Oleh: Siti Hajar
Sudah lama
sebenarnya aku ingin ikut rombongan climbing yang menjajal Gle Taron, sebuah
bukit menantang yang kian populer di kawasan Mata Ie, Aceh Besar. Letaknya
hanya sekitar 20 menit dari pusat Banda Aceh, membuatnya mudah dijangkau siapa
saja yang ingin melepas penat. Bukit ini dikenal juga dengan sebutan Bukit Mata
Ie. Dari atas, pengunjung bisa melihat panorama Kota Banda Aceh, hamparan sawah
serta beberapa gedung besar nampak dari sini. Tak heran, tempat ini semakin
ramai dikunjungi, apalagi sejak dikelola oleh masyarakat Desa Leu-eu sebagai
destinasi wisata.
Sayangnya,
ketika rombongan itu berangkat beberapa waktu lalu, aku harus menyingkir karena
ada agenda lain. Maka, jelajahku ke Gle Taron pun tertunda. Alhamdulillah, baru
pagi tadi aku bisa menunaikan janji pada diri sendiri untuk mendakinya.
Pagi itu,
bersama suami tercinta, Bang Budy, aku menapaki anak tangga menuju puncak.
Katanya, kalau tanpa istirahat, sepuluh menit saja sudah sampai. Nyatanya,
napas tuaku sempat tersengal-sengal begitu tiba di pertengahan jalan. Anak
tangga yang seolah tak ada habisnya itu lumayan curam. Setiap langkah terasa
mengingatkan bahwa mendaki bukan hanya soal fisik, tetapi juga tentang melatih
kesabaran.
Kami mulai
pendakian tepat pukul tujuh. Menurut orang-orang, itu sudah agak terlambat bila
ingin menyaksikan matahari terbit dari atas. Tapi meski tanpa sunrise,
semangatku tetap menyala. Apalagi melihat beberapa anak muda yang sudah lebih
dulu tiba di puncak, duduk santai sembari tertawa riang. Rasanya aku juga tak
boleh kalah. Tinggal seratus meter lagi, pikirku.
Dan benar saja. Begitu sampai di atas, aku tak sabar mengabadikan pemandangan dari tempatku berdiri. Dari puncak Gle Taron, Banda Aceh terbentang begitu menawan. Tumpukan perumahan dan areal persawahan tersusun rapi bagai lukisan. Di kejauhan, Stadion Harapan Bangsa—kebanggaan masyarakat Aceh—berdiri megah.
Bukit yang
memiliki ketinggian hampir 200 mdpl ini, setiap tahun peringatan Hari
Kemerdekaan, selalu ada yang dengan khidmat melaksanakan upacara bendera dari
atas ketinggian ini.
Setelah puas
berswafoto, aku memilih duduk dan menikmati keindahan alam yang terhampar.
Angin pagi menyapu wajah, membawa rasa syukur yang sulit diucapkan dengan kata.
Tak kusangka, tempat yang dulunya hanya sebuah bukit sepi kini sudah menjadi
tujuan favorit anak-anak muda Banda Aceh dan sekitarnya. Mereka biasanya datang
beramai-ramai, membawa energi positif, berolahraga sambil menikmati alam.
Mendaki Gle
Taron bagiku bukan hanya soal menaklukkan anak tangga yang curam, tetapi juga
tentang perjalanan batin menaklukkan rasa lelah, ragu, dan keterbatasan diri.
Setiap tapak langkah mengingatkanku bahwa hidup pun sering kali menghadirkan
tanjakan yang membuat napas terasa berat. Akan tetapi justru di situlah kita
belajar menghargai arti perjuangan.
Saat sampai di
puncak dan menyaksikan keindahan Banda Aceh dari ketinggian, aku sadar bahwa
keindahan hanya bisa benar-benar dirasakan setelah melewati jerih payah yang
tidak selalu mudah. Gle Taron seakan mengajarkan bahwa puncak bukanlah akhir,
melainkan jeda untuk mensyukuri apa yang sudah kita tempuh, sembari menyiapkan
hati untuk langkah berikutnya. Dan mungkin, begitulah hidup—kita terus mendaki,
kadang terengah, tapi selalu ada kejutan indah yang menanti di atas sana.
Bagiku, itu hal
yang patut disyukuri. Gle Taron memberi ruang bagi kita untuk sehat, bahagia,
sekaligus merasakan kedekatan dengan ciptaan Tuhan. Hanya satu pesan kecil yang
ingin kusampaikan: jagalah kebersihan. Bawa kembali sampah yang kalian bawa,
agar keindahan Gle Taron tetap lestari.
Bukit ini bukan hanya milik kita hari ini, tapi juga warisan untuk anak-anak nanti. []