penuh makna untuk meredakan amarah. Rasulullah bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika kemarahannya belum hilang, maka hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud no. 4782, Ahmad, hasan menurut al-Albani)

Perubahan posisi ini bukan sekadar gerakan fisik, melainkan simbol penundukan ego. Saat berdiri, tubuh seperti siap menantang; ketika duduk, ketegangan perlahan turun; lalu dengan berbaring, kita menempatkan diri pada posisi paling lemah—seakan berbisik pada hati, “Aku hanyalah hamba Allah yang lemah.”

Tidak hanya itu, Rasulullah juga menyingkap hakikat amarah:

“Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan itu diciptakan dari api. Api hanya dapat dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudu.” (HR. Abu Dawud no. 4784, Ahmad, disahihkan al-Albani)

Saat marah, tubuh kita terasa panas, jantung berdegup kencang. Lalu Allah mengajarkan cara menenangkan diri dengan air wudu. Setiap basuhan di wajah, tangan, kepala, dan kaki seakan membawa pergi bara yang menyala. Tidak hanya menyegarkan tubuh, tetapi juga menyejukkan hati.

Selain duduk, berbaring, dan berwudu, Rasulullah juga menganjurkan untuk berpindah tempat agar tidak terus berhadapan dengan sumber amarah. Dalam sebuah riwayat, Sulaiman bin Shurad r.a. menuturkan:

“Aku duduk bersama Nabi , tiba-tiba ada dua orang saling mencaci. Salah satu dari keduanya marah hingga wajahnya memerah. Nabi pun bersabda: ‘Aku mengetahui satu kalimat, kalau ia mengucapkannya, tentu akan hilang amarahnya: A‘ūdzu billāhi mina al-syaithāni al-rajīm (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).’
(HR. al-Bukhari no. 3282 dan Muslim no. 2610).

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia diam.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dinilai sahih oleh al-Albani).

Sebagian ulama menafsirkan, perintah diam dan berpindah adalah bentuk menjauhkan diri dari pemicu amarah, agar lisan tidak terpeleset dan tangan tidak berbuat sesuatu yang disesali.

Dan di sinilah keindahan ajaran Islam: amarah yang biasanya menjauhkan kita dari Allah, justru diarahkan menjadi jalan untuk kembali kepada-Nya. Duduk, berbaring, berwudu, diam, atau berpindah tempat—semua itu adalah latihan merendahkan diri di hadapan Allah. Seakan kita berkata: “Ya Allah, aku tidak ingin dikuasai setan. Aku ingin kembali kepada-Mu.”

Amarah yang ditahan bisa berubah menjadi doa. Bara api yang menyala bisa berganti menjadi cahaya ketenangan.

Maka, setiap kali amarah datang, anggaplah itu bukan sekadar ujian emosi, melainkan undangan dari Allah untuk pulang kepada-Nya. Seolah Allah berbisik lembut: “Jangan biarkan setan menguasaimu. Datanglah kepada-Ku, dengan air wudu dan hati yang tunduk.”

Mengendalikan amarah bukan hanya menjaga hubungan dengan sesama, tetapi juga memperkuat hubungan dengan Allah. Di situlah rahasianya—amarah yang dijinakkan bisa menjadi jembatan menuju ketenangan jiwa dan kedekatan dengan Sang Pencipta. []

 

Lebih baru Lebih lama