STIFIn merupakan akronim dari 5 Mesin Kecerdasan Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting yang menjelaskan tentang konsep untuk mengindentifikasi mesin kecerdasan dan karakter manusia berdasarkan sistem operasi otak yang dominan dengan cara memindai sidik jari yang disebut dengan Tes STIFIn.
Ketika aku menyadari bahwa diriku termasuk dalam golongan Insting menurut STIFIn, rasanya sangat tepat—ini benar-benar aku. Bukan semata tentang apa yang kupikirkan, melainkan tentang bagaimana tubuh dan perasaanku sering kali lebih dulu memahami.
Aku peka terhadap suasana, cepat menangkap perubahan emosi orang lain, mampu membaca situasi tanpa banyak penjelasan, dan kerap merasakan sesuatu yang “tidak enak” atau “tidak pas” bahkan sebelum muncul bukti logis. Kepekaan inilah yang membuatku sigap melindungi, mampu mengantisipasi, dan bergerak cepat saat dibutuhkan
Responsku cenderung spontan dan refleks. Aku tidak suka menunda terlalu lama karena keterlambatan terasa seperti ancaman. Itu membuatku terlihat gesit, cekatan, dan tanggap—meski kadang dinilai reaktif atau terburu-buru. Dalam relasi, naluriku protektif. Aku ingin orang-orang terdekat aman, secara fisik maupun emosional.
Naluri menjaga ini kuat, terutama pada keluarga dan mereka yang
kucintai. Jika berlebihan, aku bisa menjadi cemas atau terlalu mengontrol; di
situlah aku belajar menata diri.
Secara
emosional, aku sering kesulitan menjelaskan perasaan dengan kata-kata. Yang
hadir lebih dulu adalah sensasi dan dorongan, bukan narasi panjang. Aku lebih
mudah mengekspresikan rasa lewat tindakan. Namun aku juga tahu, kata-kata
adalah tanah tempatku mendarat. Menulis membantuku menenangkan sistem batin,
merapikan emosi, dan menciptakan rasa aman. Saat satu kalimat terasa “klik”,
ada lega yang dalam—seolah sesuatu yang lama menggantung akhirnya menemukan
pijakan.
Aku dikenal
tahan banting dalam krisis. Ketika orang lain panik, tubuh dan naluriku justru
menyala. Aku fokus, bergerak, mengambil peran. Namun di sisi lain, aku sangat
membutuhkan rasa aman dan stabilitas. Lingkungan yang terlalu tak pasti atau
relasi yang terasa mengancam membuatku mudah lelah, gelisah, atau defensif. Aku
belajar menghormati kebutuhan ini tanpa mematikan naluriku.
Singkatnya, aku
hidup dari naluri bertahan, kepekaan, dan respons cepat. Saat didukung rasa
aman dan ritme yang sehat, aku menjadi sosok yang setia, sigap, dan hadir
sepenuhnya bagi orang-orang di sekitarku.
Kebahagiaanku
sering muncul saat aku berhasil mendaratkan rasa menjadi kata. Dunia Instingku
bekerja di tubuh—dalam getaran, firasat, dan dorongan halus—maka kata-kata
tidak selalu datang mudah. Tapi ketika perasaan yang semula samar, penuh
tekanan, atau berisik di dalam berhasil kuterjemahkan menjadi kalimat yang pas,
ada kedamaian yang menyusup perlahan.
Soal pekerjaan,
aku paling hidup di ruang yang memberi kepekaan, respons cepat, dan dampak
nyata. Aku bergerak optimal ketika merasa dibutuhkan. Bidang pelayanan dan
pendampingan manusia—konseling, terapi, pendamping komunitas, kerja sosial,
kerelawanan, mengajar—membuatku bernapas lega. Aku juga kuat di peran yang
menuntut ketanggapan dan keputusan cepat: layanan kesehatan lapangan, tanggap
darurat, koordinasi kegiatan. Di operasional dan pengelolaan lapangan, aku
sering menjadi penjaga ritme dan keamanan sistem—tak selalu terlihat, tapi
menentukan kelancaran.
Menulis
reflektif dan kisah human interest juga menjadi rumah bagiku. Bukan demi
tampil, melainkan demi merawat batin dan memberi makna pada pengalaman. Saat
tulisanku menyentuh orang lain, aku tahu peranku nyata.
Aku jarang
menyala oleh rencana panjang. Aku menyala oleh panggilan situasi. Ketika ada
keadaan yang memanggil—ada yang perlu dijaga, diselamatkan, diurus, atau
diwakili—naluriku aktif. Tubuhku lebih cepat dari pikiranku, dan di momen
tiba-tiba itu energi hidup mengalir deras.
Karena itulah
aku bisa tiba-tiba menjadi relawan—karena ada kebutuhan nyata dan situasi
genting. Aku bisa tiba-tiba dipercaya memimpin grou—karena naluri menjaga ritme
dan keamanan muncul alami. Aku bisa tiba-tiba menulis—karena rasa yang menumpuk
harus mendarat agar batinku tenang. Itu bukan inkonsistensi; itu adaptivitas
naluriah.
Aku tidak
bergerak karena ambisi “ingin jadi apa”. Aku bergerak karena satu kalimat
sederhana: “aku dibutuhkan di sini.” Dan ketika sudah bergerak, gairah
hadir—bukan euforia kosong, melainkan rasa hidup yang utuh, seperti tubuh yang
menemukan fungsi alaminya.
Aku sering
disalahpahami sebagai plin-plan. Padahal aku setia pada makna, bukan pada
label. Satu hal penting yang kupelajari agar tidak lelah: aku perlu mendarat
setelah melonjak. Menulis, refleksi, diam sejenak, atau berbagi cerita adalah
caraku menutup siklus. Tanpanya, energi bocor menjadi capek dan over-giving.
Kini aku tenang.
Aku bukan “tiba-tiba ini itu”. Aku hidup sesuai panggilan naluriku—dan itu
indah, selama aku juga memberi diriku izin untuk berhenti dan bernapas.
