Oleh: Sii Hajar
Aceh hari ini sedang berduka. Kerusakan akibat
bencana, entah kapan ini selesai . Narkoba bukan lagi sekadar istilah, tetapi
kenyataan yang hidup di depan mata. Orang-orang tidak lagi merasa malu ketika
diketahui dekat dengan ganja atau sabu-sabu. Bahkan, ada semacam kebanggaan
yang tumbuh diam-diam. Ini sungguh menyedihkan, dan pada saat yang sama,
menakutkan.
Beberapa waktu lalu aku bertemu seorang teman
lama. Sudah lama kami tidak berjumpa. Obrolan yang awalnya ringan perlahan
berubah menjadi percakapan yang berat. Kami bicara tentang Aceh, tentang
perubahan yang terasa semakin nyata. Tentang rasa cemas akan generasi yang akan
datang. Tentang anak-anak yang tumbuh di tengah lingkungan yang mulai
kehilangan batas antara yang benar dan yang salah.
Hari ini, toke sabu diperlakukan seperti raja.
Mereka punya uang, punya kuasa, dan ironisnya, sering hadir di tengah
masyarakat sebagai dermawan. Kegiatan-kegiatan keagamaan tak jarang dibiayai
oleh mereka. Di gampong-gampong, mereka disambut, dihormati, bahkan dianggap
pahlawan. Padahal uang itu berasal dari sumber yang menghancurkan banyak
keluarga, memutus harapan, dan meninggalkan luka panjang.
Di saat yang sama, Aceh juga terus diuji dengan
bencana. Banjir datang hampir setiap tahun, bahkan terasa semakin sering dan
semakin parah. Rumah-rumah terendam, ladang rusak, jalan putus, dan banyak
orang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya. Ada yang kehilangan harta, ada
yang kehilangan mata pencaharian, ada pula yang kehilangan rasa aman.
Mungkin ini hanya kebetulan. Tapi mungkin juga ini
adalah peringatan. Dalam keyakinan banyak orang Aceh, musibah bukan sekadar
peristiwa alam. Ia bisa menjadi teguran, bisa menjadi cermin. Ketika kerusakan
dibiarkan, ketika yang haram dipelihara, ketika nilai-nilai ditukar dengan
kenyamanan sesaat, bisa jadi alam dan kehidupan ikut berbicara dengan caranya
sendiri.
Banjir yang berulang seolah bertanya: sampai kapan
kita menutup mata? Sampai kapan kita membiarkan hutan rusak, sungai
dipersempit, dan uang haram membeli kehormatan? Sampai kapan kita pura-pura
tidak tahu bahwa narkoba sedang merusak generasi dari dalam?
Yang paling menyedihkan, banyak yang sudah
ditinggalkan. Rumah-rumah kosong, kampung yang sunyi, keluarga yang tercerai.
Ada yang pergi karena tak sanggup bertahan, ada yang pergi karena kehilangan
harapan. Aceh perlahan kehilangan bukan hanya tanahnya, tapi juga jiwanya.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi, apalagi
menunjuk siapa yang paling bersalah. Ini adalah kegelisahan seorang anak daerah
yang mencintai Aceh, tapi lelah melihat luka yang terus terbuka. Mungkin sudah
saatnya kita berhenti menyalahkan keadaan, dan mulai bertanya pada diri
sendiri: bagian mana dari hidup kita yang ikut menyumbang kerusakan ini?
5 hal yang perlu diubah menurutku agar kita
kembali mengenal diri sebagai orang Aceh, Aceh yang dulu dikenal sebagai Serambi
Mekkah. Ini bukan tudingan, tapi ajakan bercermin—pelan, jujur, dan dari
dalam.
- Cara kita memaknai agama, dari simbol
ke akhlak. Aceh dikenal religius, tetapi religiusitas tidak cukup berhenti
pada ritual dan seremonial. Agama seharusnya hadir dalam kejujuran,
keberanian menolak yang haram, dan kepedulian pada sesama. Ketika uang
narkoba bisa membiayai kegiatan keagamaan dan tetap diterima, di situlah
makna agama perlu diluruskan kembali. Bukan agamanya yang salah,
tapi cara kita memaknainya yang mulai bergeser.
- Sikap kita terhadap yang haram dan
yang batil. Dulu, rasa malu adalah benteng. Hari ini, rasa malu itu makin
menipis. Yang salah bisa dimaklumi, yang haram bisa ditoleransi, asal
membawa keuntungan. Jika Aceh ingin kembali pada jati dirinya, batas
antara benar dan salah harus ditegakkan lagi, meski itu tidak nyaman,
meski itu membuat kita kehilangan “keuntungan” sesaat.
- Hubungan kita dengan alam dan tanah
warisan. Banjir yang terus berulang bukan hanya soal hujan. Ia bicara
tentang hutan yang dirusak, sungai yang dipersempit, dan keserakahan yang
dibiarkan. Orang Aceh dulu hidup selaras dengan alam, menghormati tanah
sebagai titipan. Mengubah cara kita memperlakukan alam berarti mengubah
cara kita menghargai amanah.
- Cara kita mendidik dan melindungi
generasi muda. Generasi Aceh hari ini tumbuh di tengah kebingungan nilai.
Mereka melihat kontradiksi setiap hari: yang merusak dihormati, yang jujur
sering tersisih. Jika kita ingin Aceh tetap punya masa depan, pendidikan
tidak cukup di sekolah. Ia harus hidup di rumah, di gampong, dan dalam
teladan orang dewasa.
- Keberanian untuk bersuara dan tidak
diam. Banyak kerusakan tumbuh subur karena terlalu banyak orang baik
memilih diam. Padahal Aceh dikenal sebagai daerah yang berani, tegas, dan
punya marwah. Mengubah Aceh berarti berani berkata tidak, berani menolak,
dan berani kehilangan kenyamanan demi menjaga nilai.
Mempersepsikan diri sebagai orang Aceh bukan
sekadar soal lahir di tanah ini. Ia tentang bagaimana kita hidup, bagaimana
kita bersikap, dan bagaimana cara kita menjaga amanah. Serambi Mekkah bukan hanya
sekadar gelar, tapi tanggung jawab besar. Dan perubahan itu tidak selalu
dimulai dari kebijakan besar—sering kali ia dimulai dari diri kita sendiri, hal-hal
kecil dan harus dimulai dari sekarang
Jika banjir adalah bala, semoga ia menjadi
pengingat. Jika narkoba adalah ujian, semoga kita tidak terus berpura-pura
kuat. Aceh tidak kekurangan orang pintar atau orang beriman. Yang kita butuhkan
hari ini adalah keberanian untuk jujur, menolak yang salah, dan kembali menjaga
marwah yang dulu begitu kita banggakan. []
Saudara-saudaraku, jika kalian sampai di sini. Aku
ingin peluk kalian. Terima kasih sudah mau memahami keresahan yang kurasakan. Tulisan
ini bukan untuk mendikte apalagi menggurui. Ini bukanlah kapasitasku. Ini hanya
bentuk kepedulian, kekahwatiran akan nasib anak negeri-Aneuk Nanggroe Aceh.
Aku-Siti Hajar-founder www.sitihajarinspiring.com Terima
kasih banyak-banyak.
