Apa Jadinya Dunia Tanpa Adab? Menelusuri Kedalaman Etika, Moral, dan Akhlak dalam Kehidupan


Oleh: Siti Hajar

Era digital telah mengubah wajah kemanusiaan kita menjadi deretan piksel dan algoritma. Di balik kemudahan konektivitas yang ditawarkannya, kita sering kali terjebak dalam ruang hampa di mana batas antara yang nyata dan yang maya menjadi kabur. Dalam dunia yang serba cepat ini, etika, moral, dan akhlak bukan lagi sekadar topik diskusi di ruang kelas agama atau filsafat, melainkan jangkar terakhir yang menjaga kita agar tidak karam dalam lautan informasi yang tak bertepi.

Secara etis, dunia digital menghadirkan tantangan baru yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya. Kita dipaksa merumuskan kembali aturan main dalam berinteraksi tanpa tatap muka. Namun, sering kali etika digital yang kita sepakati hanya berhenti pada tataran formalitas—seperti aturan penggunaan data atau kebijakan komunitas—tanpa menyentuh kedalaman nurani. Secara moral, anonimitas di internet kerap menjadi topeng yang melegalkan kekejaman. Seseorang yang dalam kehidupan nyata dikenal santun, bisa berubah menjadi hakim yang kejam di kolom komentar, seolah-olah layar ponsel membebaskannya dari konsekuensi moral yang selama ini menjaganya di dunia fisik.

Di sinilah letak perbedaan fundamental akhlak dalam pandangan Islam. Jika etika dan moral sering kali goyah ketika tidak ada mata manusia yang mengawasi, akhlak berdiri kokoh di atas fondasi Muraqabah—kesadaran penuh bahwa Tuhan Maha Melihat segalanya. Dalam ruang digital yang penuh dengan privasi, akhlak menjadi pengingat bahwa jempol yang mengetik kata-kata cacian atau mata yang mencari aib orang lain tetap akan dimintai pertanggungjawabannya. Akhlak di era digital adalah kemampuan untuk tetap menjadi manusia yang utuh, yang tidak kehilangan rasa malu dan empati meski hanya berhadapan dengan mesin.

Kehidupan digital tanpa tuntunan ini akan melahirkan masyarakat yang reaktif namun tidak reflektif. Kita menjadi sangat cepat dalam menghujat, namun sangat lambat dalam memaafkan. Kita lebih peduli pada citra (moralitas luar) daripada esensi (akhlak dalam). Refleksi ini mengajak kita menyadari bahwa setiap unggahan, setiap like, dan setiap kata yang kita lepaskan ke ruang siber adalah cerminan dari kondisi batin kita. Jika batin kita keruh, maka media sosial hanya akan menjadi wadah untuk menularkan kekeruhan tersebut kepada orang lain.

Bagaimana kita mengenal seseorang yang memiliki etika, moral dan akhlak

Mengenal seseorang yang memiliki kedalaman etika, moral, dan akhlak tidak bisa dilakukan hanya melalui pengamatan sekilas atau pesona lahiriahnya. Di dunia yang serba polesan ini, karakter asli seseorang sering kali tersembunyi di balik kata-kata manis atau citra media sosial. Namun, seperti aroma parfum yang tidak bisa disembunyikan, kualitas batin seseorang akan tercium melalui konsistensi perilakunya dalam berbagai situasi, terutama saat ia berada di bawah tekanan atau saat merasa tidak ada yang mengawasi.

Pertama, kita bisa mengenalnya melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan. Seseorang yang beretika dan bermoral tidak hidup dalam dualisme; ia tidak memiliki "wajah publik" yang santun dan "wajah privat" yang kasar. Kejujurannya bukan karena ada kamera yang merekam, melainkan karena ia memiliki standar internal yang kokoh. Ia adalah orang yang menepati janji sekecil apa pun, karena baginya, sebuah komitmen adalah utang kehormatan, bukan sekadar basa-basi sosial.

Kedua, lihatlah bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang tidak memiliki "nilai guna" baginya. Ini adalah ujian akhlak yang paling jujur. Etika mungkin mengajarkan kita untuk sopan kepada atasan demi karier, tetapi akhlak mendorong kita untuk tetap hormat dan lembut kepada pelayan restoran, petugas kebersihan, atau orang asing di jalanan. Seseorang dengan akhlak mulia memandang setiap manusia sebagai makhluk Tuhan yang setara martabatnya. Jika seseorang hanya baik kepada mereka yang berkuasa namun merendahkan mereka yang lemah, maka kebaikannya hanyalah sebuah strategi, bukan karakter.

Ketiga, ia dapat dikenali dari sikapnya saat terjadi konflik atau perbedaan pendapat. Moralitas dan etika seseorang diuji saat ia merasa marah atau disakiti. Apakah ia tetap menjaga lisan dari kata-kata yang merendahkan? Apakah ia mampu mengendalikan ego untuk mengakui kesalahan? Seseorang yang berakhlak memiliki self-governance atau penguasaan diri yang tinggi. Ia tidak reaktif terhadap provokasi, karena ia memahami bahwa harga dirinya tidak ditentukan oleh hinaan orang lain, melainkan oleh bagaimana ia merespons hinaan tersebut dengan martabat.

Terakhir, seseorang yang memiliki kualitas ini biasanya memiliki kerendahan hati (tawadhu) yang tulus. Ia tidak merasa perlu memamerkan kesalehan atau kebaikannya agar diakui dunia. Ada ketenangan dalam jiwanya; ia melakukan kebaikan karena itu adalah kebutuhan spiritualnya, bukan demi tepuk tangan manusia. Dalam Islam, inilah puncak dari akhlak, di mana segala tindak-tanduknya diniatkan sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta.

Singkatnya, kita mengenal mereka bukan dari seberapa hebat mereka berbicara tentang kebaikan, melainkan dari seberapa nyaman dan amannya orang lain saat berada di dekat mereka.

Oleh karena itu, pembentukan karakter di era ini harus kembali ke titik nol: keluarga. Orang tua di zaman ini memikul tanggung jawab yang lebih berat, yakni menjadi kompas moral bagi anak-anak yang tumbuh di tengah hutan algoritma. Pendidikan akhlak bukan lagi sekadar menghafal dalil, melainkan menanamkan kesadaran kritis bahwa teknologi adalah alat, sementara karakter adalah pengemudinya. Kita perlu mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari jumlah pengikut atau tingkat viralitasnya, melainkan dari sejauh mana ia mampu menjaga lisan dan jempolnya dari menyakiti sesama.

Di tengah dunia yang semakin canggih dengan AI, hal yang paling mahal dan langka adalah keaslian budi pekerti. Etika, moral, dan akhlak adalah "perangkat lunak" ilahi yang harus selalu kita perbarui (update) agar kemanusiaan kita tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Tanpa itu, kita mungkin akan menjadi makhluk yang paling terkoneksi secara digital, namun paling terasing secara spiritual. Tentu kita tidak mau kehilangan arah bukan? []

Lebih baru Lebih lama