Refleksi Kajian Rujak Kami

 

Oleh: Siti Hajar

Aku mengikuti sebuah kajian yang memperkenalkan kami pada satu istilah yang berasal dari huruf awalnya. Ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: RUJAK—Ruh, Uang, Jasmani, Akademik, dan Keluarga. Lima unsur ini diposisikan sebagai penopang hidup. Bukan untuk dinilai baik atau buruk, melainkan untuk ditengok apa adanya. Sebab kegelisahan sering kali muncul bukan karena hidup kurang, melainkan karena ada bagian yang luput dirawat.

Pada sesi itu, kami diajak jujur. Bukan jujur untuk terlihat kuat, tetapi jujur untuk mengenali di mana letak rapuh yang selama ini disimpan.

Tentang ruh, pembicaraan tidak berhenti pada seberapa sering ibadah dilakukan, tetapi pada kualitas kehadiran hati. Ada fase ketika ibadah terasa ringan, mengalir, dan menenangkan. Ada pula masa ketika ia terasa berat dan sekadar menggugurkan kewajiban. Di titik ini, keresahan muncul: apakah ruh benar-benar diberi ruang untuk bertumbuh, atau hanya dibiarkan berjalan seadanya? Kajian itu mengingatkan bahwa peningkatan ruhiyah bukan selalu tentang menambah amalan, melainkan tentang memperbaiki kesadaran saat menjalankannya. Tentang bagaimana doa bukan sekadar permintaan, tetapi juga pengakuan akan keterbatasan diri.

Uang dibahas dengan nada yang lebih jujur daripada biasanya. Bukan soal berapa jumlahnya, melainkan bagaimana perasaan seseorang terhadap uang. Ada yang merasa cukup tetapi tetap cemas, ada yang pas-pasan namun bisa tidur tenang. Keresahan sering muncul ketika kebutuhan mendesak datang di luar rencana. Dalam kondisi seperti itu, muncul kesadaran bahwa uang bukan hanya alat tukar, tetapi juga berkaitan dengan rasa aman. Kalimat “insyaallah masih ada tempat berutang” terdengar sederhana, tetapi menyimpan realitas tentang ketergantungan sosial, kepercayaan, dan kerentanan manusia. Uang akhirnya tidak lagi dibicarakan sebagai simbol sukses, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar hidup.

Pada aspek jasmani, pembahasan terasa sangat dekat. Tubuh yang setiap hari diajak bekerja, berpikir, dan melayani, sering kali hanya diminta patuh tanpa pernah ditanya keadaannya. Kurang tidur dianggap biasa, lelah dianggap wajar, dan sakit sering ditunda. Keresahan muncul ketika tubuh mulai memberi tanda, sementara kita baru menyadari betapa lama ia diabaikan. Kajian ini menegaskan bahwa menjaga jasmani bukan bentuk memanjakan diri, melainkan tanggung jawab. Sebab tubuh adalah alat utama untuk menjalani peran-peran lain dalam hidup.

Akademik dibahas bukan hanya dalam konteks capaian, tetapi juga kebermaknaan. Ada yang masih berjuang menyelesaikan target, ada yang merasa tertinggal dari rekan sebayanya, dan ada pula yang mulai mempertanyakan arah. Keresahan muncul ketika akademik terasa menjadi beban, bukan sarana bertumbuh. Di sini kami diajak melihat ulang: apakah proses belajar masih memberi makna, atau sekadar memenuhi tuntutan? Akademik idealnya tidak menjauhkan seseorang dari dirinya sendiri, tetapi justru membantu memahami peran dan kontribusi yang ingin diberikan.

Pada bagian keluarga, pembahasan menjadi sangat personal. Keluarga adalah ruang tempat seseorang belajar menjadi diri sendiri, sekaligus tempat luka paling mudah terbentuk. Ada hubungan yang terasa hangat, ada pula yang diwarnai jarak dan salah paham. Keresahan sering muncul dari peran yang terasa berat, komunikasi yang tidak berjalan sebagaimana harapan, atau tuntutan yang tak pernah diucapkan secara terang. Kajian ini tidak menghakimi kondisi keluarga siapa pun, tetapi mengajak melihatnya sebagai amanah yang terus diupayakan, bukan kondisi yang selalu ideal.

Bagi saya, ruang kajian RUJAK ini sejatinya adalah ruang berbincang dari hati ke hati. Tidak ada yang merasa paling benar, tidak ada yang merasa paling berat bebannya. Kami duduk setara sebagai manusia yang sama-sama sedang belajar memahami hidupnya sendiri.

Suasana itu menjadi semakin bermakna ketika kajian tidak berhenti pada diskusi, tetapi dilengkapi dengan satu kegiatan inti: mengaji lima ayat Al-Qur’an. Kami membacanya bersama, perlahan, lalu menengok maknanya. Dari sana, kami mencoba menafsirkan sesuai pemahaman dan pengalaman masing-masing. Tidak untuk menyimpulkan siapa yang paling tepat, tetapi untuk saling mendengar bagaimana ayat yang sama bisa menyentuh sisi hidup yang berbeda.

Di momen itulah, RUJAK tidak lagi sekadar konsep. Ruh menemukan ruangnya melalui ayat-ayat yang dibaca. Uang, jasmani, akademik, dan keluarga terasa lebih jujur dibicarakan karena kami menautkannya pada nilai, bukan sekadar keluhan. Al-Qur’an hadir bukan sebagai teks yang menggurui, tetapi sebagai cermin yang membantu kami melihat diri sendiri dengan lebih jernih.

Kajian RUJAK ini tidak menawarkan jawaban cepat. Tidak ada resep yang bisa langsung diterapkan. Namun ia memberi ruang untuk berhenti sejenak dan melihat hidup secara lebih utuh. Bahwa merawat diri tidak bisa dilakukan secara parsial. Ruh, uang, jasmani, akademik, dan keluarga saling berkaitan. Ketika satu bagian diabaikan, bagian lain sering ikut terdampak. Dari situlah kesadaran tumbuh: hidup tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kejujuran untuk terus memperbaiki apa yang masih perlu dirawat.[]

Lebih baru Lebih lama