Oleh: Siti Hajar
Bahaya utama
dari sibuk membandingkan hidup dengan orang lain adalah kita akan kehilangan
hubungan dengan diri sendiri. Hidup tak lagi dijalani secara sadar, tetapi
hidup dari layar. Apa yang lewat di FYP. Dari potongan hidup orang lain yang
sebenarnya tidak pernah utuh.
Di zaman modern,
FYP bekerja seperti etalase mimpi. Yang muncul bukan proses, bukan kegagalan,
bukan hari-hari biasa yang sepi dan melelahkan, melainkan versi terbaik,
tercepat, tercantik, tersukses. Saat itu dijadikan role model tanpa disadari,
standar hidup kita pun bergeser. Bukan lagi bertanya, “Apa yang bermakna
bagiku?” tapi “Mengapa hidupku tidak seperti mereka?”
Dari sini muncul
beberapa bahaya yang sering tidak disadari.
Pertama, distorsi
realitas. Kita mulai percaya bahwa hidup “normal” adalah hidup yang viral,
produktif tanpa lelah, selalu bahagia, selalu naik level. Padahal kehidupan
manusia sejatinya berjalan lambat, berulang, dan penuh jeda. Ketika realitas
pribadi tidak sejalan dengan gambaran di layar, muncullah rasa gagal—padahal
yang gagal bukan hidup kita, melainkan standar yang kita pakai.
Kedua, kelelahan
mental dan kecemasan kronis. Perbandingan sosial yang terus-menerus membuat
sistem saraf kita hidup dalam mode siaga. Selalu merasa tertinggal. Selalu
merasa kurang. Ini menjelaskan mengapa banyak orang di era digital tampak
“baik-baik saja” tapi di dalamnya lelah, cemas, dan kosong.
Ketiga, hilangnya
makna personal. Saat role model ditentukan algoritma, kita berhenti
mendengarkan suara batin. Padahal makna hidup tidak pernah lahir dari meniru,
tapi dari kesadaran akan konteks hidup sendiri—latar keluarga, luka, nilai,
iman, dan keterbatasan yang unik. Membandingkan hidup secara terus-menerus
membuat kita menjalani kehidupan orang lain dengan tubuh dan jiwa kita sendiri.
Ini melelahkan, dan sering berakhir pada kehampaan.
Keempat, krisis
identitas. Terutama bagi generasi muda, FYP menawarkan begitu banyak versi
“hidup ideal” sampai akhirnya tidak tahu lagi ingin menjadi siapa. Hari ini
ingin seperti A, besok seperti B. Identitas menjadi cair, rapuh, dan mudah
goyah oleh tren.
Jika ditarik
lebih dalam, ini berkaitan dengan satu hal mendasar: kita hidup di era
ketika validasi eksternal lebih cepat didapat daripada kedalaman makna.
Like, views, dan komentar menjadi penentu nilai diri. Padahal nilai manusia
tidak pernah bisa diukur dengan metrik algoritma.
Mungkin yang
perlu kita latih hari ini bukan sekadar self-improvement, tapi self-returning—kembali
ke diri sendiri. Bertanya dengan jujur: Apa definisi hidup cukup bagiku? Apa
yang sedang Allah titipkan untukku jalani, bukan untuk orang lain?
Tidak semua yang
lewat di FYP harus dijadikan cermin. Sebagian cukup menjadi tontonan, bukan
tuntunan. Karena hidup yang tenang bukan hidup yang paling mirip orang lain,
tapi hidup yang paling selaras dengan diri sendiri.
Jika ini
dikaitkan dengan kesadaran penuh makna dalam setiap sisi kehidupan, maka jika
masalah membandingkan hidup dengan orang lain menjadi jauh lebih dalam dari
sekadar iri atau minder. Ia menyentuh kesadaran kita saat menjalani hidup itu
sendiri.
Ketika niat
tidak kita sadari, hidup mudah terseret arus. Kita melakukan banyak hal, tapi
tidak benar-benar tahu mengapa kita melakukannya. Di titik inilah FYP
mengambil alih arah. Bukan lagi niat yang memimpin tindakan, melainkan reaksi.
Melihat orang lain sukses, lalu kita ikut bergerak. Melihat orang lain dipuji,
lalu kita meniru. Hidup menjadi responsif, bukan reflektif.
Intention
adalah jangkar makna. Ia menjawab pertanyaan sederhana tapi menentukan: “Untuk
apa aku melakukan ini?” Tanpa niat yang jernih, tindakan kehilangan ruh.
Kita bisa sangat sibuk, sangat produktif, bahkan terlihat “maju”, tapi di
dalamnya kosong karena tidak terhubung dengan nilai yang kita yakini.
Kesadaran penuh
makna lahir saat niat, pikiran, dan tindakan berada di satu garis. Apa
yang kita lakukan selaras dengan apa yang kita pahami, dan apa yang kita pahami
selaras dengan nilai hidup kita. Inilah yang sering rusak ketika hidup terlalu
sering dibandingkan. Perbandingan membuat niat bergeser: dari makna ke
pengakuan, dari proses ke hasil, dari kebermanfaatan ke citra.
Contohnya
sederhana. Menulis, misalnya. Dengan niat yang sadar, menulis adalah cara
merawat pikiran, berbagi kebaikan, dan meninggalkan jejak makna. Tapi ketika
niat berubah karena perbandingan—berapa view, siapa yang viral—menulis menjadi
beban. Bukan lagi ekspresi jiwa, melainkan tuntutan algoritma. Tindakannya
sama, tapi maknanya berbeda jauh.
Kesadaran penuh
(mindfulness) dalam hidup bukan berarti hidup lambat, tapi hidup dengan sadar.
Sadar bahwa tidak semua yang dilakukan orang lain perlu kita lakukan. Sadar
bahwa jalan hidup tidak harus paralel. Sadar bahwa setiap manusia berjalan
dengan waktu dan ujiannya sendiri.
Dalam perspektif
yang lebih spiritual, niat juga adalah arah batin. Ia menentukan nilai sebuah
perbuatan, bahkan sebelum hasilnya tampak. Ketika niat lurus, seseorang bisa
tetap tenang meski tidak terlihat “berhasil” di mata publik. Karena yang ia
kejar bukan sorotan, melainkan kebermaknaan.
Maka mungkin
pertanyaan penting yang perlu kita ajukan setiap kali tergoda membandingkan
diri adalah: Apakah ini benar-benar niatku, atau hanya reaksi dari apa yang
kulihat? Saat niat kembali disadari, hidup tidak lagi sibuk mengejar versi
orang lain. Ia menjadi perjalanan yang utuh, dijalani dengan penuh kesadaran,
satu langkah demi satu langkah—dan itu, sering kali, jauh lebih menenangkan.
Hubungannya
dengan Intensionality
Dalam filsafat
(terutama fenomenologi), intensionality berarti bahwa kesadaran manusia
selalu “menuju” sesuatu. Pikiran kita tidak pernah netral atau kosong. Ia
selalu terarah: kepada tujuan, makna, harapan, ketakutan, atau nilai tertentu.
Maka pertanyaannya bukan apakah kita punya arah, melainkan ke mana
kesadaran kita sedang diarahkan.
Di zaman FYP,
problemnya bukan sekadar distraksi, tapi pembajakan intensionalitas. Arah
kesadaran kita perlahan ditentukan oleh apa yang paling sering kita lihat.
Ketika hidup dipenuhi perbandingan, kesadaran kita tidak lagi mengarah pada
makna, melainkan pada posisi: posisi dibanding orang lain, posisi di
mata publik, posisi dalam statistik sosial.
Di sinilah
intensionality menjadi rusak. Tindakan masih ada, kesibukan masih ada, tapi arah
batinnya kabur. Kita belajar, bekerja, berkarya—namun bukan karena panggilan
atau nilai, melainkan karena takut tertinggal. Kesadaran yang seharusnya
mengarah pada being bergeser ke appearing.
Intensionality
yang sehat membuat hidup terasa utuh. Saat seseorang sadar mengapa ia melakukan
sesuatu, tindakannya mengandung makna meski tidak disorot. Ia bisa menerima
proses yang lambat karena kesadarannya terarah pada pertumbuhan, bukan
pembandingan. Ia bisa tenang di tengah keterbatasan karena orientasi batinnya
bukan pada apa yang orang lain punya, melainkan pada apa yang sedang ia jalani.
Sebaliknya,
intensionality yang tercemar oleh perbandingan melahirkan kegelisahan
eksistensial. Bukan karena hidupnya salah, tapi karena kesadarannya
terus-menerus diarahkan keluar, bukan ke dalam. Hidup dijalani sebagai
tontonan, bukan pengalaman.
Kesadaran penuh
makna terjadi ketika intensionality, intention, dan action saling menguatkan.
Niat memberi arah, intensionality menjaga fokus batin, dan tindakan menjadi
wujud nyata dari keduanya. Inilah kondisi ketika seseorang tidak mudah goyah
oleh FYP, karena ia tahu ke mana hidupnya sedang menuju.
Maka latihan
penting di zaman modern ini bukan hanya mengatur waktu layar, tapi mengembalikan
arah kesadaran. Bertanya dengan jujur dan berulang. Ke mana pikiranku sedang
diarahkan? Apakah ini selaras dengan nilai dan tujuan hidupku?
Ketika intensionality kembali jernih, hidup tidak harus selalu tampak “berhasil”. Cukup terasa bermakna—dan itu jauh lebih menenangkan daripada sekadar terlihat baik-baik saja. []
