Oleh: Siti Hajar
Hypnoterapi di Indonesia berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Awalnya dikenal secara terbatas di kalangan praktik klinis dan komunitas psikoterapi, perlahan hypnoterapi mulai diintegrasikan dalam layanan kesehatan jiwa oleh beberapa psikolog, psikiater, dan praktisi terapi alternatif yang terlatih secara profesional. Institusi-institusi pendidikan psikologi dan asosiasi terapis juga mulai memasukkan pendekatan sugesti dan teknik relaksasi berbasis hipnosis sebagai bagian dari intervensi dalam menangani kecemasan, trauma, fobia, dan stres pasca kejadian besar. Meski belum sepopuler terapi kognitif-perilaku atau konseling tradisional, hypnoterapi semakin mendapatkan tempat karena fokusnya pada pemulihan dari “lapisan bawah sadar”, di mana banyak luka batin emosional tersimpan dan memengaruhi perilaku serta kualitas hidup seseorang.Dalam konteks
budaya Indonesia yang religius dan sensitif terhadap pengalaman batin,
hypnoterapi sering dipadukan dengan pendekatan spiritual yang menghormati nilai
lokal, sehingga klien merasa aman dan lebih mudah terhubung secara emosional
saat mengalami proses terapeutik.
🌧️
Kondisi Aceh dan Dampak Bencana Hari Ini
Kondisi bencana
di Aceh saat ini menunjukkan situasi yang masih sangat kritis. Provinsi ini
kembali berada dalam status tanggap darurat bencana setelah banjir dan
longsor melanda banyak wilayah, termasuk Aceh Utara, dengan ribuan rumah rusak
dan korban yang signifikan. Data terbaru memperlihatkan jumlah korban jiwa
terus bertambah, sementara ancaman hujan lebat terus berpotensi memperparah
kondisi lapangan, mengakibatkan evakuasi besar-besaran dan kebutuhan bantuan
darurat yang sangat tinggi.
💔
Mengapa Para Penyintas Membutuhkan Pendampingan Psiko-Sosial
Trauma akibat
kehilangan rumah, anggota keluarga, harta benda, serta sumber penghidupan
adalah realitas pahit yang dialami para penyintas bencana ini. Banyak dari
mereka tidak hanya mengalami luka fisik, tetapi juga luka batin yang
mendalam—rasa takut berulang terhadap hujan deras, kecemasan tentang masa
depan, rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan orang yang dicintai, dan
gangguan tidur atau pikiran yang terus menerus kembali pada peristiwa
traumatis.
Pendampingan
psiko-sosial menjadi sangat penting di fase ini karena:
- Mengatasi Trauma Emosional: Bencana besar
seperti ini bisa memicu gejala stres pasca trauma (PTSD),
kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Tanpa dukungan, luka batin ini
bisa menetap dan membentuk pola hidup yang tidak sehat secara psikologis.
- Membantu Integrasi Pengalaman: Psiko-sosial
membantu penyintas menata kembali narasi hidup mereka—memaknai kembali apa
yang terjadi, dari posisi kekuatan dan harapan, bukan hanya rasa takut dan
kehilangan.
- Mendukung Keluarga dan Komunitas: Trauma
tidak hanya dialami individu, tetapi juga menyebar dalam sistem keluarga
dan komunitas. Intervensi psikososial membantu membangun kembali struktur
dukungan sosial di lingkungan mereka.
- Mencegah Dampak Jangka Panjang: Tanpa
pendampingan, respon stres akut bisa berkembang menjadi gangguan mental
kronis yang memengaruhi kemampuan bekerja, hubungan interpersonal, dan
kualitas hidup secara keseluruhan.
ðŸ§
Peran Hypnoterapi dalam Konteks Pemulihan Bencana
Dalam situasi
pasca bencana, hypnoterapi dapat menjadi bagian dari pendekatan pemulihan
psikologis yang lebih luas. Ia membantu:
- Membawa penyintas ke keadaan relaksasi
sehingga beban emosional berat dapat diakses dan diolah secara aman dalam
terapi.
- Mengubah keyakinan bawah sadar yang mungkin
tertanam akibat pengalaman traumatis—misalnya keyakinan tentang
ketidakamanan permanen atau hilangnya kendali atas hidup.
- Menguatkan self-compassion dan pemulihan
internal, bukan hanya sekadar kembali ke keadaan “normal”.
🌱
Contoh Pendekatan Intervensi Hypnoterapi dalam Konteks Trauma Bencana
Dalam konteks
pendampingan penyintas bencana, hypnoterapi tidak dilakukan secara mendalam dan
individual seperti pada terapi klinis jangka panjang, melainkan lebih sering
digunakan dalam bentuk hypnotherapy-based psychosocial support yang
berfokus pada stabilisasi emosi dan pemulihan rasa aman. Tahap awal biasanya
dimulai dengan teknik relaksasi sederhana, pernapasan terarah, dan grounding
untuk membantu penyintas keluar dari kondisi waspada berlebihan (hyperarousal)
yang umum terjadi pasca trauma.
Selanjutnya,
terapis atau pendamping terlatih dapat menggunakan sugesti terapeutik ringan
yang menekankan rasa aman, ketahanan diri, dan harapan. Misalnya, penyintas
dibimbing membayangkan tempat yang aman dan tenang, atau menghubungkan kembali
diri mereka dengan kekuatan internal dan nilai spiritual yang selama ini
menjadi sumber keteguhan hidup. Pada masyarakat Aceh yang religius, pendekatan
ini sering kali dipadukan dengan dzikir, doa, atau narasi religius yang
menenangkan, sehingga proses pemulihan terasa lebih dekat dengan identitas
kultural dan spiritual mereka.
Hypnoterapi juga
dapat membantu mengurangi gejala psikosomatis yang sering muncul pasca bencana,
seperti sakit kepala, nyeri tubuh, gangguan tidur, dan kelelahan emosional.
Dengan menurunkan ketegangan pada sistem saraf, tubuh diberi kesempatan untuk
kembali ke kondisi regulasi yang lebih seimbang. Dalam jangka menengah,
pendekatan ini mendukung penyintas untuk perlahan membangun kembali rasa
kontrol atas hidup mereka—bahwa meskipun peristiwa buruk telah terjadi, masa
depan masih bisa dijalani dengan makna dan harapan.
Namun demikian,
penting ditegaskan bahwa intervensi hypnoterapi dalam situasi bencana harus
dilakukan secara etis, non-invasif, dan berbasis kesiapan klien.
Hypnoterapi bukan alat untuk “menggali trauma secara paksa”, melainkan sarana
pendukung untuk menciptakan rasa aman psikologis. Untuk kasus trauma berat,
terutama yang melibatkan kehilangan besar atau gejala PTSD yang menetap,
pendekatan ini perlu dikombinasikan dengan psikoterapi klinis, layanan
kesehatan jiwa formal, serta dukungan sosial dan komunitas yang berkelanjutan.
Dengan pendekatan yang tepat, hypnoterapi dapat menjadi bagian dari ikhtiar kemanusiaan—sebuah ruang pemulihan yang lembut, menghargai martabat penyintas, dan membantu mereka bangkit tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan batiniah.[]
