Oleh: Siti Hajar
Dari buku ini kita diajak untuk fokus pada cara
kita belajar mengurangi overthinking dan kecemasan yang muncul karena terlalu
peduli terhadap penilaian orang lain.
Overthinking dan kecemasan kini menjadi dua
persoalan yang semakin sering dialami anak-anak dan remaja di era digital.
Keduanya kerap hadir tanpa disadari, menyelinap lewat kebiasaan sehari-hari:
membandingkan diri dengan orang lain, terlalu memikirkan penilaian sekitar, dan
tenggelam dalam pikiran sendiri terlalu lama.
Arus informasi yang deras, notifikasi yang tak
henti, serta standar sosial yang terus berubah membuat ruang batin anak-anak
jarang benar-benar tenang.
Overthinking mendorong seseorang untuk terus
memutar ulang peristiwa masa lalu atau membayangkan berbagai kemungkinan di
masa depan secara berlebihan. Di saat yang sama, kecemasan menjaga tubuh dan
emosi tetap waspada, seolah selalu ada ancaman yang menunggu. Keduanya saling
berkaitan dan saling menguatkan. Pikiran yang tak berhenti memicu rasa cemas,
sementara kecemasan membuat pikiran semakin sulit dikendalikan. Jika
berlangsung lama, kondisi ini dapat memengaruhi konsentrasi belajar, kualitas
tidur, relasi sosial, hingga cara anak-anak memandang dirinya sendiri.
Memahami overthinking dan kecemasan bukan sekadar
memberi nama pada gejala yang tampak, melainkan upaya melihat lebih dalam
bagaimana lingkungan digital membentuk cara berpikir dan merasakan. Di balik
pikiran yang ramai, sering kali tersembunyi kebutuhan dasar untuk merasa aman,
cukup, dan diterima. Kesadaran inilah yang menjadi pijakan penting untuk
memahami dan mendampingi anak-anak era digital dengan lebih bijak.
Berikut beberapa point penting dari Buku Karya
Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga ini:
1. Kebahagiaan bukan hasil dari pandangan
orang lain. Overthinking
sering muncul karena kita terlalu memikirkan apa yang orang lain pikirkan
tentang kita. Buku ini menekankan bahwa kebahagiaan sejati berasal dari rasa
penerimaan diri sendiri, bukan dari validasi eksternal. Artinya, kita bisa
mengurangi overthinking ketika kita berhenti menilai diri sendiri berdasarkan
opini orang lain.
2. Melepaskan beban ekspektasi sosial. Seringkali ketakutan akan penolakan atau
ekspektasi sosial membuat kita berputar dalam pikiran yang tidak produktif.
Belajar untuk menerima bahwa tidak semua hal harus mendapat persetujuan
orang lain, membantu kita memfokuskan perhatian pada nilai dan tujuan
pribadi.
3. Perubahan cara berpikir itu pilihan
yang aktif. Menurut buku
ini, kita bisa mengubah cara berpikir kita dengan sadar, bukan sekadar
membiarkan pikiran berputar begitu saja. Mengambil langkah sadar untuk mencoba
sudut pandang baru membantu kita keluar dari siklus overthinking.
4. Fokus pada tindakan, bukan hanya
analisis. Video ini
kemungkinan juga menekankan bahwa berhenti overthinking berarti lebih banyak
bertindak daripada sekadar berpikir. Ketika kita memusatkan energi pada
aktivitas nyata yang berarti, pikiran berlebihan tentang “apa yang bisa salah”
akan berkurang secara alami.
- Ketika
seseorang terlalu bergantung pada penilaian sosial, self-esteem menjadi
rapuh dan memicu overthinking.
- Pendekatan
ini mirip dengan prinsip terapi kognitif — mengidentifikasi dan
menantang keyakinan yang tidak membantu agar klien bisa lebih fokus
pada nilai diri mereka sendiri.
Tindakan kongkrit yang harus segera
ditinggalkan untuk hidup aman dari overthingking
Overthinking jarang berhenti karena “nasihat
menenangkan”, tapi karena perilaku tertentu dihentikan. Untuk mahasiswa
psikologi, ini penting: kita belajar bahwa perubahan kognitif hampir selalu
dimulai dari tindakan konkret.
Berikut beberapa tindakan nyata yang perlu segera
ditinggalkan jika ingin hidup lebih aman dari overthinking.
Pertama, berhenti mengulang kejadian masa lalu di kepala seolah bisa diubah. Ini
yang dalam psikologi disebut rumination. Otak dipaksa memutar ulang
adegan lama dengan harapan menemukan versi yang lebih baik, padahal secara
biologis otak tidak membedakan antara kejadian nyata dan imajinasi yang
diulang. Semakin sering diulang, semakin kuat jejak emosinya. Begitu pikiran mulai
dengan “coba tadi aku…”, hentikan. Itu bukan refleksi, itu jebakan.
Kedua, tinggalkan kebiasaan memprediksi pikiran orang lain. Ini mind reading
bias. Saat kita sibuk menebak “dia pasti menilai aku begini”, sebenarnya
kita sedang berbicara dengan versi imajiner orang lain di kepala kita sendiri.
Tidak ada data, hanya asumsi. Mahasiswa psikologi perlu sadar: asumsi yang
tidak diverifikasi adalah sumber kecemasan kronis.
Ketiga, berhenti mencari kepastian emosional sebelum bertindak. Banyak orang
menunggu “rasa yakin, tenang, siap” baru bergerak. Padahal dalam psikologi
perilaku, justru tindakan mendahului rasa. Menunggu pikiran tenang sebelum
bergerak hanya memperpanjang overthinking. Bergerak kecil dulu—pikiran akan
menyusul.
Keempat, tinggalkan kebiasaan scrolling tanpa tujuan saat pikiran lelah.
Overthinking sering disamarkan sebagai “istirahat”, padahal otak justru
dibanjiri stimulus. Dopamin naik turun cepat, perhatian terpecah, dan pikiran
makin tidak stabil. Ini bukan relaksasi, ini mental overload.
Kelima, berhenti menganggap semua pikiran harus dianalisis. Ini penting untuk
calon psikolog: tidak semua pikiran adalah pesan, sebagian hanyalah noise.
Pikiran muncul karena kelelahan, hormon, atau kebiasaan. Memberi makna berlebihan
pada setiap pikiran justru memperkuat overthinking.
Keenam, tinggalkan standar “harus sempurna atau tidak sama sekali”. Pola ini
membuat pikiran terus berputar mencari skenario terbaik dan teraman. Dalam
psikologi ini dikenal sebagai perfectionistic rumination. Aman bukan
berarti sempurna—aman berarti cukup dan berjalan.
Mulai saat ini mari kita berhenti melakukan hal-hal yang membuat pikiran
terus bekerja tanpa arah.
Overthinking dan kecemasan tidak selalu bisa
diselesaikan dengan nasihat singkat atau kalimat penenang. Keduanya menuntut
keberanian untuk melihat diri sendiri dengan lebih jujur, menyadari pola pikir
yang selama ini dipelihara, dan perlahan melepaskan beban yang sebenarnya tidak
harus kita bawa. Proses ini tidak instan, tetapi selalu mungkin dipelajari.
Buku Berani Tidak Disukai mengajak
pembacanya masuk ke dalam percakapan yang tenang namun menggugah, tentang
bagaimana manusia sering terjebak pada ketakutan akan penilaian orang lain dan
bagaimana kita bisa keluar dari lingkaran itu. Ia tidak menawarkan jalan
pintas, melainkan sudut pandang yang membuat kita berhenti sejenak dan
bertanya: pikiran mana yang perlu dipertahankan, dan mana yang justru perlu
ditinggalkan.
Karena itu, membaca buku ini secara langsung menjadi pengalaman yang layak dicoba. Bukan untuk mencari pembenaran, tetapi untuk membuka ruang refleksi. Siapa tahu, di antara halaman-halamannya, kita menemukan keberanian baru untuk hidup lebih ringan—tanpa terlalu sibuk dengan apa yang belum terjadi dan tanpa terus-menerus mengadili diri sendiri. []
