Oleh: Siti Hajar
Masa remaja
adalah saat otak berkembang pesat, terutama bagian prefrontal cortex
yang mengatur kemampuan berpikir, pengambilan keputusan, dan kontrol diri.
Bagian ini belum sepenuhnya matang, sehingga remaja lebih mudah terpengaruh
oleh rangsangan instan, termasuk gadget. Ketika remaja terlalu banyak bermain
game, menonton video, atau aktif di media sosial, otak mereka sering menerima
“hadiah cepat” berupa dopamin, zat kimia yang memberi sensasi senang.
Setiap
notifikasi, like, atau kemenangan game membuat otak melepaskan dopamin. Seiring
waktu, otak belajar bahwa kebahagiaan datang dari stimulus cepat ini, bukan
dari kesabaran atau usaha panjang. Akibatnya, remaja menjadi kurang sabar,
cepat bosan dengan aktivitas yang tidak memberi sensasi instan, dan cenderung
mencari kepuasan segera.
Selain itu,
stimulasi layar terus-menerus membuat otak sulit fokus pada tugas yang
membutuhkan perhatian lama, seperti belajar atau membaca buku. Pola tidur juga
terganggu karena cahaya biru dari layar menekan hormon melatonin yang mengatur
ritme tidur. Kurangnya tidur ini membuat otak dan tubuh tidak punya waktu optimal
untuk memulihkan energi dan memproses memori.
Dampak lain
terlihat pada emosi dan interaksi sosial. Remaja yang terlalu terpaku pada
gadget sering mengalami kesulitan mengatur emosi. Sistem limbik—bagian otak
yang mengatur rasa takut, cemas, dan marah—menjadi lebih dominan daripada
prefrontal cortex, sehingga mereka lebih mudah frustrasi atau gelisah saat
tidak bisa menggunakan gadget. Mereka juga cenderung menarik diri dari
interaksi nyata karena otak lebih terbiasa dengan dunia maya yang memberi
kepuasan instan.
Bayangkan otak
remaja seperti hutan yang penuh jalur. Semakin sering gadget digunakan, jalur
“dopamin cepat” menjadi lebar dan jelas, sedangkan jalur kesabaran, fokus, dan
kontrol diri menjadi sempit dan jarang dilalui.
Gejala
Kecanduan Gadget
Kecanduan gadget
tidak selalu terlihat dari satu hal saja. Gejalanya bisa muncul secara fisik,
psikologis, sosial, dan perilaku, dan sering bertahap.
Secara fisik,
remaja bisa sering merasa mata lelah, sakit kepala, leher dan punggung pegal,
serta mengalami perubahan pola makan atau berat badan karena kurang aktivitas
fisik.
Secara
psikologis, muncul rasa gelisah, cemas, atau frustrasi ketika gadget tidak
tersedia. Mereka bisa merasa bosan dengan kegiatan offline, sulit
berkonsentrasi, dan terlalu bergantung pada hiburan instan.
Secara sosial,
kecanduan gadget membuat remaja lebih memilih interaksi virtual dibanding tatap
muka. Mereka bisa menarik diri dari keluarga, jarang ikut kegiatan sosial, dan
lebih nyaman berada di dunia maya daripada di dunia nyata.
Secara
perilaku, tanda paling jelas adalah menghabiskan waktu berjam-jam untuk
gadget, mengabaikan tanggung jawab sekolah atau rumah, dan bahkan berbohong
tentang aktivitas digital mereka. Semua ini menandakan bahwa gadget telah
menjadi pusat perhatian yang sulit dikendalikan.
Cara
Mengatasi Kecanduan Gadget
Mengatasi
kecanduan gadget bukan soal melarang total, karena larangan keras sering
memicu perlawanan atau kebohongan. Pendekatan yang lebih efektif adalah mengatur
kebiasaan dan membangun kesadaran diri.
Pertama,
atur waktu penggunaan gadget. Tetapkan batas harian yang realistis, misalnya
satu sampai dua jam untuk hiburan setelah semua tugas selesai. Gunakan aplikasi
atau mode fokus untuk membantu remaja menghentikan diri sebelum kecanduan
semakin parah.
Kedua,
alihkan perhatian ke aktivitas positif. Olahraga, membaca, bermain musik, atau
hobi kreatif membantu otak menemukan kepuasan tanpa gadget. Aktivitas keluarga
seperti makan bersama, jalan santai, atau permainan papan bisa memperkuat
ikatan sekaligus mengurangi ketergantungan pada layar.
Ketiga,
bangun kesadaran diri. Ajari remaja untuk memperhatikan perasaan mereka saat
menggunakan gadget—apakah mereka benar-benar senang atau hanya bosan? Mencatat
aktivitas gadget harian atau membuat jurnal kecil membantu mereka mengenali
pola kecanduan dan belajar mengendalikannya.
Keempat,
jadilah teladan. Anak meniru orang dewasa. Orang tua yang sering terpaku pada
layar sulit mengajarkan kontrol diri. Menunjukkan penggunaan gadget yang sehat
akan membuat remaja lebih mudah mengikuti.
Kelima,
gunakan reward, bukan hukuman. Beri pujian ketika remaja berhasil
membatasi waktu gadget atau aktif melakukan kegiatan offline. Ini membantu otak
mereka mengasosiasikan kontrol diri dengan pengalaman positif.
Kapan Harus
Mengunjungi Profesional
Kadang,
intervensi mandiri tidak cukup. Ada saatnya remaja perlu bantuan profesional,
terutama jika kecanduan gadget mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pertanda yang
perlu diwaspadai termasuk gangguan emosi berat, sulit tidur, penurunan prestasi
sekolah, isolasi sosial, atau perilaku ekstrem seperti berbohong, mengabaikan
diri sendiri, atau selalu ingin online.
- Konselor sekolah bisa menjadi langkah awal,
memberikan bimbingan dan strategi manajemen waktu yang ringan namun
efektif.
- Psikolog klinis dibutuhkan jika perilaku
atau emosi terganggu lebih dalam, dengan terapi perilaku atau konseling
intensif.
- Psikiater menjadi pilihan ketika gejala
psikologis sangat serius, atau diperlukan evaluasi medis dan obat-obatan.
Kecanduan gadget
bukan kesalahan remaja. Ini bagian dari bagaimana otak mereka belajar dari
rangsangan instan. Dengan pemahaman, kesabaran, dan dukungan, remaja bisa
belajar menyeimbangkan dunia digital dan dunia nyata, membangun kontrol diri,
dan menemukan kembali kesenangan dalam kehidupan sehari-hari. []
