7 Hal yang Membentuk Kepribadian Kita Hari Ini Menurut Psikologi

 

Oleh: Siti Hajar

Kepribadian adalah gambaran utuh tentang bagaimana seseorang berpikir, merasakan, bersikap, dan berperilaku dalam menghadapi dirinya sendiri, orang lain, dan situasi hidup. Dalam psikologi, kepribadian tidak dipahami sekadar sebagai “sifat bawaan” seperti pendiam atau ramah. Melainkan sebagai hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, pengalaman hidup, lingkungan sosial, serta proses perkembangan sepanjang rentang kehidupan. Kepribadian adalah pola yang relatif menetap, tetapi tetap dinamis—ia bisa berubah, bertumbuh, dan dipulihkan. Berjalan seiring meningkatnya kesadaran diri.

Mengenal kepribadian menjadi hal yang sangat penting dalam psikologi karena dari sanalah kita memahami mengapa seseorang bereaksi dengan cara tertentu, mengapa satu individu mudah beradaptasi sementara yang lain mudah tertekan, dan mengapa konflik sering kali muncul bukan karena peristiwa, tetapi karena perbedaan cara memaknai peristiwa tersebut. Pemahaman kepribadian membantu psikologi melihat manusia secara lebih manusiawi—tidak hitam putih, tidak sekadar “benar atau salah”, akan tetapi sebagai individu dengan latar biologis, emosional, dan sosial yang unik.

Bagi seorang calon psikolog, pemahaman tentang kepribadian memiliki makna yang lebih dalam. Ini adalah bekal teoritis, tetapi fondasi etik dan profesional. Seorang psikolog yang memahami kepribadian mampu membedakan mana respons klien yang bersumber dari temperamen, pengalaman perkembangan, trauma, atau tekanan sosial. Lebih dari itu, calon psikolog juga dituntut untuk mengenali kepribadiannya sendiri—agar tidak mencampurkan luka pribadi, bias, atau kebutuhan emosionalnya ke dalam proses pendampingan orang lain. Kesadaran diri ini menjadi kunci dalam membangun relasi terapeutik yang aman dan sehat.

Kepribadian tidak terbentuk dalam satu malam, dan tidak pula lahir dari satu faktor tunggal. Ia adalah hasil perjalanan panjang yang melibatkan tubuh, relasi, pengalaman emosional, serta proses belajar dan pemaknaan hidup. Untuk memahami kepribadian secara utuh, kita perlu melihatnya dari berbagai sudut pandang psikologi. Karena itu, penting untuk menelusuri faktor-faktor utama yang secara psikologis membentuk kepribadian kita hingga hari ini.

Berikut adalah tujuh hal yang membentuk kepribadian kita hari ini.

Dari kacamata psikologi secara utuh, dengan mengaitkan psikologi umum, psikologi sosial, bio-psikologi, dan psikologi perkembangan. Aku akan mengulasnya lebih dalam, dengan contoh konkret agar terasa hidup dan mudah dipahami.

1. Faktor biologis dan temperamen bawaan (Bio-Psikologi & Psikologi Perkembangan).

Sejak lahir, manusia membawa “modal dasar” biologis berupa temperamen. Ini terkait dengan sistem saraf, aktivitas neurotransmitter (seperti dopamin dan serotonin), serta sensitivitas otak terhadap rangsangan. Ada bayi yang sejak kecil mudah tenang, ada yang rewel dan sensitif. Dalam bio-psikologi, ini berkaitan dengan cara otak merespons stres dan emosi.
Contohnya, anak dengan sistem saraf yang lebih reaktif cenderung tumbuh menjadi pribadi yang sensitif, mudah cemas, atau sangat empatik. Ini bukan kelemahan, melainkan variasi biologis. Psikologi perkembangan melihat bahwa temperamen ini akan terus berinteraksi dengan lingkungan: temperamen yang sama bisa menghasilkan kepribadian yang sangat berbeda tergantung cara ia diasuh.

2. Pola asuh dan relasi awal (Psikologi Perkembangan & Psikologi Umum).

Relasi awal dengan orang tua atau pengasuh utama membentuk fondasi kepribadian melalui apa yang disebut attachment (kelekatan). Anak yang tumbuh dengan kelekatan aman cenderung memiliki kepercayaan diri dan regulasi emosi yang lebih stabil.
Sebaliknya, pola asuh yang tidak konsisten, terlalu keras, atau terlalu mengabaikan dapat membentuk kepribadian yang waspada, sulit percaya, atau terlalu bergantung. Misalnya, anak yang sering dimarahi saat mengekspresikan emosi bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang tampak “tenang”, tetapi sebenarnya terbiasa menekan perasaan. Dalam psikologi umum, ini tampak sebagai pola kepribadian, padahal akarnya ada pada pengalaman perkembangan awal.

3. Pengalaman belajar dan penguatan perilaku (Psikologi Umum). Kepribadian juga dibentuk melalui proses belajar: apa yang dihargai, dihukum, atau diabaikan. Teori behavioristik menjelaskan bahwa perilaku yang mendapat penguatan akan cenderung diulang.
Contohnya, seseorang yang sejak kecil dipuji karena selalu “menuruti” orang lain bisa tumbuh menjadi pribadi yang sangat menyenangkan orang (people pleaser). Ini bukan sifat bawaan, melainkan hasil belajar jangka panjang. Dari luar terlihat seperti kepribadian ramah, tetapi secara psikologis bisa menyimpan konflik batin karena kesulitan berkata tidak.

4. Lingkungan sosial dan interaksi dengan orang lain (Psikologi Sosial).

Psikologi sosial menekankan bahwa kepribadian tidak lahir di ruang hampa. Cara kita memandang diri sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial: keluarga, sekolah, teman sebaya, hingga masyarakat luas.

Label sosial seperti “anak pintar”, “anak nakal”, “yang kuat”, atau “yang lemah” sering kali diserap menjadi identitas diri. Jika seseorang terus-menerus diperlakukan sebagai “yang harus kuat”, ia bisa membentuk kepribadian yang tampak tangguh tetapi sulit meminta bantuan. Kepribadian di sini adalah hasil negosiasi antara diri dan ekspektasi sosial.

5. Pengalaman emosional yang signifikan dan belum terselesaikan (Psikologi Umum & Bio-Psikologi)

Pengalaman emosional yang intens—seperti kehilangan, penolakan, rasa takut, atau rasa malu—dapat “tersimpan” dalam sistem saraf. Bio-psikologi menjelaskan bahwa otak, khususnya sistem limbik, belajar mengaitkan situasi tertentu dengan ancaman atau rasa aman.
Jika emosi ini tidak diproses dengan sehat, kepribadian bisa berkembang sebagai bentuk perlindungan. Misalnya, seseorang menjadi sangat perfeksionis karena pernah mengalami rasa tidak berharga. Perfeksionisme di sini bukan sekadar sifat rajin, melainkan strategi untuk menghindari rasa sakit lama.

6. Cara individu memaknai pengalaman hidup (Psikologi Umum & Psikologi Perkembangan)
Dua orang bisa mengalami peristiwa yang sama, tetapi kepribadiannya berkembang berbeda karena makna yang dibangun. Psikologi kognitif menekankan pentingnya skema dan keyakinan inti tentang diri dan dunia.

Contohnya, kegagalan bisa dimaknai sebagai “aku memang tidak mampu” atau “aku sedang belajar”. Makna pertama cenderung membentuk kepribadian yang menarik diri dan ragu, sedangkan makna kedua membentuk kepribadian yang tangguh. Seiring perkembangan usia, cara memaknai pengalaman ini bisa berubah—dan di situlah ruang pertumbuhan kepribadian terbuka.

7. Kesadaran diri dan proses perkembangan dewasa (Psikologi Perkembangan & Integratif).

Kepribadian tidak berhenti dibentuk saat masa kanak-kanak. Dalam psikologi perkembangan dewasa, individu memiliki kapasitas refleksi, evaluasi diri, dan pilihan sadar. Di tahap ini, seseorang bisa mulai membedakan: mana bagian dirinya yang autentik, dan mana yang hanya strategi bertahan hidup.

Misalnya, orang dewasa yang mulai belajar regulasi emosi, terapi, atau refleksi spiritual dapat mengalami perubahan kepribadian yang signifikan—lebih tenang, lebih asertif, atau lebih menerima diri. Ini menunjukkan bahwa kepribadian bersifat plastis, bukan sesuatu yang kaku dan tak bisa diubah.

Dari kacamata psikologi, kepribadian adalah hasil dialog panjang antara tubuh, pengalaman, lingkungan, dan kesadaran. Ini tentang bagaimana seseorang belajar bertahan, beradaptasi, dan memberi makna pada hidupnya. Memahami ini membuat kita lebih berbelas kasih—pada diri sendiri dan orang lain—karena di balik setiap kepribadian, selalu ada perjalanan psikologis yang panjang.

Memahami diri sendiri bukan sekadar upaya mengenali sifat atau kepribadian, melainkan proses menyadari mengapa kita menjadi seperti hari ini. Dari sana lahir kemampuan untuk mengelola emosi, membaca reaksi diri, dan tidak tergesa menilai. Ketika seseorang paham bahwa responsnya dibentuk oleh pengalaman, tubuh, dan lingkungan, ia akan lebih bijak dalam bersikap—tidak reaktif, tidak mudah tersinggung, dan lebih sadar batas diri.

Pemahaman ini menjadi kunci penting dalam membangun relasi yang harmonis. Di dalam keluarga, ia menumbuhkan empati dan komunikasi yang lebih sehat. Dalam hubungan bertetangga, ia mencegah prasangka dan konflik yang tak perlu.

Di lingkungan kerja, pertemanan, atau komunitas, ia membantu kita menghargai perbedaan cara berpikir, merespons, dan berinteraksi. Karena ketika kita memahami bahwa setiap orang membawa latar psikologisnya masing-masing, relasi tidak lagi dibangun atas tuntutan, melainkan atas kesadaran, penerimaan, dan saling menghormati. []

Lebih baru Lebih lama