Joker (2019) Luka Batin Berhadapan dengan Free Will


Oleh: Siti Hajar

Gagasan bahwa dalam diri setiap orang ada sisi baik dan sisi gelap sebenarnya bukan hal baru. Hampir semua tradisi filsafat, psikologi, bahkan agama, sepakat bahwa manusia tidak pernah hadir sebagai makhluk yang “murni putih” atau “sepenuhnya hitam”. Kita membawa potensi keduanya sejak awal. Yang membedakan satu manusia dengan manusia lain bukan keberadaan sisi gelap itu sendiri, melainkan bagaimana ia berhubungan dengannya.

Dalam psikologi, sisi baik dan jahat sering dipahami sebagai dorongan yang saling tarik-menarik. Ada dorongan empati, kasih, kerja sama, tetapi ada juga dorongan agresi, iri, marah, dan keinginan untuk melukai. Carl Jung menyebut bagian gelap ini sebagai shadow, sesuatu yang bukan untuk disangkal, melainkan disadari. Ketika sisi gelap ditekan tanpa disadari, ia justru mencari jalan keluar dalam bentuk yang destruktif. Jadi, “jahat” tidak selalu lahir dari niat jahat, tetapi sering dari luka yang tidak diolah dan emosi yang tak pernah diberi ruang untuk dipahami.

Di titik inilah konsep free will atau kehendak bebas menjadi penting. Jika manusia sepenuhnya ditentukan oleh gen, lingkungan, atau pengalaman traumatis, maka tidak ada ruang untuk tanggung jawab moral. Namun, jika manusia memiliki kehendak bebas, sekecil apa pun, maka selalu ada ruang untuk memilih: apakah dorongan itu akan diikuti, diolah, atau ditahan. Kehendak bebas bukan berarti manusia bebas dari pengaruh apa pun, melainkan tetap punya jarak reflektif terhadap dorongan-dorongan tersebut. Kita boleh marah, iri, atau terluka, tetapi kita tidak harus selalu bertindak berdasarkan itu.

Film Joker (2019) sering dibaca sebagai ilustrasi ekstrem dari gagasan “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”. Arthur Fleck digambarkan sebagai individu yang terus-menerus mengalami penolakan, kekerasan simbolik, dan kegagalan sistem sosial. Film ini membuat penonton bersimpati, bahkan memahami mengapa ia berubah. Namun di sinilah letak persoalan filosofisnya: pemahaman tidak sama dengan pembenaran. Film ini menunjukkan bagaimana lingkungan dan trauma dapat mendorong seseorang ke jurang gelap, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan sunyi tentang kehendak bebas: pada titik mana Arthur masih bisa memilih jalan lain?

Jika Joker hanya dipahami sebagai “korban keadaan”, maka free will seolah lenyap. Tetapi jika kita mengakui bahwa manusia, betapapun terluka, masih memiliki momen-momen kecil kesadaran, maka tanggung jawab moral tetap ada. Film ini seperti cermin yang tidak nyaman: ia memaksa kita melihat betapa mudahnya sisi gelap manusia tumbuh ketika empati sosial mati, tetapi juga menantang kita untuk tidak tergesa-gesa meniadakan pilihan personal.

Di sinilah konsep “kata batin” atau hati kecil menjadi relevan. Banyak tradisi moral meyakini bahwa hati nurani pada dasarnya condong pada kebaikan. Ia mungkin tertutup oleh luka, kemarahan, atau rasa tidak adil, tetapi tidak pernah sepenuhnya hilang. Memilih kebaikan bukan berarti meniadakan sisi gelap, melainkan mendengarkannya tanpa menyerahkan kendali kepadanya. Kehendak bebas bekerja justru pada momen-momen sunyi itu: saat manusia berhenti sejenak, menyadari dorongannya, lalu bertanya, “Apakah ini selaras dengan hati kecilku?”

Maka, menjadi manusia bukan soal tidak memiliki sisi jahat, melainkan tentang keberanian untuk terus memilih. Memilih untuk tidak membiarkan luka menentukan seluruh identitas diri. Memilih untuk mendengarkan hati nurani meski dunia terasa tidak adil. Dan mungkin, itulah pelajaran paling dalam yang bisa kita tarik: kebebasan sejati bukan ketika kita bisa melakukan apa saja, tetapi ketika kita mampu memilih yang baik, bahkan saat kita punya alasan kuat untuk menjadi sebaliknya.

Film Joker (2019) bisa dibaca sebagai peringatan sosial yang sangat keras, dan justru karena itu relevansinya kuat dengan kondisi anak-anak Gen Alpha hari ini. Bukan karena mereka akan “menjadi Joker”, tetapi karena film ini memperlihatkan apa yang bisa terjadi ketika luka batin, rasa tidak dilihat, dan ketiadaan pendampingan emosional dibiarkan tumbuh sendirian.

Pelajaran pertama yang penting adalah soal rasa diakui dan didengar. Arthur Fleck hidup di dunia yang terus menertawakannya, bukan mendengarkannya. Ia hadir, tetapi tidak benar-benar dianggap ada. Pada anak-anak Gen Alpha, situasi ini sering muncul dalam bentuk yang berbeda: mereka terlihat aktif, cerewet, dan “melek teknologi”, tetapi secara emosional banyak yang kesepian. Interaksi digital sering menggantikan kehadiran manusia yang nyata. Anak mungkin punya ribuan tontonan, gim, dan konten, tetapi sangat minim ruang aman untuk mengekspresikan perasaan tanpa dihakimi. Film Joker mengingatkan bahwa manusia yang terus merasa tidak dianggap lama-kelamaan bisa kehilangan empati, bukan karena ia jahat, tetapi karena ia tak pernah merasakan empati itu sendiri.

Pelajaran kedua adalah tentang luka batin yang tidak terolah. Arthur bukan tiba-tiba menjadi sosok gelap. Perubahan itu perlahan, akumulatif, dan nyaris tak disadari oleh lingkungan sekitarnya. Ini sangat relevan dengan Gen Alpha yang tumbuh di tengah tekanan akademik, standar sosial media, dan tuntutan “harus bahagia”. Banyak anak hari ini tidak diajari mengenali, apalagi mengelola emosi negatif. Marah, sedih, kecewa sering dianggap berlebihan atau drama. Padahal emosi yang dipendam tanpa pendampingan bisa berubah menjadi perilaku bermasalah di kemudian hari.

Pelajaran ketiga menyangkut peran lingkungan dan sistem. Joker dengan jelas menunjukkan bahwa individu tidak pernah berdiri sendirian. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan sistem sosial punya andil besar dalam membentuk arah hidup seseorang. Pada konteks Gen Alpha, ini mengingatkan kita bahwa masalah perilaku anak tidak bisa hanya dibebankan pada anak itu sendiri. Ketika ruang dialog di rumah sempit, guru kelelahan, dan dunia digital menjadi “pengasuh utama”, maka anak belajar tentang dunia dari algoritma, bukan dari nilai. Film ini menampar kita dengan satu pertanyaan penting: siapa yang sebenarnya sedang kita biarkan mendidik anak-anak kita?

Namun, pelajaran terpenting dari Joker justru bukan pada kejatuhannya, melainkan pada titik yang terlewatkan: absennya figur yang menuntun Arthur kembali pada hati nuraninya. Di sinilah relevansinya dengan free will dan pendidikan karakter anak Gen Alpha. Anak perlu dikenalkan sejak dini bahwa emosi gelap itu manusiawi, tetapi tidak harus menjadi penentu tindakan. Mereka perlu dibimbing untuk mengenali “kata batin” — hati kecil yang pada dasarnya condong pada kebaikan — sebelum suara luar dan luka batin menjadi terlalu bising.

Akhirnya, Joker adalah cermin, bukan teladan. Ia mengingatkan kita bahwa masa depan anak-anak Gen Alpha tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kualitas relasi, empati, dan kehadiran orang dewasa yang mau benar-benar melihat mereka. Jika hati kecil anak terus disapa, didengar, dan dituntun, maka sisi gelap tidak akan menguasai. Ia akan tetap ada, tetapi berada di bawah kendali kesadaran. Dan di situlah harapan itu bekerja.

Menjadi pribadi yang baik bukanlah sesuatu yang otomatis, melainkan sebuah pilihan sadar yang diambil berulang kali. Setiap manusia membawa luka, amarah, dan sisi gelapnya masing-masing, tetapi semua itu tidak pernah sepenuhnya merampas kebebasan kita untuk menentukan arah hidup. Joker menunjukkan bagaimana penderitaan yang tak tertangani bisa menyeret seseorang ke jurang kehancuran, namun kisah itu bukanlah takdir universal. Ia adalah peringatan bahwa tanpa kesadaran dan pendampingan, luka bisa menguasai, tetapi dengan kesadaran, manusia tetap punya ruang untuk berkata tidak pada kehancuran.

Joker hanyalah tokoh, sebuah cermin ekstrem tentang apa yang mungkin terjadi ketika empati mati dan pilihan-pilihan kecil untuk berbuat baik tak pernah diambil. Kita, sebaliknya, hidup dengan kehendak bebas yang memberi kesempatan untuk memilih apa yang kita yakini, bahkan ketika dunia tidak adil. Di setiap persimpangan batin, selalu ada suara hati kecil yang mengarah pada kebaikan. Mendengarkannya adalah bentuk keberanian, dan menjadikannya dasar tindakan adalah wujud kebebasan sejati.[]

Lebih baru Lebih lama