Oleh: Siti Hajar
Kepribadian
adalah gambaran utuh tentang bagaimana seseorang berpikir, merasakan, bersikap,
dan berperilaku dalam menghadapi dirinya sendiri, orang lain, dan situasi
hidup. Dalam psikologi, kepribadian tidak dipahami sekadar sebagai “sifat
bawaan” seperti pendiam atau ramah. Melainkan sebagai hasil interaksi kompleks
antara faktor biologis, pengalaman hidup, lingkungan sosial, serta proses
perkembangan sepanjang rentang kehidupan. Kepribadian adalah pola yang relatif
menetap, tetapi tetap dinamis—ia bisa berubah, bertumbuh, dan dipulihkan.
Berjalan seiring meningkatnya kesadaran diri.
Mengenal
kepribadian menjadi hal yang sangat penting dalam psikologi karena dari sanalah
kita memahami mengapa seseorang bereaksi dengan cara tertentu, mengapa satu
individu mudah beradaptasi sementara yang lain mudah tertekan, dan mengapa
konflik sering kali muncul bukan karena peristiwa, tetapi karena perbedaan cara
memaknai peristiwa tersebut. Pemahaman kepribadian membantu psikologi melihat
manusia secara lebih manusiawi—tidak hitam putih, tidak sekadar “benar atau
salah”, akan tetapi sebagai individu dengan latar biologis, emosional, dan
sosial yang unik.
Bagi seorang
calon psikolog, pemahaman tentang kepribadian memiliki makna yang lebih dalam. Ini
adalah bekal teoritis, tetapi fondasi etik dan profesional. Seorang psikolog
yang memahami kepribadian mampu membedakan mana respons klien yang bersumber
dari temperamen, pengalaman perkembangan, trauma, atau tekanan sosial. Lebih
dari itu, calon psikolog juga dituntut untuk mengenali kepribadiannya
sendiri—agar tidak mencampurkan luka pribadi, bias, atau kebutuhan emosionalnya
ke dalam proses pendampingan orang lain. Kesadaran diri ini menjadi kunci dalam
membangun relasi terapeutik yang aman dan sehat.
Kepribadian
tidak terbentuk dalam satu malam, dan tidak pula lahir dari satu faktor
tunggal. Ia adalah hasil perjalanan panjang yang melibatkan tubuh, relasi,
pengalaman emosional, serta proses belajar dan pemaknaan hidup. Untuk memahami
kepribadian secara utuh, kita perlu melihatnya dari berbagai sudut pandang
psikologi. Karena itu, penting untuk menelusuri faktor-faktor utama yang secara
psikologis membentuk kepribadian kita hingga hari ini.
Berikut
adalah tujuh hal yang membentuk kepribadian kita hari ini.
Dari kacamata
psikologi secara utuh, dengan mengaitkan psikologi umum, psikologi sosial,
bio-psikologi, dan psikologi perkembangan. Aku akan mengulasnya lebih dalam,
dengan contoh konkret agar terasa hidup dan mudah dipahami.
1. Faktor
biologis dan temperamen bawaan (Bio-Psikologi & Psikologi Perkembangan).
Sejak lahir,
manusia membawa “modal dasar” biologis berupa temperamen. Ini terkait dengan
sistem saraf, aktivitas neurotransmitter (seperti dopamin dan serotonin), serta
sensitivitas otak terhadap rangsangan. Ada bayi yang sejak kecil mudah tenang,
ada yang rewel dan sensitif. Dalam bio-psikologi, ini berkaitan dengan cara
otak merespons stres dan emosi.
Contohnya, anak dengan sistem saraf yang lebih reaktif cenderung tumbuh menjadi
pribadi yang sensitif, mudah cemas, atau sangat empatik. Ini bukan kelemahan,
melainkan variasi biologis. Psikologi perkembangan melihat bahwa temperamen ini
akan terus berinteraksi dengan lingkungan: temperamen yang sama bisa
menghasilkan kepribadian yang sangat berbeda tergantung cara ia diasuh.
2. Pola asuh dan
relasi awal (Psikologi Perkembangan & Psikologi Umum).
Relasi awal
dengan orang tua atau pengasuh utama membentuk fondasi kepribadian melalui apa
yang disebut attachment (kelekatan). Anak yang tumbuh dengan kelekatan
aman cenderung memiliki kepercayaan diri dan regulasi emosi yang lebih stabil.
Sebaliknya, pola asuh yang tidak konsisten, terlalu keras, atau terlalu
mengabaikan dapat membentuk kepribadian yang waspada, sulit percaya, atau
terlalu bergantung. Misalnya, anak yang sering dimarahi saat mengekspresikan
emosi bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang tampak “tenang”, tetapi sebenarnya
terbiasa menekan perasaan. Dalam psikologi umum, ini tampak sebagai pola
kepribadian, padahal akarnya ada pada pengalaman perkembangan awal.
3. Pengalaman
belajar dan penguatan perilaku (Psikologi Umum). Kepribadian juga dibentuk
melalui proses belajar: apa yang dihargai, dihukum, atau diabaikan. Teori
behavioristik menjelaskan bahwa perilaku yang mendapat penguatan akan cenderung
diulang.
Contohnya, seseorang yang sejak kecil dipuji karena selalu “menuruti” orang
lain bisa tumbuh menjadi pribadi yang sangat menyenangkan orang (people
pleaser). Ini bukan sifat bawaan, melainkan hasil belajar jangka panjang. Dari
luar terlihat seperti kepribadian ramah, tetapi secara psikologis bisa
menyimpan konflik batin karena kesulitan berkata tidak.
4. Lingkungan
sosial dan interaksi dengan orang lain (Psikologi Sosial).
Psikologi sosial
menekankan bahwa kepribadian tidak lahir di ruang hampa. Cara kita memandang
diri sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial: keluarga, sekolah, teman sebaya,
hingga masyarakat luas.
Label sosial
seperti “anak pintar”, “anak nakal”, “yang kuat”, atau “yang lemah” sering kali
diserap menjadi identitas diri. Jika seseorang terus-menerus diperlakukan
sebagai “yang harus kuat”, ia bisa membentuk kepribadian yang tampak tangguh
tetapi sulit meminta bantuan. Kepribadian di sini adalah hasil negosiasi antara
diri dan ekspektasi sosial.
5. Pengalaman
emosional yang signifikan dan belum terselesaikan (Psikologi Umum &
Bio-Psikologi)
Pengalaman
emosional yang intens—seperti kehilangan, penolakan, rasa takut, atau rasa
malu—dapat “tersimpan” dalam sistem saraf. Bio-psikologi menjelaskan bahwa
otak, khususnya sistem limbik, belajar mengaitkan situasi tertentu dengan
ancaman atau rasa aman.
Jika emosi ini tidak diproses dengan sehat, kepribadian bisa berkembang sebagai
bentuk perlindungan. Misalnya, seseorang menjadi sangat perfeksionis karena
pernah mengalami rasa tidak berharga. Perfeksionisme di sini bukan sekadar
sifat rajin, melainkan strategi untuk menghindari rasa sakit lama.
6. Cara individu
memaknai pengalaman hidup (Psikologi Umum & Psikologi Perkembangan)
Dua orang bisa mengalami peristiwa yang sama, tetapi kepribadiannya berkembang
berbeda karena makna yang dibangun. Psikologi kognitif menekankan pentingnya
skema dan keyakinan inti tentang diri dan dunia.
Contohnya,
kegagalan bisa dimaknai sebagai “aku memang tidak mampu” atau “aku sedang
belajar”. Makna pertama cenderung membentuk kepribadian yang menarik diri dan
ragu, sedangkan makna kedua membentuk kepribadian yang tangguh. Seiring
perkembangan usia, cara memaknai pengalaman ini bisa berubah—dan di situlah
ruang pertumbuhan kepribadian terbuka.
7. Kesadaran
diri dan proses perkembangan dewasa (Psikologi Perkembangan & Integratif).
Kepribadian
tidak berhenti dibentuk saat masa kanak-kanak. Dalam psikologi perkembangan
dewasa, individu memiliki kapasitas refleksi, evaluasi diri, dan pilihan sadar.
Di tahap ini, seseorang bisa mulai membedakan: mana bagian dirinya yang
autentik, dan mana yang hanya strategi bertahan hidup.
Misalnya, orang
dewasa yang mulai belajar regulasi emosi, terapi, atau refleksi spiritual dapat
mengalami perubahan kepribadian yang signifikan—lebih tenang, lebih asertif,
atau lebih menerima diri. Ini menunjukkan bahwa kepribadian bersifat plastis,
bukan sesuatu yang kaku dan tak bisa diubah.
Dari kacamata
psikologi, kepribadian adalah hasil dialog panjang antara tubuh, pengalaman,
lingkungan, dan kesadaran. Ini tentang bagaimana seseorang belajar bertahan,
beradaptasi, dan memberi makna pada hidupnya. Memahami ini membuat kita lebih
berbelas kasih—pada diri sendiri dan orang lain—karena di balik setiap
kepribadian, selalu ada perjalanan psikologis yang panjang.
Memahami diri
sendiri bukan sekadar upaya mengenali sifat atau kepribadian, melainkan proses
menyadari mengapa kita menjadi seperti hari ini. Dari sana lahir kemampuan
untuk mengelola emosi, membaca reaksi diri, dan tidak tergesa menilai. Ketika
seseorang paham bahwa responsnya dibentuk oleh pengalaman, tubuh, dan
lingkungan, ia akan lebih bijak dalam bersikap—tidak reaktif, tidak mudah tersinggung,
dan lebih sadar batas diri.
Pemahaman ini
menjadi kunci penting dalam membangun relasi yang harmonis. Di dalam keluarga,
ia menumbuhkan empati dan komunikasi yang lebih sehat. Dalam hubungan
bertetangga, ia mencegah prasangka dan konflik yang tak perlu.
Di lingkungan kerja, pertemanan, atau komunitas, ia membantu kita menghargai perbedaan cara berpikir, merespons, dan berinteraksi. Karena ketika kita memahami bahwa setiap orang membawa latar psikologisnya masing-masing, relasi tidak lagi dibangun atas tuntutan, melainkan atas kesadaran, penerimaan, dan saling menghormati. []
