Oleh: Siti Hajar
Kalau orang Aceh ditanya, “Apa yang paling manis
di dunia?” jawabannya bisa macam-macam: ada yang bilang senyum gebetan, ada
juga yang bilang kue timphan. Bedanya, kalau gebetan suka PHP, kue timphan
nggak pernah bohong: selalu manis dan legit!
Bahan-bahannya nggak neko-neko. Yang perlu
kamu siapkan:
- Tepung
ketan 500 gram – alias tepung sakti yang bisa bikin adonan nempel di hati
(dan di gigi kalau makannya kebanyakan).
- Santan
kental 250 ml – gurihnya bikin hidup lebih bermakna.
- Pisang,
apa aja boleh matang 5-6 buah –
jangan yang masih mentah, nanti rasanya pahit kayak mantan yang nggak move
on.
- Garam secuil, biar hidup ada seimbangnya.
- Daun pisang muda secukupnya – ini penting, tanpa
daun pisang, timphanmu enggak pakai baju, kasihan!
Untuk isiannya, kamu bisa pilih dua kubu:
- Kubu
Kelapa Legit –
kelapa parut, gula merah, santan, daun pandan.
- Kubu
Sri Kaya – telur,
santan, gula pasir, vanili.
Keduanya sama-sama manis, tapi jangan serakah mau
dua-duanya sekaligus di satu timphan, nanti timphan bingung pilih yang mana.
Cara membuatnya:
Pertama, bikin dulu inti kelapa. Masak santan,
gula, pandan, dan kelapa parut sampai kering. Kalau pakai sri kaya, kocok telur
dan gula, campur santan, masak pelan-pelan sampai jadi selai lembut. Ingat ya,
api kecil saja. Ini masak sri kaya, bukan ngejar target balapan.
Kedua, adonan kulit. Campur tepung ketan, pisang
lumat, dan garam. Masukkan santan sedikit-sedikit sambil diuleni. Adonannya
harus kalis, alias lembut dan penurut—kayak calon mertua yang akhirnya setuju
sama kamu.
Ketiga, bungkus. Ambil daun pisang muda yang sudah
dilayukan (daunnya jangan masih keras, nanti malah patah dan bikin drama). Oles
sedikit minyak biar nggak lengket. Pipihkan adonan, kasih isi di tengah, lipat
cantik seperti surat cinta, lalu sembunyikan di lipatan daun.
Keempat, kukus sekitar 25–30 menit. Saat kukusan
menguap, rumahmu bakal bau harum daun pisang dan wangi pisang yang bikin
tetangga kepo.
Tunggu agak dingin, buka bungkusnya, dan… tadaaa!
Timphan manis legit siap mengguncang lidah. Rasanya? Gurih, manis, lembut, dan
penuh kenangan masa kecil waktu ikut nenek ke sawah bawa bekal ini. Bedanya,
dulu nenek nggak pakai takaran gram, cukup “kira-kira dan doa.” Tapi entah
kenapa selalu enak!
Jadi, kalau ada yang bilang cinta itu ribet,
bilang saja: “Tidak, yang ribet itu bikin timphan kalau daun pisangnya sobek.” Tapi
kalau sudah jadi, rasanya sebanding dengan perjuangan.