Agama Sebagai Kebutuhan Jiwa dan Mengapa Generasi Muda Mulai Mepertanyakannya

 

Oleh: Siti Hajar

Hari ini orang-orang mulai menyadari bahwa Agama merupakan kebutuhan jiwa dan konstruksi sosial. Mengapa ini terjadi?

Agama bukan hanya warisan keluarga atau identitas administratif, melainkan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan oleh dirinya sendiri. Agama dapat dipahami sebagai sistem keyakinan dan nilai yang menghubungkan manusia dengan Tuhan serta memberi pedoman hidup. Sementara jiwa adalah dimensi batin manusia—pusat kesadaran, perasaan, kehendak, dan pencarian makna. Jiwa memiliki kebutuhan yang tidak selalu terlihat: kebutuhan akan makna, rasa aman, harapan, dan keterhubungan dengan sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, manusia bisa merasa hampa, gelisah, atau kehilangan arah. Pada titik inilah agama hadir sebagai jawaban yang menenangkan dan memberi struktur makna bagi kehidupan.

Di sisi lain, agama tidak berdiri terpisah dari masyarakat. Ia dipelajari, diwariskan, dan dipraktikkan melalui interaksi sosial. Konsep konstruksi sosial menjelaskan bahwa banyak realitas dalam kehidupan manusia dibentuk melalui kebiasaan, tradisi, dan kesepakatan bersama. Cara seseorang memahami ajaran, mengekspresikan kesalehan, hingga menjalankan ritual, sering kali dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, budaya, dan institusi pendidikan. Dengan demikian, agama juga merupakan realitas sosial yang dibentuk dan dipelihara oleh komunitas. Ia hidup dalam tradisi, bahasa, simbol, dan norma yang berkembang dari generasi ke generasi.

Jika dilihat dari perspektif psikologi, manusia memang makhluk pencari makna. Ia tidak hanya membutuhkan sandang dan pangan, tetapi juga kepastian batin tentang tujuan hidupnya. Ketika menghadapi ketidakpastian, penderitaan, atau kegagalan, dorongan untuk mencari Tuhan menjadi semakin kuat. Dalam Islam, kecenderungan ini dikenal sebagai fitrah—bahwa manusia diciptakan dengan naluri untuk mengenal dan menyembah Allah. Konsep Ketuhanan dalam tauhid menegaskan bahwa kehidupan memiliki tujuan dan arah yang jelas. Keyakinan kepada Tuhan memberi stabilitas emosional dan memperkuat daya tahan psikologis seseorang dalam menghadapi tekanan hidup.

Karena itu, agama dapat dipahami sebagai kesatuan antara kebutuhan jiwa dan konstruksi sosial. Jiwa manusia membutuhkan Tuhan sebagai sumber makna dan ketenangan, sementara masyarakat menyediakan kerangka ajaran, praktik, dan simbol untuk menghayatinya. Keduanya tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi. Agama bekerja di dalam batin sekaligus di dalam kehidupan sosial. Ketika seseorang menyadari hal ini, ia tidak lagi memandang agama hanya sebagai tradisi yang diikuti, tetapi sebagai kebutuhan mendasar yang dihidupi secara sadar dan bertanggung jawab.Mengapa orang-orang kemudian menyadari bahwa Agama merupakan kebutuhan jiwa dan konstruksi sosial?

Apakah agama lahir dari rasa takut, harapan, atau fitrah?

Rasa takut, harapan, atau fitrah menyentuh tiga lapisan berbeda dalam diri manusia. Rasa takut sering menjadi pintu awal seseorang mendekat kepada Tuhan. Ketika manusia berhadapan dengan bencana, sakit, kehilangan, atau ancaman kematian, ia menyadari betapa rapuh dirinya. Ketakutan membuka kesadaran akan keterbatasan. Dalam kondisi itu, agama tampil sebagai tempat berlindung, memberi rasa aman dan kepastian bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang mengendalikan kehidupan. Namun jika agama hanya dipahami sebagai produk ketakutan, maka ia akan berhenti pada fungsi defensif semata, bukan pada kesadaran yang utuh.

Selain takut, ada unsur harapan yang sangat kuat dalam pengalaman beragama. Manusia bukan hanya ingin selamat dari ancaman, tetapi juga ingin hidupnya bermakna dan masa depannya terjamin. Harapan tentang ampunan, keadilan, kebahagiaan, dan kehidupan setelah mati memberi energi psikologis yang besar. Dalam banyak kasus, harapan inilah yang membuat seseorang bertahan dalam penderitaan. Agama menghadirkan narasi bahwa kebaikan tidak sia-sia dan bahwa setiap usaha memiliki balasan. Secara psikologis, harapan ini memperkuat daya tahan mental dan mendorong perilaku yang lebih terarah.

Namun dalam perspektif Islam, agama tidak semata-mata lahir dari rasa takut atau harapan, melainkan berakar pada fitrah. Fitrah adalah kecenderungan alami manusia untuk mengenal dan menyembah Tuhan. Ia bukan hasil rekayasa sosial semata, melainkan bagian dari struktur penciptaan manusia. Rasa takut dan harapan hanyalah respons emosional yang muncul ketika fitrah itu tersentuh oleh pengalaman hidup. Ketika manusia berada dalam tekanan, fitrahnya mengingatkan bahwa ia membutuhkan sandaran yang lebih tinggi; ketika ia merindukan kebaikan abadi, fitrahnya mengarah pada Tuhan sebagai sumbernya.

Karena itu, agama dapat dipahami sebagai pertemuan antara fitrah yang mendasar dan pengalaman emosional manusia. Takut dapat menjadi pemicu kesadaran, harapan dapat menjadi penguat komitmen, tetapi fitrah adalah fondasi terdalamnya. Jika agama hanya dibangun di atas rasa takut, ia mudah berubah menjadi keterpaksaan; jika hanya di atas harapan, ia bisa menjadi transaksional. Namun ketika agama dipahami sebagai panggilan fitrah, ia menjadi kesadaran yang matang—bukan sekadar reaksi terhadap keadaan, melainkan pilihan sadar untuk hidup dalam orientasi kepada Tuhan.

Agama sebagai sistem nilai vs agama sebagai identitas sosial

Agama sebagai sistem nilai berarti agama dipahami sebagai seperangkat prinsip moral dan panduan hidup yang membentuk cara seseorang berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Dalam pengertian ini, agama bekerja dari dalam diri, memengaruhi nurani, menentukan standar benar dan salah, serta memberi arah hidup yang konsisten. Ia tidak berhenti pada simbol atau label, tetapi menjadi kerangka etis yang membimbing tindakan sehari-hari. Ketika agama berfungsi sebagai sistem nilai, ia menuntut integritas antara keyakinan dan perilaku.

Sebaliknya, agama sebagai identitas sosial merujuk pada agama sebagai penanda keanggotaan dalam suatu kelompok. Ia tampak dalam simbol, tradisi, pakaian, bahasa, atau afiliasi komunitas tertentu. Dalam konteks ini, agama berperan sebagai bagian dari struktur sosial yang membentuk rasa kebersamaan dan solidaritas. Identitas keagamaan sering kali diwariskan melalui keluarga dan lingkungan, sehingga seseorang bisa merasa “beragama” karena ia lahir dalam komunitas tertentu, bukan semata karena refleksi pribadi.

Keduanya tidak harus dipertentangkan, tetapi perbedaannya menjadi penting ketika agama berhenti pada identitas tanpa diinternalisasi sebagai nilai. Ketika agama hanya menjadi label sosial, ia mudah dipertahankan secara simbolik tetapi lemah secara moral. Sebaliknya, ketika agama dihayati sebagai sistem nilai, identitas sosial menjadi ekspresi yang otentik dari keyakinan batin. Ketegangan antara keduanya sering terlihat ketika seseorang mempertahankan simbol agama, tetapi perilakunya tidak mencerminkan ajaran yang diyakini.

Mengapa generasi muda sekarang mulai mempertanyakan agama?

Generasi muda hidup dalam era informasi yang sangat terbuka. Akses terhadap berbagai pandangan, termasuk kritik terhadap agama, tersedia secara luas melalui media digital. Mereka tidak lagi menerima ajaran secara satu arah, melainkan membandingkan, menganalisis, dan menguji konsistensinya. Proses ini membuat pertanyaan-pertanyaan kritis muncul lebih cepat dan lebih beragam. Bagi sebagian anak muda, mempertanyakan agama bukan berarti menolak, tetapi mencari pemahaman yang lebih rasional dan personal.

Selain itu, ada faktor pengalaman sosial. Ketika generasi muda melihat ketidaksesuaian antara ajaran agama dan perilaku sebagian penganutnya, muncul kebingungan dan kekecewaan. Konflik atas nama agama, sikap eksklusif, atau praktik yang dianggap tidak adil dapat memicu pertanyaan mendasar tentang esensi ajaran itu sendiri. Dalam konteks ini, yang dipertanyakan sering kali bukan Tuhan, melainkan cara agama dipraktikkan dalam masyarakat.

Dari sudut psikologi perkembangan, masa remaja dan dewasa awal memang merupakan fase pencarian identitas. Pada tahap ini, individu cenderung mengevaluasi kembali nilai-nilai yang diwariskan keluarga untuk membentuk keyakinan yang lebih mandiri. Pertanyaan terhadap agama menjadi bagian dari proses pendewasaan kognitif dan moral. Jika diarahkan dengan dialog yang terbuka dan reflektif, proses ini justru dapat menghasilkan keberagamaan yang lebih sadar, bukan sekadar ikut-ikutan atau berbasis tekanan sosial.

Agama merupakan fondasi yang memberi arah bagi kehidupan. Ia menyediakan sistem nilai yang menuntun manusia dalam menentukan benar dan salah, memberi makna atas penderitaan, serta membingkai harapan tentang masa depan. Tanpa agama sebagai landasan, hidup mudah terombang-ambing oleh perubahan zaman, standar moral menjadi relatif, dan keputusan diambil hanya berdasarkan dorongan sesaat atau tekanan lingkungan.

Manusia bisa berjalan, tetapi tanpa kompas yang jelas; bergerak, tetapi tanpa tujuan yang kokoh. Karena itu, agama menjadi pedoman yang meneguhkan langkah—bukan untuk membatasi, melainkan untuk mengarahkan kehidupan agar tetap berada pada jalan yang bermakna dan bertanggung jawab. []

Lebih baru Lebih lama