Oleh: Siti Hajar
Laboratorium merupakan tempat untuk belajar,
melakukan penelitian, menguji sampel, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Namun, di balik berbagai kegiatan tersebut, terdapat potensi bahaya yang perlu
dikenali dan dikendalikan. Bahan kimia, peralatan listrik, mesin,
mikroorganisme, hingga kebiasaan kerja yang kurang tepat dapat menimbulkan
kecelakaan apabila tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, keselamatan laboratorium bukan hanya
tanggung jawab petugas laboratorium. Mahasiswa, dosen, peneliti, teknisi, dan
setiap orang yang menggunakan jasa laboratorium memiliki peran dalam
menciptakan lingkungan kerja yang aman. Salah satu langkah awal yang perlu
dipahami bersama adalah mengenali potensi bahaya dalam konteks Keselamatan,
Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L).
Apa Itu Potensi Bahaya di Laboratorium?
Potensi bahaya atau hazard adalah segala
sumber, kondisi, atau aktivitas yang dapat menyebabkan cedera, gangguan
kesehatan, kerusakan peralatan, maupun pencemaran lingkungan.
Di laboratorium, potensi bahaya tidak selalu
terlihat jelas. Botol bahan kimia yang tidak memiliki label, kabel listrik yang
terkelupas, mesin yang tidak dilengkapi pelindung, atau limbah yang dibuang
tanpa prosedur yang benar merupakan contoh bahaya yang sering luput dari
perhatian.
Bahkan, kegiatan sederhana seperti memindahkan
sampel, membersihkan meja kerja, atau menggunakan alat pemanas dapat
menimbulkan risiko apabila dilakukan tanpa mengikuti prosedur keselamatan.
Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa
bahaya berbeda dengan risiko. Bahaya merupakan sumber yang berpotensi
menimbulkan kerugian, sedangkan risiko berkaitan dengan kemungkinan terjadinya
suatu kejadian dan tingkat keparahan dampaknya. Dengan mengenali bahaya sejak
awal, risiko dapat dinilai dan dikendalikan sebelum terjadi kecelakaan.
Mengapa Setiap Pengguna Laboratorium Harus
Mengenali Bahaya?
Bayangkan seorang mahasiswa memasuki laboratorium
untuk melakukan praktikum. Ia melihat cairan tumpah di lantai, tetapi
menganggapnya bukan masalah besar karena tidak mengetahui jenis cairan
tersebut. Beberapa saat kemudian, mahasiswa lain melewati area yang sama dan
terpeleset.
Dalam situasi ini, kecelakaan bukan hanya
berkaitan dengan tumpahan cairan. Ada potensi bahaya yang belum dikenali,
informasi yang belum disampaikan, serta tindakan pengendalian yang belum
dilakukan.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa keselamatan
laboratorium membutuhkan kepedulian dan komunikasi dari semua pihak. Petugas
laboratorium bertanggung jawab terhadap pengelolaan fasilitas dan penerapan
prosedur sesuai kewenangannya. Dosen dan peneliti perlu memastikan kegiatan
berlangsung sesuai ketentuan keselamatan. Mahasiswa dan pengguna jasa
laboratorium harus memahami aturan, mengikuti instruksi, serta melaporkan
kondisi yang berpotensi membahayakan.
Mengenali bahaya bukan berarti harus menjadi ahli
K3L terlebih dahulu. Kebiasaan mengamati, bertanya, dan melaporkan merupakan
langkah sederhana yang dapat mencegah dampak serius.
Jenis Potensi Bahaya yang Perlu Dikenali
di Laboratorium
1. Bahaya kimia
Bahan kimia merupakan salah satu sumber bahaya
yang umum ditemukan di laboratorium. Bahan korosif, pelarut, pestisida, reagen,
dan zat beracun dapat menimbulkan dampak berbeda bergantung pada sifat bahan,
konsentrasi, jumlah, serta cara paparannya.
Paparan dapat terjadi melalui kulit, mata, saluran
pernapasan, atau tertelan secara tidak sengaja. Sebagian bahan juga dapat
bereaksi berbahaya apabila dicampurkan dengan zat yang tidak kompatibel.
Karena itu, pengguna laboratorium perlu membaca
label dan lembar data keselamatan bahan (Safety Data Sheet atau SDS),
memahami simbol bahaya, serta mengikuti prosedur penanganan dan penyimpanan.
Bahan yang tidak dikenal tidak boleh disentuh, dicium secara langsung, atau
dicampurkan sembarangan. Jika terjadi tumpahan, penanganannya harus mengikuti
prosedur khusus sesuai karakteristik bahan dan kompetensi petugas.
2. Bahaya biologis
Laboratorium yang menangani sampel tanah, tanaman,
hewan, pangan, atau bahan biologis lainnya dapat menghadapi bahaya berupa
bakteri, jamur, virus, parasit, maupun alergen.
Risikonya bergantung pada jenis organisme atau
sampel, jalur paparan, dan kegiatan yang dilakukan. Misalnya, penanganan sampel
yang menghasilkan percikan atau aerosol dapat meningkatkan kemungkinan paparan
terhadap agen biologis tertentu.
Pengendalian dilakukan dengan menerapkan prosedur
kerja yang sesuai, menggunakan alat pelindung diri yang tepat, menjaga
kebersihan, serta melakukan dekontaminasi dan pengelolaan limbah biologis
berdasarkan ketentuan yang berlaku.
3. Bahaya fisik, mekanis, dan listrik
Bahaya di laboratorium juga dapat berasal dari
peralatan dan kondisi lingkungan. Lantai licin, pecahan kaca, benda tajam,
permukaan panas, kebisingan, serta bagian mesin yang bergerak dapat menyebabkan
cedera.
Peralatan listrik yang rusak, kabel terkelupas,
atau penggunaan stopkontak yang tidak sesuai kapasitas juga berpotensi
menimbulkan sengatan listrik dan kebakaran.
Pengguna perlu memeriksa kondisi alat sebelum
digunakan dan tidak mengoperasikan peralatan yang rusak atau tidak dipahami
cara kerjanya. Jika ditemukan kerusakan, hentikan penggunaan dengan aman dan
laporkan kepada petugas yang berwenang. Perbaikan peralatan listrik harus
dilakukan oleh personel yang kompeten.
4. Bahaya ergonomi dan psikososial
Keselamatan kerja tidak hanya berkaitan dengan
kecelakaan yang terlihat. Posisi kerja yang tidak tepat, aktivitas berulang,
berdiri terlalu lama, dan pengangkatan beban yang keliru dapat menimbulkan
gangguan otot dan rangka.
Selain itu, tekanan waktu, kelelahan, kurangnya
komunikasi, dan beban kerja yang berlebihan dapat memengaruhi konsentrasi.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan kesalahan ketika seseorang
menangani bahan atau mengoperasikan alat.
Pengaturan tempat kerja, waktu istirahat yang
memadai, pembagian tugas yang wajar, dan komunikasi yang baik menjadi bagian
dari upaya menjaga kesehatan serta keselamatan di laboratorium.
5. Bahaya lingkungan
Aspek lingkungan merupakan bagian penting dalam
K3L. Bahan kimia yang dibuang ke saluran air, limbah biologis yang tercampur
dengan sampah biasa, atau wadah limbah yang tidak sesuai dapat menimbulkan
pencemaran dan membahayakan petugas kebersihan maupun masyarakat sekitar.
Setiap laboratorium perlu memiliki prosedur
pemilahan, penyimpanan sementara, pelabelan, dan penyerahan limbah sesuai
karakteristik serta peraturan yang berlaku. Pengguna laboratorium tidak boleh
membuang bahan atau sampel ke tempat pembuangan umum tanpa memastikan bahwa
tindakan tersebut diperbolehkan.
Unsafe Act,
Unsafe Condition, dan Near Miss: Tiga Istilah Penting dalam K3L
Dalam upaya mencegah kecelakaan, terdapat tiga
istilah yang perlu dipahami.
Unsafe act adalah tindakan tidak aman, misalnya menggunakan
alat tanpa mengikuti SOP, melepas APD yang diwajibkan, atau mengoperasikan
mesin tanpa memahami instruksinya.
Unsafe condition adalah kondisi tidak aman, seperti kabel
terkelupas, lantai licin, pelindung mesin yang rusak, atau bahan kimia yang
disimpan tanpa identitas yang jelas.
Sementara itu, near miss adalah kejadian
nyaris celaka, yaitu peristiwa yang hampir menyebabkan cedera, kerusakan, atau
dampak lain, tetapi tidak sampai menimbulkan akibat tersebut.
Sebagai contoh, seorang mahasiswa hampir
terpeleset akibat tumpahan cairan, tetapi berhasil menjaga keseimbangan.
Kejadian ini tetap perlu dilaporkan dan ditindaklanjuti. Tidak adanya korban
bukan berarti tidak ada masalah yang perlu diperbaiki.
Ketiga istilah tersebut membantu laboratorium
memahami bahwa pencegahan kecelakaan tidak cukup hanya dengan menunggu
kejadian. Tindakan dan kondisi yang berbahaya perlu diperbaiki, sedangkan
kejadian nyaris celaka perlu dianalisis agar tidak terulang dalam bentuk yang
lebih serius.
Bagaimana Cara Mengenali Potensi Bahaya
Sebelum Bekerja?
Sebelum memulai kegiatan laboratorium, biasakan
melakukan pengamatan terhadap lingkungan dan aktivitas yang akan dilakukan.
Periksa kebersihan serta kondisi area kerja, ketersediaan alat pelindung diri,
label bahan, kelayakan peralatan, dan akses menuju pintu keluar darurat.
Selanjutnya, pahami prosedur kerja atau SOP.
Ketahui bahaya yang berkaitan dengan bahan dan alat yang digunakan, tindakan
pencegahan yang diperlukan, serta langkah yang harus dilakukan jika terjadi
keadaan darurat. Jika terdapat informasi yang belum dipahami, tanyakan kepada
petugas laboratorium atau penanggung jawab kegiatan sebelum pekerjaan dimulai.
Ketika menemukan kondisi yang berpotensi
membahayakan, jangan menganggapnya sebagai masalah kecil. Laporkan kepada
petugas yang berwenang dan hindari memperbaiki kondisi berbahaya apabila
tindakan tersebut berada di luar kompetensi atau kewenangan kita.
Pengamatan juga perlu dilakukan selama kegiatan
berlangsung dan setelah pekerjaan selesai. Potensi bahaya dapat muncul akibat
perubahan kondisi, seperti alat yang menjadi terlalu panas, wadah yang bocor,
atau tumpahan yang baru terjadi.
Mengenal HIRADC: Dari Identifikasi Bahaya
hingga Pengendalian Risiko
Dalam penerapan K3L, identifikasi bahaya perlu
dilanjutkan dengan penilaian dan pengendalian risiko. Salah satu metode
yang digunakan adalah HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and
Determining Control).
Tahap pertama
adalah mengidentifikasi bahaya, yaitu menentukan sumber atau kondisi yang
berpotensi menimbulkan kerugian. Tahap
berikutnya adalah menilai risiko dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya
kejadian dan tingkat keparahan dampaknya. Hasil penilaian kemudian digunakan
untuk menentukan prioritas serta langkah pengendalian yang sesuai.
Sebagai contoh, kabel listrik yang terkelupas di
dekat area kerja dapat menimbulkan risiko sengatan listrik atau kebakaran.
Pengendalian yang tepat bukan sekadar memasang tanda peringatan, melainkan
menghentikan penggunaan peralatan yang terdampak, mengamankan area, dan meminta
personel yang kompeten menangani kerusakan tersebut.
Dalam menentukan pengendalian, prinsip yang
diutamakan adalah menghilangkan bahaya jika memungkinkan. Jika bahaya tidak
dapat dihilangkan, risiko dapat dikurangi melalui penggantian bahan atau metode
kerja yang lebih aman, rekayasa teknis, pengaturan administratif, dan
penggunaan alat pelindung diri sebagai lapisan perlindungan yang sesuai.
Dengan demikian, HIRADC bukan hanya dokumen
administrasi. Metode ini membantu laboratorium menentukan tindakan yang
diperlukan berdasarkan bahaya nyata di tempat kerja.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Menemukan
Bahaya?
Jika menemukan bahaya, langkah pertama adalah
menilai apakah kondisi tersebut menimbulkan ancaman langsung. Apabila terdapat
risiko serius, hentikan aktivitas yang terdampak jika aman untuk melakukannya,
beri peringatan kepada orang di sekitar, dan batasi akses ke area sesuai
prosedur.
Selanjutnya, laporkan kepada petugas laboratorium
atau penanggung jawab yang berwenang. Sampaikan lokasi, jenis bahaya, kegiatan
yang sedang berlangsung, dan kemungkinan dampaknya. Informasi tersebut membantu
petugas menentukan tindakan pengendalian yang sesuai.
Jika terjadi paparan bahan kimia, kecelakaan
listrik, kebakaran, atau insiden lain, ikuti prosedur tanggap darurat dan minta
bantuan yang sesuai. Jangan melakukan tindakan penyelamatan atau penanganan
yang justru meningkatkan risiko bagi diri sendiri maupun orang lain.
Setelah kondisi dikendalikan, kejadian dan
tindakan perbaikannya perlu didokumentasikan sesuai sistem pelaporan yang
berlaku. Dokumentasi ini dapat digunakan untuk mengevaluasi penyebab kejadian
dan mencegah pengulangan.
Keselamatan Laboratorium Adalah Tanggung
Jawab Bersama
Laboratorium yang aman tidak hanya ditentukan oleh
kelengkapan fasilitas, tetapi juga oleh perilaku dan budaya kerja setiap orang
yang berada di dalamnya.
Petugas laboratorium perlu menjaga kelayakan
fasilitas, memastikan prosedur tersedia, dan mengelola bahaya sesuai tanggung
jawabnya. Dosen dan peneliti perlu merencanakan kegiatan dengan
mempertimbangkan keselamatan. Mahasiswa dan pengguna jasa laboratorium harus
mengikuti instruksi, memahami batas kewenangannya, serta melaporkan kondisi
yang berpotensi membahayakan.
Tidak kalah penting, setiap laporan bahaya perlu
ditanggapi sebagai bagian dari upaya perbaikan, bukan semata-mata sebagai
bentuk mencari kesalahan seseorang. Budaya keselamatan akan tumbuh ketika orang
merasa bertanggung jawab untuk mencegah kecelakaan dan dapat menyampaikan
kekhawatiran tanpa takut disalahkan secara tidak adil.
Pada akhirnya, mengenali potensi bahaya adalah
keterampilan dasar yang perlu dimiliki setiap orang yang bekerja atau
beraktivitas di laboratorium. Kebiasaan sederhana untuk mengamati, memahami
prosedur, menggunakan perlindungan yang tepat, dan melaporkan kondisi tidak
aman dapat membantu melindungi manusia, peralatan, dan lingkungan.
Ingat, keselamatan dimulai sebelum
kegiatan dilakukan. Kenali bahayanya, pahami risikonya, dan kendalikan sebelum
menimbulkan akibat.
