Kisah Cinta Abadi ’Taj Mahal’

Oleh: Siti Hajar

Aku masih ingat perasaan itu. Saat pertama kali membaca kisah cinta Mumtaz Mahal (Kisah Cinta yang Abadi)  dalam sebuah novel ”Taj Mahal” yang ditulis dengan begitu rapi oleh Jhon Shor versi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Mizan. 

Saat aku membacanya halamannya terus berganti. Tanganku enggan berhenti. Ada rasa haru yang perlahan tumbuh, aku makin penasaran. Kesabaran melewati baris demi baris. Kisah cinta yang diliputi dan dijaga dengan kesetiaan, dan diteguhkan oleh pengorbanan terhadap orang terkasih.

Kisah ini terasa dekat. Karena ia berbicara tentang menunggu, tentang menerima keadaan, tentang memilih tetap setia meski jalan tidak selalu mudah. Mumtaz dan Shah Jahan hadir sebagai dua manusia yang mencintai dengan kesadaran penuh. Mereka menjalani takdirnya masing-masing, saling menguatkan, hingga cinta itu akhirnya diabadikan dalam sebuah bangunan yang hari ini dikenal dunia.

Lalu, siapakah mereka sebenarnya. Bagaimana pertemuan itu bermula. Bagaimana cinta itu tumbuh di tengah aturan istana. Bagaimana kehilangan melahirkan sebuah karya agung yang tetap berdiri hingga hari ini.

Berikut kisah singkatnya.

Mereka bertemu pada tahun 1607, di Meena Bazaar, sebuah pasar istana yang ramai oleh warna dan aroma. Kain sutra digelar, perhiasan berkilau, para bangsawan berjalan perlahan menikmati kemewahan. Di tengah keramaian itu, Pangeran Khurram tiba-tiba berhenti. Pandangannya tertuju pada seorang gadis muda yang berdiri tenang, seolah memiliki ruang sendiri di tengah dunia yang sibuk.

Namanya Arjumand Banu Begum. Ia berasal dari keluarga bangsawan Persia yang terpelajar dan terpandang. Parasnya indah, namun yang membuat Khurram terpikat adalah keteduhan sikapnya. Arjumand tidak menonjolkan diri. Cara bicaranya lembut, pikirannya jernih, kehadirannya memberi rasa damai.

Sejak hari itu, hati Khurram terikat. Namun kehidupan istana memiliki aturan yang keras. Pernikahan dipakai sebagai alat politik. Demi kepentingan kekaisaran, Khurram harus menikah lebih dahulu dengan perempuan lain. Sebuah keputusan yang tidak lahir dari kehendak hatinya.

Arjumand mengetahui kenyataan itu. Ia memilih menunggu. Tahun-tahun berlalu dengan kesabaran yang dijaga rapi. Ia memahami posisinya sebagai perempuan di lingkungan istana. Menunggu menjadi caranya menjaga kehormatan dan keyakinan.

Lima tahun kemudian, penantian itu berakhir. Pada tahun 1612, Khurram menikahi Arjumand. Ia memberinya gelar Mumtaz Mahal, Permata Istana. Sejak saat itu, Mumtaz hadir sebagai pendamping sejati. Ia mengikuti Khurram dalam perjalanan, dalam peperangan, dalam keputusan besar yang menentukan nasib banyak orang. Catatan sejarah menyebutkan, Shah Jahan sangat mempercayainya, mendengarkan nasihatnya, dan merasa tenteram di sisinya.

Kehidupan berjalan hingga takdir mengambil arah lain. Pada tahun 1631, Mumtaz wafat saat melahirkan anak mereka. Kehilangan itu mengguncang Shah Jahan sepenuhnya. Ia berkabung lama. Istana kehilangan cahayanya.

Dari duka itulah Taj Mahal lahir. Sebuah makam dari marmer putih yang dibangun dengan ketelitian luar biasa. Setiap sisi dirancang seimbang. Setiap detail dipikirkan dengan penuh perasaan. Bangunan itu menjadi cara Shah Jahan menjaga cinta yang pernah mengisi hidupnya.

Hingga hari ini, Taj Mahal berdiri anggun di tepi Sungai Yamuna. Ia menyimpan kisah dua manusia yang saling memilih dan setia pada pilihannya. Cinta mereka telah berlalu bersama waktu, namun jejaknya tetap hidup, dikenang oleh dunia dari generasi ke generasi.

Dan pada akhirnya, Taj Mahal berdiri sebagai penanda. Penanda bahwa kesetiaan dan pengorbanan pernah benar-benar dijunjung tinggi dalam sebuah relasi. Bangunan ini mengajarkan bahwa cinta yang dijalani dengan kesungguhan akan meninggalkan jejak, meski waktu terus bergerak.

Bagi kita yang hidup hari ini, kisah Mumtaz Mahal mengingatkan satu hal penting. Relasi yang sehat tumbuh dari kesabaran, kehadiran, dan kesediaan berkorban. Cinta terasa kuat ketika dua orang saling memilih, terus memilih, bahkan saat keadaan meminta lebih banyak keteguhan hati.

Semoga kita semua diberi kebahagiaan. Menjalani hidup bersama orang terkasih. Dengan kesetiaan yang dijaga. Dengan pengorbanan yang ikhlas. []

Terima kasih untuk kalian, para pembaca setia https://www.sitihajarinspiring.com/

Lebih baru Lebih lama