Oleh: Siti Hajar
Secara
psikologis dan neurobiologis, empati membuat otak bekerja ekstra. Ketika kita
berempati, otak—terutama sistem limbik dan area mirror neurons—ikut “merasakan”
emosi orang lain seolah itu pengalaman kita sendiri. Jika ini terjadi
terus-menerus tanpa jeda, tubuh masuk ke kondisi empathic distress:
kelelahan emosional, tegang, sulit fokus, bahkan mati rasa. Bukan karena kita
tidak peduli, tetapi karena sistem saraf kita kewalahan memproses terlalu
banyak beban emosional sekaligus.
Lalu, apakah
pengabaian menjadi pilihan?Pengabaian bukanlah solusi yang sehat.
Mengabaikan sepenuhnya justru bisa mengeraskan hati dan menjauhkan kita dari
kemanusiaan. Namun, yang sering disalahpahami adalah perbedaan antara tidak
peduli dan memberi jarak yang sehat. Menutup diri sepenuhnya memang
mengurangi lelah, tetapi juga mengikis empati itu sendiri.
Yang lebih tepat
adalah menyeimbangkan empati dengan regulasi diri. Kita perlu beralih
dari empati yang menyerap (emotional empathy) ke empati yang matang
(compassionate empathy). Artinya, kita tetap peduli, tetapi tidak larut hingga
kehilangan diri sendiri. Kita membantu sebatas kemampuan, berdoa tanpa merasa
harus menyelamatkan semuanya, dan sadar bahwa tidak semua penderitaan harus
kita tanggung sendiri. Dalam keseimbangan ini, empati tetap hidup, tetapi jiwa
kita tidak runtuh.
Dengan kata
lain, bukan mengabaikan, melainkan mengatur cara peduli. Karena empati
yang sehat bukan yang membuat kita habis, tetapi yang membuat kita tetap utuh
saat hadir untuk orang lain.
Mengatur cara
peduli. bagaimana batas empati yang aman dan bagaimana rilis setelah menguras
empati.
Inti dari empati
yang dewasa dan berdaya. Peduli tidak harus membuat kita hancur. Berikut
penjelasan yang bisa kamu jadikan kerangka berpikir—atau bahkan bahan artikel
utuh.
1. Mengatur
Cara Peduli: Peduli Tanpa Menyerap
Mengatur cara
peduli dimulai dari kesadaran bahwa kita bukan sumber solusi untuk semua
penderitaan. Peduli bukan berarti ikut tenggelam. Saat mendengar cerita
duka, latih diri untuk berkata dalam batin: “Ini adalah rasa sakit mereka,
bukan milikku, tapi aku hadir.”
Secara psikologis, ini disebut emotional boundary—batas emosi yang
membuat kita tetap terhubung tanpa kehilangan identitas diri. Peduli boleh,
larut tidak wajib.
Cara praktisnya:
batasi durasi terpapar cerita berat, pilih satu bentuk bantuan yang realistis
(doa, donasi, atau mendengar), dan berhenti ketika tubuh memberi sinyal
lelah—tegang, sesak, atau mati rasa.
2. Batas
Empati yang Aman: Saat Hati Tetap Lembut, Tubuh Tetap Stabil
Empati yang aman
adalah empati yang tidak mengorbankan fungsi hidup kita sendiri. Jika
setelah peduli kamu tidak bisa tidur, mudah marah, kehilangan fokus, atau
merasa bersalah saat berhenti membantu, itu tanda batas sudah terlewati.
Batas empati
bukan tanda egois, melainkan tanda kedewasaan emosional. Kita perlu mengingat
bahwa menjaga diri juga bagian dari tanggung jawab moral. Orang yang
kelelahan empati justru tidak akan mampu menolong siapa pun dalam jangka
panjang.
3. Rilis
Setelah Empati Terkuras: Mengembalikan Energi Emosional
Empati menguras
energi, maka ia perlu dirilis. Rilis bukan melupakan, tetapi melepaskan
beban yang bukan milik kita.
Beberapa cara
rilis yang aman dan sehat:
- Sadari tubuh: tarik napas dalam, rasakan
kaki menapak, sentuh sesuatu yang nyata. Ini membantu sistem saraf kembali
ke kondisi tenang.
- Verbal release: tulis atau ucapkan, “Aku
sudah melakukan bagianku.” Kalimat ini sangat menenangkan otak.
- Spiritual release: serahkan kembali semua
rasa berat kepada Allah. Dalam iman, kita diajarkan bahwa hanya Allah
pemilik kuasa penuh, kita hanyalah perantara kebaikan.
- Aktivitas grounding: berjalan, minum air
hangat, berwudhu, atau duduk diam tanpa gawai.
4. Prinsip
Kunci: Dari Empati ke Welas Asih
Empati yang
tidak dikelola membuat kita lelah. Welas asih (compassion) justru
membuat kita kuat.
Empati berkata, “Aku
ikut merasakan sakitmu.”
Welas asih
berkata, “Aku peduli dan mendoakanmu, tapi aku tetap berdiri.”
Di titik inilah
peduli menjadi ibadah, bukan beban.
Kita perlu jujur pada diri sendiri bahwa tidak semua beban harus kita pikul sendirian. Ada batas yang perlu dijaga agar kita tetap bisa menjalani hidup dengan utuh—bekerja dengan baik, hadir untuk keluarga, dan menjaga kesehatan jiwa raga. Peduli tetap penting, tetapi kehilangan diri sendiri bukanlah syarat untuk disebut berempati. Kita membantu semampu yang kita bisa, lalu berhenti tanpa rasa bersalah. Selebihnya kita serahkan kepada Allah, karena hanya Dia yang memiliki kuasa penuh atas segala urusan, dan kepada-Nya pula tempat paling layak untuk menitipkan semua yang tidak sanggup kita kendalikan.[]
