Oleh: Siti Hajar
Narkoba bekerja dengan cara menipu sistem alami
tubuh, terutama otak. Saat pertama kali masuk ke tubuh—baik dihisap, diminum,
disuntikkan, atau dihirup—zat narkoba langsung menuju otak melalui aliran
darah. Otak sebenarnya punya sistem yang sangat rapi untuk mengatur rasa
senang, sedih, tenang, takut, dan motivasi. Narkoba datang dan mengacak sistem
itu.
Di otak, ada zat kimia alami bernama dopamin.
Dopamin inilah yang membuat kita merasa senang saat makan, beribadah, tertawa,
atau merasa dicintai. Narkoba memaksa otak melepaskan dopamin dalam jumlah
besar dan tidak wajar. Akibatnya, pemakai merasa “enak”, tenang palsu, percaya
diri berlebihan, atau seperti bebas dari masalah. Padahal itu semua bukan
ketenangan asli, tapi ketenangan yang dipinjam secara paksa.
Masalahnya, otak tidak bodoh. Setelah sering
dipaksa bekerja tidak normal, otak mulai menurunkan produksi dopamin alami.
Inilah awal kehancuran. Tanpa narkoba, hidup terasa hampa, gelisah, cemas,
bahkan putus asa. Akhirnya pemakai butuh dosis lebih banyak hanya untuk merasa
“normal”. Di sinilah kecanduan terbentuk—bukan karena lemahnya iman saja, tapi
karena struktur otak sudah berubah.
Kerusakan tidak berhenti di otak. Tubuh ikut
menanggung akibatnya. Narkoba memaksa jantung bekerja lebih keras, merusak
pembuluh darah, melemahkan hati (liver), ginjal, dan sistem kekebalan tubuh.
Tidur menjadi kacau, nafsu makan rusak, tubuh kurus atau justru bengkak, dan
luka kecil pun sulit sembuh. Tubuh seperti dipakai terus tanpa pernah diberi
waktu pulih.
Yang paling pelan tapi mematikan adalah kerusakan
mental dan kepribadian. Narkoba mengganggu bagian otak yang mengatur logika,
empati, dan kontrol diri. Orang yang dulu lembut bisa menjadi kasar. Yang jujur
bisa terbiasa berbohong. Rasa bersalah menipis, rasa malu hilang. Hubungan
dengan keluarga rusak, emosi meledak-ledak, dan pikiran bisa dipenuhi
kecurigaan, halusinasi, bahkan keinginan bunuh diri.
Lama-kelamaan, narkoba tidak hanya merusak tubuh
dan otak, tapi menggerogoti jiwa. Hidup berputar pada satu hal: mencari,
memakai, dan menutupi. Tidak ada lagi mimpi jangka panjang, tidak ada lagi rasa
damai yang utuh. Yang tersisa hanyalah ketergantungan dan kehampaan.
Inilah mengapa narkoba begitu berbahaya. Ia tidak
langsung membunuh, tapi mengambil manusia sedikit demi sedikit—kesadarannya,
akalnya, hatinya, dan akhirnya masa depannya.
Dampak narkoba tidak berhenti pada otak, tubuh,
dan mental seorang pecandu. Ia merembet keluar, merusak lingkungan sosial di
sekitarnya, sering kali dengan cara yang pelan tapi dalam. Satu orang yang
kecanduan bisa mengguncang banyak kehidupan lain.
Di dalam keluarga, pecandu narkoba hampir selalu
menjadi pusat konflik. Kepercayaan perlahan runtuh. Janji sering diingkari.
Orang tua, pasangan, atau anak hidup dalam cemas yang panjang—tak tahu kapan
kebohongan berikutnya datang, atau masalah apa lagi yang harus ditanggung.
Rumah yang seharusnya jadi tempat pulang berubah menjadi ruang penuh kecurigaan
dan lelah batin.
Di lingkungan pertemanan, pecandu mulai
terisolasi. Teman lama menjauh karena tidak sanggup menghadapi perubahan sikap,
emosi yang meledak-ledak, atau perilaku yang makin sulit dipahami. Sebaliknya,
ia justru mendekat pada lingkaran baru yang sama-sama rusak. Di sinilah narkoba
memperluas jaringnya, menciptakan komunitas semu yang saling menjerumuskan.
Dalam masyarakat, kehadiran pecandu sering
memunculkan rasa tidak aman. Pencurian kecil, penipuan, kekerasan, atau
tindakan nekat lainnya kerap terjadi demi memenuhi kebutuhan zat. Kepercayaan
sosial terkikis. Orang-orang mulai saling curiga. Solidaritas yang dulu kuat
perlahan melemah.
Yang paling menyedihkan, stigma sosial ikut
menguat. Pecandu sering dicap sebagai orang gagal atau rusak total. Akibatnya,
ketika mereka ingin berubah, jalan kembali terasa tertutup. Alih-alih dirangkul
untuk pulih, mereka justru didorong semakin jauh ke pinggir masyarakat. Ini
membuat lingkaran kecanduan makin sulit diputus.
Dalam konteks yang lebih luas, narkoba juga
menggerogoti nilai dan tatanan sosial. Uang haram bisa membeli pengaruh,
jabatan informal, bahkan penghormatan. Orang-orang mulai bingung membedakan
siapa yang layak diteladani. Ketika yang merusak justru diberi tempat,
masyarakat perlahan kehilangan kompas moralnya.
Narkoba bukan hanya persoalan individu. Ia adalah luka sosial. Ia memecah keluarga, merusak kepercayaan, dan mengubah wajah sebuah komunitas. Karena itu, melawan narkoba bukan semata urusan aparat atau korban, tetapi tanggung jawab bersama—agar lingkungan tetap manusiawi, dan harapan tidak habis sebelum sempat tumbuh kembali. Jadi say no, to narkoba. []
