Tauhid sebagai Kompas Moral: Konsep Ketuhanan Islam di Era Digital



Oleh: Siti Hajar

Tauhid bukan sekadar istilah teologis yang dihafalkan di ruang kelas atau dikutip dalam ujian Pendidikan Agama Islam. Ia adalah inti dari seluruh bangunan keislaman, fondasi keyakinan yang menentukan cara seorang Muslim memandang Tuhan, manusia, dan kehidupan itu sendiri. Di tengah dunia modern yang bergerak cepat, penuh distraksi digital, krisis moral, dan pergeseran nilai, kajian tentang tauhid kembali menemukan relevansinya yang mendesak.

Dalam tradisi Islam, tauhid dimaknai sebagai pengesaan Allah secara mutlak—dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Secara bahasa, tauhid berasal dari kata wahhada–yuwahhidu yang berarti menjadikan satu. Namun dalam makna yang lebih dalam, tauhid adalah kesadaran eksistensial bahwa tidak ada pusat nilai, sumber kekuasaan, dan tujuan hidup selain Allah Swt. Karena itu, tauhid tidak berhenti pada pengakuan lisan “lā ilāha illallāh”, tetapi menuntut konsistensi sikap, cara berpikir, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks keilmuan kontemporer, para sarjana Muslim menegaskan bahwa tauhid harus dipahami secara tekstual sekaligus kontekstual. Ia tidak boleh terjebak dalam dogmatisme sempit, tetapi perlu berdialog dengan realitas modern seperti pluralisme agama, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, isu kemanusiaan, serta tantangan etika global. Pemahaman tauhid yang hidup justru akan melahirkan keimanan yang rasional, spiritual, dan humanis sekaligus.

Para ulama dan pemikir Islam menjelaskan bahwa tauhid mencakup tiga dimensi utama: tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma wa sifat. Tauhid rububiyyah menegaskan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur alam semesta. Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi di luar kehendak-Nya. Kesadaran ini melahirkan sikap tawakal, syukur, dan kerendahan hati, sekaligus membangun etika ekologis—bahwa manusia tidak berhak merusak alam yang bukan miliknya.

Tauhid uluhiyyah menuntut pengesaan Allah dalam ibadah. Seluruh bentuk penghambaan, baik yang bersifat ritual maupun sosial, harus ditujukan hanya kepada Allah. Shalat, bekerja, belajar, hingga aktivitas digital sekalipun, semuanya bernilai ibadah ketika diniatkan karena-Nya. Dalam konteks ini, tauhid menjadi benteng dari penyembahan modern terhadap materi, jabatan, popularitas, dan kekuasaan yang kerap menjelma sebagai “tuhan-tuhan kecil” dalam kehidupan manusia.

Sementara itu, tauhid asma wa sifat mengajarkan pengenalan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah yang Maha Sempurna. Keyakinan bahwa Allah Maha Adil, Maha Pengasih, dan Maha Mengetahui tidak berhenti sebagai pengetahuan teologis, tetapi harus tercermin dalam karakter seorang Muslim. Dari sini lahir dorongan untuk bersikap adil, pemaaf, jujur, dan penuh empati dalam relasi sosial. Tauhid asma wa sifat menjadikan akhlak sebagai cermin dari iman.

Pemikir Islam Indonesia seperti Nurcholish Madjid dan M. Quraish Shihab memberikan kontribusi penting dalam membumikan tauhid dalam konteks masyarakat majemuk. Nurcholish Madjid memaknai tauhid sebagai prinsip pembebasan—pembebasan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah. Tauhid, dalam pandangannya, melahirkan manusia yang merdeka secara spiritual, kritis terhadap kekuasaan, dan menolak penindasan dalam bentuk apa pun. Inilah dasar dari sikap egaliter dan penghormatan terhadap martabat manusia.

M. Quraish Shihab, melalui karya-karya tafsirnya, menegaskan bahwa tauhid yang benar justru melahirkan sikap terbuka, toleran, dan penuh kasih. Kesadaran akan keesaan Allah membuat seorang Muslim memahami bahwa seluruh manusia adalah ciptaan Tuhan yang sama, sehingga perbedaan agama, budaya, dan latar belakang sosial tidak boleh menjadi alasan untuk saling merendahkan. Dalam perspektif ini, tauhid menjadi landasan etika dialog dan kehidupan damai di tengah pluralitas.

Makna kalimat lā ilāha illallāh sebagai inti tauhid juga memiliki dimensi sosial dan moral yang kuat. Kalimat ini diawali dengan penafian—penolakan terhadap segala bentuk ketuhanan palsu—dan diakhiri dengan penegasan bahwa hanya Allah satu-satunya yang layak disembah. Secara filosofis, ini berarti melepaskan diri dari ketergantungan terhadap materi, ego, dan kekuasaan duniawi, lalu menyerahkan orientasi hidup sepenuhnya kepada nilai ilahiah. Dari sinilah lahir integritas pribadi dan keberanian moral.

Dalam kehidupan sehari-hari, konsep ketuhanan Islam tercermin dalam tiga ranah utama: ibadah, etika pribadi, dan kehidupan sosial. Dalam ibadah, tauhid menuntut keikhlasan dan kesadaran bahwa Allah adalah tujuan utama, bukan pengakuan manusia. Dalam etika pribadi, tauhid melahirkan sikap jujur, amanah, dan bertanggung jawab, bahkan ketika tidak ada pengawasan eksternal. Sedangkan dalam kehidupan sosial, tauhid menumbuhkan kesadaran akan kesetaraan manusia, kepedulian terhadap sesama, dan komitmen terhadap keadilan.

Di era digital, relevansi tauhid justru semakin terasa. Media sosial, kecerdasan buatan, dan budaya instan menghadirkan tantangan baru berupa pencitraan diri, riya digital, serta krisis moral. Tauhid berfungsi sebagai kompas spiritual agar manusia tidak terjebak dalam ilusi popularitas dan kekuasaan semu. Kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui menuntun seorang Muslim untuk tetap beretika dalam bermedia, tidak menyebarkan kebencian, dan menggunakan teknologi sebagai sarana menebar manfaat.

Lebih jauh, tauhid juga memiliki relevansi mendalam dengan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Dalam pandangan Islam, sains bukanlah lawan iman, melainkan sarana membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Ilmu yang berlandaskan tauhid akan diarahkan pada kemaslahatan, bukan eksploitasi. Sementara dalam ranah kemanusiaan, tauhid melahirkan humanisme spiritual—kesadaran bahwa memuliakan manusia adalah bagian dari pengabdian kepada Tuhan.

Pada akhirnya, tauhid dalam Islam bukan sekadar konsep teologis yang abstrak. Ia adalah pandangan hidup yang menyatukan iman, akal, dan amal; mengikat spiritualitas dengan etika; serta menautkan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Di tengah dunia modern yang sering kehilangan arah, tauhid hadir sebagai fondasi moral dan spiritual yang menjaga manusia tetap utuh sebagai hamba Allah sekaligus makhluk sosial. Inilah makna tauhid yang hidup—bukan hanya di lisan, tetapi dalam seluruh denyut kehidupan. []

Lebih baru Lebih lama