Istilah
“kepribadian ganda” telah lama beredar di ruang publik dan media populer,
sering kali disertai narasi sensasional yang menjauhkan pemahaman dari realitas
klinisnya. Dalam psikologi modern, istilah yang digunakan adalah Dissociative
Identity Disorder (DID) atau Gangguan Identitas Disosiatif. DID bukan fenomena
mistis, bukan pula bentuk akting atau kelemahan karakter, melainkan gangguan
psikologis yang berakar pada pengalaman traumatis yang berat dan berulang. Artikel
ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang DID dengan
pendekatan sub bab konseptual, epidemiologis, klinis, dan reflektif—agar
pembaca, khususnya calon psikolog, mampu memandang DID secara ilmiah sekaligus
empatik.
Dissociative
Identity Disorder adalah gangguan disosiatif yang ditandai oleh keberadaan dua
atau lebih keadaan identitas (identity states) yang relatif terpisah dalam satu
individu. Keadaan identitas ini dapat memiliki pola persepsi, afeksi, memori,
dan respons yang berbeda. Peralihan antar keadaan identitas umumnya terjadi di
luar kendali sadar individu dan sering disertai amnesia disosiatif, yakni
kesenjangan ingatan terhadap peristiwa sehari-hari, informasi personal penting,
atau pengalaman traumatis.
Konsep
kunci dalam DID adalah disosiasi. Disosiasi dipahami sebagai mekanisme
pertahanan psikologis ketika pengalaman internal atau eksternal dirasakan
terlalu menyakitkan untuk diintegrasikan secara utuh ke dalam kesadaran. Dalam
konteks perkembangan, disosiasi pada tingkat ringan dapat bersifat adaptif;
namun pada tingkat berat dan kronis—terutama bila terjadi sejak masa
kanak-kanak—disosiasi dapat berkontribusi pada fragmentasi identitas.
Penting
untuk membedakan DID dari variasi kepribadian normal. Banyak individu
menampilkan peran sosial yang berbeda sesuai konteks (misalnya di rumah dan di
tempat kerja). Pada DID, perbedaan tersebut bersifat kualitatif, disertai
gangguan integrasi memori dan identitas, serta menimbulkan distres atau
gangguan fungsi yang signifikan.
Secara
epidemiologis, DID termasuk gangguan yang relatif jarang, tetapi bukan luar
biasa langka. Berbagai penelitian populasi memperkirakan prevalensi DID pada sekitar
1–1,5% populasi umum dewasa. Angka ini menunjukkan bahwa DID dapat ditemukan di
masyarakat luas, meskipun sering kali tidak terdeteksi.
Dalam
konteks layanan kesehatan jiwa, prevalensi DID dilaporkan lebih tinggi. Pada
populasi klinis—khususnya pasien rawat jalan atau rawat inap psikiatri—proporsi
gangguan disosiatif berat, termasuk DID, dapat mencapai beberapa persen dari
keseluruhan pasien. Perbedaan ini mencerminkan bias rujukan dan fakta bahwa
individu dengan DID lebih mungkin mencari bantuan saat gejalanya mengganggu
fungsi.
Distribusi
diagnosis DID juga bervariasi antar wilayah dunia. Negara-negara dengan sistem
layanan kesehatan mental yang mapan dan pelatihan klinis yang kuat cenderung
melaporkan lebih banyak kasus. Sebaliknya, di banyak wilayah lain, DID diduga kurang
terdiagnosis karena keterbatasan akses layanan, stigma, serta kecenderungan
melabeli gejala disosiatif sebagai gangguan lain. Oleh karena itu, angka
epidemiologi DID harus dibaca secara hati-hati sebagai estimasi, bukan
representasi pasti dari kejadian sesungguhnya.
Perbedaan
angka diagnosis DID tidak semata-mata mencerminkan perbedaan kejadian, tetapi
juga dipengaruhi oleh konteks budaya dan praktik klinis. Pertama, kerangka
pemahaman trauma berbeda-beda antar budaya. Gejala disosiatif dapat dimaknai
sebagai keluhan fisik, gangguan spiritual, atau masalah perilaku, sehingga
tidak selalu dibawa ke layanan kesehatan mental.
Kedua, stigma
terhadap gangguan jiwa dapat menghambat pengungkapan gejala. Individu mungkin
menyembunyikan pengalaman disosiatif karena takut dinilai berlebihan atau tidak
rasional. Ketiga, misdiagnosis kerap terjadi; DID sering keliru didiagnosis
sebagai gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, gangguan kepribadian, atau
gangguan psikotik, terutama bila asesmen trauma tidak dilakukan secara
menyeluruh.
Konsensus
ilmiah menempatkan trauma berat dan berulang pada masa kanak-kanak sebagai
faktor etiologis utama DID. Trauma tersebut dapat berupa kekerasan emosional,
fisik, atau seksual, pengabaian kronis, serta hidup dalam lingkungan yang tidak
aman tanpa figur pelindung yang konsisten. Yang menentukan bukan hanya
peristiwa traumatisnya, tetapi juga ketiadaan dukungan saat trauma terjadi.
Dalam
kondisi tersebut, disosiasi berfungsi sebagai strategi bertahan hidup. Anak
yang belum memiliki kapasitas kognitif dan emosional matang memisahkan
pengalaman yang tak tertahankan agar tetap dapat berfungsi. Seiring waktu,
bagian-bagian pengalaman yang terpisah ini dapat berkembang menjadi keadaan
identitas yang relatif mandiri.
Faktor
individual turut berperan. Kerentanan sistem saraf, sensitivitas emosional, dan
kemampuan disosiatif bawaan memengaruhi mengapa tidak semua individu yang
mengalami trauma mengembangkan DID. Dengan demikian, DID muncul dari interaksi
kompleks antara trauma dan kerentanan individu, bukan dari satu sebab tunggal.
Pendekatan
fenomenologis mengajak kita memahami DID dari sudut pandang penyintas. Banyak
individu dengan DID menggambarkan hidup sebagai upaya terus-menerus untuk
menjaga kesinambungan diri di tengah fragmentasi pengalaman. Perpindahan
keadaan identitas dapat terjadi saat stres meningkat, dan amnesia disosiatif
sering menimbulkan kebingungan serta rasa kehilangan kendali.
Dalam
perspektif ini, pemulihan tidak selalu dimaknai sebagai “hilangnya” identitas
lain, melainkan integrasi fungsi dan kesadaran. Banyak penyintas menyatakan
bahwa mereka mungkin tidak sepenuhnya “sembuh”, tetapi menjadi lebih sadar,
stabil, dan berdaya dalam mengelola diri. Pemahaman ini penting agar
profesional tidak memaksakan definisi kesembuhan yang tidak realistis.
Sebagai
ilustrasi fenomenologis—bukan untuk sensasionalisme atau peneguhan
diagnosis—pengalaman seorang figur publik Indonesia, Marshanda, kerap dirujuk
dalam diskursus kesehatan mental. Melalui pernyataan terbukanya di ruang
publik, ia mengisahkan pengalaman hidup dengan gangguan disosiatif, proses
terapi yang panjang, serta pemahaman bahwa pemulihan adalah perjalanan
berkelanjutan. Dalam narasinya, ia menekankan peningkatan kesadaran diri,
pengenalan pemicu, dan pengelolaan stres sebagai bagian penting dari hidup
sehari-hari.
Dari sudut
pandang fenomenologi, kisah ini memperlihatkan bagaimana DID dialami sebagai proses
hidup, bukan sekadar kategori diagnosis. Pengalaman tersebut juga menunjukkan
bahwa bagi sebagian penyintas, “sembuh” tidak selalu berarti ketiadaan gejala,
melainkan kemampuan untuk hidup lebih terintegrasi, fungsional, dan berdaya.
Bagi calon psikolog, contoh ini menegaskan pentingnya mendengarkan narasi
klien, menghormati batasan publik-privat, serta menghindari reduksi pengalaman
manusia menjadi label semata.
Penanganan
DID berfokus pada terapi psikologis jangka panjang berbasis trauma. Prinsip
umumnya mencakup peningkatan rasa aman, stabilisasi emosi, pemrosesan trauma
secara bertahap, dan integrasi identitas. Pendekatan ini menuntut kesabaran,
konsistensi, serta hubungan terapeutik yang kuat.
Penting
ditegaskan bahwa tujuan terapi bukan menghapus bagian-bagian diri, melainkan
membantu individu mengintegrasikan pengalaman sehingga tidak lagi terpecah saat
menghadapi stres. Pendekatan yang terburu-buru atau konfrontatif berisiko
memperburuk disosiasi.
Bagi calon
psikolog, pemahaman DID menuntut keseimbangan antara ketelitian ilmiah dan
empati. Profesional perlu menghindari stigma, sensasionalisme, serta
kecenderungan overdiagnosis. Asesmen yang cermat, pemahaman trauma, dan sikap
non-menghakimi merupakan fondasi kerja klinis dengan gangguan disosiatif.
Lebih jauh,
DID mengingatkan bahwa di balik gejala yang kompleks terdapat sejarah luka dan
ketahanan manusia. Memahami hal ini membantu psikolog menjaga sikap rendah
hati, empatik, dan bertanggung jawab secara etis.
Dissociative Identity Disorder adalah cermin dari bagaimana jiwa manusia beradaptasi terhadap penderitaan yang ekstrem. Epidemiologi memberikan gambaran skala, teori menjelaskan mekanisme, dan fenomenologi mengungkap pengalaman hidup penyintas. Dengan memadukan ketiganya, psikologi tidak hanya menjadi ilmu yang menjelaskan, tetapi juga praktik yang memanusiakan. Ulasan ini diharapkan menjadi landasan bagi pembaca untuk memahami DID secara komprehensif—ilmiah, kritis, dan berempati. []
