Otak yang Penuh karena Long Screen Time

 

Oleh:  Siti Hajar

 Refleksi Dari Judul Judul Podcast “Dokter Syaraf Spill Cara Balikin Otak yang Busuk

 Karena Kebanyakan Main Socmed.”

Saya menontonnya dengan perasaan tidak nyaman. Bukan karena saya menolak pembahasan tentang dampak media sosial. Justru sebaliknya. Isu ini penting. Mendesak. Terjadi di sekitar kita setiap hari. Yang membuat hati saya mengernyit adalah pilihan katanya. Menyebut otak—bagian tubuh yang sangat vital, pusat kesadaran, pusat pengambilan keputusan, pusat kemanusiaan—dengan kata “busuk”.

Bahasa itu terasa asing. Terasa kasar. Seolah manusia yang kelelahan oleh layar adalah sesuatu yang gagal, rusak, dan patut disalahkan. Padahal, di balik kebiasaan menggulir tanpa henti, sering kali ada cerita lain. Cerita tentang lelah. Tentang hidup yang berjalan terlalu cepat. Tentang dunia yang nyaris tidak memberi ruang berhenti.

Otak tidak membusuk. Otak bekerja. Ia belajar dari apa yang terus-menerus ia hadapi. Ia menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ketika lingkungan didominasi layar, notifikasi, dan arus informasi yang tak putus, otak beradaptasi ke arah itu. Bukan rusak. Bukan gagal. Hanya kewalahan.

Fenomena ini lahir dari zaman yang sangat stimulatif. Konten pendek. Perpindahan cepat. Selalu ada hal baru. Selalu ada yang lebih menarik di detik berikutnya. Dalam kondisi seperti ini, otak dilatih untuk sigap, bukan untuk bertahan. Terbiasa merespons, bukan mendalami. Setiap rasa bosan segera diberi jalan keluar. Jari bergerak. Layar berganti. Pikiran berpindah.

Dalam jangka panjang, pola ini membentuk cara perhatian bekerja. Fokus tidak lagi utuh. Ia terpecah. Melompat dari satu hal ke hal lain. Duduk lama dengan satu tugas terasa berat. Membaca perlahan terasa melelahkan. Bukan karena tidak mampu. Karena jarang diberi kesempatan untuk berlatih.

Dari sudut pandang psikologi klinis, kondisi ini sering disebut sebagai perhatian yang terfragmentasi. Bukan gangguan bawaan. Bukan kerusakan permanen. Melainkan pola kebiasaan yang terbentuk oleh lingkungan. Otak belajar bahwa berpindah cepat lebih “menguntungkan” daripada bertahan lama. Ada rangsangan. Ada sensasi. Ada kelegaan sesaat.

Gejalanya muncul perlahan. Tidak dramatis. Tidak langsung disadari. Mudah gelisah ketika tidak memegang ponsel. Sulit menyelesaikan satu pekerjaan tanpa jeda. Emosi lebih cepat naik. Tidur terganggu karena pikiran masih aktif. Ada rasa kosong setelah layar ditutup. Banyak orang tidak mengaitkan ini dengan screen time. Mereka menyebutnya lelah biasa. Stres. Kurang motivasi.

Anak-anak dan remaja lebih rentan. Otak mereka masih berkembang. Sistem pengendalian diri belum matang. Ketika sejak dini terbiasa dengan stimulasi cepat, mereka tumbuh dengan toleransi bosan yang sangat rendah. Duduk di kelas terasa menyiksa. Mendengar orang lain berbicara lama terasa membosankan. Bukan karena tidak sopan. Karena otak mereka terbiasa bergerak lebih cepat dari ritme dunia nyata.

Orang dewasa tidak kebal. Setelah hari yang panjang, layar menjadi pelarian. Tempat melepas penat. Tidak ada yang salah dengan itu. Masalah muncul ketika pelarian menjadi satu-satunya cara. Ketika jeda selalu diisi. Ketika keheningan terasa mengganggu.

Dalam kondisi seperti ini, menyebutnya “otak busuk” terasa tidak adil. Bahasa itu menutup ruang empati. Padahal yang kita hadapi adalah otak yang kelelahan oleh stimulasi berlebihan. Kesadaran yang jarang diberi ruang diam. Pikiran yang terus bekerja tanpa ritme istirahat yang sehat.

Kabar baiknya, kondisi ini bisa dicegah. Bisa diperlambat. Bisa dipulihkan. Otak manusia lentur. Ia belajar ulang ketika lingkungannya berubah. Yang dibutuhkan bukan hukuman, melainkan pengaturan ulang ritme hidup.

Mulainya sering sederhana. Mengurangi screen time secara bertahap. Menyepakati waktu tanpa gawai. Menghadirkan aktivitas yang dikerjakan satu per satu. Membaca tanpa target cepat. Menulis tangan. Bergerak dengan tubuh. Beribadah dengan hadir penuh. Membiarkan bosan lewat tanpa segera disingkirkan.

Kesadaran keluarga menjadi kunci. Perlu peka pada tanda-tanda kecil. Anggota keluarga yang semakin jarang menatap mata saat berbicara. Anak yang sulit berpisah dari ponsel. Remaja yang mudah tersinggung ketika diminta berhenti. Orang dewasa yang selalu terdistraksi. Ini bukan soal disiplin semata. Ini soal kesehatan mental bersama.

Mungkin yang perlu kita jaga bukan sekadar durasi layar. Melainkan kualitas hadir kita satu sama lain. Karena ketika satu anggota keluarga tenggelam terlalu lama di layar, sering kali itu mencerminkan ritme hidup yang kita bangun bersama. Terlalu cepat. Terlalu penuh. Terlalu sedikit jeda.

Maka alih-alih sibuk mencari cara “membalikkan otak yang disebut busuk”, barangkali yang lebih penting adalah menciptakan ruang agar tidak ada yang kelelahan sendirian. Menata ulang cara kita beristirahat. Cara kita hadir. Cara kita memanusiakan diri sendiri dan orang-orang terdekat.

Bahasa yang kita pilih penting. Karena dari sanalah kesadaran lahir. Bukan dari rasa takut. Bukan dari stigma. Melainkan dari pemahaman bahwa manusia tidak rusak. Ia hanya butuh ritme yang lebih ramah bagi pikirannya. []

Lebih baru Lebih lama