Oleh: Siti Hajar
Laboratorium merupakan tempat mahasiswa memperoleh pengalaman belajar melalui pengamatan, pengujian, dan percobaan. Namun, kegiatan praktikum juga memiliki potensi bahaya yang perlu dikenali sejak awal. Bahan kimia, mikroorganisme, benda tajam, peralatan listrik, api, hingga mesin laboratorium dapat menimbulkan kecelakaan apabila digunakan tanpa prosedur yang tepat.
Karena itu, mahasiswa yang memperhatikan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan (K3-L) tidak cukup hanya
mengikuti instruksi praktikum. Mahasiswa juga harus mampu mengenali potensi
bahaya, memahami risiko, menerapkan tindakan pencegahan, dan menjaga lingkungan
laboratorium.
Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan oleh
setiap mahasiswa praktikan.
1. Sebelum
memasuki laboratorium

Persiapkan diri dan pahami aturan laboratorium.
Sebelum praktikum dimulai, mahasiswa perlu membaca
panduan praktikum, memahami SOP, dan mengikuti pengarahan dari dosen atau
laboran. Kenali jenis kegiatan, bahan yang digunakan, potensi bahayanya, serta
tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi kecelakaan.
Pastikan pakaian sesuai ketentuan laboratorium.
Gunakan jas laboratorium, sepatu tertutup, dan alat pelindung diri (APD) lain
sesuai risiko pekerjaan. Rambut panjang harus diikat dan aksesori yang
berpotensi tersangkut sebaiknya dilepas.
Hal lain yang tidak boleh diabaikan adalah kondisi
diri. Jangan melakukan praktikum ketika kondisi fisik tidak memungkinkan untuk
bekerja dengan aman. Hindari bercanda berlebihan, berlari, makan, minum, atau
melakukan aktivitas lain yang dapat mengganggu konsentrasi dan meningkatkan
risiko kecelakaan.
2. Saat
berada di laboratorium

Pahami bahan dan peralatan yang digunakan.
Jangan menggunakan bahan kimia, alat, atau mesin
sebelum mengetahui fungsi, cara penggunaan, serta potensi bahayanya. Baca label
bahan dan pahami informasi keselamatannya melalui Safety Data Sheet (SDS).
Jangan mencampurkan bahan tanpa petunjuk yang jelas.

Gunakan APD sesuai potensi bahaya.
Jas laboratorium, kacamata pelindung, sarung
tangan yang sesuai, masker atau respirator, dan pelindung lain digunakan
berdasarkan hasil penilaian risiko. Sarung tangan tidak selalu cocok untuk
semua bahan kimia, sedangkan masker biasa tidak menggantikan respirator yang
diperlukan untuk bahaya tertentu.

Ikuti SOP dan jangan melakukan improvisasi
berbahaya.
Gunakan alat sesuai prosedur. Jangan
mengoperasikan mesin tanpa izin atau mencoba metode baru tanpa persetujuan
pembimbing. Jika belum memahami suatu tahapan, berhentilah sejenak dan tanyakan
kepada dosen atau laboran.

Jaga kebersihan dan ketertiban area kerja.
Letakkan tas di tempat yang disediakan, bukan di
jalur evakuasi. Pastikan meja kerja tertata, wadah bahan diberi label, dan
peralatan tidak menghalangi pergerakan. Tumpahan, pecahan kaca, kabel rusak,
atau kondisi tidak aman harus segera dilaporkan.
3. Kenali potensi bahaya dan cara
meresponsnya
Mahasiswa yang memahami K3-L perlu mampu mengenali
kondisi yang berpotensi menyebabkan kecelakaan, bukan hanya bereaksi setelah
kecelakaan terjadi.
|
Potensi
bahaya |
Tindakan
yang perlu dilakukan |
|
Bahan kimia
tumpah |
Jauhkan diri jika berbahaya, beri peringatan
kepada orang sekitar, dan laporkan kepada petugas. Jangan membersihkan
sendiri tanpa pelatihan dan APD yang sesuai. |
|
Pecahan kaca |
Jangan mengambil pecahan dengan tangan kosong.
Gunakan alat khusus dan wadah pembuangan yang sesuai. |
|
Alat listrik
rusak |
Hentikan penggunaan, jangan menyentuh bagian
berbahaya, dan laporkan kepada petugas. |
|
Api atau
kebakaran |
Beri peringatan, aktifkan prosedur darurat, dan
evakuasi sesuai instruksi. Gunakan APAR hanya jika terlatih, api masih dapat
ditangani dengan aman, dan tersedia jalur untuk menyelamatkan diri. |
|
Paparan bahan
berbahaya |
Ikuti prosedur pertolongan pertama khusus bahan
tersebut, gunakan fasilitas pembilas darurat jika diperlukan, dan segera
minta bantuan petugas. |
|
Limbah
laboratorium |
Pisahkan
sesuai jenisnya. Jangan membuang bahan kimia, limbah biologis, atau benda
tajam ke tempat sampah biasa maupun saluran air tanpa prosedur yang sesuai. |
Prinsip pentingnya adalah jangan mengambil
tindakan yang justru memperbesar bahaya. Ketika ragu, hentikan pekerjaan jika
aman dilakukan, peringatkan orang lain, dan minta bantuan petugas yang
berwenang.
4. Ketahui lokasi fasilitas keselamatan
Sebelum mulai bekerja, mahasiswa sebaiknya
mengetahui lokasi dan cara mengakses fasilitas keselamatan yang tersedia di
laboratorium.

APAR
Alat pemadam api ringan. Kenali lokasi, jenis, dan
ketentuan penggunaannya.

Eyewash dan
safety shower
Fasilitas
pembilas mata dan tubuh untuk keadaan paparan tertentu, jika tersedia.

Kotak P3K dan sarana komunikasi darurat
Ketahui lokasi kotak P3K, nomor petugas yang dapat
dihubungi, dan prosedur pelaporan kecelakaan.

Jalur evakuasi dan titik kumpul
Pastikan jalur tidak terhalang dan pahami tempat
berkumpul ketika terjadi keadaan darurat.
Tidak semua laboratorium memiliki fasilitas yang
sama. Karena itu, mahasiswa perlu mengikuti pengarahan khusus sesuai jenis
laboratorium dan memastikan fasilitas yang diperlukan tersedia sebelum
praktikum dimulai.
5. Setelah praktikum selesai
Tanggung jawab mahasiswa tidak berakhir ketika
percobaan selesai. Area kerja harus dibersihkan sesuai prosedur, peralatan
dikembalikan ke tempatnya, bahan disimpan dengan benar, dan limbah dipilah
berdasarkan jenis serta tingkat bahayanya.
Lepaskan APD dengan cara yang tepat agar
kontaminan tidak berpindah ke kulit atau pakaian. Cuci tangan setelah
menyelesaikan kegiatan. Jika terdapat kerusakan alat, tumpahan, paparan, atau
kejadian nyaris celaka (near miss), laporkan kepada dosen atau laboran meskipun
tidak ada orang yang terluka.
Pelaporan near miss sangat penting karena kejadian
tersebut dapat menjadi peringatan bahwa ada kelemahan dalam prosedur,
peralatan, atau kondisi lingkungan yang perlu diperbaiki sebelum terjadi
kecelakaan yang lebih serius.
6. Sikap mahasiswa yang mencerminkan
budaya K3-L
Mahasiswa yang peduli terhadap K3-L tidak hanya
menjaga keselamatan dirinya. Ia juga mengingatkan teman dengan cara yang baik
ketika melihat tindakan berisiko, tidak menutupi insiden, bersedia mengikuti
pelatihan keselamatan, dan ikut menjaga kebersihan lingkungan.
Misalnya, ketika melihat teman bekerja tanpa
kacamata pelindung saat prosedur mewajibkannya, mahasiswa sebaiknya
mengingatkan dan meminta kegiatan dihentikan sementara sesuai prosedur. Ketika
menemukan wadah tanpa label, mahasiswa tidak boleh menebak isinya atau
menggunakannya begitu saja.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa keselamatan
merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata-mata urusan dosen, laboran, atau
petugas K3-L.
Checklist mahasiswa praktikan
Pemeriksaan sebelum dan sesudah praktikum
Saya sudah membaca SOP dan memahami instruksi praktikum.
Saya mengetahui potensi bahaya bahan, alat, dan
proses yang digunakan.
Saya menggunakan APD yang sesuai dengan risiko
pekerjaan.
Saya mengetahui lokasi APAR, fasilitas darurat,
dan jalur evakuasi.
Meja kerja dan jalur pergerakan saya tertata
dengan aman.
Saya mengetahui cara melaporkan insiden dan
kondisi berbahaya.
Saya akan memilah dan menangani limbah sesuai
prosedur.
Saya akan membersihkan area kerja dan mencuci
tangan setelah praktikum.