Berbicara
tentang emosi, motivasi, dan cara manusia merespons hidup sehari-hari, kita
sebenarnya sedang memasuki wilayah kerja otak yang sangat halus dan saling
terhubung. Di balik rasa bahagia, cemas, semangat, takut, atau tenang, ada tiga
“aktor utama” yang sering disebut dalam psikologi dan neurosains: dopamin,
serotonin, dan amigdala. Ketiganya bekerja dengan cara yang berbeda, tetapi
saling memengaruhi, membentuk pengalaman emosional dan perilaku manusia secara
utuh.
Dopamin sering
dikenal sebagai zat kimia yang berhubungan dengan rasa senang dan motivasi.
Namun, menyederhanakan dopamin hanya sebagai “hormon bahagia” sebenarnya kurang
tepat. Dopamin lebih dekat dengan sistem penghargaan otak. Ia dilepaskan ketika
kita mengantisipasi sesuatu yang menyenangkan atau bermakna, seperti saat
menunggu kabar baik, menyelesaikan pekerjaan, atau mencapai target tertentu.
Dopamin membuat kita terdorong untuk bergerak, berusaha, dan mengulangi
perilaku yang dianggap menguntungkan. Karena itu, dopamin sangat berkaitan
dengan motivasi, fokus, dan pembentukan kebiasaan. Ketika dopamin bekerja
seimbang, seseorang mampu merasa bersemangat dan memiliki tujuan. Namun ketika
sistem ini terganggu, bisa muncul perilaku impulsif, kecanduan, atau justru
kehilangan motivasi.
Serotonin
bekerja dengan nuansa yang lebih tenang. Ia berkaitan dengan suasana hati yang
stabil, rasa cukup, dan kemampuan untuk merasa aman secara emosional. Jika
dopamin mendorong kita untuk mengejar sesuatu, serotonin membantu kita merasa
baik dengan apa yang sudah ada. Kadar serotonin yang seimbang sering dikaitkan
dengan perasaan damai, percaya diri, dan kemampuan mengelola emosi secara lebih
matang. Dalam praktik klinis, rendahnya serotonin kerap dikaitkan dengan
depresi, kecemasan, dan gangguan suasana hati. Serotonin juga berperan dalam
tidur, nafsu makan, dan regulasi emosi sosial, termasuk bagaimana kita
memandang diri sendiri di hadapan orang lain.
Sementara itu,
amigdala bukanlah zat kimia, melainkan bagian dari struktur otak yang berperan
besar dalam pengolahan emosi, terutama emosi dasar seperti takut, marah, dan
waspada terhadap ancaman. Amigdala bekerja sangat cepat, bahkan sebelum kita
sempat berpikir secara rasional. Ketika otak mendeteksi potensi bahaya,
amigdala akan mengaktifkan respons bertahan hidup, seperti reaksi melawan,
lari, atau membeku. Dalam kondisi normal, amigdala membantu kita bertahan dan
mengambil keputusan cepat. Namun, jika terlalu aktif, amigdala dapat membuat
seseorang mudah cemas, reaktif, atau hidup dalam kewaspadaan berlebihan,
meskipun ancaman nyata tidak selalu ada.
Menariknya,
dopamin, serotonin, dan amigdala tidak bekerja secara terpisah. Ketiganya
saling berkomunikasi dalam jaringan yang kompleks. Ketika amigdala mendeteksi
ancaman dan menjadi terlalu aktif, sistem dopamin bisa terganggu sehingga
seseorang kehilangan motivasi atau justru mencari pelarian instan untuk
meredakan ketegangan. Pada saat yang sama, kadar serotonin yang rendah dapat
membuat amigdala lebih sensitif, sehingga respons emosional menjadi lebih
intens dan sulit dikendalikan. Inilah sebabnya mengapa kecemasan berkepanjangan
sering diikuti oleh kelelahan mental, mood yang turun, dan hilangnya semangat
hidup.
Sebaliknya,
ketika serotonin cukup dan sistem dopamin bekerja sehat, amigdala cenderung
lebih terkendali. Seseorang mampu merespons stres dengan lebih proporsional,
tidak mudah panik, dan bisa berpikir lebih jernih sebelum bereaksi.
Keseimbangan inilah yang menjadi kunci kesehatan mental. Bukan tentang selalu
bahagia atau bebas dari rasa takut, tetapi tentang kemampuan otak untuk
menyeimbangkan dorongan, ketenangan, dan kewaspadaan.
Dalam konteks
psikologi, memahami hubungan ini penting, baik bagi individu awam maupun calon
psikolog. Banyak keluhan psikologis bukan semata-mata soal “lemah mental”,
melainkan hasil dari sistem otak yang sedang tidak seimbang akibat stres,
trauma, pola hidup, atau pengalaman emosional yang menumpuk. Pendekatan
psikologis yang empatik, aman, dan konsisten dapat membantu menenangkan
amigdala, menstabilkan serotonin, dan secara bertahap memulihkan fungsi
dopamin.
Dopamin,
serotonin, dan amigdala mengajarkan kita satu hal penting yaitu emosi dan
perilaku manusia adalah hasil kerja sama antara biologi dan pengalaman hidup.
Merawat kesehatan mental berarti merawat keduanya. Dengan memahami cara kerja
otak, kita tidak hanya menjadi lebih bijak terhadap diri sendiri, tetapi juga
lebih berbelas kasih saat melihat orang lain sedang berjuang dalam diam.
Sebagai
mahasiswa psikologi yang sedang mempelajari bio-psikologi, memahami dopamin,
serotonin, dan amigdala bukan sekadar menghafal istilah atau jalur kerja otak,
tetapi belajar melihat manusia secara lebih utuh. Di balik setiap perilaku,
emosi, dan keluhan psikologis, selalu ada interaksi kompleks antara sistem
biologis dan pengalaman hidup. Pengetahuan ini membantu kita keluar dari
penilaian yang menyederhanakan masalah psikologis sebagai persoalan kemauan
semata, dan mulai melihatnya sebagai proses yang dapat dipahami, dipelajari,
dan ditangani secara ilmiah serta manusiawi.
Ke depan, pemahaman bio-psikologi akan menjadi fondasi penting dalam praktik psikologi, baik klinis, pendidikan, maupun sosial. Dengan bekal ini, mahasiswa psikologi diharapkan mampu mengintegrasikan perspektif biologis dengan pendekatan psikologis yang empatik, reflektif, dan etis. Bukan untuk menjadikan otak sebagai satu-satunya penjelasan, melainkan sebagai jembatan agar intervensi yang dilakukan lebih tepat, lebih sadar konteks, dan tetap menghargai pengalaman subjektif manusia sebagai makhluk yang berpikir, merasa, dan bermakna.[]
