Oleh: Siti Hajar
Pernahkan kalian mengalami sebuah momen
kecil dalam hidup yang sering terasa canggung, seperti saat seseorang memuji
kita. Lidah ingin berkata apa adanya, tetapi hati khawatir dianggap
tinggi diri. Menolak pujian terasa
tidak sopan, menerimanya mentah-mentah pun takut disalahartikan. Di titik
inilah kebijaksanaan diuji, bukan pada apa yang kita capai, tetapi pada bagaimana
kita menempatkan diri ketika orang lain mengakuinya.
Namun sebelum
kita membahas cara kita merespon pujian, mengapa orang memberi kita pujian.
5 alasan umum mengapa orang memuji kita,
dilihat dari sisi psikologis dan sosial, agar kita bisa menyikapinya dengan
lebih bijak:
- Menghargai usaha dan proses yang kita
jalani
Banyak pujian lahir bukan hanya karena hasil akhir, tetapi karena orang lain melihat ketekunan, konsistensi, atau perjuangan di baliknya. Pujian menjadi bentuk pengakuan bahwa usaha itu terlihat dan dihargai. - Mengekspresikan kekaguman atau rasa
kagum yang tulus
Ada orang yang memuji karena benar-benar kagum—pada sikap, cara berpikir, kemampuan, atau karakter kita. Ini biasanya spontan dan tidak punya kepentingan tersembunyi. - Membangun kedekatan dan hubungan
sosial yang baik
Pujian sering digunakan sebagai jembatan sosial. Dengan memuji, seseorang ingin mencairkan suasana, menunjukkan niat baik, atau mempererat hubungan agar terasa lebih hangat dan setara. - Memberi dukungan dan motivasi
Kadang pujian diberikan saat seseorang tahu kita sedang lelah, ragu, atau berjuang. Pujian menjadi bentuk dukungan emosional agar kita merasa dilihat dan dikuatkan. - Mencerminkan nilai yang mereka anggap
penting
Orang sering memuji hal-hal yang menurut mereka bernilai. Jika seseorang memuji kejujuran, kesabaran, atau konsistensi kita, itu sering kali karena nilai itu penting bagi mereka—dan mereka melihatnya ada pada diri kita.
Pujian sejatinya adalah niat baik. Ia
lahir dari pengamatan, rasa kagum, atau terima kasih. Maka langkah pertama yang
paling bijak adalah menerimanya dengan lapang. Sebuah “terima kasih” yang tulus
sudah cukup. Tidak perlu kalimat panjang, tidak perlu penjelasan berlapis.
Contohnya, ketika seseorang berkata, “Tulisanmu bagus dan menyentuh,”
jawaban sederhana seperti “Terima kasih, saya senang kalau bisa sampai ke
pembaca” terdengar hangat tanpa membesarkan diri.
Kebijaksanaan berikutnya adalah mengembalikan
pujian pada proses, bukan ego. Ini bukan merendahkan diri, melainkan menyadari
bahwa apa pun yang kita miliki hari ini adalah hasil perjalanan, latihan, dan
sering kali bantuan banyak orang. Saat dipuji karena kinerja di tempat kerja,
misalnya, “Alhamdulillah, ini juga karena tim saling mendukung”
menunjukkan kedewasaan sekaligus rasa syukur.
Ada pula kebiasaan yang perlu dihindari,
yakni menolak pujian secara berlebihan. Kalimat seperti “Ah, saya ini tidak
ada apa-apanya” atau “Kebetulan saja” mungkin terdengar rendah hati,
tetapi bisa menutup niat baik orang lain. Menolak pujian sepenuhnya justru bisa
membuat lawan bicara merasa penilaiannya tidak dihargai. Sikap bijak berada di
tengah: menerima, lalu menyeimbangkan.
Bahasa tubuh sering kali berbicara lebih
jujur daripada kata-kata. Senyum ringan, nada suara tenang, dan kontak mata
yang wajar membuat respon apa pun terasa tulus. Sebaliknya, ekspresi berlebihan
atau gestur yang seolah menikmati pujian terlalu lama bisa menimbulkan kesan
sombong, meski kata-kata kita terdengar rendah hati.
Dalam konteks nilai dan keimanan, pujian
juga bisa disikapi sebagai pengingat amanah. Mengucap “Alhamdulillah, semoga
bisa terus bermanfaat” bukan sekadar ungkapan religius, tetapi penegasan
bahwa kemampuan bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dijaga dan digunakan
dengan baik.
Beberapa contoh respon bijak terhadap
pujian dalam situasi sehari-hari bisa membantu kita berlatih. Saat dipuji
penampilan, “Terlihat rapi hari ini,” kita bisa menjawab, “Terima
kasih, saya jadi lebih percaya diri hari ini.” Ketika dipuji sebagai orang
yang sabar, “Kamu sabar sekali,” jawaban seperti “Masih belajar,
semoga bisa konsisten” terdengar jujur dan membumi. Saat dipuji karena
prestasi anak, “Anakmu hebat,” respon “Alhamdulillah, doakan agar
tetap rendah hati” menjaga keseimbangan antara bangga dan bijak.
Tahukah kalian bahwa cara kita merespons
pujian mencerminkan cara kita memandang diri sendiri. Orang yang bijak tidak
takut menerima kebaikan, tetapi juga tidak menjadikannya singgasana. Pujian
diterima sebagai doa, sebagai pengingat, dan sebagai dorongan untuk tetap
berjalan lurus. Tidak meninggi, tidak pula mengecilkan diri. Cukup berdiri apa
adanya, dengan hati yang tenang. []
