Dalam dunia hypnoterapi,
istilah trance sering kali disalahpahami sebagai kondisi tidak sadar,
tertidur, atau bahkan sesuatu yang bersifat mistis. Padahal, trance justru merupakan keadaan kesadaran
yang sangat alami dan manusiawi. Sebagian praktisi menyebutnya sebagai theta
state—yang kadang terdengar di masyarakat sebagai “tetra”—yaitu kondisi
ketika aktivitas gelombang otak melambat dari beta menuju alpha dan theta. Pada
fase ini, tubuh menjadi lebih rileks, pikiran lebih fokus ke dalam, dan akses
terhadap pengalaman batin terbuka lebih luas.
Trance bukanlah kehilangan kendali. Seseorang yang
berada dalam trance tetap sadar, masih mampu mendengar, memahami, dan merespons
lingkungan. Yang berubah hanyalah arah perhatian. Jika dalam kesadaran
sehari-hari perhatian tersebar ke banyak hal di luar diri, maka dalam trance
perhatian menyempit dan mengarah ke dalam. Karena itu, kondisi ini sangat
efektif digunakan dalam terapi, terutama untuk menyentuh lapisan emosi dan
makna yang tersimpan di pikiran bawah sadar.
Sesungguhnya, manusia kerap masuk ke kondisi mirip
trance dalam kehidupan sehari-hari tanpa menyadarinya. Saat mengemudi jauh dan
tiba-tiba sudah sampai tujuan tanpa mengingat detail perjalanan, saat larut
membaca tulisan yang menyentuh, atau ketika menulis dengan perasaan mengalir
tanpa terasa waktu berlalu, itulah bentuk-bentuk trance ringan yang alami.
Hypnoterapi bekerja dengan memanfaatkan kondisi alami ini secara sengaja,
terarah, dan aman.
Berbagai keadaan emosi yang sering dialami
manusia—seperti sedih, bingung, kalut, melayang, nikmat, dan bahagia—sebenarnya
berkaitan erat dengan variasi keadaan kesadaran. Saat seseorang merasa sedih,
bingung, atau kalut, ia kerap berada dalam trance negatif spontan. Fokus
pikirannya menyempit pada tekanan, kehilangan, atau kebingungan, sementara
dialog batin yang melemahkan terus berulang. Gelombang otak bisa berada di
alpha atau theta, tetapi isi kesadarannya dipenuhi muatan emosional yang belum
selesai.
Sebaliknya, perasaan melayang, nikmat, dan bahagia
yang mendalam biasanya muncul dalam trance positif. Tubuh terasa ringan,
pikiran tenang, dan emosi mengalir tanpa beban. Dalam psikologi modern, kondisi
ini dekat dengan flow state, yaitu keadaan ketika seseorang sepenuhnya
hadir dalam pengalaman yang bermakna. Hypnoterapi memanfaatkan kedua jenis
kondisi ini, bukan untuk menekan emosi negatif, melainkan untuk memahami,
memproses, dan mentransformasikannya.
Dalam praktik hypnoterapi, trance digunakan
sebagai jembatan antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pada kondisi
ini, mekanisme pertahanan mental atau critical factor melemah, sehingga
seseorang lebih mudah mengakses akar emosi, ingatan lama, dan keyakinan yang
selama ini bekerja secara otomatis. Banyak luka psikologis dan pola respons
maladaptif tidak tersimpan di level logika, melainkan di lapisan bawah sadar.
Trance membuka pintu menuju wilayah tersebut.
Melalui bimbingan hipnoterapis, klien diajak
mengamati kembali emosi seperti sedih, takut, atau kalut dari jarak yang aman.
Emosi tidak dihindari, tetapi juga tidak dibiarkan menguasai. Di sinilah
terjadi proses penting: klien tidak lagi sekadar mengalami emosi, melainkan
menyadari dan memaknainya ulang. Pengalaman lama yang sebelumnya terasa
menyakitkan dapat diproses kembali tanpa memicu respons stres yang berlebihan.
Hypnoterapi juga memanfaatkan trance untuk
melakukan reframing atau pembingkaian ulang makna. Banyak penderitaan
bertahan bukan karena peristiwa itu sendiri, melainkan karena makna yang
tertanam sejak lama—merasa tidak berharga, tidak aman, atau selalu bersalah.
Dalam keadaan trance, makna-makna ini menjadi lebih lentur. Dengan bahasa
simbolik, imajinasi terpandu, dan dialog bawah sadar, terapis membantu klien
membangun pemaknaan baru yang lebih adaptif dan penuh belas kasih terhadap diri
sendiri.
Pada trance yang bersifat positif, terapi sering
menanamkan anchor emosional berupa rasa aman, tenang, dan berdaya.
Anchor ini menjadi semacam jangkar batin yang dapat diakses kembali oleh klien
dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat emosi negatif muncul. Dengan
demikian, proses penyembuhan tidak berhenti di ruang terapi, tetapi berlanjut
dalam keseharian.
Pada akhirnya, hypnoterapi tidak bekerja dengan
cara menghapus ingatan atau memanipulasi pikiran. Ia bekerja melalui integrasi:
menyatukan kesadaran, emosi, dan pengalaman hidup agar seseorang tidak lagi
dikendalikan oleh respons lama yang otomatis. Trance hanyalah pintu masuk.
Penyembuhan terjadi ketika makna baru tumbuh, emosi menemukan tempatnya, dan
individu kembali memiliki pilihan sadar dalam merespons hidup. []
