Saat Keinginan Hedon yang Tak Berujung, Qana’ah Jadi Penyelamat

Oleh: Siti Hajar

Keinginan hedon tak pernah berujung, bahagia terasa singkat. Temukan ketenangan lewat qana’ah dan slow living—hidup sederhana, penuh syukur, dan cukup dengan nikmat Allah.

Beberapa orang terlihat happy dengan barang baru saja dibelinya. Ada yang happy saat mendapatkan makanan kesukaannya. Ada yang bahagia saat bisa jalan ke tempat yang ingin dikunjunginya. Ada juga yang bahagia saat bertemu dengan orang yang dicintainya. Ada yang bahagia bisa tinggal di rumah tanpa ada yang mengganggunya. Ada lagi yang happy sehabis menonton Netflix dengan genre yang disukainya. Ada pula yang happy ketika tanaman miliknya subur dan berbuah. Ada lagi yang happy karena rumah impiannya kini sudah selesai dibangun. Ada yang bahagia saat buku pertamanya launching.

Tapi bukankah semua itu hanya sesaat? Setelah itu muncul keinginan yang lain lagi. Setelah dapat satu ingin dapat yang lain. Sudah dapat di tingkat satu, pingin ditingkat sepuluh, lalu seratus. Sudah selesai dengan satu rumah, ingin rumah kedua dan kesekian. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan cara pikir manusia?

Manusia, ternyata, memang memiliki kecenderungan untuk tidak pernah puas. Begitu mendapatkan sesuatu, rasa bahagia datang, namun hanya sekejap. Setelah itu, muncul lagi keinginan lain. Siklus ini terus berulang, seakan-akan kebahagiaan sejati selalu berada “di depan sana,” tak pernah cukup di titik kita berdiri sekarang. Inilah yang dalam psikologi disebut hedonic treadmill—berlari tanpa ujung, mengejar kepuasan yang segera hilang.

Padahal, bila kita merenung lebih dalam, bukankah kebahagiaan tidak seharusnya digantungkan pada apa yang terus bertambah? Bukankah ia lebih tepat bersemayam pada hati yang mampu menerima, mensyukuri, dan menikmati apa yang sudah ada?

Islam sejak awal telah memberi pegangan yang kokoh untuk menghadapi sifat dasar manusia yang serba ingin lebih. Rasulullah SAW mengajarkan tentang qana’ah—merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Qana’ah bukan berarti berhenti berusaha, melainkan kemampuan hati untuk berdamai dengan keadaan, tidak terbelenggu oleh nafsu ingin selalu lebih. Itulah letak kebahagiaan yang sejati: bukan pada banyaknya harta, melainkan pada tenangnya hati.

Allah pun menegaskan dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu ingkar (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih." (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini adalah janji sekaligus peringatan. Bersyukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah, melainkan benar-benar menerima kehidupan ini sebagai ketentuan Allah. Rasa syukur inilah yang melahirkan qana’ah. Orang yang qana’ah akan merasakan ketenangan luar biasa, karena ia tidak sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain, tidak gusar bila belum memiliki yang lebih.

Konsep slow living yang kini populer di dunia modern, sejatinya sejalan dengan semangat qana’ah. Slow living mengajak kita melambat, menghargai momen kecil yang sederhana, tidak selalu hidup dalam kecepatan dan ambisi tiada henti. Menikmati secangkir kopi di pagi hari, bercakap hangat dengan keluarga, merawat tanaman di halaman, membaca buku dengan tenang—semua itu hal sederhana yang sering kali jauh lebih menenteramkan daripada kepuasan instan dari belanja, hiburan, atau pencapaian materi.

Ketika slow living dipadukan dengan qana’ah, hidup akan lebih jernih dan bermakna. Kita tetap bisa meraih impian, tapi tidak diperbudak oleh ambisi. Kita tetap berusaha, tapi tidak kehilangan rasa syukur. Kita tetap mengejar, tapi tidak lupa menikmati. Hidup sederhana bukan berarti miskin impian, melainkan kaya dengan rasa cukup.

Dan mungkin inilah jawaban atas kegelisahan manusia modern yang terus berlari mengejar sesuatu yang tidak pernah usai: berhenti sejenak, menerima apa yang ada sebagai nikmat Allah, dan bersyukur atasnya. Karena kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki semua yang kita inginkan, tetapi tentang menyadari bahwa apa yang kita miliki hari ini sebenarnya sudah lebih dari cukup.

Sebab, hati yang penuh syukur akan selalu merasa kaya, bahkan saat dunia tampak memberi sedikit. Dan hati yang tak pernah puas akan selalu merasa miskin, meski dunia seluruhnya sudah berada di tangannya. []

Lebih baru Lebih lama